Disukai
0
Dilihat
1
Sebuah Nama, Abram
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aduh, gimana ini. Kakiku terasa sangat lemas. Menyeret kaki bergantian, seperti ada beban yang mengelayuti. Café Bohram sudah tepat di depan mata. Hari Minggu begini, café lumayan sepi. 

Aku meratapi kebodohanku mengikuti kemauan Winda untuk bertemu menyerahkan kartu undangan pernikahan. Mending kalau hanya bertemu dengan Winda, tapi ini juga dengan Abram.

Catat Abram!

             “Win, kamu dimana?” Aku menelepon untuk memastikan keberadaan Winda yang katanya akan datang tepat waktu. Namun dari luar café Bohram, tidak terlihat si mata empat Winda yang selalu berkacamata.

             “Eh, gue masih terjebak macet nih! Banyak galian air ternyata di Condet.” Teriak Winda dari handphone.

             “What? Elo masih jauh banget dong. Kita kan janjian di SCBD, Sudirman.”

             “Abram sudah datang kok. Dia tadi ngabarin gue. Elo ngobrol sama dia dulu aja. Gue sudah sampai Cililitan kok.”

             “Tapi Win. Udah lama b...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)