Pukul 08:25, Lia sampai di kantor tepat waktu. Kantor tempat Lia bekerja adalah perusahaan IT ternama di Kota Poli. Kemampuan Lia cukup hebat hingga ia dapat menjadi karyawan tetap di sana sebagai Graphic Designer. Lia segera duduk di tempat nya dan mulai bekerja. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, sudah waktunya pulang kantor. Lia membereskan barang-barangnya dan kemudian keluar kantor dengan wajah lelah.
Saat Lia sedang menuju parkiran, langkah Lia terhenti. Lia terkejut, dan ketakutan muncul di wajah nya. Lia berusaha mengontrol air muka nya dan berjalan dengan tenang menuju laki-laki itu. Laki-laki itu adalah mantan pacarnya semasa kuliah.
Laki-laki itu mengenakan hoodie hitam dengan kaos putih di dalamnya dan celana jeans baggy warna biru tua. Laki-laki itu bersandar pada sebuah mobil Rezvani Tank X. Tampaknya itu milik laki-laki itu.
Dengan suara yang dipaksakan tenang, Lia bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”
Tersenyum kecil, laki-laki itu menjawab singkat, “Mencarimu.”
Bulu kuduk Lia berdiri, ia merasa merinding dengan jawaban si pemilik hoodie. Dengan suara bergetar, Lia berkata, “Bagaimana kau bisa tahu aku di sini? Kau menguntit ku?”
Si pemilik hoodie tidak gentar sedikit pun, dengan suara tenang dia berkata, “Lia, jangan salah paham dulu, aku ke sini untuk mengajukan perdamaian … ayo kita kembali seperti dulu.”
Mendengar itu membuat Lia semakin takut, hingga ia meninggikan suara, “Kau sudah gila! Aku tidak mau! Dan berhenti mengikuti ku!”
Lia berbalik badan dan hendak pergi tetapi seseorang mendekat dan tubuh Lia sudah terangkat. Lia berusaha memberontak dan melepaskan diri, “LEPAS!!! TURUNKAN AKU!”
Tetapi, tenaga si pemilik hoodie sangat kuat, hingga usaha Lia melepaskan diri sia-sia. Si pemilik hoodie membawa Lia masuk ke mobil nya. Kemudian dengan si pemilik hoodie duduk di kursi pengemudi dan mengunci pintu mobil nya.
Lia berusaha untuk membuka pintu mobil, tapi itu adalah usaha yang sia-sia. Lia sudah terjebak. Dengan pasrah, ia tidak memberontak lagi dan duduk diam di kursi belakang. Di luar dugaan, ternyata ia mengantar nya pulang dan setelah itu pergi setelah pamit.
Apa-apaan ini?! Apa dia sudah berubah? Ah! Peduli lah, gak duli!!! Batin Lia.
Tapi itu semua hanyalah tipuan, si pemilik hoodie keesokan hari nya datang ke rumah Lia dan memaksa masuk.
“Biarkan aku masuk sebentar saja, aku sudah jauh-jauh kemari, masa kau tega seperti ini pada tamu?” kata si pemilik hoodie dengan wajah memelas.
Sepertinya tidak ada yang salah darinya, dia bahkan bersikap normal, mungkin benar dia sudah berubah Batin Lia.
Sambil menghela napas, Lia membuka pintu dengan lebar, “Ok, silakan masuk.”
Si pemilik hoodie duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Lia menuju dapur untuk menyeduh teh.
“Rumahmu lumayan juga, setidaknya kau tidak kesulitan uang,” kata si pemilik hoodie sambil melihat seisi rumah dengan cermat.
Dengan malas, Lia menjawab, “Yah … begitulah.”
Lia membawa 2 cangkir teh, kemudian menaruhnya di meja. Lia kemudian menyadari ada luka di dahi si pemilik hoodie. Bekas sayatan dari benda tajam. Sambil menunjuk dahinya sendiri, Lia bertanya, “Kenapa?”
Si pemilik hoodie terdiam sebentar dan kemudian menjawab, “Ah … ini … aku jatuh.”
Jawaban bodoh apa itu?! Bahkan anak SD saja jelas tahu itu bukan karena jatuh!
Lia menghela napas kemudian berdiri, “Tunggu sebentar.”
Lia kemudian datang membawa plester dan salep, kemudian mengobatinya, “Kau pikir aku bodoh? Ini jelas bukan karena jatuh.”
Selesai mengobati, si pemilik hoodie tiba-tiba saja menerjang Lia dan menciumnya paksa. Lia berhasil melepaskan diri dan menjauh, “HANS! JANGAN MENDEKAT!”
Dengan wajah memelas, Hans mendekat perlahan, “Lia, jangan seperti itu … aku jadi sedih ….”
Lia berlari menuju dapur dan mengambil pisau, “Berhenti! Kalau tidak aku akan menusukmu!”
Hans tertawa tapi ia tidak takut dengan ancaman Lia, “Jangan main-main dengan pisau, nanti kau terluka.”
Sambil memegang dagunya, Hans berpikir, “Siapa nama teman sekantormu itu, laki-laki muda yang bekerja di divisi marketing itu loh.”
“Ah! Iya, namanya Nico ya? Dia sudah beberapa hari ini tidak masuk kan? Apa kau tahu alasannya?”
Lia kebingungan dengan pertanyaan Hans. Dengan suara gemetar, Lia berkata, “Apa maksudmu? Hentikan basa-basi mu, itu tidak ada gunanya.”
Wajah tenang yang dipasang Hans berubah menjadi serius, wajah inilah yang ditakuti Lia. Wajah yang membuat tubuhnya seketika merinding.
Nada suara Hans berubah dingin dan ia semakin mendekat. Sekarang Hans tepat berada di hadapan Lia. Hans meraih gagang pisau dan berbisik di telinga Lia, “Dia sudah kubunuh.”
Setelah mengatakan itu, Hans tersenyum penuh kemenangan. Wajah Lia seketika pucat pasi, Lia membeku setelah mendengar pernyataan itu. Pikirannya kosong. Dengan gemetar, Lia menatap Hans dengan takut, “Apa maksudmu, kau pasti bohong?”
Hans menatap wajah Lia, ekspresi Hans terlihat jengkel, “Kau tidak dengar ya? Aku sudah membunuhnya.”
“Kenapa? Apa alasannya?” tanya Lia.
Mendengar itu, Hans meninggikan suaranya, “Karena dia suka dengan kau.”
Lia terdiam dan tidak menyadari bahwa air matanya telah jatuh, sehingga Hans melanjutkan dan dia memasang kembali wajah tenangnya dan tersenyum lebar, “Lia, kau adalah milikku. Kau hanya akan menjadi milikku selamanya. Aku akan menghidupimu ….”
Seakan melupakan sesuatu, Hans lanjut bicara, “Ah! Apa kau tahu luka di dahi ini, ini adalah luka yang kubuat sendiri. Sudah kuduga kau masih peduli padaku Lia. Karena itu aku sangat senang, kau mau menerima aku kembali kan?”
Lia menggeleng kuat, ia semakin takut dan berusaha untuk melukai Hans dan kabur. Tapi Hans dengan lihai melepaskan pisau dari tangan Lia yang kemudian Hans menempelkan lagi bibirnya ke bibir Lia.
Tapi Lia terus menerus memberontak, hingga kesabaran Hans sudah di ambang batasnya. Hans mengambil pisau yang terjatuh, kemudian mendekap Lia dalam rangkulannya dan mengancamnya dengan pisau “Kalau kau kabur, pisau ini yang akan menancap di dadamu.”
Lia sudah meneguhkan hati, dengan suara mantap ia membalas Hans, “Aku sudah tidak peduli lagi.”
Kemudian Lia memegang tangan Hans dan mengarahkan pisau itu tepat di jantungnya. Darah mulai bercucuran dari tubuh Lia. Lia tersenyum lega melihat wajah Hans yang terkejut dan ia pun ambruk. Setelah kesadarannya kembali, Hans tersenyum kecil, “Jadi ini jawabanmu? Kau memilih untuk tidak menjadi milik aku ya?”
Tapi seketika Hans menjadi sangat senang, “Baguslah, pilihan yang bagus Lia … dengan begini tidak akan ada yang memilikimu. Hanya aku yang akan memilikimu.”
Hans dengan cepat dan tenang membersihkan TKP dan tentunya membersihkan tubuh Lia dan mengobatinya. Setelah itu, ia membawa mayat Lia ke mobilnya dan menyalakan mesin. Setibanya di rumah, Hans mengganti pakaian Lia dan membaringkannya di kasurnya, “Kau sangat cantik, Lia ….”
Setelahnya Hans keluar dari rumahnya, terdengar suara mobil menjauh. Lia segera bangun dan melihat kondisi sekitar. Setelah dirasa aman, dengan pelan Lia bangun.
Aku sudah sengaja menusuk tidak tepat pada jantung dan memelesetkannya disaat terakhir, aku harus segera mencari ponselku. Rasa nyeri menjulur di seluruh tubuhnya. Kepalanya juga terasa pusing, dengan tubuh lemas itu Lia beranjak mengambil ponselnya yang terletak di nakas seberangnya dan menelepon polisi. Tidak lama setelahnya, polisi datang, Lia kemudian dibawa ke rumah sakit.
Berita Hans tertangkap, tak lama ada di berita. Bahkan, mayat Nico juga ditemukan! Ternyata selama ini Nico dikubur di rumah Hans. Melihat berita itu, membuat Lia tidak bisa lagi menahan air matanya, Lia menangis hingga bahunya bergetar hebat dan merasa bersalah untuk Nico. Karena aku, Nico jadi mengalami ini semua ….