Saat rembulan telah berbaring bersama keresahan, aku menatap penuh kesal pada sepasang daun pintu yang terlihat sedang saling bercumbu penuh kemesraan. Mereka seolah mengejek diriku yang menantimu kembali, meski tahu kata ‘menunggu’ hanyalah menu utama pada hidangan bernama bualan.
Meja makan pun perlahan-lahan kehilangan kehangatan. Seluruh lauk yang kusediakan telah habis dilalap oleh dinding-dinding rumah yang semakin hari semakin kelaparan.
Alunan musik lawas kesukaanmu sudah berkali-kali kuputarkan, berharap ada telinga gaib yang mendengar, lalu menjatuhkan restu untuk kubawa kembali dirimu dari garis pengakhiran.
Fatamorganaku akhirnya merenggutku dari belenggu hitam yang berselubung di ruang nadir. Sebuah ruang tempat separuh jiwaku yang tersisa kian layu digerogoti penyesalan karena terlalu sering menyemu takdir.
Aku hanya bertahan hidup dengan segenggam kewarasan yang kian rapuh, berharap dapat bertahan hingga bagian dari dirimu berhasil kembali pulang—meski dengan sejuta kemungkinan yang samar.
Entah itu hanya jaket hadiah dariku tahun lalu, sapu tangan yang kurajut bulan lalu, atau hanya sebelah sepatu boots-mu yang baru kamu beli minggu lalu. Apa pun itu, aku tidak peduli lagi. Yang terpenting, ada pecahan dari keberadaanmu yang kembali menyeberangi ambang pintu. Meski ia harus datang bersama seikat dandelion atau rumpun ilalang yang menyatu.
Kau harus tahu, aku hampir saja mengikat tali simpul di antara dua jendela—yang beberapa hari lalu baru selesai kau pasangi teralis berlapis emas. Bahkan sudah kusiapkan alasnya berupa dua lembar koran yang kubeli di pagi hari dari penjual langgananmu, Mas Imas.
Namun sebelum niat itu tunai, wanita-wanita dengan jilbab hijau neon yang menyala telah mengetuk salah satu daun pintu—yang langsung memicu gerutuan cemburu dari sejoli pintu itu. Sebenarnya aku sudah mengamati mereka dari balik jendela kamar. Kupikir mereka hanya hendak membeli sayur pada Mang Cecep, yang pagi ini, entah mengapa menjajakan dagangannya dalam balutan gaun pesta Cinderella yang penuh memar.
Ketukan itu semakin menggila, semakin mendesak hingga kedua lubang telingaku menangis. Alisku terkepang kesal, mata sayuku bahkan kupasangi bingkai air mata yang kapan hari masih belum selesai ditulis. Simpulnya masih menggantung di udara, menatapku nanar karena terlihat seperti pengemis yang merasa harus mengais takdir berupa bengis.
Seolah ingin kulenyapkan angka dan nama hari di kalenderku, kembali kukumpulkan nyawaku yang berceceran di lantai yang terpaku. Terpatri mengenaskan tak ada yang laku.
Kakiku seolah kehilangan nyawa; mereka memberontak saat suara di kepalaku memerintahkan untuk bergegas. Kupaksa tubuhku melangkah meski harus menyeret kaki seperti salamander—sebagaimana kerap kau ejek dulu agar aku marah dan minder.
Hela napasku mengudara penuh lelah. Aku tak lagi peduli pada rupa parasku sendiri yang terpantul di atas air keruh berwadah. Terakhir kali aku beranjak dari buaian rebah adalah seminggu yang lalu, saat burung-burung mampir untuk menyampaikan sebuah titah.
Isinya adalah sabar yang bercampur dengan amarah.
Saat pintu terbuka, pandanganku yang semula menatap bisu pada sandal jepit mereka, perlahan terangkat menuju sepasang mata pekat yang penuh prasangka. Suaraku telah habis, tersimpan rapi di liang kubur bersama rasa sesal yang tak sanggup dihitung oleh angka.
“Neng Ayu,” panggil mereka. Wajah mereka masih sama seperti sepekan lalu. Ibu Yuyun—dengan daster batik cokelat dan celana kulot oranye—menyerahkan sebuah kantong plastik hitam yang berbobot. Di dalamnya terdapat kotak makanan berisi bermacam lauk-pauk, jenis hidangan yang biasa disebut orang-orang sanggup memberi hangat bagi ‘seisi rumah’.
Namun di mataku, yang terpancar dari mereka hanyalah raut keengganan yang terselubung. Mereka tahu ada kemarahan dan duka yang masih mengkristal di wajahku, tetapi mereka memilih berpura-pura buta. Aku sadar sikapku kurang ajar, tetapi plastik itu membawa aroma masakan yang amat kau gemari.
Ini menyesakkan.
Pada akhirnya, yang berhasil pulang hanyalah makanan kesukaanmu yang kau 'titipkan' melalui mereka—tanpa mereka sadari bahwa kaulah dalang di balik seluruh kesusahanku ini.
“Neng Ayu, jangan lupa makan, ya. Kalau ada apa-apa, panggil kami,” bisik Ibu Yuyun.
Telingaku mendadak tuli, nasihat mereka menjelma menjadi kepulan asap yang menguap tanpa makna. Mengubur realita yang kusembunyikan dibalik pena, dan yang tersisa hanyalah kenyataan bahwa aku terlahir dalam wujud paling malang tanpa satu helaipun busana, sebuah tragedi yang tak seorang pun mampu menerka, namun siapapun "itu" pasti tahu bahwa aku adalah orang yang (sedang) gila karena meratapimu di atas api pesona.
Dimana letak salahnya? Aku bahkan telah menyerahkan seluruh isi dadaku untuk menjamu kepulanganmu.
Tapi, tidak ada yang menjawab.
Kuambil kantong plastik hitam itu tanpa mengucap sepatah kata pun, lalu kuputus kontak mata dan kututup pintu rapat-rapat. Tetangga-tetangga itu melangkah pergi, melintasi Mang Cecep yang kini tengah menyapu jalanan dengan gaun Cinderella-nya yang menyapu debu.
Aku berjalan menuju meja makan. Kubuka kotak makanan tersebut. Bau gulai kepala ikan yang amat kau cintai menyeruak, memenuhi rongga udara yang sudah dipenuhi aroma apek kesendirian.
Dinding-dinding rumah kembali bergetar, menjilati bibir mereka yang terbuat dari retakan semen, bersiap menelan hidangan baru itu.
Namun, kali ini, aku tidak membiarkan dinding-dinding itu menikmatinya.
Dengan jemari yang gemetar, aku meraih gulai tersebut. Aku tidak memakannya dengan mulutku. Kubuka kancing bajuku, menyingkap dada kiriku yang telah lama berlubang—sebuah rongga menganga tempat jantungku seharusnya berdetak. Kumasukkan potongan demi potongan gulai hangat itu ke dalam rongga dadaku sendiri.
Anehnya, makanan itu tidak jatuh ke perut. Dari dalam rongga dadaku yang gelap, terdengar suara kunyahan yang halus dan lapar.
“Terima kasih, Sayang. Lauknya enak sekali,” bisik sebuah suara dari dalam dadaku. Itu suaramu.
Aku tersenyum tipis, merapikan kembali kancing bajuku. Kini aku paham mengapa kau tidak pernah menyebarang masuk lewat daun pintu yang saling bercumbu itu.
Kau tidak pernah pergi ke mana-mana. Kau hanya kelelahan bersembunyi di luar, lalu memutuskan untuk pindah dan bertelur di dalam rongga dadaku, hidup sebagai benasit yang memakan setiap kenangan dan masakan titipan yang kubawa pulang.
Aku kembali duduk di kursi meja makan, memutarkan alunan musik lawas kesukaanmu sekali lagi, sambil membiarkan jemarimu yang memanjang dari balik rusukku, mengelus pelan daguku dari dalam.
Kehangatan masakan itu perlahan menjalar, menjangkau lekuk-lekuk tulang pipiku yang kian menajam. Tangan-tangan yang tak berwujud mulai merambat naik dari dalam dada, menggelitik tenggorokanku dengan rasa rindu yang meruncing layaknya jarum perak.
Aku tidak lagi merasa kedinginan. Rumah ini...dengan segala dindingnya yang rakus dan pintunya yang tak beradab, kini terasa begitu sempit untuk menampung kita berdua.
Bunga-bunga ilalang yang tadinya bersembunyi di balik karpet mulai berbisik, meliuk-liuk mengikuti ritme musik lawas yang terputar.
Mereka merambat naik, mengikat pergelangan kakiku yang layu, seolah memintaku untuk tidak lagi berdiri, untuk menyerahkan seluruh gravitasi pada pangkuan rindu yang telah mengakar di dalam tulang sumsum.
Aku kembali mengepang simpul yang sejak tadi menggantung sabar di antara teralis berlapis emas milik jendela kita. Koran-koran bekas yang menampung jejak Mas Imas mulai terbang melayang, berputar layaknya daun-daun kering di tengah badai kecil yang tercipta di dalam ruang tamu.
Simpul itu terasa dingin di tanganku, namun sentuhan jemarimu yang terus menjalar dari dalam rusuk membuat jiwaku terasa semakin hangat. Kepangan itu kini tidak lagi terasa seperti sebuah pengakhiran yang menakutkan,
melainkan sebuah gerbang; sebuah lubang kecil untuk menyeberangkan sisa raga yang tak lagi berpenghuni menuju ruang dadamu yang telah menjadi kediaman utamaku.
Aku menari di alas koran itu dengan senyum yang akhirnya mengembang utuh—senyum paling jujur yang kupunya sejak seminggu yang lalu. Sambil mengingat bagaimana kau mengajariku berdansa di bawah senja yang tak ingin berlalu.
Jarum jam dinding di atas meja melengkung lemah, melelehkan angka-angkanya jatuh ke lantai bagai tetesan lilin basi.
Waktu telah resmi membusuk di rumah ini.
Aku mencumbu simpul itu, tepat di bawah daguku, di mana jemarimu dari dalam dada masih setia membelai lembut, kembali menuntunku dengan kehangatan yang tak terhingga.
Dari balik jendela, aku melihat Mang Cecep berhenti mengayunkan sapunya, mendongak menatapku dalam balutan gaun Cinderella-nya yang penuh noda darah dan memar. Ia tersenyum, mengangguk pelan memberi restu yang sejak tadi kucari di udara kosong.
Kutendang koran di bawah kakiku. Namun bukannya jatuh terjerat hampa, tubuhku justru terasa melayang ringan. Daun-daun pintu yang tadinya bercumbu mendadak bungkam, membeku dalam ketakutan saat melihat rongga dadaku yang mendadak mekar meluas—melepaskan ribuan benang cahaya dan kepakan sayap kupu-kupu hitam yang merayap keluar dari rusukku.
Aku tidak bergantung pada simpul itu. Ialah yang mengemis padaku.
Suaramu di dalam dadaku tertawa gembira, menyeruak keluar memenuhi seluruh sudut ruangan, melahap habis dinding-dinding yang kelaparan hingga mereka retak dan runtuh menjadi abu.
Rumah ini akhirnya hancur, rata dengan tanah tempat ilalang dan dandelion bertumbuh liar. Dan di tengah puing-puing duka yang telah lebur, kita akhirnya menyatu sepenuhnya
—aku menjadi rumahmu, dan kau menjadi nafas terakhir yang mengunci kita dalam kekekalan yang penuh bualan.
"Dan akhirnya, aku akan menyusulmu, Sayang."