Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
13
Topografi Luka
Self Improvement

Kau sering disebut datar. Itu kata yang paling sopan. Versi jujurnya, dingin. Wajahmu jarang memberi petunjuk, seolah emosi adalah barang mewah yang hanya dipakai di hari tertentu, lalu kau simpan rapi kembali. Orang-orang mengira kau tidak terlalu peduli, tidak terlalu merasa, tidak terlalu apa pun. Mereka tidak tahu bahwa datar adalah hasil akhir dari sesuatu yang terlalu ramai di dalam.

Yang lucu, kau justru sering menjadi pusat tawa. Saat kau melontarkan lelucon, ruangan bisa pecah oleh gelak yang membahana. Orang-orang tertawa lepas sampai kehabisan napas, menepuk meja, menyeka sudut mata. Sementara kau sendiri tetap tenang. Tidak ikut terbahak. Tidak larut. Kau hanya tersenyum, tipis, seolah kebahagiaan itu milik mereka sepenuhnya, dan kau cukup berdiri di tepian.

Kau tahu ritmenya. Kau tahu di mana jeda harus diletakkan, kalimat mana yang perlu dipotong, absurditas kecil apa yang bisa membuat orang lain merasa hidup saat mereka sedang di tepi jurang. Kau membuat orang bahagia tanpa harus terlihat bahagia. Seperti pelayan sunyi yang memastikan pesta berjalan, lalu pergi sebelum lampu dipadamkan.

Sejak lama, kau belajar satu keterampilan penting. Menyembunyikan. Bukan karena ingin terlihat kuat, melainkan karena tidak ada ruang aman untuk lemah. Kau tahu betul bagaimana ekspresi bisa menjadi undangan bagi pertanyaan, dan pertanyaan sering kali berubah menjadi penilaian. Maka kau menutup semuanya. Rapi. Bersih. Tak terjamah.

Kau tertawa di waktu yang tepat, bila perlu. Mengangguk saat orang bercerita. Menjawab secukupnya. Tidak lebih. Tidak kurang. Hidupmu berjalan tanpa riak yang mengganggu permukaan. Orang-orang merasa nyaman di dekatmu. Mereka bisa bercanda, bisa bercerita, bisa mengeluh. Kau pendengar yang baik. Terlalu baik, sampai nyaris terlihat sebagai manusia tanpa punya beban sama sekali.

Bahkan saat orang lain menangis, kau jarang panik. Kau tidak sibuk memberi nasihat. Tidak tergesa menenangkan dengan kalimat klise. Kau hanya hadir. Duduk di samping. Memberi senyum kecil yang entah bagaimana cukup meredakan. Bukan senyum bahagia, bukan pula senyum iba. Senyum yang mengatakan, aku di sini, dan itu sering kali sudah cukup.

Padahal, di dalam dirimu, ada gudang luka yang tidak pernah diberi label. Kau hafal setiap sudutnya. Luka ditumpuk rapi, dikemas dengan kalimat-kalimat rasional. Kau bilang pada dirimu sendiri bahwa itu sudah selesai, sudah lewat, sudah tidak relevan. Kau bahkan percaya itu. Sampai suatu hari, tubuhmu lebih jujur daripada wajahmu.

Ada malam-malam ketika kau terbangun tanpa sebab yang jelas. Dada terasa penuh, tapi tidak ada kata yang bisa keluar. Kau duduk di tepi ranjang, menatap gelap, mencoba menamai apa yang sedang terjadi. Tidak ada tangis dramatis. Tidak ada teriakan. Hanya kelelahan yang tidak tahu harus dienyahkan ke mana.

Orang lain mungkin menyebutmu kebal (atau bebal? Minimal terhadap "rasa"). Kau tahu ini bukan kebal. Ini kebiasaan. Terlalu sering terluka tanpa sempat sembuh, membuatmu mahir menunda rasa. Kau menutupnya bukan karena luka itu kecil, melainkan karena terlalu besar untuk ditunjukkan sembarangan.

Pernah ada yang mencoba membaca wajahmu lebih dalam. Ia berkata, setengah bercanda, bahwa kau ini aneh. Bisa membuat orang tertawa sampai lupa masalahnya, tapi wajahmu sendiri nyaris tidak berubah. Ia bertanya kenapa matamu selalu tampak jauh, bahkan ketika tubuhmu ada di hadapannya. Kau tersenyum. Senyum aman. Senyum yang tidak memberi apa-apa. Ia berhenti bertanya. Kau menang. Atau setidaknya, itu yang kau kira.

Kau lupa satu hal. Tidak terbaca bukan berarti tidak terluka. Tidak ditanyakan bukan berarti tidak penting. Ada harga yang harus dibayar dari semua keteraturan itu. Hubungan-hubunganmu rapi tapi dangkal. Orang mengenalmu, tapi tidak menyentuhmu. Mereka tahu jadwalmu, seleramu, leluconmu. Mereka tidak tahu apa yang membuatmu terdiam terlalu lama di depan kaca, atau kenapa lagu tertentu membuatmu mendadak ingin pulang.

Kau pernah bertanya pada dirimu sendiri, kapan terakhir kali benar-benar jujur. Bukan jujur soal fakta, tapi jujur soal rasa. Jawabannya mengambang, dan akhirnya hanyut oleh waktu.

Mungkin sudah terlalu lama. Mungkin sebelum kau belajar bahwa bertahan hidup sering kali berarti menghapus ekspresi.

Suatu hari, seseorang berkata dengan nada yang lebih serius, bahwa kau terlalu sering menjadi tempat orang lain pulang, tapi jarang pulang ke mana pun.

Kalimat itu jatuh seperti cermin. Untuk pertama kalinya, kau melihat dirimu dari luar. Seorang yang tampak utuh, lucu, menenangkan, tapi tidak memberi celah untuk disentuh. Kau sadar, betapa wajah datarmu telah menjadi dinding tebal, bukan jendela.

Malam itu, kau tidak melakukan hal besar. Tidak ada pengakuan panjang, tidak ada air mata yang membasahi lantai. Kau hanya mengakui satu hal pada dirimu sendiri.

Bahwa selama ini, kau menyamakan aman dengan tertutup. Bahwa kau mengira menahan rasa adalah bentuk kedewasaan, padahal sering kali itu hanya cara lain untuk menunda penyembuhan.

Kau mulai pelan-pelan. Sangat pelan. Membiarkan satu emosi muncul tanpa segera dikunci. Mengatakan lelah tanpa perlu menjelaskannya panjang lebar. Mengaku kecewa tanpa merasa bersalah. Kau tidak tiba-tiba menjadi ekspresif. Kau tetap tenang, tetap sederhana. Bedanya, kali ini bukan karena menahan, melainkan karena memilih.

Kau akhirnya paham. Wajah yang terlalu datar sering kali bukan tanda tidak punya rasa, melainkan tanda seseorang terlalu lama sendirian mengubur lukanya. Orang yang paling bisa membuat tawa meledak-ledak, sering kali adalah orang yang tahu persis bagaimana rasanya ingin menangis sendirian. Orang yang senyumnya cukup meredakan, biasanya karena ia sudah terlalu akrab dengan luka.

Dan di titik inilah kamu terhajar oleh kenyataan. Menyembunyikan luka mungkin membuatmu berfungsi hari ini, tapi tidak akan membuatmu utuh.

Rasa bukan kelemahan. Ia adalah bahasa jujur yang dimiliki jiwa. Tanpanya, kau mungkin hidup. Tapi kau tidak benar-benar hadir.

Kau tidak harus membuka segalanya pada semua orang. Tapi jika bahkan pada dirimu sendiri kau terus menutup, suatu hari kau akan lupa bagaimana rasanya dikenali. Bukan o Eleh dunia. Melainkan oleh dirimu sendiri.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Rekomendasi