Disukai
0
Dilihat
2,260
Proposal Hati
Romantis

"Pengajuan lamaran untuk menjadi calon suamimu"

~ Proposal Hati karya airunatnis ~


__***__


AllahuAkbar...

AllahuAkbar...

Suara azan berkumandang. Aku tersentak seketika, kupalingkan wajahku ke arah masjid yang tampak megah tepat di depan toko yang sedang kujaga–toko tempatku bekerja.

Suara dia lagi, benakku. Aku tersenyum kecil lalu bangkit dan meminta izin untuk sholat pada bos tokoku.

__***__

"Mbak!" panggil seseorang ketika aku sedang memakai sendal tepat di tangga masjid.

"Iya," jawabku seraya menoleh ke arah si pemanggil yang suaranya sudah sangat aku kenali.

"Mbak yang jaga toko fotocopy di depan, ya?" tanyanya dengan jarak dua meter. Dia memang selalu menjaga jarak dengan perempuan yang bukan mahramnya. Dan aku penasaran kenapa dia yang selalu menjaga jarak, kini mengajakku berbicara.

"Iya," jawabku, "ada apa, ya?" sambungku bertanya.

"Emm, saya boleh minta nomor bisnis toko fotocopy-nya Mbak? Saya mau ngeprint tapi filenya nanti saya kirim lewat whatapps. Bisa, Mbak?" ujarnya.

"Bisa,"

"Berapa nomornya, Mbak?" tanyanya.

Aku mengernyit bingung karena ia langsung bertanya tanpa berniat menulis nomor di kertas.

"Saya bisa ingat kok, insyaAllah," tuturnya seakan paham kebingunganku.

Aku pun menyebut nomor ponselku. Kupikir ia akan memintaku mengulanginya beberapa kali, agar ia bisa mengingatnya dengan jelas. Namun, ternyata ia langsung bisa menghafalnya hanya dengan sekali mendengar. Aku pun menyembunyikan kekagumanku yang kesekian kalinya sejak aku mengenalnya.

"Nanti kalau ada pesan atas nama Azan, itu dari saya. Mbak langsung print aja file yang saya kirim, ini uangnya." Azan mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan mengulur tangannya padaku.

"Eeh, nanti aja bayarnya!" sergahku.

"Ga pa-pa, sekarang aja Mbak. Saya ga enak kalau bayarnya nanti, takut terjadi apa-apa dan malah merugikan kamu."

"Owh, yaudah saya izin terima uangnya ya." Akupun menerima uang itu dan menyimpannya di saku.

"Kalau gitu terima kasih ya Mbak, saya permisi. Assalammualaikum warahmatullah wabarakatuh."

"Wa'alaikumsalam." Balasku, dia kemudian pergi keluar dari perkarangan masjid menuju rumahnya yang setahuku tak jauh dari lokasi masjid.

__***__

Selang beberapa waktu kemudian, sebuah chat dari nomor tak dikenal masuk ke room chat whatsapp bisnis fotocopy. Aku pun segera memeriksa chat itu, dan ternyata chat itu dikirim oleh "Azan".

Pria itu hanya mengirim teks berisi salam, file berformat pdf dan kalimat pendek berupa permintaan untuk segera mencetak file yang dikirimnya tersebut.

Aku langsung membalas chat tersebut dan mengkonfirmasi bahwa akan segera mencetak file yang dikirimnya.

Sebelum mencetak file tersebut, tentu saya aku lebih dulu mendownload dan membukanya. Ketika file itu selesai terdownload dan otomatis terbuka, mataku seketika melotot tak percaya saat membaca tulisan yang berukuran cukup besar pada halaman pertama.

PROPOSAL PENGAJUAN TA'ARUF

Aku seketika linglung, tanganku bergemetar dan dengan susah payah menggulir kursor untuk melihat isi halaman kedua.

Apakah dia hendak melamar seorang gadis?

Hatiku sedikit nyilu ketika pertanyaan itu terlintas di benakku.

Siapa gadis beruntung itu?

Aku menarik tanganku dari mouse, merasa tak sanggup untuk melihat detail isi file itu. Padahal mungkin saja aku bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaanku itu di halaman selanjutnya.

Bukankah aku tak pernah berharap? tanyaku pada diri sendiri, tapi kenapa hatiku terasa sakit. Aku tak pernah berdoa untuk memiliki mu, tapi kenapa aku merasa tak ikhlas saat mengetahui kamu ingin meminang seorang gadis. Ya Rabbi, lindungi hati hamba dari kotornya penyakit hati. Ya Rabbi, ampuni hamba yang tak sadar berharap pada sesuatu yang belum tentu engkau ridhoi.

Aku tak sadar, air mataku telah mengalir di pipiku, dengan cepat kuusap air mata itu sambil menghujam hati dengan doa-doa dan labuhan kata maaf pada Sang Penguasa.

"Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir," ucapku lirih.

Setelah tangisku mereda, ku genggam kembali mouse dan menggulirkan kursor. Perlahan ku baca halaman kedua proposal tersebut yang berisi CV Ta'aruf.

'Sayid Al-Azan Muzammil'

Berdesir, membaca namamu saja membuat hatiku berdesir. Ada baiknya aku tak membaca file ini dan segera mencetaknya saja.

Aku langsung menekan tombol print dan mencetak dokumen tersebut tanpa membaca isinya, bahkan tanpa ingin tau kepada siapa proposal itu ditujukan.

Lima menit kemudian sebuah pesan kembali masuk dan ternyata berasal dari orang yang mengingat namanya saja, membuat ku tak nyaman. Bukan tak suka, tapi terlalu tak biasa.

Azan ... bukankah kita tak pernah dekat, lalu kenapa bisa timbul perasaan yang terlalu dalam ini?

Ya Muqollibal Qulub, pergilah dari pikiranku. Bukan kah tak pernah kuberi kursi untuk kamu duduk di hatiku, lantas kenapa kamu begitu betah berdiam diri di sana, bahkan aku tak sadar kapan kamu masuk melewati pintu hatiku ini.

-Mbak, kalau sudah selesai di cetak. Mohon dijilid lux dan diperiksa ya.-

Deg, aku langsung termenung setelah membaca pesan itu.

Astaghfirullah, ini kan pekerjaanku, kenapa terlintas keluhan yang ingin dipanjatkan kepada Rabbi. Sudah sepatutnya aku memeriksa hasil cetakannya, boleh jadi ada hasil yang kurang bagus akibat kesalahan printernya.

Aku mengambil hasil cetakan tadi, dan melihatnya dengan seksama. Di halaman pertama tertera tulisan 'PROPOSAL PENGAJUAN TA'ARUF' dengan ukuran yang cukup besar dan bergaya elegant. Terlihat sekali sang pembuat proposal itu membuatnya dengan penuh niat dan usaha.

Aku membalik ke halaman selanjutnya yang berjudul 'KATA PENGANTAR'

Aku baru tau bahwa meminang gadis pun, dia seformal ini. Bukankah, biasanya hanya memakai CV Ta'aruf, tapi pria ini sampai membuat proposal layaknya pengajuan penelitian.

Aku membaca dengan hikmat rangkaian kalimat pada teks kata pengantar tersebut, namun tak sadar aku tersenyum ketika mambaca kalimat ...

... proposal ini dibuat dengan tujuan sebagai bentuk pengenalan diri kepada Pihak Perempuan dengan berharap dapat berlanjut ke jenjang selanjutnya dari proses ta'aruf ...

Aku kemudian membalikkan ke halaman selanjutnya hingga sampai di judul 'Rumusan dan Tujuan Masalah, lalu berlanjut kepada profil dirinya, mulai dari data diri, foto, pekerjaan bahkan sampai tabungan dan aset yang dimilikinya secara pribadi.

Siapa gadis yang ingin dilamarnya, sampai dia memberitahukan segala hal yang dimilikinya, bukankah selama ini dia sangat enggan menampakkan apa-apa yang ada di dirinya, gadis mana yang sampai membuatmu tidak percaya diri hingga memvalidasi kehebatanmu melalui proposal ini, Azan?

Aku kemudian kembali membalikkan halaman selanjutnya dan cukup bingung karena tak menemukan nama gadis yang hendak dilamar oleh Azan, sampai pada lembar terakhir berisi kesimpulan dan lembar pengesahan yang membuatku melotot sempurna.

Karena lembar pengesahan itu bukan hanya di tanda-tangani orang tuanya dan ustadz yang mengenal kami, namun juga tanda tangan kedua orang tuaku.

Ini tidak lucu. Sama sekali tidak lucu.

-CV nya sudah selesai di jilid- tulisku pada kolom pesan dengan menahan debaran tidak karuan.

Beberapa menit kemudian, ia membalas pesan tersebut.

-Mohon dibawa pulang dan dibaca ya, Mbak. Sekiranya ada yang kurang jelas, perkenankan saya bersama kedua orang tua saya datang ke rumah Anda untuk menjelaskan segalanya secara terperinci. Wassalammu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh-

__***__

~Sering kali aku tak sadar, bahwa dia ternyata lebih dari sekedar orang asing yang kukenal.

~FIN~

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar