Disukai
1
Dilihat
50
Ricuh
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pagi yang cerah ini membuat salah satu rumah di sebuah komplek lebih sibuk dari biasanya. Dentingan wajan dan penggorengan saling beradu terdengar begitu berisik dari arah dapurnya. Bau tajam dari cabe yang digoreng itu menelusup tajam indra penciuman. Disusul suara bersin yang bersautan dari dapur dan sebuah ruangan lainnya.

Dari arah ruang tamu seorang gadis remaja baru saja masuk rumah sembari membawa sebuah kantong hitam. "Yah, tadi Ara disuruh beli apa aja, ya?"

"Garam, telur, bawang putih, tomat, sama penyedap," jawab Sang Ayah di sela-sela kesibukannya memotong wortel. "Eh sama kecap juga deng."

"Oke, Yah. Lengkap sudah sesuai permintaan paduka." 

"Mantap. Udah sana siap-siap. Tiga puluh menit lagi sarapan siap. Sama tolong periksa Abangmu udah bangun belum."

"Siap komandan." 

Pram mengusap lembut pucuk kepala putrinya. "Thank you, Nak."

"My pleasure, His Majesty."

Gadis itu beranjak meninggalkan dapur, namun langkahnya terhenti tepat di rak yang berdiri kokoh di dekat jendela. Matanya menatap penuh binar pada seonggok kaktus mini yang penuh akan duri-duri. Namanya Soyi, terinspirasi dari nama karakter idol kesayangannya dalam sebuah drama. Rutinitas paginya selalu tak jauh dari menyiram Soyi dengan gembor mini yang sudah berisi nutrisi.

"Have a good day, Soyi," katanya dengan wajah sumringah.

Di lain sisi rumah tersebut, tepatnya di sebuah kamar yang serba hitam perabotannya, nampak sesosok yang tengah sibuk membongkar lemari pakaian. Ini hari pertama saat kenaikan level warna biru berubah menjadi abu-abu dimulai. Anak lelaki itu sibuk mencari pasangan kaus kaki miliknya yang tak kunjung ditemuinya.

"Bang!" Ara mengetuk pintu kamar dengan desain sederhana berwarna hitam gelap itu dengan pelan.

"Abang udah bangun," sahut sang empunya kamar.

"Tiga puluh menit lagi sarapan kata Ayah."

"Sip."

Ara berniat menuju kamar yang terletak di sebelah kamar Abangnya. Namun suara pintu dibuka itu menghentikan langkahnya. 

"Eh, Ra, yang angkat jemuran kemarin kamu ya?"

"Ayah."

"Liat kaus kaki Abang gak? Yang sebelah kanan."

Gadis itu berdecak sebelum akhirnya ..., "AYAHHH ... LIAT KAUS KAKI ABANG GAK YAH?" Gadis itu tersenyum ke arah abangnya dengan bangga. Ia berlagak seolah telah menyelesaikan masalah kemiskinan sebuah negara. 

Abangnya hanya bisa menganga dibuat terkejut dengan teriakan delapan oktaf yang tanpa aba-aba itu.

"YANG SEBELAH KANAN," tambahnya lagi sambil cengar-cengir tanpa merasa bersalah.

"Yang satunya kemarin belum kering, masih di ruang jemuran!" teriak sang Ayah dari dapur.

"See! Masalah selesai. Ara mau siap-siap, oke? Jangan ganggu tuan puteri ya, mau mandi."

Gadis itu menghilang dari balik pintu kamarnya begitu saja.

Guntur sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi mengingat Ara selalu berteriak-teriak di mana pun dan kapan pun itu. 

Ara terlalu berisik.

Kadang Guntur suka heran, dari mana gen suara cempreng Ara itu berasal. Ayah dan Mamanya bukan tipe orang yang suka teriak-teriak macam Ara barusan.

Apa jangan-jangan Ara anak pungut?

Haish, sadar Guntur! 

Guntur hanya bisa geleng-geleng dibuat keluarga ini.

Saat Guntur bergegas mengambil kaus kaki miliknya, ia mendapati sang Ayah yang tengah bergelut dengan pisau dan telenan. Ditatapnya wajah yang mulai menua, rambut yang mulai memutih, juga punggung yang mulai membungkuk. Dan sesuatu menghamtam jantungnya, sebuah rasa takut yang berlebihan.

"Yah."

"Yes. Wihh udah bangun kamu."

"Guntur bantu apa?"

Sang Ayah tersenyum menatap putra semata wayangnya yang kini tampak lebih dewasa. Ada rasa haru bangga menatap putra yang kini mengenakan seragam SMA. Seolah waktu sudah berlari begitu cepatnya. "Wohooo! This is your first day, right?"

"Yes."

"Want some dad advice for your first day?"

"Not really, but I don't think I have a choice, anyway." Guntur terkekeh samar sembari mengambil alih menyiapkan peralatan sarapan. Pram terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada masakannya.

"Tambahin micin biar enak kalo masak."

"Yah, itu kebanyakan. Orang bilang kebanyakan makan micin bikin bodoh loh."

"Kan dikit doang."

"Itu banyak Ayah!"

"Paslah. Look at this," Pram menuangkan adonan telur itu ke wajan yang sudah diberi mentega. "How beautiful this phenomenon is. Aesthetic bener nggak tuh?"

Guntur bisa melihat pelangi dari sorot mata Pram kala menatap bagaimana adonan telur itu menyatu dengan mentega. 

"That's just an ordinary egg, Yah, not a phenomenon. Nothing fancy though."

"Kamu tuh anak siapa sih? Suka heran deh, Ayah tuh gak bisa diginiin."

"Yah, please jangan lebay ntar Mama ilfeel di sana," sahut Guntur bercanda. Tapi Guntur rasa, ia baru saja mengatakan sesuatu hal yang kurang tepat hingga dia bisa melihat dengan jelas saat raut wajah Pram sedikit berubah. "Just kidding, Yah. Come on, it's just a joke."

Hening.

"Yah, maaf jangan natap Guntur begitu." Guntur mendadak merasa bersalah.

Ayah menarik sudut bibirnya hingga menjadi garis lurus, lalu menarik napas dalam.

"You're doing great. Ayah bangga sama kamu, that's it. Itu yang pengen Ayah bilang ke kamu," kata Pram sembari menepuk pelan pundak Guntur. Pram menatap sekali lagi putranya itu. "Just do whatever makes you happy, okay? Ayah cuma pengen kamu gak menyesal nantinya, dalam hal apa pun itu."

Guntur tersenyum, "I'll do it." 

Cowok itu menata piring di meja makan dengan cekatan, seolah ia sudah hafal setiap langkah karena itu sudah berlangsung sejak lama. Nasi, sayur bayam, dan sambel sudah tertata rapi di meja. Hanya kurang satu sentuhan akhir seorang chef Pram.

"Sarapan siap," kata Pram setelah meletakkan sepiring omelet di meja. Bau omelet buatan Pram rasanya lebih hangat daripada sinar mentari di pagi hari. Sangat menggugah selera makan Guntur yang tertidur sebelumnya.

"Aku yang panggil Ara. Ayah siap-siap juga."

"Yes, thank you."

"Yah, don't do that anymore."

Pram tergelak mengabaikan penolakan Guntur barusan. Bagi Guntur, seorang Ayah tak perlu mengucapkan terima kasih pada anaknya. Karena itu sebuah kewajiban anak membantu orangtua. Meskipun Guntur tau bahwa Ayahnya hanya sedang memberi contoh, tetap saja Guntur tidak menyukainya.

Lain halnya bagi Pram, memberi contoh langsung lebih efisien ketimbang memberikan seribu satu teori beserta penjabarannya.

Jika ditanya apa saja yang mempengaruhi sebuah pertumbuhan dan perkembangan anak, jawaban pertama Pram adalah keluarga. Tempat di mana kesalahan pertama seorang anak dilakukan oleh mereka adalah di rumah. Tempat di mana rasa percaya diri anak itu muncul, dan tempat di mana ia bisa bercermin sebagai orang yang dituakan.

Pram pikir, tak ada anak yang salah, karena itu kehidupan pertama mereka. Dan tugas orangtua adalah mengarahkannya ke jalan yang benar.

Pram menunggu saat ini tiba dengan perasaan yang penuh kekhawatiran. Akankah ia bisa melaluinya dengan baik, atau malah sebaliknya, Pram belum menemukan jawabannya. 

Satu yang pasti, ia hanya perlu percaya pada Guntur dan Ara, karena mereka anak-anaknya.

"Rin, aku akan melaluinya dengan baik. Kamu jangan khawatir ya," batin Pram sembari mengelus pelan foto seorang wanita yang terpajang apik di nakas kamarnya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi