“Mingkar-mingkuring angkara
(Menghindarkan diri, dari angkara.)
Akarana karenan mardi siwi
(Bila akan mendidik putra.)
Sinawung resmining kidung
(Dikemas, dengan keindahan syair.)
Sinuba sinukarta
(Dihias agar, tampak indah.)
Mrih kertarta pakartining ngelmu luhung
(Agar tujuan ilmu, luhur ini tercapai.)
Kang tumrap ing tanah Jawa
(Yang berlaku di tanah jawa.)
Agama ageming aji.”
(Agama pegangan para pemimpin.)
Tembang macapat pangkur sayup-sayup terdengar menembus setiap lubang telinga manusia yang menghuni desa kecilku ini, lalu perlahan merasuk di dalam jiwa dan raga mereka, entah mengapa tembang macapat selalu mempunyai daya magis tersendiri bagiku. Tetembangan yang pak wiryo lantunkan selalu berhasil memecahkan seluruh hawa sunyi yang melingkupi desaku di setiap malam—nya. Kata warga sekitar yang pernah kudengar sebelumnya melantunkan tetembangan atau pun langgam jawa adalah. Bentuk rasa syukur yang dipanjatkan kepada empunya semesta raya.
Namun hingga umurku yang kini telah mencapai tujuh belas tahun ini, aku sama sekali tak tahu apa arti ataupun makna dari semua tradisi melantunkan tetembangan dan juga syair-syair dalam bahasa jawa, apakah yang membuat pak wiryo dan seluruh warga desa percaya kalau tembang macapat adalah bentuk rasa syukur manusia kepada penciptanya? Atau mungkin ada makna yang jauh lebih luas dari itu?.
Dan suatu saat nanti, kuberanikan diri untuk mengakhiri rasa penasaranku, dengan cara bertanya kepada pak wiryo esok hari ketika malam kembali terbit dan muncul ke permukaan karena menurutku lantunan tembang macapat yang disuarakan pak wiryo akan lebih syahdu kedengarannya apabila dilantunkan pada waktu kegelapan sudah mendominasi cakrawala.
Di hari ini mau tidak mau aku hanya bisa berpuas diri untuk sekedar mendengarkan kidung mistik yang keluar dari mulut seorang bijaksana yang sedang terduduk di sebuah pos keamanan, dan secara perlahan dan pasti daya magis kembali menyeruak masuk di dalam kalbu kepada siapa saja yang mendengarkannya tanpa terkecuali diriku.
Lalu dengan indahnya formasi langit kala itu seperti ikut terkesima oleh suatu keindahan suara dari seorang insan manusia yang seperti memuja langit beserta isinya dengan tembangnya itu. Saat bait demi bait disuarakan dengan tempo pelan disertai dengan ketukan kecil, dari sebuah tepi dipan dan berhenti pada bait.
“Sinawung resmining kidung”
Dengan ajaib awan-awan yang semula tercerai berai di angkasa berangsur-angsur ketika bait itu dibunyikan gugusan awan menyatu dan bertemu di satu titik tepat berada di atas atas kemilau rembulan yang sedang bersinar, dan mega-mega yang semula berjauhan perlahan juga mendekat mengelilingi bulan dan membentuk sebuah latar belakang terbaik dari semua hegemoni langit sewaktu itu. Pemandangan yang tak pernah ku—lupakan, walaupun aku hanya melihat sekilas dari celah kecil pintu usang di rumahku.
Walau begitu rasanya jiwaku seperti terlepas sejenak dari tubuh fisikku dan seperti melayang-layang bersamaan dengan lantunan tetembangan macapat itu. Dan di malam itu aku rasa, diriku—lah pemilik sementara dari galaxy bima sakti tempat tinggal makhluk buaian jagat raya.
Setelah beberapa menit berlalu samar-samar, lantunan bunyi-bunyian langgam kian menghilang dari mencekamnya dunia malam, dan itu adalah pertanda jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam atau biasanya disebut tengah malam dan pamungkas lantunan litani dari kidung macapat mulai terucap dari seluruh sendi-sendi dan gigi geraham pak wiryo—
“Agama ageming aji
Agama ageming aji
Agama ageming aji”
Semilir dan dinginnya angin malam mulai mencabik-cabik bulu kuduk-ku dan lantunan tembang macapat yang digaungkan pun kini telah sirna, desaku kembali diselimuti oleh mencekam dan misteriusnya malam hari. Lampu-lampu pijar mulai mati. Serta jalan-jalan dan pintu-pintu mulai tertutup dan kini yang tersisa hanyalah deru dan gemercik saluran irigasi yang berada tepat di sebelah rumahku.
Tanpa pikir panjang, karena waktu juga sudah mencapai dini hari, setelah puas mendengarkan lantunan kidung macapat yang hampir setiap hari, telah mengisi jiwaku yang kosong dan kering akan sebuah makna, karena hal itulah aku sungguh bertekad untuk mengetahui apa yang sebenarnya terkandung di dalam tembang pangkur itu.
Malam ini ku—akhiri dengan mata yang lamat-lamat terpejam tak lupa juga merapal matra harapan kepada empunya bumi agar ia selalu melindungiku di sepanjang malam, karena menurut perkataan para orang tua:
“Barangsiapa yang mempercayai—nya, lalu berdoa kepada-nya maka perlindungan selalu dilimpahkan oleh-nya.”
***
Kabut tipis merayap lembut di sela-sela dedaunan—
menyisakan butiran embun yang berkilau diterpa cahaya pagi. Udara dingin menyusup perlahan, membawa aroma khas tanah basah. Ditambah lagi dengan para burung-burung yang bertengger di dahan pohon mungkin berbalas pesan lewat kicauan mereka. Terbangunlah diriku dengan badan yang segar setelah terlelap di separuh malam yang panjang.
Ditengah-tengah diriku yang belum sepenuhnya terbangun dari arah utara kedua gendang telingaku mendengar riuhnya gemuruh, suaranya semacam ribuan langkah kaki yang berjalan beriringan. Dibumbui sedikit teriakan yang terdengar seperti kalimat ajakan.
“Yu, ayo ke sawah ini waktu kita panen raya.”
“Ya, betul mari kita sama-sama ke sawah yu”
Kata panen raya terus-menerus digaungkan tanpa henti setiap rumah yang rombongan manusia itu lewatkan, selalu diteriaki oleh kalimat itu. tak terkecuali rumahku ketika jarak mereka semakin dekat dengan jarak rumahku rombongan itu segera berteriak.
“Raka, bangun ntar rezekimu dipatok ayam kalau bangun—mu kesiangan”
“ayo segera bergegas ke sawah ini waktunya panen raya, kita harus bersama-sama menikmati musim ini.”
Terlihatlah, seluruh rombongan itu, dan ketika aku membuka pintu jendela kamarku, aku sedikit melayangkan senyuman kepada mereka yang menyapaku walaupun dengan kondisi wajahku yang mengerikan setelah bangun tidur. Menurut penglihatanku saat itu rombongan ibu-ibu itu kesemuanya serentak membawa segala piranti yang digunakan untuk memanen segala hasil panen yang ada di ladang mereka masing-masing, dan hal inilah yang membuatku begitu terpesona dengan daerahku—
karena di tengah-tengah maraknya sikap individualisme atau sikap mementingkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Disini di tempat tinggalku tak ada yang dinamakan individualisme, semua kalangan masyarakat bersama dan berbondong-bondong untuk bekerja sama seperti halnya hari ini. Hari dimana musim panen raya telah tiba.
Setelah rombongan warga desa, menjauh aku kembali larut ke dalam kesibukanku yang tadi sempat tertunda. Yaitu membereskan kasur dan segala hal yang digunakan untuk di malam kemarin. Diselang ku—melipat selimutku. Arah bola mataku sontak tertuju pada sosok pria paruh baya yang cara berjalannya sedikit tergopoh-gopoh, ketika pria itu melintas aku sangat tidak asing dengan perawakan orang itu. Walaupun dari kejauhan mataku langsung mengenali bahwa seseorang itu adalah pak Wiryo—
Ditambah lagi dengan ciri-ciri khasnya yang amat gemar bersiul, karena aku amat sangat ingin mengetahui apa makna dari segala tembang macapat yang selama ini ia dendangkan aku pun berniat untuk menghentikannya sejenak lalu menanyakan perihal jawaban akan rasa penasaranku. Dengan terburu-buru—
Aku segera menyelesaikan pekerjaanku dan dengan langkah kilat aku langsung berlari, dan menemui pak Wiryo semua hal ini kulakukan adalah untuk pemenuhan atas rasa penasaranku. Di umur yang mulai beranjak dewasa ini ada sedikit berubah dalam hidupku. Perbedaanya adalah diriku yang sekarang selalu penasaran dengan bagimana dunia dan segala harmoni kehidupan bekerja. Dan di saat pertama aku telingaku mulai terjamah oleh lantunan tembang kidung macapat yang disuarakan oleh pak Wiryo.—
Aku merasa bahwa mungkin inilah satu hal, yang mungkin bisa menjawab seluruh rasa penasaranku akan segala sesuatu yang belum terjawab sebelumnya.
***
Sedikit demi sedikit aku mulai mendekati arah pak Wiryo berada dengan berlari aku mengabaikan dan menembus segala hal demi suatu tujuan yaitu suatu jawaban.—
Saat aku berhasil mendekati pak Wiryo. Peluh dan keringat sudah membasahi tubuhku. Ketika sekilas aku melihat wajah pak Wiryo ketika melihat rupaku waktu itu adalah kelihatan seperti kebingungan serta khawatir akan apa yang telah terjadi.
“Loh-loh raka, kamu ini kenapa?”
“Kenapa kok kamu lari-larian kayak anak kecil begitu” kata pak Wiryo sembari memegangi tubuhku yang hampir terjatuh.
“Anu-pak apakah saya boleh berbicara sebentar dengan bapak, ada satu hal yang perlu saya tanyakan”—
Balasku terengah-engah.
“Oalah ka-raka, mbok ya bilang dari awal kalau mau nanya kamu mau tanya apa?, kok tampaknya penting banget”
“Saya mau tanya, perihal tembang yang sering bapak senandungkan!”
“Apakah boleh pak?”
“Maksudmu tembang macapat?” —
Balas pak Wiryo sembari mengerutkan dahi.
“Iya-ya pak”
“Ya sudah sini ikut saya!, biar enak ngobrolnya”
“Baik-baik pak”
Diriku pun akhirnya mengikuti apapun yang diberikan oleh pak Wiryo, pada awalnya aku dirundung kebingungan pasal kemanakah dibawanya diriku oleh pak Wiryo—
Setelah ku-jejaki berbagai jalan-jalan penuh bebatuan, kulihat keindahan dan hijaunya daerahku kala itu, semua tampak terjaga dan baik kelihatannya. Tatkala beberapa saat setelah berjalan begitu lama aku mulai menyadari akan suatu tempat yang tidak asing.
Dataran rendah dengan petak-petak yang tersusun teratur dan di setiap petaknya ditumbuhi oleh berbagai macam cikal bakal makanan dan sayuran. Ya ini adalah lokasi sawah milik warga daerah sini. Sesampainya di ujung sawah diriku diarahkan untuk duduk di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah sawah. Aku pun melakukannya sesuai arahan yang ada. Walaupun masih dengan pertanyaan yang sama. Apa yang sebenarnya pak Wiryo maksudkan?—
“Sudah nak raka, kamu mau tanya apa mengenai tembang macapat?”
Diriku yang masih diliputi kebingungan kenapa aku diarahkan ke sini sontak terkejut—
“Gak usah kaget nak raka, saya mengajak kamu kesini agar kamu menyadari bahwasanya alam adalah surga yang dimiliki dan diciptakan untuk manusia, bagi siapa saja yang menyadarinya.”
“Silahkan, mau tanya apa?
Perkataan dari pak Wiryo memecahkan kebingunganku dan perlahan aku mulai bisa menggerakkan bibirku untuk berkata.—
“Jadi begini pak, saya mau tanya sebenarnya apa sih makna tembang macapat yang selalu bapak lantunan setiap malamnya. Dan mengapa seluruh warga daerah kita melakukan hal yang sama?”—
“Saya dengar makna tembang macapat adalah ungkapan rasa syukur kepada tuhan, tapi kok bisa dinyanyikan dan dilantunkan di mana saja?”
Setelah seluruh pertanyaan ku-lontarkan kepada pak Wiryo entah mengapa tidak langsung menjawabnya. Terlihatlah bahwa ia malah memandangi hamparan petak-petak ladang di sisi kanan gubuk. Hingga beberapa waktu. Pak Wiryo mulai berkata:
“Nak-Raka, dirimu masih belia tetapi kamu sudah mempertanyakan hal yang cukup berat untuk dijawab, tapi tak apa akan saya jawab”
“Nak raka makna sebenarnya dari tembang macapat adalah sebuah pengingat atau warga daerah sini menyebutnya pepeling”
“Pengingat akan apa pak?”—
Tanyaku penasaran.
“Pengingat bahwa pada suatu saat nanti kita akan tiada dan kembali menjadi tanah, karena sejatinya dengan itulah kita terbentuk”
“Karena tembang macapat berisi alur kehidupan mulai dari seorang manusia belum mempunyai ruh hingga, sampai ruh itu terlepas dari raganya”
“Dan ketika para warga di daerah ini, melantunkan tembang macapat berarti ia sedang mengingat bahwa kehidupan ini hanyalah sementara.
“Oleh karena hidup hanyalah sementara, maka pergunakanlah hidupmu sebaik yang kamu bisa nak”
“Dan itulah makna yang lebih luas selain daripada ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta.”
~SEKIAN~