Disukai
1
Dilihat
49
Lenyap (0-8)
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

(0)

Malam ini hambar seperti sebelumnya. Langit legam tanpa variasi warna, bintang-bintang berkelip tak bernyawa, dan derau angin tak lagi menusuk kalbu untuk beri damai.

Di dalam kamar asrama kampus yang sederhana, aku duduk di hadapan meja. Semua kawan sekamar telah tertidur, sementara aku terjaga. Mataku berat dan perih. Bermalam-malam tidur kurang dari lima jam. Bermalam-malam benakku dirasuki agar tidak tenggelam dalam kenyenyakan.

Dari tadi aku hendak menulis sesuatu. Tiga puluh menit duduk. Tiga puluh menit menatap lembar putih. Tiga puluh menit aku memegang dan memutar pulpen. Kosong. Belum tergores sama sekali.

Penulis macam apa aku ini. Tidak satu pun kalimat yang tertuang ke kertas. Dapat kudengar olok-olokkan lembar itu hanya dengan memandang kehampaannya.

Setiap kali sebuah kalimat terbit di kepala, semuanya segera kutendang jauh-jauh.

'Wahai dunia, ini aku.'

'Namaku...'

'Hari ini aku...'

'Inilah hidupku...'

Semuanya terlalu sentimental, atau malah datar. Akan tetapi sebuah perkataan kembali berbisik di telingaku: Tulis apa saja yang kamu mau, tulis semuanya sejujur mungkin. Entah dari mana aku pernah mendengarnya, tetapi itu jelas mengundang pulpenku untuk menyentuh kertas dan mulai menggores kalimat pertama, yang akan meriap kian waktu jadi sebuah kisah.

Barangkali alasan utama aku tidak memulainya tadi ialah ini bukan tentang karakter fiksi yang aku buat di kepala. Ini bukan fantasi dengan naga dan istana. Ini bukan misteri dengan si korban dan pembunuh. Bukan pula horor dengan hantu dan rumah misterius. Kali ini aku menulis tentang aku. Segala hal yang bisa dikumpulkan akan kutumpahkan.

(1)

Semua orang yang berkuliah di luar kota memiliki alasan tertentu; memulai hidup baru; mencari pendidikan lebih layak; mencari relasi; pengalaman; atau bahkan untuk sekadar menjauh dari orang tua. Aku bukan di antara semua itu.

Sudah berjalan satu bulan perkuliahan ini dan aku menemukan beberapa kawan baik. Malam-malam kami akan berkumpul di kafe, mengobrol sampai nyaris tengah malam, tertawa lepas, hingga semua perkara menguap ke udara.

"GOL!" Hendra mengalahkanku lagi dalam permainan foosball. "Lagi lagi!" Ia melanjutkan sambil melompat.

"Gantian ah! Playerku lemes amat dendangnya." Keluhku

"Itu mah lu yang skill issue." Sahut indri dan Ananda menyetujuinya.

"Ya udah, siapa yang mau lawan Hendra?"

Kevin berdiri, mendekati meja foosball, dan ronde baru dimulai lagi. Kali ini Hendra dan Kevin. Skor demi skor mereka peroleh. Para penonton (termasuk aku) memberi semangat pada keduanya.

Skor di antara keduanya sangat tipis: 9 dan 8. Sisa satu gol bagi Hendra untuk menang. Seperti biasa, Hendra menanggap enteng permainan ini, sementara Kevin mengeratkan genggamannya pada pegangan karet, memutar-menyeret pemainnya untuk menendang bola ke area Hendra, atau menghalangi serangan lawan.

Sebuah kesempatan datang. Baris kedua pemainnya Hendra sedikit serong: ada ruang bagi bola untuk lewat. Saat bola menyentuh salah satu pemainnya Kevin, dengan sekuat tenaga ia memutar pegangan. Pemainnya berayun, memberi dorongan bagi bola untuk menerjang. Hendra yang melihatnya ikut heran. Ia menyeret salah satu baris, berniat mengalangi, bahkan jika beruntung, mengantar bola itu ke gawangnya Kevin.

Namun karena dorongan dari bola tersebut terlalu kuat. Ketika Hendra menghadangnya, benda itu malah loncat ke loteng lalu berakhir mengenai kepalanya Kevin.

Aku, kawan-kawan, bahkan Hendra terbahak-bahak melihatnya.

"HAHAHAHAHAHHA!"

Tawaku yang paling keras di antara semuanya. Kevin pun ikut melontarkan tawa bersama kami.

***

"Pagi pak"

"Pagi bu."

"Indri!"

"Hendra!"

"Vin!"

"Nanda!"

Semua orang yang dijumpa, bahkan yang tidak dikenal, kusapa dengan senyuman. Mereka membalasku serupa: melambaikan tangan dan tersenyum. Bukankah memang begitu semestinya? Senyum dibalas senyum, kebaikan dibalas kebaikan.

Mama dan papa pasti heran melihat anak mereka berlaku begini.

***

Satu semester telah berlalu. Aku, Indri, Kevin, Hendra, dan Ananda masih menyempatkan waktu berkumpul, kadang-kadang bermain, walau tidak sesering dulu. Tawaku masih yang paling kencang, bahkan pada candaan paling garing tetap kulontarkan suara itu. Dan bila tawa itu tidak keluar, aku akan mengambil napas, menekan dada, kemudian melantunkan gelak lebar.

***

Perkara lebih besar nyaris di depan mata: Ujian akhir semester. Belakangan ini aku tidak menghabiskan waktu bersama mereka, dan mereka pula pasti sama sibuknya denganku. Dua minggu penuh aku bersama layar laptop beserta salindia-salindia materi. Tidur hanya tiga jam. Lingkaran hitam sekitar mata timbul.

Kadang kala di tengah keterpisahan sejenak ini, aku mengulang kembali setiap kenangan bersama mereka. Hendra dengan candaan kelas kakapnya. Kevin dengan lihainya membantuku mengerjakan tugas, yang terkadang melontarkan candaan garing. Lalu Indri dan Ananda, dua kawan paling manisku, sering memberi semangat ketika aku tengah sibuk.

Tiga hari lalu mereka menghampiriku yang tengah fokus ke layar laptop, mereka menepuk pundakku sambil tersenyum lembut.

"Semangat Yuda."

Betapa beruntungnya aku

***

UAS telah usai dan akhirnya kami berkumpul kembali.

Indri membuka suara "Gimana guys UAS nya?"

Kevin berdecak, "Kecil itu mah."

Hendra menggaruk kepalanya, "Enteng banget mulutnya."

Ananda menggelengkan kepala, "Kan... siapa suruh gak mau belajar."

Semuanya tertawa bebas, sebab UAS telah berlalu dan beberapa hari lagi mereka akan pulang ke rumah masing-masing, menikmati libur semester. Semuanya tertawa, kecuali aku. Entah karena kurang tidur, atau bayang-bayang soal UAS masih menghantui. Yang pasti, mereka tetap lanjut berbicara dan tertawa, tanpa aku.

Haruskah aku ikut tertawa? Ide bagus. Di sela tawa mereka, aku ikut mengeluarkan suara yang sama. Bukannya membuat tertawa makin panjang dan keras, mereka justru berhenti sejenak, terkekeh, kemudian melanjutkan percakapan.

***

Malam terakhir sebelum pulang kampung, aku memutuskan untuk pergi ke mal terdekat. Di lift, saat mau balik ke asrama, aku tak sengaja bertemu dengan orang-orang yang amat kukenal

Ya... mereka... Hendra, Kevin, Indri, dan Ananda. Mereka terdengar tengah seru mengobrol. Ketika baru mau bergabung bersama mereka, sekonyong Ananda berkata.

"Kenapa kita nggak ajak Yuda ke sini?"

"Orang munafik gitu ngapain diajak!"

"Selow Indri... jangan terlalu ngegas, ntar jodohnya ama si monyet." Tambah Hendra.

Si monyet? Maksud mereka aku?

"Siapa juga yang suka denger orang lain ketawa kencang, kek babi aja!" Ujar Indri semakin berapi-api.

Kevin pun menambahkan, "Tapi lu bener sih. Si Yuda ketawanya kek mau keluar tai aja!"

Semuanya tertawa, kecuali aku.

"Eh... tapi kenapa si Yuda kemarin gak ketawa kek biasanya?" Ananda bertanya lagi dengan nada yang lebih menohok

Indri menatapnya, " Di situlah munafiknya!"

Lagi-lagi semuanya tertawa hingga lift berakhir di lantai 2, mereka masih akan lanjut keliling mal tanpa menyadari bahwa aku tadi berdiri di pojok.

Tawaku? Apa yang salah dengan tawaku? Aku tertawa juga demi mereka, bukan untuk diriku sendiri. Kenapa dengan tawaku?

Lalu mereka ke sini tidak mengajakku? Mereka tidak bilang apa-apa soal ini.

Ada apa dengan mereka? Ada apa denganku?

Sepanjang jalan menuju asrama, aku menekan dada yang mungkin sewaktu-waktu bisa membawaku terisak.

(2)

Beberapa bulan lalu, sesuatu yang tak pernah terlintas di kepala terjadi padaku. Saat itu aku tengah berada di ruang kelas, tinggal menunggu dosen pengampu mata kuliah datang beserta materi-materi nanti. Di detik-detik terakhir kedatangan si dosen, seorang gadis memasuki ruangan, duduk bersama rekan-rekannya, tersenyum manis, lalu mengeluarkan laptop dan sebuah buku catatan.

Siapa dia? Siapa namanya? Yang aku tahu dia adalah kakak tingkat, sebab jarang aku lihat wajahnya di antara angkatanku.

Kulirik ia sebentar, sebentar.... saja. Sayang sekali bila kehadirannya diabaikan begitu saja, dan berkat aku menguping sedikit perbincangan mereka, aku jadi tahu namanya.

"Ella." Namanya kugumamkan beberapa kali, memastikan pengucapannya benar. Seketika baris demi baris puisi tersusun di benakku hanya dengan melihatnya pertama kali.

Astaga... ada apa denganku? Aku meraba dadaku yang berdebar tak biasa. Kukulumkan bibir, perlahan aku mencoba membuang sosok Ella jauh-jauh dari pikiran.

***

Tatapanmu memberi sanubariku hujan, melebatkan-menyuburkan seluruh tanaman yang kering.

Kemarau panjang telah berlalu berkat hadirmu, yang telah limpahkanku dengan segala rasa.

Berakarlah di dalamku, ambillah seluruh milikku, dan jangan khawatir bila aku haus.

Puisi itu kuberi judul: Tanahku untuk akarmu.

***

Setelah kejadian itu aku selalu berusaha mencari kesempatan untuk mendekatinya. Nihil. Ia selalu sibuk. Pernah satu kali aku mengirimnya pesan di DM:

"Hai kak"

Tidak ada balasan sama sekali.

Mengapa aku melakukan ini? Dia cuman kakak tingkat, dia juga cuman gadis di antara lainnya yang banyak. Namun memikirkan dirinya bersama dengan lain perlahan membakarku dari dalam.

***

"Orang munafik gitu ngapain diajak!"

"Ketawanya kencang, kek babi aja!"

"Si Yuda ketawanya kek mau keluar tai!"

"Kenapa si Yuda gak ketawa?"

"Di situ munafiknya!"

Kalimat-kalimat tadi tinggal, tertancap jelas dalam ingatanku. Setiap kata yang terhubung dengan kata lain menyerbu dadaku berkali-kali dan begitu seterusnya.

Saat mau masuk asrama, sekitar lima puluh meter di hadapanku. Seorang gadis tengah duduk bersebelahan, bahkan dekat bersama seorang laki-laki di dekat tangga masuk. Keduanya berpegang tangan.

Pandanganku belum menangkap sepenuhnya siapa gadis itu. Namun begitu aku mendekat perlahan, aku menyadari siapa gadis itu. Ella. Ya, dia tengah bersana seorang laki-laki.

"Ketawanya kencang, kek babi aja!"

"Si Yuda ketawanya kek mau keluar tai!"

"Di situ munafiknya!"

Lagi dan lagi kalimat tadi menghardikku hingga sekarang

Aku memutuskan jalan lurus menuju lift sambil mengabaikan pandangan tadi. Aku kalah telak.

(3)

Esok pagi aku pergi ke bandara untuk menuju ke kota kelahiranku. Aku selalu percaya bahwa kota kelahiranku adalah rumahku, sebab ibu kota terasa begitu asing bagiku.

Pesawat akhirnya terbang, menembus awan serta jarak untuk mengantar semua penumpang menuju tujuannya. Aku tidur sejenak dalam perjalanan

Setelah sekitar 3 jam lewat 30 menit, pesawat mendarat ke bandara kotaku. Aku mengambil seluruh bawaanku keluar dan menunggu mamaku menjemput. Akhirnya aku telah pulang.

(4)

Mama mengajakku ke rumah makan seafood di sekitar pusat kota bersama papa dan adik. Mama tahu betul kalau mujair goreng, sambal, dan kangkung adalah kesukaanku.

Namun kali ini aku hanya menatap makananku tanpa gairah untuk melahapnya sampai habis. Mama yang melihatku demikian bertanya padaku.

"Kenapa Yuda?"

Aku yang terlamun langsung tersadar dan segera melahap nasi, sambal, ikan, dan sayur dengan tergopoh-gopoh. Setelah menelan seluruh isi mulutku aku berkata, "Enak ma."

Setiap suapan kian mengisi perutku, memberikan kekenyangan. Tetapi apa yang kumakan kini hanya sekadar mengisi perutku. Mau sebanyak apa pun yang dilahap, dadaku tetap kosong. Biasanya makanan akan sanggup memuaskan jiwa, tapi kali ini tidak.

Kami lanjut makan sampai isi piring di meja tandas.

(5)

Ternyata aku salah. Kota yang kuanggap rumah kini tidak menerimaku sebagai anaknya. Semuanya terasa asing, bahkan lebih asing dari ibu kota. Lantas, di mana rumahku?

Siang ini, kami sekeluarga akan pergi jalan-jalan.

Di tengah jalan mama dan papa bertanya tentang perkuliahanku di ibu kota. Aku pun hanya menjawab ala kadarnya.

Entah bagaimana percakapan itu berlangsung hingga pada satu titik mama bertanya padaku, "Sebenarnya cita-citamu apa, Yuda?"

Dadaku berdebar teguh. Aku tahu apa kelak aku inginkan. Dengan yakin dan sedikit bergetar kujawab, "Penulis."

Untuk sesaat tidak ada jawaban dari mama dan papa. Mama akhirnya bersuara, "Kenapa mau jadi penulis."

"Karena..."

"Memangnya penulis untungnya apa? Tiap hari cuma tulis cerita! Merokok! Jarang mandi! Gondrong pula! Kamu mau jadi begitu?!! Sudah dikuliahkan mahal-mahal tapi maunya jadi penulis!"

Apa salahnya bermimpi? Apa salahnya menjadi penulis? Kalau aku jadi demikian apakah mama akan memandangku hina? Rupanya iya, bahkan di sepanjang perjalanan dia diam saja, dan papaku tidak mencoba membelaku.

(6)

Kami jalan-jalan ke mal, makan di restoran, dan bersantai sebentar di kafe sampai malam tiba. Di perjalanan pulang rinai turun dari langit, hinggap di kaca mobil dengan elok, yang keelokannya hanya disadari olehku.

Seketika ayah membuka suara, "Yuda. Kamu liburan di rumah terus. Sesekali keluarlah, main dengan teman-teman."

Merasa diusik, aku menjawabnya, berharap percakapan ini akan putus, "Nanti."

"Kamu ini ya, dari kecil banyak diamnya. Temannya cuma itu-itu saja dan sekarang kamu tidak punya teman?! Papa saja dulu temannya banyak."

"Iya, nanti pa."

"Kamu kalau begini terus mau bagaimana? Hidup itu jangan egois Yuda!"

Ketawanya kencang kek babi! Ketawa kek mau keluar tai! Munafik!

Semua kalimat-kalimat lalu kembali menerjangku, bahkan angin malam tak sanggup memperbaikinya, malah akan membuatku banjir air mata. Jangan sampai aku menangis di sini.

Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar, berbaring, menutup muka dengan bantal, lalu menangis tanpa suara.

"Sudah dikuliahkan mahal-mahal tapi maunya jadi penulis!"

"Hidup itu jangan egois Yuda!"

Terima kasih, ma. Karena telah merawatku sampai detik ini. Engkau telah memberi tubuhku makan sampai besar begini. Tetapi satu hal yang tidak kau lakukan bahkan di saat ini adalah memberi jiwaku makan. Dari kecil jiwaku lapar akan pengertianmu dan selama ini kuturuti keinginanmu untuk kuliah. Semuanya demi sesuap yang nanti akan kau berikan bagi jiwaku. Tetapi, setelah mengungkapkan keinginanku, rupanya seumur hidup jiwaku akan lapar.

Terima kasih, pa. Karena telah mengajarkanku ketabahan dan mengenalkanku pada Tuhan. Engkau adalah ayah yang ada dalam doa dan harapan setiap anak. Maafkan aku bila belum bisa memenuhi kemauanmu, maaf karena engkau malah mendapat anak sepertiku, harusnya engkau dapat yang lebih baik.

(7)

Hari ini adalah hari minggu terakhir aku di sini sebelum balik ke ibu kota. Siang ini kami sekeluarga pergi ke Gereja untuk mengikuti ibadah serta perjamuan.

Sia-sia. Semua doa dan pujianku tidak memberi garam pada ketawaran hatiku. Perjamuanku tidak membuaku terhubung dengan Tuhan.

Kuperhatikan orang-orang di sekitar, tampak sungguh-sungguh dan semakin dekat dengan sang Pencipta.

Seumur hidupku aku percaya bahwa Tuhan adalah juru selamat setiap manusia berdosa. Namun hari ini aku sadar bahwa Dia tidak memilih semua untuk bergabung dengannya di Surga: akulah salah satunya. Doa justru menyadarkanku betapa jauhnya diriku dengan Tuhan, dan mendengar khotbah hanya membuatku terhina dan makin malu.

Dia tidak memilihku untuk selamat. Setelah mati aku akan hidup kembalin dan terus-menerus dilahap api, dibuat menjerit tanpa mengalami kematian

Untuk pertama kalinya aku menyadari serta yakin betapa sia-sianya hidup yang aku jalani. Semuanya hidup untuk mati, bahkan aku.

Seketika aku teringat khotbah salah satu pendeta yang menghina orang-orang yang bunuh diri. Dulu pula, sebelum mengerti hidup, aku sepakat dengan dia. Namun sekarang, aku mengerti, mereka pun yang mati bunuh diri tidak salah, sebab hidup ini adalah untuk mati.

Dulu aku tidak mengerti mengapa orang-orang bisa memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya, tapi kini semuanya sudah jelas: mereka tidak lagi punya alasan apa pun untuk hidup. Kini... aku semakin serupa dengan mereka. Alasanku untuk hidup mulai lenyap. Tidak ada lagi alasan untuk mencintai, berkawan, atau pun bermimpi.

Sebab hidup ini memang tidak ada makna.

(8)

Fajar telah tiba. Sudah tiga jam aku duduk dan menulis halaman demi halaman sampai penuh.

Aku meregangkan tubuh, menghela napas dalam-dalam, dan mendongak sejenak ke arah langit-langit.

Sudah selesai, pikirku. Meski tidak lengkap, tapi setidaknya ada yang tertulis. Mataku memandang jendela. Pelan-pelan sinar matahari kian memperlihatkan permai rupanya. Kini aku bisa tidur sejenak sebelum mengikuti kelas siang nanti.

Namun sebelum bangkit dari kursi, aku menyadari satu hal, setengah dari jari tanganku menghilang. Lalu kuperhatikan tanganku; partikel demi partikel tercerabut dari ragaku, beriringan dengan makin menyusutnya ukuran jariku.

Dari jari, lenganku ikut lenyap perlahan. Habis lengan, kakiku juga ikut hengkang dari keberadaan. Lanjut ke paha, panggul, perut, hingga akhirnya helai rambut terakhirku terangkat menuju ketiadaan bentuk.

Kini seluruh diriku menguap ke udara. Aku telah menyatu dengan angin

***

Dalam wujud angin, aku mengelilingi kampus dan mendapati Kevin, Hendra, Indri, dan Ananda asik mengobrol.

"Hidup itu jangan egois Yuda!"

Perkataaan papa kembali menusukku. Namun ketika mau ikut berbicara aku baru ingat: mereka tidak bisa melihatku, sehingga aku memutuskan untuk berkelana tanpa tujuan.

Arus membawaku ke kota kelahiranku, lebih tepatnya di rumah. Di sana, mama, papa, dan adik tampak tenteram. Saat mau mengetok jendela, yang keluar malah suara hembusan angin. Lagi-lagi aku lupa. Aku telah menjadi angin.

Angin lainnya memanggilku untuk mengikuti arus supaya tidak ditinggal. Ada banyak angin yang bisa kulihat di sekelilingku, tetapi tidak satu pun dari mereka memiliki nama, dan sekarang pun aku menjadi satu dengan mereka.

Aku bukan lagi seseorang, bukan pula Yuda: aku hanyalah angin, bukan sesuatu yang berarti lagi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)