Disukai
2
Dilihat
12
Penumpang bus terakhir
Horor
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pada malam hari tepatnya pukul 23:00, aku baru saja pulang bekerja. Aku memesan ojek online, aku menunggu di halte bus selama bermenit-menit, tetapi ojek itu tidak datang. Aku menunggu di halte bus, saat itu jalanan sepi . Aku melihat jam dan sekarang sudah menunjukkan pukul 23:20, akhirnya ada bus yang datang, itu bus yang tua, sudah sedikit rusak. Aku memutuskan untuk naik bus itu tanpa berpikir panjang.

Saat di dalam, aku melihat ada banyak penumpang di sana, anehnya mereka semua terlihat pucat, hawa di dalam bus juga sangat dingin. Aku mencobanya menghiraukan dan duduk di kursi pojok pada baris ke tiga. Orang yang duduk di sebelahku adalah seorang pria, seperti seusiaku. Ia hanya diam, aku lalu berbicara "Hai, kamu akan turun di mana?" Tanyaku. Pria itu tidak menjawab apapun, dia hanya menoleh padaku dengan tatapan kosong.

Aku lalu membuka ponsel dan berpura-pura sibuk. Saat aku melirik ke pria itu, ia masih menatapku dan ia tiba-tiba tersenyum. Aku kembali fokus pada ponselku, aku merasa tubuhku bergetar karena hawanya yang dingin dan sesuatu yang lain. Tiba-tiba pria itu berbicara padaku "kamu tidak takut?" Aku lalu kembali menatap pria itu "T-takut?" Jawabku sambil bergetar. Pria itu tidak menjawabku lagi, ia menatap ke depan.

Aku lalu berdiri dan memutuskan untuk pindah tempat duduk, tetapi pria itu malah menahanku, ia memegang lenganku. "Mau kemana?" Tanya pria itu, aku menjawab "Aku ingin pindah ke depan" Pria itu berbisik pelan sebelum melepaskanku "Tolong" setelah Ia mengatakan itu, Ia segera melepaskanku dan aku segera pindah tempat duduk di sebelah supir bus. Supir itu menatapku "Ada yang bisa saya bantu, neng?" Aku lalu menggeleng pelan "Tidak, saya hanya ingin duduk di sini." Aku kembali duduk dan menatap ponselku. Sekarang sudah pukul 23:59. Aku memutuskan untuk tertidur.

Setelah beberapa saat, aku terbangun dan membuka ponselku, melihat jam dan sudah menunjukkan pukul 01:20. Aku langsung terdiam. Aku lalu melihat ke luar jendela dan terkejut karena ada banyak pohon-pohon, aku menyadari bahwa ini di hutan. "Kenapa lama sekali? Sudah pukul 01:20? Apakah haltenya terlewat? Sekarang Aku sudah dimana? Kenapa jalannya lewat hutan?" Itulah pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku. Aku terus berdo'a di dalam hatiku.

Akhirnya bus itu berhenti di sebuah halte, Aku melihat ke jendela dan melihat bahwa ini adalah halte dekat rumahku, aku berdiri dan berjalan keluar. Saat di luar, aku menoleh ke pengemudi, ia hanya menatap aku kembali dengan pandangan kosong. "Terima kasih ya, neng. Anda penumpang terakhir saya, saya akhirnya bisa tenang karena membawa neng dengan selamat. Maaf ya karena jalannya lama. Tolong saya dan yang lainnya." Aku lalu segera berlari ke rumahku, aku masuk ke kamar dan mencoba untuk tertidur dengan perasaan yang menjanggal. 'Penumpang terakhir? Tolong?' Itu pertanyaan yang terus berputar di otakku. Aku melihat jam dan sudah pukul 01:45. Aku lalu memaksakan diri untuk tertidur.

Keesokan harinya, aku terbangun dan membuka laptop. Aku memberitahu kejadian yang aku alami semalam kepada temanku. "Elena, semalam aku menaiki bus saat pukul 23:10, itu tidak seperti bus yang biasanya. Bus itu jalan melewati hutan." Elena lalu menjawab pesanku "Bus di jam 23:10?! Bukankah bus di kota kita hanya sampai pukul 22:00? Dulu memang ada yang sampai 24 jam, tetapi bus itu menghilang beberapa bulan lalu. Banyak yang berasumsi bahwa bus itu kecelakaan. Bus itu belum ditemukan sampai sekarang, dan lewat hutan?! Mana ada bus yang lewat hutan, mungkin itu hanya halusinasi kamu saja karena kamu kecapean karena bekerja" Itu pesan yang temanku kirim. Aku langsung terdiam, aku merasakan tubuhku bergetar karena ketakutan. Itu jelas bukan mimpi, bukan halusinasi. Itu semua terasa sangat jelan. Aku berpikir bahwa tempat yang semalam adalah petunjuk hilangnya bus itu.

Aku lalu bersiap-siap. Aku pergi ke hutan menggunakan sepeda motor milikku. Sesampainya di hutan, aku mencium aroma yang aneh, seperti aroma hangus dan aroma lainnya, aku mengikuti aroma tersebut dan benar saja, ada bus yang rusak akibat terjepit di antara pepohonan. Masih ada penumpang serta sopirnya di dalam sana. Aku lalu menelfon polisi dan ambulance untuk datang, aku mengirimkan lokasiku. Hawa di sana sangat dingin walaupun masih pagi hari. Aku mulai merasa takut karena sendirian di tengah hutan, tetapi anehnya sinyalnya tetap terhubung dengan lancar. Aku lalu memutuskan untuk menelfon temanku agar aku tidak terlalu takut.

"Mia? Kamu diamana? Kenapa belakangmu pohon semua?" Tanya temanku, Elena dari telfon. "Aku sedang di hutan, tempat semalam yang Aku ceritakan" jawabku, lalu Aku melanjutkan "Disini beneran ada bus serta orang di dalamnya. Aku takut banget, temenin aku sampe bantuannya datang, ya? Plisss!" Elena lalu menghela nafas "lagian kamu ngapain ke sana sendirian? Kenapa gak ngajak aku?" Tanya Elena dengan kesal. "Hehe... Aku takut ngerepotin kamu" jawabku. Aku dan Elena terus berbicara.

Setelah beberapa saat, ada suara kendaraan. Polisi dan ambulance sudah sampai dan mulai mengamankan tempat tersebut. Aku lalu mematikan telfon. Aku menjelaskan semuanya kepada polisi dan polisi itu akhirnya percaya kepadaku dan mengucapkan terima kasih kepadaku. "Terima kasih karena sudah melapor. Saya dan yang lain akan mengurus semuanya." Ucap polisi itu padaku. Kasus ini lalu masuk ke dalam berita, banyak orang dan keluarga dari korban yang datang.

Saat di rumah, aku mendapatkan notifikasi dari ponselku, itu notifikasi dari ojek yang aku pesan semalam. Ia bicara bahwa semalam Ia membatalkan pesanannya karena sudah larut malam. "Mohon maaf, kak. Saya membatalkan pesanannya semalam. Saya tidak datang ke lokasi kakak karena sudah larut malam, dan anak saya berasa di rumah sakit karena kecelakaan. Mohon maaf sekali lagi, kak" Itu pesan yang ia kirim. Aku lalu membalasnya "iya, pak. Tidak apa-apa. Saya sudah pulang dengan selamat. Mau bagaimanapun, keluarga itu yang paling penting."

Saat malam hari, aku bermimpi hal yang sama ketika aku naik bus itu, tetapi bus itu bersih, orang-orang di dalamnya juga sangat ceria. Bus itu mengantarku kembali ke rumahku. Bus itu berhenti di halte, supir bus lalu menatapku dan tersenyum "Terima kasih banyak karena sudah berani mencari tahu, sekarang saya dan penumpang lainnya dapat beristirahat dengan tenang" ucap supir itu. Aku lalu tersenyum dan menjawab "iya, pak. Saya juga berterima kasih karena sudah mengantar saya dengan selamat. Semoga kalian tenang ya disana." Aku terbangun di pagi hari dengan perasaan yang nyaman. Aku lalu bersiap untuk pergi ke kantor dan bekerja seperti biasanya.

Setelah kejadian itu, aku selalu pergi membawa kendaraan dan aku berusaha untuk tidak pulang larut malam. Aku hanya berdoa semoga tidak ada korban lagi, dan semoga semua orang di dalam bus itu tenang di alam sana.

- TAMAT -

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)