Disukai
1
Dilihat
5
Persimpangan Jalan
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku menatap langit malam dengan bintang dan bulan, yang bersembunyi di balik awan tebal dengan perasaan campur aduk. Ramainya jalanan kota tidak membuat diriku terasa penuh. Tetap merasa sepi, sendiri dan hampa. Hidup ini tidak ada yang tau, tapi aku selalu meraba-raba perasaan yang dipaksa untuk dikubur dan sengaja tidak diperhatikan, apakah ini bisa diperjuangkan atau pasrah saja. 

Helaan napas berat kembali terdengar dari mulutku, dengan langkah kaki yang terus berjalan ke arah kafe yang cukup ramai, yaitu kafe cemara namanya. Kafe ini sangat cocok untuk keluarga, membawa anak-anak, pasangan kekasih dan aku tidak termasuk di antara semuanya.

Aku memilih meja yang paling ujung, cukup sepi sehingga kehangatan dari pengunjung lain tidak begitu terpancar dari sini. Aku memesan kopi panas, sambil menunggu pesanan, aku melamun. Memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang. 

Aku sebenarnya cukup merasa lega, tapi tak dipungkiri ada rasa bersalah dalam diriku, untuk tidak mencoba lebih keras lagi dalam mempertahankan hubungan yang sudah menuju ke arah lebih serius yaitu menikah. Perbedaan pendapat, salah paham, komunikasi yang tidak terbuka dan menumbuhkan sebuah perasaan yang masih diusahakan, membuatnya lama-lama menjadi sebuah bom yang akan menghancurkan. Aku sebagai laki-laki memang patut disalahkan, aku yang tidak berusaha keras untuk memperbaiki, tapi aku tau ini tidak sesederhana itu, yang awalnya ini semua hanya mencoba-coba.

Aku memandang suasana kafe, dan fokus menatap sebuah lukisan berlatar danau dengan seorang laki-laki dan perempuan yang sedang memotret dua anak yang saling merangkul. Aku terus memperhatikannya yang tampak hidup masuk ke dalam imajinasi yang tak seharusnya. 

Tiba-tiba tubuhku sedikit tersentak karena pesananku baru saja diantar ke meja. Membuatku kembali fokus ke dunia nyata dan tanpa sadar senyuman terukir di bibirku karena seorang perempuan yang sedang kutunggu, baru saja datang. Aku melihatnya, yang tampak baik dan cerah. Aku tau dan kembali sadar, bahwa aku enggak bisa meraihnya.

Mataku masih betah menatapnya yang juga tersenyum ke arahku. Dia sudah duduk, dan aku langsung menanyakan, “kamu pesan teh tarik atau matcha, Ulfah?”

Ulfah tersenyum, “Teh tarik aja Evan.”

Dengan segera aku memesankan pesanan Ulfah dan kembali duduk dengan perasaan campur aduk. Aku tau, ini enggak mudah bahkan mustahil tapi aku hanya ingin menikmati malam ini dengannya, hanya malam ini karena untuk besok tidak ada yang tau. Aku melihatnya yang sedang menatapku dengan pandangan yang tak bisa kubaca.

“Evan, apa benar kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan Cantika? Bukannya kamu sudah mau melamarnya, Van?

Aku diam dan menjawabnya setelah mengela napas pendek, “Aku enggak bisa mempertahankannya lebih lama, Fah. Banyak hal yang membuatnya menjadi susah untuk terus dilanjutkan. Dan kamu juga sudah putuskan sama dia? Aku tau Fah, kamu enggak perlu menutup-nutupi.”

Aku melihat Ulfah yang tersenyum kecil, dia menatapku dan mengangguk.

“Iya aku sudah putus, aku enggak mau main-main, Van. Ngapain aku pacaran hanya main-main, itu bukan aku, Van. Kamu tau itu.”

Keadaan hening sebentar, kemudian Ulfah kembali melanjutkan. “Kamu tau Van, menikah harus memiliki visi misi yang sama bukan? Punya tujuan baik, jika tidak, apa yang mau dicari dari situ. Apa kamu setuju dengan itu?”

Pertanyaan itu membuatku memandang jauh ke depan, ke hal-hal yang masih kelabu. “Aku setuju, Fah. Kalau tidak ada tujuan, tidak punya visi misi yang selaras, bagaimana bisa berjalan dengan baik. Itu harus dipunya sebelum berkomitmen, sebelum akhirnya menikah.”

Setelah mengatakan itu obrolan terhenti karena minuman Ulfah baru saja diantar. Aku meminum kopi yang sudah berkurang panasnya, dan menyeruputnya pelan. Aku kembali memandang Ulfah, banyak hal yang ingin aku ungkapkan, seperti perasaan, kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya sudah jelas, tapi begitu susah untuk merelakan.

“Jadi, untuk membangun hubungan seperti menikah, kamu setuju harus ada kesiapan mental dahulu dan hal krusial lainnya, Fah?”

“Kalau menurutku itu harus dimiliki, walaupun katanya, tidak akan ada kata siap sebelum kita mencobanya sendiri. Aku tau itu, tapi maksudnya tidak segampang yang dibicarakan. Ini lebih kepada kesiapan untuk berkomitmen, tidak hanya coba-coba karena ini bukan main-main. Jadi harus siap mental, diri sendiri yang lebih baik dengan selalu belajar, begitu juga hal krusial lainnya seperti keuangan, ini juga harus dipertimbangkan, supaya hal baik dapat dimulai dengan niat baik, yakin dan tanggung jawab.”

Aku tersenyum tipis mendengarnya, perempuan yang enggak mau main-main, karena dia mau yang serius tapi harus dengan orang yang tepat sehingga dia berprinsip tidak apa pelan-pelan asal jangan terburu-buru. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan ke perempuan di depanku ini, yang sekarang dia lagi melanjutkan obrolannya tentang kegiatannya akhir-akhir ini, aku hanya mendengarkan dengan fokus. Aku nyaman dengan ini, tak lama Ulfah jeda dengan ceritanya dan sekarang sedang meminum teh tariknya. Aku hanya melihatnya dan tersenyum.

“Ulfah, kamu gapapa jika menikah belum ada rasa cinta atau sayang, baik itu di diri kamu ataupun dengan pasangan kamu?”

Ulfah diam sebentar, ini berat tapi setelah bertambah usia ternyata ada beberapa hal yang bisa dikompromikan tapi jangan sembarangan. “Jika itu dulu, aku berpendapat bahwa menikah harus ada rasa cinta atau sayang, karena ini yang menjadi alasan, kekuatan dan keyakinan untuk menjalin hubungan yang sakral. Namun, ternyata banyak juga yang menikah tanpa harus ada rasa terlebih dahulu, karena ada rasa sayang atau cinta itu tumbuh setelah menikah atau setelah punya anak. Jadi, jika ditanya sekarang, sepertinya tidak masalah untuk memutuskan menikah jika belum ada perasaan yang merupakan karunia tuhan paling besar. Tapi, Van, jangan sembarangan, jangan terburu-buru. Menurutku tetap harus ada keyakinan terhadap orang itu, bagaimana sikap dan hal lainnya, sehingga kamu yakin dengannya. Baru bisa mengambil keputusan, iya atau tidak. Meskipun belum ada rasa cinta atau sayang. Walaupun sebenarnya akan lebih indah, sukacita, dan mendebarkan jika sudah saling cinta dan menyayangi.”

Aku memandangnya, dan ya, itu bakal lebih indah dan mendebarkan. Aku melihat Ulfah yang tersenyum setelah mengatakan itu. Seolah-olah dia sedang berada di suasana dan perasaan yang indah itu. Aku mengalihkan pandanganku ke pengunjung lain yang hampir semua memesan makanan, sedangkan kami hanya minuman. Dengan obrolan yang serius tapi tak mengubah apa-apa tapi untuk malam ini aku menikmatinya.

Di sisi lain Ulfah memainkan sedotan di gelasnya, menimang-nimang untuk mengatakan hal-hal yang pasti dan menjadi penghalang keduanya, untuk kembali menjadi pengingat antara dirinya dan laki-laki di depannya ini. “Kamu tau, Van? Sesuatu yang tidak bisa bersatu, bagaimanapun kamu sayang dan ingin tapi enggak bisa, yaitu tembok keyakinan di antara dua insan yang sama kuatnya.”

Suasana menjadi hening, persoalan yang tidak ada jalan keluarnya selain merelakan. Siapa yang ingin mengorbankan keyakinan yang sudah kokoh dan aku belum mampu dan tak yakin bakalan bisa berpaling. 

Perempuan di depanku yang sekarang memakai jilbab cokelat sedang memandangku sambil tersenyum kecil. Dia berulang kali bilang “Apa pun perasaan itu harus segera kita kubur, Van. Aku enggak mau main-main, apalagi soal yang tak patut kita otak-atik. Kamu di jalan kamu, aku juga begitu. Aku yakin dengan keyakinanku, begitu juga kamu. Untuk hidayah yang memang aku berharap bisa datang ke kamu, tapi aku tak akan memaksa. Kita bisa jadi teman, Van. Hanya itu, tidak lebih.”

Malam semakin larut, membekukan sisa-sisa jejak dan kata, yang kini aku dan Ulfah kembali ke persimpangan. Aku di jalanku begitu juga Ulfah. Persimpangan yang tidak pernah lurus sehingga menjadi satu tujuan, karena memang beda jalan, berlawanan arah dan tak ada yang mau ikut ke tujuan satu sama lain. 

“Van, aku pulang dulu, ya. Kamu juga hati-hati di jalan.” Ujar Ulfah sambil melambaikan tangannya dan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.

Aku masih melihat Ulfah yang baru saja pamit, meninggalkan cerita-cerita acaknya malam ini. Aku berbalik badan setelah Ulfah tidak kelihatan lagi di ujung jalan raya, mulai melangkahkan kaki meninggalkan kafe cemara yang tampak masih hidup dan hangat. 

Di perjalanan pulang, aku mendengarkan musik yang begitu pas untuk suasana hatiku dan masih berusaha untuk menerima yang memang sudah tau dari awal tak akan bisa saling mendekat karena hanya akan menyakiti. Aku bergumam pelan, 'Biarlah takdir yang menentukan, apakah akan memperjalankan aku ke kamu, iya atau tidak, kuterima.'

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi