Disukai
2
Dilihat
17
Ketika Namaku Tak Lagi Kau Sebut
Self Improvement
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

"Aku tak habis pikir. Selalu saja dibanding-bandingkan dengan seseorang yang bukan siapa-siapa."

Titan menggumam samar, tetapi karena itulah terasa lebih menyakitkan di telinga Yvone yang kini merasa tersudut.

Malam sudah larut, embun mulai merayap di permukaan kaca jendela apartemen kecil yang telah mereka tempati selama hampir dua tahun terakhir. Lampu ruang tamu menyala redup, dan di atas meja masih ada dua cangkir teh yang mulai dingin.

Yvone mengangkat kepala.

"Aku cuma bilang dia menginspirasiku dalam hal itu."

"Dan kamu mengatakannya berkali-kali."

"Titan..."

"Kamu mungkin harus mempertimbangkan dia, jika terus begitu."

Yvone terdiam. Ia tahu Titan sedang terluka, tapi cara Titan mengatakannya membuat dadanya ikut sesak.

"Apa artinya, aku selama ini tidak bisa menginspirasi kamu?" lanjut Titan.

Pertanyaan itu menggantung di udara, karena tak meminta jawaban, tapi hanya pertanyaan yang muncul dari luka.

Yvone memejamkan mata sejenak.

Hubungan mereka sebenarnya tidak buruk. Selama ini mereka saling mendukung karier masing-masing, saling menemani ketika gagal dan menguatkan ketika hidup terasa berat.

Namun beberapa bulan terakhir, semuanya berubah, kini mereka sedang berada di fase yang sama-sama sulit.

Titan sedang berusaha menemukan arah hidupnya setelah beberapa proyek yang ia bangun gagal berkembang, sementara Yvone sedang mengejar banyak impian sekaligus hingga sering merasa tidak cukup baik. Mereka sama-sama lelah, dan orang yang lelah sering kali tidak sengaja melukai orang yang paling dicintainya.

"Aku tidak pernah bilang kamu tidak menginspirasiku," kata Yvone akhirnya.

"Tapi itu yang aku rasakan."

Titan berdiri.

Yvone menggigit bibirnya, ia ingin membela diri dengan menjelaskan semuanya bahwa kekagumannya kepada orang lain tidak pernah mengurangi cintanya kepada Titan. Tetapi ia tahu malam ini bukan soal penjelasan yang membuat Titan kalut, ini soal perasaan yang terlalu lama dipendam.

"Kamu marah ketika aku menyebut nama orang lain."

Yvone menatapnya.

Lalu Titan menggeleng pelan.

"Enggak. Aku berusaha menutupi kegalauan dan kekecewaanku."

Yvone merasakan tenggorokannya mengering.

"Aku hanya ingin sendiri aja. Aku nggak mau berdebat."

Suara Titan mulai bergetar.

"Aku hanya berpikir untuk menyelesaikan semua kekacauan yang sudah aku buat sendirian."

Kalimat itu membuat Yvone terhenyak, selama ini ia mengira Titan marah, ternyata yang ia lihat sebagai kemarahan hanyalah kesedihan yang tidak tahu cara keluar.

"Aku tak butuh orang lain yang menjadi inspirasi. Apalagi jika itu orang lain yang membuatku semakin merasa buruk dan tidak berguna."

Hening, hanya suara hujan yang tersisa.

Yvone menunduk.

Tiba-tiba ia teringat banyak hal tentang Titan yang selalu menjadi orang pertama yang membaca tulisannya, orang yang diam-diam mengantar makanan ketika ia sibuk lembur. Dan Titan juga yang yang menghafal jadwal presentasinya lebih baik daripada dirinya sendiri.

Lalu kapan terakhir kali ia membuat Titan merasa dihargai?

Ia tidak ingat, mungkin sudah terlalu lama.

Sementara itu Titan berjalan menuju balkon. Ia menerawang, matanya nanar menatap lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.

Sebenarnya ia tidak marah kepada Yvone, tapi ia marah kepada dirinya sendiri, karena semakin hari ia merasa kehilangan arah, semakin sering ia merasa tertinggal dan selalu dirundung kebingungan, apakah dirinya masih cukup berarti.

Dan setiap kali Yvone menyebut seseorang yang hebat, sukses, yang menginspirasinya, selalu saja ia digoda pertanyaan yang membuatnya jengah.

"Kenapa bukan kamu yang membuatnya kagum?"

Ia membenci pikiran itu, tapi selalu saja muncul

"Titan."

Yvone menghampirinya.

Titan tidak menoleh.

"Kalau aku sudah membuatmu merasa seperti itu, aku minta maaf."

"Tidak perlu minta maaf."

"Tapi aku memang salah."

Titan akhirnya menoleh.

Yvone tersenyum pahit.

"Aku terlalu sibuk mencari inspirasi ke mana-mana sampai lupa menghargai inspirasi yang ada di dekatku."

Titan menghela napas.

"Aku juga salah."

"Kok bisa?"

"Aku berharap kamu bisa membaca isi kepalaku."

Yvone tertawa meski matanya mulai basah.

"Itu kemampuan yang belum aku miliki."

"Aku tahu."

"Kalau aku punya kemampuan itu mungkin kita nggak akan bertengkar."

Mereka sama-sama tersenyum mengingat kelucuan yang membuatnya saling salah paham.

Ketegangan sedikit mencair.

Titan bersandar pada pagar balkon.

"Aku cuma lagi kehilangan arah, Yvone."

"Aku tahu."

"Nggak, kamu nggak tahu."

Yvone diam.

"Aku bangun tiap pagi dan merasa semua orang berlari lebih cepat. Aku lihat orang-orang berhasil, teman-teman berkembang, kamu juga berkembang."

Titan menarik napas panjang.

"Aku bangga sama kamu, sungguh, tapi di saat yang sama aku merasa tertinggal."

Yvone merasakan hatinya remuk, karena ia baru sadar jika selama ini Titan selalu mendengarkan kegelisahannya, namun ia jarang bertanya tentang kegelisahan Titan.

"Aku juga kehilangan arah."

Titan mengernyit.

"Kamu?"

Yvone mengangguk.

"Aku cuma terlihat baik-baik saja." Ia mengatakan hal itu sambil tertawa lirih.

"Tahu nggak kenapa aku sering bicara soal orang-orang yang menginspirasiku?"

Titan menggeleng.

"Karena aku takut."

"Tidak terlihat seperti orang yang takut."

"Itu karena aku pandai menyembunyikannya."

Mereka saling memandang, sudah sekian lama baru kali ini mereka benar-benar berbicara dari hati ke hati. Bukan tentang hal lain, tapi tentang ketakutan yang selama ini mereka sembunyikan.

"Aku takut gagal."

"Aku takut mengecewakan banyak orang."

Yvone menarik napas.

"Aku takut ternyata aku tidak sebaik yang orang kira."

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Jadi aku mencari inspirasi ke mana-mana. Aku mencari bukti bahwa aku bisa lebih baik."

Titan perlahan memahami, selama ini ia juga mengira Yvone mengagumi orang lain karena dirinya tidak cukup, padahal Yvone hanya sedang berusaha bertahan. Sama seperti dirinya.

Mereka ternyata sedang berjuang melawan ketakutan yang berbeda, tetapi dengan akar yang sama, karena merasa tidak cukup kuat, merasa tertinggal dan belum menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Yvone menggenggam tangan Titan.

"Aku nggak butuh orang lain untuk menggantikanmu."

Titan menatap jemari mereka yang bertaut.

"Aku cuma butuh seseorang yang berjalan bersamaku."

Hening kembali turun, namun terasa hati menjadi hangat.

"Ternyata kita sama-sama kacau ya?" kata Titan.

Yvone tertawa.

"Parah."

"Dan sama-sama keras kepala."

"Banget."

Titan mengangguk, karena pada akhirnya mereka merasa tidak harus memikul semuanya sendirian.

Yvone menyandarkan kepala di bahunya.

"Aku masih akan mengagumi banyak orang."

Titan mendesah.

"Aduh."

"Tapi aku juga akan belajar lebih sering menunjukkan bahwa aku mengagumimu."

"Itu lebih baik."

"Kamu juga."

"Aku juga apa?"

"Kalau sedih bilang."

Titan mengangguk.

"Kalau kecewa bilang."

Ia mengangguk lagi.

"Kalau galau bilang."

"Baik, Bu Guru."

Yvone tertawa.

Malam semakin larut, kehidupan tetap rumit tak berubah, tapi mimpi-mimpi mereka masih belum semuanya tercapai.

Cinta yang dewasa memang bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna, melainkan menemukan seseorang yang bersedia tinggal ketika kita sedang berusaha memahami diri sendiri.

Yvone akhirnya menyadari bahwa Titan tidak membutuhkan pujian yang berlebihan, ia hanya ingin merasa dilihat.

Sementara Titan menyadari bahwa Yvone tidak sedang mencari orang yang lebih baik darinya, ia hanya sedang mencari cara untuk bertumbuh.

Dan malam itu, daripada membiarkan kegalauan semakin merusak mereka, Titan memilih tinggal, karena ia sadar, pergi mungkin menghentikan pertengkaran, tetapi bertahan dan saling memahami adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan.

Mereka berdua masih mencari jati diri, terus belajar dan sesekali masih tersandung, tapi setidaknya mereka tidak menjalaninya sendirian.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Rekomendasi