Bagaimana rasanya hidup di ambang kesulitan untuk berbelanja kebutuhan harian tanpa adanya uang, sementara gaji baru turun di akhir bulan? Silakan tanyakan lebih dalam kepada seorang pria lanjut usia bernama Pak Slamet. Seluruh jerih payahnya ia curahkan untuk menafkahi keluarganya—istri dan tiga anaknya. Bagaimana mungkin Tuhan membiarkannya tenggelam dalam pahitnya hidup tanpa diakhiri dengan ucapan alhamdulillah setelah lelahnya berjuang?
Pak Slamet hanyalah lulusan SD dari Desa Karangsari, Banyumas, Jawa Tengah. Usianya 54 tahun. Sejak kecil, ia kurang mendapatkan pendidikan yang semestinya. Ia bahkan kerap menjadi bahan olok-olok teman-temannya hingga beranjak dewasa.
Pada usia 12 tahun, Pak Slamet nekat merantau ke Jakarta. Dalam bayangannya, Jakarta adalah surga. Namun kenyataannya, ia justru merasa kecil di hadapan orang-orang di salah satu kantor tempatnya bekerja. Menurutnya, lulusan SD tidak mungkin dipandang tinggi, apalagi dihormati. Berawal dari kurir antar paket, ia kemudian dipercaya menjadi office boy (OB), hingga akhirnya menjadi karyawan tetap bagian alat tulis kantor (ATK) selama 30 tahun. Namun, gajinya tetap di bawah upah minimum regional.
Suatu hari, Pak Slamet khawatir mendengar kabar anaknya yang sakit di pesantren. Bermodalkan nekat, kendaraan dengan sisa bensin sedikit, dan tanpa selembar uang pun, ia berangkat menjenguk. Anaknya sejak kecil memang sering mengidap tifus. Mungkin itulah sebabnya Pak Slamet merasa tidak kunjung sejahtera, karena hampir seluruh tabungannya habis untuk biaya kesehatan anaknya.
Dengan suara lirih ia berkata kepada istrinya, “Bu, kita tengok Bejo, yuk.”
Ibu Sri segera mengiyakan dan bersiap.
Sesampainya di pesantren, mereka bertemu Bejo. Anak itu tampak lesu dan hanya mengeluh sakit. Tanpa pikir panjang, Pak Slamet bersikeras membawa Bejo ke klinik terdekat. Tak disangka, hasil pemeriksaan menunjukkan Bejo sehat. Mungkin ia hanya rindu orang tuanya. Sejak kedatangan ayah dan ibunya, Bejo kembali ceria.
Namun, entah apa yang terlintas di pikiran Pak Slamet. Ia justru ingin memeriksa gula darahnya sendiri, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
“Lima ratus tiga puluh, Pak, untuk gula darahnya.”
Petugas klinik tampak tergesa-gesa menyarankan agar Pak Slamet segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Pak Slamet tercekat. Ia bahkan tidak membawa uang.
“Cek gula darah puasa, ya, Pak. Lusa silakan datang ke rumah sakit sesuai rujukan ini,” kata petugas itu lagi.
Tahukah bahwa Pak Slamet datang tanpa sepeser pun? Tahukah bahwa yang sakit justru dirinya, bukan Bejo? Dan tahukah bahwa Tuhan Maha Pengasih?
“Semuanya gratis, Pak.”
Kalimat itu terasa seperti pelukan dari langit. Mungkin karena seorang ayah yang begitu peduli pada keluarganya, terutama Bejo. Pak Slamet datang bukan hanya karena sakit, tetapi karena rindu. Ia percaya bahwa menafkahi keluarga jauh lebih berharga daripada menimbun harta yang tak seberapa.
Bejo akhirnya tidak perlu minum obat apa pun. Dokter justru menasihati Pak Slamet mengenai pola hidupnya: tidak berolahraga berat, tidak menunda kontrol ke rumah sakit, tidak sampai dehidrasi, berhenti merokok, menghindari karbohidrat berlebih, gula tambahan, buah terlalu matang, serta makanan yang digoreng.
“Wah, banyak juga ya,” jawab Pak Slamet sambil menggeleng.
Sejak itu, Ibu Sri rutin memasakkan makanan sehat: nasi merah dan aneka rebusan—pisang, jagung, ubi, singkong, talas, wortel, buncis, kentang, bayam, brokoli, telur, dan lainnya.
Siapa sangka, rekan kerja Pak Slamet tertarik dengan makanan sehat tersebut? Pak Slamet sebelumnya menceritakan kejadian saat ia menjenguk Bejo hingga mengetahui kadar gula darahnya mencapai 530.
“Lima ratus tiga puluh?!”
Rekan-rekannya terkejut. Sekitar 17 orang mengerubungi Pak Slamet yang sedang menikmati bekal dari Ibu Sri.
“Pak, besok saya pesan dua porsi.”
“Saya juga, Pak.”
“Saya mau lima, Pak.”
Suasana kantor menjadi riuh hingga menarik perhatian atasan. Pak Slamet sempat khawatir akan dimarahi. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Saya pesan sepuluh, Pak,” kata atasannya dengan semangat.
Sejak saat itu, Pak Slamet diperbolehkan berdagang di kantor. Usaha katering kecilnya bersama Ibu Sri diberi nama Al-Mubarok. Dari hidup yang penuh tekanan dan kesulitan mencari tambahan penghasilan, Tuhan membuka jalan melalui penyakit gula darah yang ia derita.
Pak Slamet tidak hanya pulih secara kesehatan, tetapi juga finansial. Bahkan, ia meyakini bahwa suatu hari nanti Tuhan akan memanggilnya pulang dengan keadaan husnul khatimah—semua berawal dari gula darah yang menjadi berkah dalam hidupnya.
Beberapa bulan berlalu. Pak Slamet mulai menjalani hidup dengan cara yang sama sekali berbeda. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, ia membantu Ibu Sri membungkus pesanan katering satu per satu. Mereka bangun jauh sebelum azan Subuh berkumandang. Dapur kecil yang dahulu hanya dipenuhi suara wajan kini dipenuhi aroma sayuran rebus, nasi merah, dan semangat baru.
**********
Awalnya pesanan hanya berasal dari rekan-rekan satu divisi. Lama-kelamaan, pegawai dari lantai lain ikut memesan. Ada yang tertarik karena ingin hidup lebih sehat, ada pula yang penasaran setelah mendengar kisah Pak Slamet. Tidak sedikit yang akhirnya menjadi pelanggan tetap karena merasa makanan buatan Ibu Sri sederhana, tetapi bersih, mengenyangkan, dan dibuat dengan sepenuh hati.
Pak Slamet tidak pernah menganggap usaha kecil itu sebagai keberhasilannya sendiri. Setiap kali ada orang yang memuji rasa masakan Ibu Sri atau mengagumi perkembangan usahanya, ia hanya tersenyum sambil berkata, "Ini semua pertolongan Allah. Saya cuma menjalani apa yang bisa saya jalani."
Perlahan, kondisi keuangan keluarga mereka mulai membaik. Mereka tidak lagi bingung ketika kebutuhan sekolah anak-anak datang bersamaan. Tagihan listrik, biaya pesantren, hingga kebutuhan dapur dapat dipenuhi tanpa harus terus-menerus berutang kepada tetangga. Meski demikian, gaya hidup Pak Slamet tidak berubah. Ia tetap datang ke kantor dengan motor tuanya yang setia menemaninya bertahun-tahun. Baginya, kendaraan hanyalah alat, bukan ukuran keberhasilan seseorang.
Bejo yang mengetahui perjuangan kedua orang tuanya menjadi semakin giat belajar di pesantren. Ia sering menelepon hanya untuk mengingatkan ayahnya agar tidak lupa minum obat dan melakukan kontrol rutin ke rumah sakit. Kini, bukan hanya ayah yang mengkhawatirkan anak, tetapi anak juga belajar mengkhawatirkan ayahnya.
"Pak, jangan bandel. Kata dokter jangan telat makan," ujar Bejo suatu malam melalui sambungan telepon.
Pak Slamet hanya tertawa kecil. "Iya, Jo. Sekarang yang jadi orang tua siapa?"
Percakapan sederhana itu membuat hati Pak Slamet hangat. Ia sadar bahwa kasih sayang dalam keluarga tidak pernah berjalan satu arah. Anak-anak yang dahulu ia besarkan dengan susah payah kini mulai tumbuh menjadi penguat langkahnya.
Penyakit diabetes memang tidak hilang begitu saja. Ada hari-hari ketika tubuhnya terasa lemah, kadar gula darahnya naik, atau ia harus menahan diri melihat teman-temannya menikmati makanan manis. Namun setiap kali godaan itu datang, ia selalu teringat bagaimana angka 530 pernah mengubah jalan hidupnya. Angka yang dahulu membuatnya takut justru menjadi pengingat bahwa hidup dapat berubah hanya dalam satu peristiwa yang tidak pernah diduga.
Di kantor, Pak Slamet juga menjadi sosok yang sering dimintai nasihat oleh rekan-rekan yang ingin memulai usaha sampingan. Ia tidak pernah berbicara tentang strategi bisnis yang rumit. Nasihatnya sederhana.
"Kalau mau usaha, jangan cuma cari untung. Cari juga kepercayaan orang. Rezeki itu datang kalau orang percaya sama kita."
Ucapan itu mungkin terdengar biasa, tetapi bagi Pak Slamet, kepercayaan adalah modal terbesar yang tidak bisa dibeli dengan uang. Selama puluhan tahun menjadi office boy dan petugas ATK, ia belajar bahwa orang dihargai bukan hanya karena pendidikan atau jabatan, melainkan karena kejujuran dan tanggung jawabnya.
Suatu sore, ketika pulang bekerja, Pak Slamet berhenti sejenak di depan musala dekat rumahnya. Ia memandangi langit yang mulai berwarna jingga. Dalam hati ia mengingat perjalanan hidupnya: diejek karena hanya lulusan SD, merantau tanpa bekal, hidup pas-pasan, hampir tidak mampu membeli kebutuhan sehari-hari, hingga akhirnya menemukan secercah harapan melalui ujian yang awalnya tampak menyakitkan.
Ia tersenyum pelan.
"Ternyata Allah tidak pernah terlambat," gumamnya.
Pak Slamet akhirnya memahami bahwa kebahagiaan bukanlah ketika seseorang memiliki segalanya, melainkan ketika ia mampu mensyukuri apa yang ada sambil terus berusaha memperbaiki hidup. Ujian tidak selalu datang untuk menghancurkan manusia. Terkadang, ujian justru menjadi pintu yang mempertemukan seseorang dengan jalan rezeki yang selama ini tidak pernah terpikirkan.
Kisah Pak Slamet mengajarkan bahwa tidak semua pertolongan Tuhan datang dalam bentuk kemudahan. Ada kalanya pertolongan itu hadir melalui kesulitan, penyakit, kehilangan, atau kekhawatiran yang memaksa seseorang mengubah cara hidupnya. Jika Pak Slamet tidak berangkat menjenguk Bejo hari itu, mungkin ia tidak akan pernah mengetahui penyakit yang dideritanya. Jika ia tidak mengetahui penyakit itu, mungkin usaha katering Al-Mubarok tidak pernah lahir.
Karena itu, setiap kali seseorang bertanya apa rahasia keberhasilannya, Pak Slamet hanya menjawab singkat, "Jangan menyerah. Terus berusaha, terus berdoa, dan jangan berhenti bersyukur. Jalan keluar sering kali datang dari arah yang tidak pernah kita sangka."
Begitulah hidup Pak Slamet. Bukan kisah tentang orang kaya yang semakin kaya, melainkan kisah seorang ayah sederhana yang membuktikan bahwa ketulusan, kerja keras, dan keyakinan kepada Allah mampu mengubah musibah menjadi keberkahan.