Disukai
0
Dilihat
20
KLIK UNTUK MEMBALAS
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Klik untuk Membalas

 

Satu bendel berkas melayang di udara, menghantam telak wajah pria itu hingga kertas-kertasnya berserakan di lantai seperti harga dirinya yang terkoyak. Dengan napas tertahan, ia berlutut memunguti lembar demi lembar dokumen di bawah ujung sepatu hak tinggi atasannya. "Saya sudah menyelesaikannya tepat sesuai instruksi Ibu, bagian mana yang kurang?" tanyanya dengan suara rendah yang berusaha tetap tenang. Sang atasan hanya melirik sinis dan mendesis tajam, "Semuanya. Semuanya kurang di mata saya."

Dengan suara terbata, terjepit di antara rasa sedih dan amarah yang bergejolak, pria itu sempat memberanikan diri menatap mata atasannya, namun nyalinya menciut dan kepalanya kembali tertunduk begitu membentur tatapan sang atasan yang sedingin es. "Saya... saya akan perbaiki kembali," bisiknya parau. "Dalam lima belas menit," potong atasannya dengan nada tak terbantah, "lebih dari itu, kamu saya pecat. Kantor ini butuh pegawai yang kreatif, bukan robot tumpul seperti kamu."

                                                                   ***

 

Seorang wanita melangkah keluar dari lobi pusat perbelanjaan dengan langkah tergesa, masih mengenakan seragam kasirnya berupa blouse rapi dan celana panjang yang membungkus kakinya yang jenjang. Parasnya yang menarik tampak guram oleh kelelahan, sementara rambut hitamnya yang panjang hingga ke punggung terayun lembut mengikuti irama langkahnya. Karena desakan ingin segera sampai di rumah, ia lupa mengancingkan tas kulit yang tersampir longgar di bahu kanannya. Di trotoar yang sesak oleh hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang, ia menembus kerumunan tanpa rasa curiga. Di tengah kepadatan itu, sebuah tangan dengan cekatan merogoh celah tasnya yang terbuka, menyambar dompet di dalamnya, dan menghilang d...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)