Hari Sabtu yang cerah, Kenan seperti biasa bermain bersama ketiga kakaknya. Kakak tertua Kenan yang paling perhatian adalah Kak Kayla. Ada juga Kak Naura yang begitu peka, namun selalu menyayangi adiknya. Kemudian ada Kak Zea yang paling dekat dengan Kenan.
Saat sedang bermain, Mama memanggil mereka agar segera datang ke ruang makan untuk makan siang.
“Kenaan, Zea, Naura, Kayla, ayo, Nak. Kita makan siang dulu.”
“Iya, Mama,” ujar ketiga kakak Kenan cepat.
“Sebentar dong, Maa. Aku masih ingin bermain,” jawab Kenan sambil merajuk.
“Aduh, jagoan Mama, maunya main terus, ya? Sudah dulu, ya, Nak, mainnya. Kita makan dulu. Mari sini,” kata Mama sambil melambaikan tangannya ke arah anak bungsunya.
Kenan berlari cepat ke pelukan Mama. Rasanya begitu hangat.
Lalu ia mendengar suara Kak Zea memanggilnya.
“Ken, hei, Kenan. Ayo kita makan. Jangan melamun begitu dong. Ibu panti sedang menunggu semua anak datang berkumpul untuk makan.”
Kenan tersentak kaget saat Kak Zea memanggil sambil memegang bahunya.
“Ah, iya, Kak. Ayo kita ke sana,” jawab Kenan.
“Kamu itu kenapa sih sampai melamun begitu?” tanya Kak Zea sambil melihat ke arah Kenan dengan heran.
“Aku... aku rindu dengan Mama, Kak. Jadi kapan, Kak, Mama akan menjemput kita untuk kembali ke rumah? Sudah tiga bulan kita tinggal di panti asuhan ini. Aku ingin pulang, Kak,” tanya Kenan kepada Kak Zea dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sabar, ya, Ken. Kakak juga tidak tahu kapan Mama akan datang untuk menjemput kita pulang,” jawab Kak Zea sambil mengembuskan napas perlahan dan melihat wajah adiknya yang terlihat begitu sedih, merindukan Mama.
Namun air mata Kenan mengalir di pipinya dan tangisnya pecah. Kak Zea sedih melihat adiknya menangis. Ia pun sangat merindukan sang Mama tercinta.
“Sabar, Ken. Mama pasti akan segera datang untuk menjemput kita,” hibur Kak Zea sambil menghapus air mata Kenan dan memeluknya.
Lalu Kak Zea segera mengajak adiknya untuk makan siang bersama Kak Naura, Kak Kayla, dan teman-teman panti yang lain.
“Zea, Ken, kok kalian lama sekali datang kemari?” tanya Kak Kayla.
“Iya nih, nanti keburu ditegur Ibu Panti karena kita semua di sini harus disiplin,” sahut Kak Naura.
Kemudian Kak Zea menjawab, “Hmm, Kenan merindukan Mama, Kak.”
Namun Kenan hanya tertunduk diam, mendengar kata-kata yang diucapkan kakak-kakaknya dan hanya bisa berharap segera bertemu dengan Mamanya.
Kak Kayla dan Kak Naura langsung memeluk Kak Zea dan Kenan. Lalu Kak Kayla berkata,
“Kita harus bersabar sedikit lagi. Mama sudah berjanji untuk menjemput kita di akhir bulan, pada bulan ketiga kita tinggal di panti asuhan ini.”
“Tapi, Kak, ini sudah di akhir bulan November dan kita berada di sini sejak awal bulan Agustus lalu. Artinya, ini sudah waktunya Mama datang untuk menjemput kita,” jawab Kak Naura dengan nada lirih.
“Iya, kita tunggu saja. Nanti Kakak akan bertanya kepada Ibu Panti apakah Mama sudah memberi kabar kapan kita akan dijemput untuk pulang,” ujar Kak Kayla sambil menatap adiknya dengan lembut.
“Nah, ayo kita duduk dan tunggu jatah makanan kita dibagikan,” kata Kak Zea sambil menarik lengan Kenan ke arah kursi dan meja di ruang makan.
“Tapi aku tidak suka makanan di sini, Kak. Aku sangat rindu dengan masakan buatan Mama,” kata Kenan sambil mengangkat wajahnya dan memegang tangan sang kakak erat.
“Sudah makan saja. Nikmati apa yang ada. Bersyukurlah kita mendapat makanan untuk kita makan bersama-sama,” sahut Kak Kayla.
Setelah semua anak berkumpul, ibu petugas di dapur segera membagikan makanan yang telah dimasaknya. Satu per satu dibagikan jatah sepiring nasi beserta sayur-mayur dan lauk-pauk ala kadarnya, serta segelas air putih.
Kemudian mereka semua makan dengan tenang karena tidak ada yang berani bertingkah laku buruk di panti.
Selesai makan, Ibu Panti mengarahkan anak-anak untuk pergi ke tempat tidur masing-masing dan beristirahat siang.
Saat itu, Kak Kayla memberanikan diri untuk datang menemui Ibu Panti ke ruang istirahatnya. Kak Kayla mengetuk pintu ruangan Ibu Panti. Kemudian terdengar suara dari dalam ruangan.
“Siapa, ya? Ayo masuk.”
“Baik, Bu. Ini Kayla,” jawab Kak Kayla sambil membuka pintu ruangan tersebut.
“Ada apa, Nak? Mari sini, mendekat ke Ibu,” ujar Bu Jane sambil melambaikan tangan dan mengulurkannya kepada Kak Kayla.
Ibu Panti adalah orang yang baik dan perhatian kepada anak-anak di panti. Namun, beliau cukup tegas dalam menjalankan peraturan dan tata tertib panti. Hal itu membuat anak-anak berusaha untuk selalu bersikap baik dan disiplin.
Kak Kayla mendekat ke arah Ibu Panti seraya berkata,
“Maaf, Bu... apakah Mama saya sudah menghubungi Ibu untuk memberi kabar kapan Mama akan menjemput saya dan adik-adik saya?” tanya Kak Kayla.
“Oh iya. Sebenarnya Ibu ingin mengabari kamu dan adik-adikmu kalau ibumu tadi pagi menelepon Ibu dan mengatakan kalau besok pagi ibumu akan datang menjemput kalian. Maaf ya, Ibu belum sempat mengabari karena sejak tadi pagi ada pekerjaan yang mesti Ibu urus,” ujar Bu Jane sambil membereskan buku dan barang-barang di atas meja.
“Benarkah, Bu? Saya akan segera memberi tahu adik-adik saya dan pasti mereka akan senang mendengar kabar baik ini.”
“Iya, Kayla. Ibumu sudah memastikan kalau beliau akan menjemput kalian besok pagi.”
Senyum hangatnya membuat Kak Kayla merasa tenang.
Kemudian Kak Kayla segera pamit pergi meninggalkan ruangan Bu Jane dan menghampiri adik-adiknya yang sedang berkumpul di kamar tempat mereka beristirahat.
Kak Kayla mengetuk pintu kamar, kemudian berlari kecil ke arah adik-adiknya.
“Kakak punya kabar bagus untuk kalian.”
“Jadi bagaimana, Kak? Apa kata Bu Jane soal Mama?” Kenan memegang tangan kakaknya dan segera ingin tahu kabar bagus apa yang didengar oleh kakaknya.
“Jadi, besok pagi Mama akan datang untuk menjemput kita pulang,” jawab Kak Kayla dengan mata yang berbinar-binar.
“Asyik, asyik!” Kenan dan Kak Zea melompat kegirangan.
“Tapi benar, kan, Kak, kalau Mama akan datang menjemput kita besok?” tanya Kak Naura ragu.
“Iya, benar dong. Pokoknya besok kita akan bertemu Mama lagi dan kita akan tinggal sama-sama lagi dengan Mama kita,” jawab Kak Kayla tegas. “Tenang saja, Mama tidak akan meninggalkan kita di sini selamanya.”
Lalu Kak Kayla merangkul ketiga adiknya. Mereka pun berpelukan.
***
Waktu berjalan begitu cepat. Hari Minggu pagi yang begitu cerah memberikan semburat cahaya mentari yang ceria. Anak-anak bangun pagi dan segera membersihkan diri, kemudian berkumpul di ruang makan untuk menunggu jatah sarapan pagi mereka.
“Kak, kapan Mama datang jemput kita pulang?”
Bibir Kenan bergetar dan berusaha menahan air matanya yang ingin jatuh ke pipinya.
“Sabar, Ken. Pagi ini Mama akan datang. Kita tunggu saja,” jawab Kak Kayla sambil mengusap air mata di wajah Kenan.
“Iya, baiklah, Kak. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu Mama.”
Ada rasa harap yang begitu besar di matanya.
Kemudian mereka sarapan bersama-sama dengan anak-anak panti lainnya. Setelah selesai sarapan, mereka diizinkan bermain di halaman panti asuhan mereka, Panti Pelita Hati.
Kemudian waktu demi waktu berlalu. Namun, ada empat anak yang gelisah menanti kedatangan ibu kandung mereka ke panti tempat mereka tinggal untuk sementara waktu.
***
Hari-hari mulai berlalu, tetapi ibu mereka tak kunjung datang.
“Kak, Mama sudah membohongi kita. Sampai hari ini Mama belum juga datang, Kak,” kata Kenan sambil terisak-isak sedih.
“Kakak juga tidak tahu, Ken. Kakak juga bingung. Padahal Mama kita bukanlah orang yang suka mengingkari janjinya,” jawab Kak Kayla.
Kemudian perhatian Kenan teralih kepada Kak Naura yang sejak kemarin selalu diam, namun terlihat gelisah.
“Kak Naura, Kakak sedih, ya, mikirin Mama?” tanya Kenan sambil memiringkan kepalanya perlahan dengan wajah polosnya.
“Iya, Ken. Kakak juga begitu memikirkan Mama. Tetapi hati Kakak terasa tidak seperti biasanya dan Kakak jadi begitu gelisah.”
Dengan sorot mata yang tajam, Kak Naura melihat ke arah pintu gerbang berwarna hitam yang tertutup rapat.
Mereka berempat duduk terdiam di kursi taman depan halaman rumah panti asuhan.
Kenan yang sudah tidak sabar, dengan mata yang memerah karena menangis sedih, menyandarkan tubuhnya ke bahu Kak Zea.
Padahal di sana ada teman-teman lainnya yang sedang bermain pada sore itu. Namun, Kenan tidak tertarik sama sekali untuk ikut bermain.
“Ken, ayo kemari! Kita main bola bersama,” kata salah satu teman Kenan sambil menendang bola ke arah Kenan.
Kemudian Kenan mengambil bola itu dan melemparkannya kembali kepada temannya.
“Maaf, aku sedang tidak ingin bermain.”
Namun, tidak lama kemudian, Ibu Panti mendekat ke arah mereka. Ia ingin memberitahukan suatu hal.
“Ke sini, Nak,” kata Bu Jane sambil melambaikan tangan kepada Kak Kayla.
“Kayla, kamu ikut ke ruangan Ibu beserta adik-adikmu, ya. Karena kakek dan nenek kalian sedang menunggu.”
Bu Jane mengatakan hal itu dengan wajah yang muram.
“Baik, Bu,” jawab Kak Kayla heran mendengar perkataan Bu Jane bahwa yang datang adalah oma dan opanya, bukan mamanya.
“Ken, Zea, Naura, ayo ikut Kakak.”
Kemudian Kak Kayla merangkul adik-adiknya untuk berjalan bersamanya ke ruangan Ibu Panti.
Setelah mereka membuka pintu, Kenan, Kak Zea, dan Kak Naura terkejut. Namun, mereka juga bahagia karena ada keluarga mereka yang datang untuk menemui mereka.
“Opa, Oma, aku senang sekali kalian datang,” kata Kenan. Ia kemudian langsung berlari untuk memeluk opa dan omanya.
“Opa, Oma, aku rindu sekali dengan kalian,” kata Kak Zea sambil berjalan mendekat lalu mencium tangan opa dan omanya.
Lalu Kak Naura dan Kak Kayla juga menghampiri opa dan oma mereka, walau masih bertanya-tanya mengapa Mama mereka tidak ikut bersama opa dan oma.
“Opa, Oma, di mana Mama?” tanya Kak Naura.
Opa dan oma terdiam sejenak.
Kak Kayla yang juga heran kemudian melanjutkan pertanyaannya.
“Opa, Oma, bukankah Mama seharusnya datang menjemput kami di sini dan membawa kami pulang?”
Nada bicara Kak Kayla yang datar membuat oma tak kuasa menahan air mata yang jatuh mengalir di pipinya.
“Mama kalian... anak perempuan Oma sudah tidak ada, cucuku. Mama kalian sudah meninggal kemarin. Saat Mama sedang dalam perjalanan untuk menjemput kalian, mobilnya mengalami kecelakaan yang membuat nyawa Mama kalian tidak tertolong,” cerita Oma kepada cucu-cucunya.
Opa yang sedari tadi mengelus lengan Oma perlahan kemudian berkata,
“Maafkan Mama kalian, ya, cucu-cucuku. Karena Mama kalian tidak bisa menepati janjinya untuk menjemput kalian.”
Kenan yang terkejut menangis histeris mendengar kabar tersebut. Ketiga kakaknya tak kuasa menahan air mata sambil tertunduk diam.
Kemudian Oma dan Opa meraih dan memeluk erat keempat cucunya.
Di saat itu pula, Opa terbayang tentang anak perempuannya, Maya, yang telah tiada.
Opa teringat cerita Maya yang mengatakan sesuatu pada malam itu setelah Maya membawa anak-anaknya ke panti asuhan.
“Pa, tolong nanti bantu Maya untuk menjaga anak-anak Maya yang sekarang Maya titipkan ke Panti Asuhan Pelita Hati.”
“Kenapa kamu membawa mereka ke panti asuhan itu? Bukankah Papa dan Mama bisa merawat mereka di sini?” tanya Papa Maya dengan wajah bingung.
“Aku... aku tidak bisa menjelaskan banyak, Pa. Hanya saja, Maya menitipkan mereka untuk sementara waktu di sana untuk kebaikan dan keselamatan mereka, Pa. Ini ada kaitannya dengan Mas Lingga, papanya anak-anak, mantan suamiku,” jawab Maya.
“Pokoknya Papa janji, ya. Jangan sampai Mas Lingga menemukan keberadaan keempat anakku,” kata Maya dengan berlinangan air mata.
Kemudian Opa tersadar dari lamunannya setelah mendengar Kenan berteriak memanggil mamanya.
“Mamaa! Aku mau Mama... Mama jangan pergi! Aku sayang Mama!”
Teriakan Kenan memenuhi ruangan itu, tetapi takdir berkata lain.
Rasa rindu keempat anak itu kepada ibu kandung mereka tidak tersampaikan langsung dengan kehadiran ibunya. Namun, rasa rindu yang panjang tersebut berubah menjadi rindu yang tak pernah usai.