Lonceng angin bambu yang tergantung di teras rumah kayu itu berdenting pelan, menyapu sunyinya sore di Takayama. Di meja kotatsu yang mulai kehilangan kehangatannya, ada dua cangkir teh hijau yang sudah dingin sejak dua jam lalu.
Riku menatap cangkir di seberangnya yang tetap utuh, tak tersentuh sama sekali.
“Sebentar lagi musim semi, Hana,” bisik Riku pada ruangan yang hampa dan lengang. “Pohon sakura di halaman belakang kita… kuncupnya sudah mulai muncul.”
Di atas pangkunya, terbentang sebuah buklet perjalanan usang bertuliskan Rencana Liburan Musim Semi Kita. Setiap halamanya dipenuhi coretan tangan rapi dengan tinta warna-warni milik Hana—daftar tempat yang ingin mereka kunjungi, kedai dango pinggir jalan favorit mereka, hingga nama-nama kuil tua tempat Hana berencana membeli omamori untuk perlindungan dan kebahagiaan mereka berdua.
Di halaman paling akhir, Hana menulis sebuah kalimat kecil menggunakan pensil warna merah muda: “Semoga tahun ini kita bisa melihat sakura gugur bersama di Takayama, tanpa harus ada yang pergi lebih dulu.”
Riku tersenyum tipis, tetapi dadanya bergemuruh menahan rasa sesak yang kian meremukkan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih sebuah amplop putih berstempel rumah sakit daerah yang tergeletak tepat di sebelah cangkir Hana. Di dalamnya, ada selembar kertas hasil laboratorium bertanggal empat bulan lalu. Kertas itu menyatakan bahwa sel kanker di dalam tubuh Riku sudah menyebar luas, merogoh organ-organ vitalnya tanpa ampun. Tiga bulan lalu, dokter dengan nada penuh penyesalan menyampaikan kabar bahwa usia Riku mungkin tak akan mampu melewati penghujung musim dingin.
Sejak hari itu, Riku mengambil sebuah keputusan paling membakar hati dalam hidupnya. Ia tidak pernah sanggup memberitahu Hana. Ia terlalu takut melihat mata bening kekasihnya itu basah oleh air mata penyesalan. Ia tak sanggup membayangkan Hana menghabiskan sisa harinya merawat seorang pria yang perlahan membusuk dan mati. Ia tak ingin menjadi alasan di balik kehancuran senyum manis wanita yang paling dicintainya.
Maka, sepanjang musim dingin yang mencekam, Riku memilih untuk berubah menjadi es. Ia sengaja menarik diri dari setiap percakapan hangat, sering terlambat pulang dengan alasan pekerjaan, dan sengaja bersikap cuek tiap kali Hana membicarakan rencana masa depan mereka. Ia kerap membentak Hana untuk hal-hal kecil yang tidak penting.
Ia ingin Hana membencinya. Riku percaya, jika Hana membencinya lebih dulu dan memilih pergi dengan rasa amarah, maka rasa sakit saat ia membusuk di dalam tanah nanti tak akan terlalu menghancurkan hidup wanita itu.
Rencana jahat tapi penuh kasih itu bekerja sesuai perkiraannya. Tepat seminggu yang lalu, saat salju turun paling deras di Takayama, Hana berdiri di depan pintu rumah dengan mata sembap, pipi memerah karena dingin, dan sebuah koper besar di sampingnya.
“Aku benar-benar tidak tahu apa yang berubah dari kamu, Riku,” suara Hana bergetar hebat hari itu, menahan tangis yang sudah mengumpul di tenggorokannya. “Aku sudah mencoba mengerti. Aku mencoba bertahan. Tapi aku capek berjuang sendiri di rumah ini. Kalau kamu memang sudah tidak menginginkan aku ada di masa depanmu… baiklah. Aku pergi.”
Riku hanya diam membisu saat itu. Ia berdiri membatu seperti patung, menyembunyikan kedua tangannya yang berguncang di dalam saku mantel tebalnya, menyaksikan Hana berjalan menembus badai salju tanpa pernah menoleh lagi ke belakang.
Begitu pintu geser shoji tertutup rapat, Riku langsung jatuh berlutut di atas tatami yang dingin. Ia mencengkeram dadanya yang sakit luar biasa—bukan cuma karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya, tapi karena hatinya baru saja hancur menjadi debu.
Berhasil, pikir Riku dalam tangisnya yang tanpa suara saat itu. Dia membenciku. Dia akan membenciku selamanya, dan dia akan selamat dari penderitaan ini.
Denting lonceng angin kembali memecah lamunan Riku. Langkah kaki bergegas dan panik terdengar mendekati teras rumah kayu tersebut. Pintu geser shoji mendadak terbuka keras, menghempaskan udara dingin ke dalam ruangan.
Bukan Hana yang berdiri di sana.
Di ambang pintu, berdiri ibu Hana. Nafas wanita paruh baya itu terengah-engah, wajahnya pucat pasi, dan air mata terus mengalir deras membasahi pipinya yang keriput.
“Riku…” suara ibu Hana terdengar seperti bisikan yang sangat memilu. “Hana… anakku, Hana…”
Riku berdiri dengan susah payah, memegangi pinggiran meja kotatsu. Badannya yang makin lemah dan kurus terasa begitu berat untuk ditopang. “Ada apa dengan Hana, Bibi? Kenapa Bibi menangis? Dia… dia baik-baik saja, kan? Dia sudah sampai di rumahnya di Tokyo, kan?”
Ibu Hana tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Tubuh wanita itu gemetar hebat. Ia merogoh tas tangannya dengan jemari yang kaku, lalu menyerahkan sebuah buku catatan kecil berpenjilid kain yang permukaannya dipenuhi bercak darah kering.
“Mobil travel yang membawanya minggu lalu… mengalami kecelakaan hebat di jalan lintas gunung karena licinnya es…” bisik sang ibu di antara isaknya yang makin pecah. “Polisi baru berhasil mengangkat bangkai mobil dari jurang kemarin. Mereka… mereka menemukan buku ini di dalam tas tangan Hana.”
Dunia Riku seolah berhenti berputar seketika. Udara di sekitarnya mendadak menguap hampa, membuatnya tersedak. Dengan tangan yang berguncang tak terkendali, Riku menerima buku catatan kecil itu dan membukanya perhalan.
Itu adalah diari rahasia milik Hana.
[12 Desember]
Hari ini aku tidak sengaja menemukan surat pemeriksaan dari rumah sakit daerah di dalam tas kerja Riku saat merapikan kemejanya. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku, Riku? Kenapa kamu harus menanggung rasa sakit dan ketakutan sendirian tanpa memberitahuku? Kenapa kamu selalu menganggapku lemah?
[20 Desember]
Riku makin dingin padaku. Hari ini dia membentakku hanya karena tehnya terlalu manis. Tapi aku tahu… aku tahu betul apa yang sedang kamu lakukan, Riku. Kamu sengaja menyakitiku. Kamu berusaha membuatku membencimu, kan? Supaya saat kamu pergi dari dunia ini nanti, aku tidak terlalu hancur. Dasar pria bodoh. Bagaimana bisa aku membenci orang yang hidupnya selalu aku semogakan setiap malam?
[15 Januari]
Hari ini aku berpura-pura menyerah dan pamit pergi membawa koper. Aku melihat matamu saat aku melangkah keluar, Riku. Aku tahu kamu menangis di dalam hatimu. Maafkan aku harus berpura-pura marah dan kecewa padamu. Aku cuma pergi sebentar ke Tokyo untuk menemui profesor spesialis oncology terbaik dan mengurus kepindahan perawatanmu ke sana. Aku sudah menjual semua perhiasan peninggalan ibuku untuk biaya awalmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyerah pada kematian.
[Hari ini]
(Saat perjalanan pulang) Aku pulang, Riku. Aku sedang di dalam mobil perjalanan kembali ke Takayama. Aku sudah mendapatkan jadwal operasinya dan dokter terbaik untukmu. Kita akan lewati musim dingin ini bersama-sama, Riku. Tolong, bertahannya sebentar lagi untukku… aku mohon.
Tulisan rapi di halaman terakhir itu terputus di sana, ditutupi oleh cipratan noda merah yang telah mengering.
Buku diari itu terlepas dari genggaman Riku, jatuh berserakan di atas lantai tatami.
Riku melempar tubuhnya yang ringkih ke luar teras, berlari tanpa alas kaki menembus dinginnya udara Takayama yang menggigit. Ia berlari sekuat tenaga yang tersisa menuju halaman belakang rumahnya. Di sana, tepat di bawah ranting-ranting pohon sakura yang masih meranggas kaku, Riku jatuh berlutut di atas hamparan salju.
Ia menjerit histeris, meratapi takdir yang begitu kejam. Suara jeritannya memecah sunyinya desa, penuh penyesalan yang membakar seluruh jiwanya hingga tak tersisa. Ia meremas dadanya, memukul-mukul tanah dan salju dingin di bawahnya sampai jemarinya berdarah.
Ia berbohong dan bersikap jahat hanya karena ingin melindungi Hana dari rasa sakit akibat kematiannya. Namun, justru kebohongan dan kasih sayangnya yang bodoh itulah yang telah mengirim Hana langsung menuju pintu kematiannya sendiri. Jika saja ia jujur, Hana tidak akan pernah pergi ke Tokyo di tengah badai salju itu.
Angin musim semi yang tipis bertiup lembut sore itu, mengikis sisa-sisa es di dahan pohon. Dari salah satu ranting tua di atas kepala Riku, sehelai kelopak bunga sakura pertama yang baru saja mekar hari itu terlepas, gugur secara perlahan, dan mendarat tepat di atas telapak tangan Riku yang dingin dan bersimbah darah.
Sakura yang mereka tunggu-tunggu akhirnya mekar hari ini. Namun, tak ada lagi Hana yang akan tersenyum di sisinya untuk melihatnya.