Disukai
0
Dilihat
3
Harga Selembar Tisu
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

"Maaf ya, aku nggak bisa balas perasaan kamu, Jak."

Jaka menurunkan setangkai bunga yang terangkat dan mengembalikan suasana hati sebelum ia mengenal Sahla.

'Apa boleh buat? Tidak mungkin hanya dengan satu penolakan, akan membuat Jaka berhenti mencintai siapa pun. Termasuk dirinya.'

Jaka mengemas seluruh peralatan tulis ke dalam tas. Setangkai bunga juga tak lupa dimasukkan. Teman kelasnya saling memandang satu sama lain—mencoba untuk menghibur Jaka yang dilanda hancur hatinya.

Rencana yang matang sudah disiapkan sebulan lamanya. Teman tongkrongan rumah sudah sering mendengar cerita tentang perempuan yang Jaka idamkan. Sebagai balasan atas teman yang mau mendengarkannya, Jaka tak segan mentraktir teh gelas dan beberapa ciki selama cerita berlanjut. Sesekali bakso urat ia berikan kepada temannya.

Bertumpuk sudah saran teman tapi tak guna karena kepalanya sekeras batu, ia tetap bercerita tentang perempuan itu. Puisi terakhir sebelum hatinya membatu sukses mengundang ribuan like dan komentar dari akun spam instagram yang dibuatnya 2 tahun lalu—isinya spam dan spam yang ditujukan untuk Sahla. ‘Semoga suatu saat fyp di akunnya.’

"Sahla."

Nama itu diketik oleh Jaka sebagai penerima paket yang disiapkan jauh-jauh hari di keranjang kuning—hadiah ulang tahun yang akan jatuh pada 8 bulan mendatang.

Jaka berulang kali mengecek estimasi paket itu tiba, kurir virtual selalu diperhatikan sepanjang hari pada fitur pelacak. Jaka takut jika sang kurir mati mendadak, atau paketnya ditabrak mobil, atau paketnya terbakar, atau mungkin paket itu dicuri orang.

Hari demi hari berlalu, begitu pun berganti minggu-minggu.

Jaka menceritakan rasa cinta perempuan kelas sebelah pada teman sebangku di min seminggu penolakan. Setelah Jaka selesai bercerita, ia tak segan mentraktir temannya dengan seluruh uang saku yang ia punya. Mengabaikan nasehat dari orang tua. Berulang kali menatap layar kapan paket itu tiba. Sampai alam memaksanya untuk terus bercerita dan bercerita, tak hanya satu dan dua, namun setengah dari seluruh temannya muak tak tergoda.

Hari-hari setelah itu berjalan lebih buruk, sampai Sahla mendengar cerita dari mulut ke mulut atas perasaan Jaka yang selama ini sudah dirasakannya. Setiap kali menelusuri kantin merasa ada pandangan negatif yang akan menimpanya, terlebih fake account dengan sedikit pengikut bolak-balik mengunjungi profil instagramnya dan sudah capek ia memblokirnya.

“Ngeselin banget sih!”

Di dimensi yang lain, Jaka masih duduk di bangku yang sama. Masih sempat membeli sarapan di kantin. Masih melewati depan kelas Sahla dengan langkah yang sedikit diperlambat—berharap melihat Sahla atau sekadar belum terbiasa menerima kenyataan bahwa seseorang bisa begitu mudah menjadi bagian dari kepala, tetapi tidak pernah menjadi bagian dari kehidupan.

Temannya mulai bosan mendengar nama Sahla. "Ada topik lain nggak, Jak?"

Jaka menggeleng terus melanjutkan cerita sampai temannya pergi tanpa sapa.

"Belum, eh."

"Belum apanya?” Temannya menengok Jaka tanpa memutar tubuhnya.

"Belum selesai."

"Gila lu, Jak. Semua orang punya kesibukan, dan gua harus dengerin cerita lu?"

“Ayolah, gua udah traktir lu banyak. Masa lu gamau dengerin gua cerita?”

“Eh, dongo! Lu harus tau ya, kalo Sahla gabakal suka sama modelan kaya lu!”

Di atas meja, sebuah buku tulis terbuka. Halamannya penuh dengan tulisan tangan yang semakin hari semakin sulit dibaca. Ada nama Sahla di hampir setiap halaman—gaya tulisannya hampir berbeda semua, font yang dirakit semampu Jaka dan diberi coretan dikit. Jaka menyebutnya ‘Grafiti ala Jaka’ siapapun yang ditulis olehnya pasti akan berbunga-bunga.

Ada lukisan sepasang remaja yang ia ukir dengan pena. Kalimat-kalimat yang ditulis ala romansa. Ada puisi sastra yang bagus dengan akhiran yang sama bunyinya, atau seperti pantun Jarjit tapi versi Indonesia. Kurang lebih dibuka dengan kalimat ‘Ikan hiu melayang- layang. Love you Sahla sayang…’

Di halaman paling belakang, Jaka menulis:

Jika tidak denganmu, maka tidak dengan siapa pun. Hari ini aku sadar, ternyata mencintai seseorang bukan cara terbaik untuk bahagia. Sejak aku mencintaimu, aku mulai gila.

Jaka menggaruk cepat tengkuknya, dengan cepat kalimat itu kembali dibaca. Beberapa kalimat sudah hampir bersarang di otaknya, tapi buru-buru ia mencabut dan merobek kertasnya.

Di halaman lain ia menulis ulang:

Perpustakaan cintaku telah kembali

Setelah sekian musim hatiku hanya menjadi ruang yang dipenuhi rak-rak kesunyian.

Buku-buku kenangan yang lama terdiam kini kembali membuka halaman ketika namamu hadir dalam ingatan.

Aku pernah mencoba merapikan seluruh cerita tentangmu, menyimpannya jauh di sudut yang tak ingin lagi ku jangkau. namun rupanya, ada nama yang tak mampu dihapus oleh waktu, sebab semakin ingin dilupakan, semakin ia menemukan jalannya sendiri untuk tinggal.

Lalu kau kembali seperti buku lama yang tiba-tiba kutemukan di antara tumpukan hari-hari yang telah berlalu. aku membuka kembali halaman-halamannya, dan di sana, ternyata masih ada aku yang belum sepenuhnya berhenti mencintaimu.

Kini perpustakaan itu kembali ramai, bukan oleh suara manusia, melainkan oleh kenangan yang berlarian dari satu sudut hati ke sudut lainnya. Setiap rak menyimpan namamu, dan setiap halaman seakan masih mengenali cara aku merindukanmu.

Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari. Aneh rasanya. Selama ini ia terlalu sibuk mencari kata untuk menjelaskan perasaannya kepada orang lain, sampai lupa bahwa dirinya sendiri tidak pernah benar-benar ia kenal.

Besoknya, Jaka datang lebih pagi. Me-reset kehidupan yang dulu ia tinggalkan. Ia melangkah cepat dan berhenti di depan gedung perpustakaan—masih sepi. Hanya ada petugas bersih-bersih yang sedang mengusap jendela dengan kanebo serat jumbo.

Jaka mengambil satu buku secara acak. Bukan buku tentang kebangkitan cinta. Bukan kumpulan puisi. Bukan pula non-fiksi dengan perjuangan untuk membacanya.

Bukan novel yang tokohnya patah hati. Dia mengisahkan pejuang rindu yang berubah menjadi tukang kayu—blurb di belakangnya tertulis “jika kau lupa caranya mengukir rindu, maka bantulah aku mengukir kayu.”

Buku itu bahkan tidak menarik baginya. Tapi setelah penolakan yang baru disadari Ia membaca halaman pertama.

Tidak mengerti karena itu tentang perkayuan. Membaca halaman kedua. Masih tidak mengerti.

Halaman ketiga membuatnya menguap. Namun entah kenapa, ia terus membaca. Ia membaca untuk dirinya sendiri dan berniat membuat tubuhnya lebih jenuh tuk melepas penat sejak bulan-bulan lalu dirundung gelisah.

Sejak hari itu, perpustakaan menjadi tempat yang tidak sengaja ia datangi setiap pagi.

Satu buku.

Dua buku.

Tiga buku.

Tidak selalu selesai.

Tidak semuanya dipahami.

Sahla masih ada di kepalanya. Tetapi tidak lagi memenuhi seluruh ruangan.

Ada cerita lain.

Ada tokoh lain.

Ada kehidupan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya, tetapi meninggalkan pemikiran mereka melalui buku.

Jaka mulai menulis lagi tanpa kata Sahla di dalamnya.

Ia menulis tentang tukang gorengan, satpam, OB, atau badut keliling di perempatan lampu merah yang cintanya habis dimakan bekerja, yang setiap subuh bangun lebih awal berjudi dengan Tuhan jika hari ini lebih baik dari sebelumnya. Tentang ibu kantin yang selalu menyisihkan gorengan lebih untuk dicuri siswa yang kurang orang tuanya dalam menafkahi. Tentang temannya yang setiap hari tertawa paling keras tetapi Jaka tau dia adalah semata wayang yatim piatu.

Ia menulis tentang hal-hal kecil. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia anggap layak untuk diceritakan.

Suatu sore, ia duduk di perpustakaan sambil membaca sebuah buku bekas. Di sela-sela halaman, ia menemukan secarik tisu.

Tisu biasa.

Sudah menguning dan tertekuk kaku.

Ada tulisan kecil dengan tinta biru di atasnya.

"Suatu hari, ladang pikiranmu mungkin akan berkabut, membuatmu lupa ke mana harus melangkah pergi. Maka, menepilah pada deretan kalimat yang terpahat. Sebab di dalam buku, tersimpan peta rahasia untuk memeluk jiwamu yang sedang mengembara.."

Jaka membaca kalimat itu berkali-kali. Ia tidak tahu siapa yang menulisnya. Ia juga tidak tahu kapan tulisan itu dibuat. Mungkin bertahun-tahun lalu. Mungkin seseorang pernah menangis di antara halaman buku itu.

Mungkin tisu tersebut digunakan untuk menghapus air mata. Atau mungkin hanya untuk menandai halaman.

Jaka bersiap mengeluarkan ponsel dengan kamera, bersiap mengambil foto.

Tak jadi. Ia buang niat itu jauh-jauh. Ia memasukkan tisu itu kembali ke dalam buku.

Beberapa bulan kemudian, paket yang pernah dipesan Jaka akhirnya tiba. Ia menatap kotak itu lama. Nama penerima masih tertulis jelas: Sahla.

Hadiah ulang tahun yang ia pesan delapan bulan lalu. Ia hampir saja mengantarkannya. Hampir.

Namun sebelum membuka pintu kamar, Jaka kembali melihat buku yang tergeletak di meja.

Di dalamnya terselip tisu tua itu. Ia mengambil pena. Di atas kotak hadiah tersebut, ia menulis:

"Aku membawa pulang kembali apa yang sudah kupersembahkan, menggenggam erat bingkisan yang kini tak bertuan. Alamatmu telah terhapus dari peta perjalananku, meninggalkan aku dan hadiah ini termangu di persimpangan waktu. Biarlah... jika kau tak bisa menerimanya, akan kujadikan ini hadiah terindah untuk jiwaku yang sempat terlupa.”

Kotak itu tidak pernah sampai kepada Sahla. Jaka menyimpannya.

Bukan sebagai kenang-kenangan. Tetapi sebagai bukti bahwa seseorang pernah begitu keras mengejar orang lain sampai lupa jalan pulang.

Malam itu, Jaka kembali membuka buku. Ia menulis satu kalimat:

Dulu, kupikir mencinta adalah mengembara, mencari sepasang mata untuk melabuhkan segala rasa. Namun setelah lelah mengetuk pintu yang salah, aku mengerti; cinta sejati justru dimulai saat aku membalik arah,memeluk sepi, dan menjemput diriku yang terlanjur patah.

Beberapa bulan berlalu.

Nama Sahla tidak benar-benar hilang dari kepala Jaka. Hanya saja, namanya tidak lagi datang setiap pagi, tidak lagi muncul ketika Jaka melewati depan kelas, dan tidak lagi menjadi alasan Jaka membuka Instagram berkali-kali dalam sehari.

Ada hari ketika Jaka bahkan baru menyadari bahwa ia sudah seminggu tidak mencari tahu kabar Sahla. Malam itu, entah karena bosan atau sekadar ingin menguji dirinya sendiri, Jaka membuka Instagram.

Jarinya mengetik sebuah nama yang sudah lama tidak ia ketik.

Sahla. Profil itu muncul. Jaka terdiam beberapa detik. Tidak ada perasaan seperti dulu, jantung bergetar, keinginan untuk mengirim pesan.

Jaka ingin tahu bagaimana keadaan Sahla. Jaka membuka sorotan. Satu demi satu.

Kantin. Teman-temannya. Kegiatan sekolah. Buku.

Sebuah sorotan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Perpustakaan.

Jaka menekannya.

Sebuah foto rak buku muncul.

Foto berikutnya memperlihatkan meja kayu di dekat jendela.

Lalu halaman sebuah buku yang terbuka.

Jaka berhenti menggeser layar. Ada sesuatu di sana.

Selembar tisu.

Tisu yang sama.

Tepi kirinya terlipat ke dalam. Ada noda kecil berwarna kecoklatan di sudut bawah. Bahkan lipatan yang selama ini Jaka kira dibuat olehnya ketika memasukkan tisu itu kembali ke dalam buku masih terlihat.

Jaka memperbesar layar. Tulisan biru itu. Tulisan yang sudah berbulan-bulan ia simpan di dalam buku. “Suatu hari, ladang pikiranmu mungkin akan berkabut...”

Ia membaca sampai selesai, membuka foto berikutnya. Sahla memotret buku yang sama dari sudut yang berbeda. Di caption kecilnya tertulis: “Ketemu lagi.”

Jaka menatap layar cukup lama. Tangannya perlahan turun. Buku yang selama ini ia simpan di meja kamarnya tiba-tiba terasa berbeda. Ia segera mengambilnya.

Membuka halaman tempat tisu itu biasa terselip. Kosong.

Jaka membalik beberapa halaman.

Tidak ada.

Ia membalik lagi. Tetap tidak ada.

Dadanya kembali seperti hari penolakan, tetapi bukan seperti ketika pertama kali ditolak.

Ia membuka kembali sorotan Sahla.

Foto itu masih ada.

Tisu yang sama.

Tulisan yang sama. Dan untuk pertama kalinya Jaka memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Tisu itu bukan ditemukan oleh seseorang yang tidak ia kenal. Bukan peninggalan seorang pembaca lama. Bukan pula pesan yang secara kebetulan jatuh ke tangannya.

Di belakang buku itu Jaka lamat laun mengeja. Itu milik Sahla.

Tisu itu memang sengaja ia selipkan di sana ditulis oleh Sahla.

Ia kembali melihat foto itu. Dulu, jika mengetahui hal seperti ini, mungkin ia akan menganggapnya sebagai tanda, menyusun ribuan kemungkinan. Mungkin Sahla punya perasaan, selama ini ada sesuatu. Mungkin Tuhan sedang mempertemukan mereka melalui sebuah tisu. Mungkin.

Tetapi Jaka sekarang tahu, kebetulan tidak harus berubah menjadi harapan.

“Jadi punya lu, toh.”

Jaka menutup Instagram tanpa pesan yang dikirim. Tanpa tangkapan layar. Tanpa menggunakan profil palsu.

Tidak lagi memberi bunga, hadiah. Ia mengambil buku dari meja. Membuka dan menulis di halaman kosong: Anggap saja ia sekelebat angin di musim kemarau, sejenak menyejukkan, lalu kembali merantau. Jangan sesali langkahnya yang menjauh dari pandangan, sebab ia telah selesai menunaikan tugas dari Tuhan: membuatmu sadar betapa kuatnya dirimu dalam bertahan.

Ia mencoret kalimat itu. “Lebay.”

Ia tertawa.

Kemudian menulis lagi.

Terima kasih untuk tisunya.

Kali ini tidak dicoret.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi