Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
17
Ibu Lupa
Misteri

Setumpuk uang ada di atas meja dapur.

Kakak menundukkan tubuhnya, memajukan kepalanya, dan menatap dengan khidmat.

"Ada itu mungkin 100 juta." Ucapnya.

Aku menggelengkan kepala. "Tidak, terlalu banyak. Itu cuma 50 juta." Balasku. Ia menoleh padaku dan merenggangkan punggungnya.

"Mau bertaruh?"

"Aku mana punya uang..." Kutarik kursi dan menjatuhkan diri ke dalamnya. "Terakhir kali aku punya juga itu untuk berobat bapak."

"Masa iya habis sama sekali?"

Aku mengangguk. "Kalau tidak percaya, tidak masalah juga."

"Ya, sudah. Tetapi aku berani bertaruh kalau itu 100 juta." Kakak mondar-mandir sembari menyilangkan tangannya di depan dada. "Kalau aku menang, kamu boleh mendapatkan semua gim yang ada di kamarku."

Senyumku mengembang. "Serius? Bagaimana kalau tambahkan komputer milikmu?"

"Boleh saja. Tetapi apa yang bisa kamu beri untukku?"

Aku bangkit dan membuka baju. Lalu berbalik dan menunjukkan ke arah punggung bagian kanan bawah dekat dengan pantat.

"Bagian kiri sudah kujual. Bagian kanan belum. Bagaimana?"

Kakak menangguk. Wajahnya lebih cerah dari sebelumnya.

Ia menyodorkan tangannya padaku. "Ayo, deal!"

Kusambut tangannya dan berteriak sekencangnya. "Deal!"

Kami menunggu hari hingga petang. Ibu akan datang seperti biasa membawa makan. Kemarin ia membawa sebuah pisang dan apel. Lalu kami berdua membaginya sama rata.

Soal bapak... Dia akhirnya menyerah dalam hidup. Setelah uangku habis untuk berobat sakitnya yang tidak biasa, lidahnya yang sering tergigit sendiri, ia malah gantung diri. Setelahnya, aku malah menjadi gelandangan. Syukurnya kakak masih mau memungutku.

Malam pun tiba, ibu pun melangkah menuju dapur tanpa banyak bicara. Ia menatap mataku dan mata kakak bergantian. Lantas menaruh dua buah kotak sterofoam di atas meja.

"Makanan ini untuk kalian..." Ucapnya. Masih memerhatikan tingkah kami yang beridiri tegak dan merapatkan kaki. "Sudah-sudahi permainan bodoh kalian ini. Apa lagi yang kalian pertaruhkan?"

Kakak lebih dulu melepas sikap hormatnya, "Ibu yang kami hormati, berkenankah ibu menjawab pertanyaan kami?"

"Apa? Cepat! Ibu tidak suka tingkah kalian yang menjijikkan ini."

"Berapakah jumlah uang yang ada di atas meja itu?"

"50 Juta. Kenapa?"

Aku berteriak kencang mendengarnya. Berapa pun jumlahnya asal tidak 100 juta, aku menang!

"Tunggu Ibu, aku tidak percaya!" Balas kakakku.

"Kamu berani meragukan kebijaksanaan ibu? Gila!" Timpalku. Aku tidak ingin semua berbalik padaku.

"Diam kalian berdua! Siapa yang menyentuhnya tadi?"

Kami terdiam. Kami menggeleng. Kami kembali pada sikap hormat kami. Membisu dan mematung.

"Ibu sudah memakainya setengah. Ibu yang paling tahu angkanya. Siapa pun yang berani menyentuhnya, ibu potong tangannya!"

Kami tidak bicara. Aku berusaha melihat ke arah lain. Lirikan mataku sempat tertuju pada kakak. Wajahnya memerah. Mungkin dia kepikiran soal semua gim miliknya yang akan menjadi milikku.

Ibu meraih tumpukan uang itu, melepas ikatan karet gelang yang melingkarinya. Jemarinya mulai lincah menghitung lembar demi lembar.

"Ibu hitung... Akhirnya... Pas!"

Kakak bersimpuh dan aku melompat-lompat kecil sambil bersenandung. Aku bahkan tidak bisa melihat wajah kakak di bawah sinar lampu dapur. Bayangan telah menelannya.

"Apa yang kamu menangkan?" Tanya Ibu padaku.

Aku tersenyum, merapikan bajuku yang kusut, dan memberikan suara bariton terbaikku.

"Aku memenangkan semua gim milik Kakak!"

"Semuanya?"

"Ya, Ibu! Sama... Komputernya juga."

"Hahaha, bodoh Kakakmu. Terus apa yang kamu pertaruhkan?"

Aku menunjukkn punggung bagian kanan bawah dekat dengan pantat.

"Ho... Sudah kelihangan yang kiri mau kehilangan yang kanan juga? Sama saja gilanya dengan kakakmu." Aku tertawa riang. Tangisan kakak mulai terdengar walau lirih.

"Ya, sudah, makan ini. Besok ibu datang lagi."

Ibu meninggalkan kami sembari membawa uang di atas meja. Sedangkan kakak tidak juga bangkit dari ketertundukannya. Kuraih kotak sterofoam itu dan kubuka. Mataku terbelalak melihatnya. Isinya setumpuk uang yang bernilai sama dengan uang yang sebelumnya ada di atas meja.

Kubuka kotak satunya, ayam panggang dua dan nasi. Bertumpuk dan berhimpitan.

Sebentar.

Apa ibu lupa menaruh uangnya di mana?

Kuambil nasi dan ayam panggang dari kotak milik Kakak, kutanamkan seluruh uang itu hingga bercampur minyak dan sambal.

Ah, persetan cara mencucinya nanti!

Jantungku berdebar lebih hebat dari sebelumnya. Aku tidak mau cuci darah seumur hidup.

-Fin-

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)