Aku mati sebagai mineral,
dan menjelma sebagai tumbuhan;
Aku mati sebagai tumbuhan,
dan lahir kembali sebagai hewan;
Aku mati sebagai hewan,
dan, kini menjadi seorang insan;
kenapa aku mesti takut?
Maut tak pernah mengurangi sesuatu dari diriku;
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai insan,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Sebab, kecuali Tuhan, tak ada sesuatu yang abadi;
setelah kelahiranku sebagai malaikat pun,
aku masih akan menjelma lagi
dalam wujud yang tak kupahami;
Ah, biarkan diriku lenyap
memasuki kekosongan, kasunyatan abadi;
Karena hanyalah dalam kasunyatan itu
terdengar nyanyian mulia, irama ilahi;
“Kepada-Nya, kita semua akan kembali!”**
Sesendok madu. Sebutir telur ayam. Dua kelopak kadupul. Tiga kelopak mawar merah. Tiga kelopak melati merah. Sesendok embun di pagi setelah purnama. Selembar foto. Setungku dupa yang mengepulkan asap.
“Tak ada teknik pembatalan untuk ritual ini. Aku sudah memperingatkanmu jauh-jauh hari,” ucap Sribala. Mata lelaki itu menatap serius ke telunjuk kananku.
“Aku mengerti. Awwh!!!”
Tiga tetes darah jatuh ke dalam cawan yang berisikan kelopak bunga. Aku meringis. Sribala lekas-lekas menempelkan kapas pada ujung jemariku.
“Tahan, jangan sampai lepas!” ucap Sribala.
Darahku adalah pelengkap dari semuanya. Serangkaian ritual yang telah kami ulang berminggu-minggu akan ditutup di hari ini. Aku menarik napas panjang. Di rumah Sribala yang penuh dengan patung-patung kayu, aku, Manna si gadis pemalu dari Beppa, duduk sendirian menantang takdir apa pun agar kebahagiaanku kembali. Sementara itu, Sribala, yang pada kepalanya terikat tali berjumbai-jumbai merah, mulai merapal mantra. Aku duduk mengamati segala tindak-tanduk lelaki itu.
orang-orang Beppa mati berkali-kali,
juga terlahir berkali-kali;
setiap tahun mereka mati,
bisa jadi tahun berikutnya mereka dilahirkan kembali;
sebagai anak tetanggamu,
anak saudaramu;
anak temanmu,
atau bahkan anakmu sendiri.
Pada setiap kelahiran mereka yang dahulu pernah mati,
Akan kau dapati bayi-bayi yang tersenyum
Bahkan sebelum mereka mengenal tangis.
“Sebenarnya tanpa pun kau bayar mahal-mahal untuk ritual itu, nanti Gappa pasti akan terlahir lagi,” sungut Mumma yang sedang mengucek kain-kain merah untuk perayaan Habis Tahun.
“Tapi, kalau mengikuti cara alam, kita tak akan tahu, Mum. Iya kalau Gappa lahir di dekat-dekat kita. Kalau jauh, bagaimana? Ritual Sribala itu akan membantu agar Gappa bereinkarnasi tak jauh-jauh dari kita, Mum.”
“Tapi akhirnya semua tabunganmu habis untuk membayar Sribala, kan?”
“Tak apalah, Mum, besok aku bisa bekerja lagi. Aku punya rencana yang lebih baru untuk perkebunan kita.”
Mumma menatapku geli. “Kau memang keras kepala seperti Gappa.”
Aku tersenyum tipis. Mumma sesungguhnya tak perlu tahu apa alasan utamaku mendatangi Sribala. Yang boleh diketahui oleh perempuan tersayangku itu adalah ritual itu terjadi karena kerinduan yang tak bisa kutahan kepada Gappa.
Lima tahun yang lalu, tak ada yang pernah tahu bahwa aku menjalin kasih dengan Naren, pemuda bermata sendu yang tinggal tak jauh dari rumahku. Pemuda itu sungguh berhati baik, menyenangkanku dari segala sisi. Bersamanya, kami menghabiskan banyak waktu saat di sekolah. Tak sekalipun dia mengecewakanku dalam bentuk apa pun. Bertahun menjalin kasih, aku dan dia bahkan telah berjanji untuk menjadi sepasang suami-istri.
Semuanya berjalan indah. Setelah selesai pendidikan, Naren selalu pergi berkebun pagi-pagi sekali, lalu pulang pada sore hari dengan memanggul batang-batang teratai. Katanya, semua itu demi pernikahan kami. Dia tak sanggup menahan lebih lama lagi jauh dariku.
Meski begitu, aku tak pernah menceritakan tentang Naren kepada Mumma dan Gappa. Rencanaku, biarlah itu terungkap saat Naren betul-betul mewujudkan niatnya. Namun, rupanya takdir berkata lain. Gappa tewas tenggelam di danau, sore itu saat mencari ikan. Lalu Naren, sebulan kemudian menikahi Rasha, gadis dari kampung lain, yang berambut ikal bagai sulur semangka.
Apakah pernikahan pemuda itu membuatku pedih?
Tentu. Tetapi, bukan itu saja. Kenyataan bahwa Gappa sebenarnya tewas di tangan Naren-lah yang membuatku nekat mendatangi Sribala.
Dari mana aku mengetahuinya? Istri Naren yang terkenal suka bergosip itu ternyata membongkar sendiri rahasia milik suaminya. Dengan pongah, dia mengatai bahwa Gappa lebih dahulu menghina Naren, pemuda miskin tak berbudi, yang berharap kaya hanya dari mencari teratai. Dan sebagai anak perempuan dari lelaki tua yang sombong, sudah sepantasnya aku mendapatkan balasan atas perbuatan ayahku; ditinggal nikah dan menjadi gadis tua.
Air mata mengaliri pipiku. Napasku tersendat-sendat menahan emosi yang membatu. Kutatap Sribala. Lelaki itu masih mengucap mantra sembari menadahkan kedua telapak tanganku.
“Selesai!” katanya.
Perlahan-lahan, Sribala memiringkan cawan, menuangkan sedikit airnya ke telapak tanganku.
“Usapkan ke wajahmu!”
Aku mengikuti titahnya. Air berwarna cokelat itu berbau tak karuan. Ada harum bunga, bau dupa yang pekat, ditambah amisnya darah. Namun, aku tak peduli lagi. Tekadku sudah bulat.
Sebelum menutup pintu kayu yang berukiran matahari, Sribala hanya mengucapkan kalimat singkat. “Kau hanya perlu menunggu. Tunggu dan saksikan. Setelah ini, jangan pernah datang lagi ke rumahku.”
Aku pun menurut. Dengan hati tak karuan, aku berjalan pulang. Meski siang itu Mumma menatapku penuh keanehan, aku tetap tak menjelaskan detail alasan kenekatanku untuk membayar Sribala. Biarlah itu hanya jadi rahasiaku.
Maka, berbulan-bulan setelahnya, aku tetap hidup dengan baik, menanami segala bunga di perkebunan, merayakan segala festival di Beppa, segala ritual. Tanganku senantiasa bekerja dengan cekatan. Mataku senantiasa mengamati setiap peristiwa. Telingaku senantiasa menangkap setiap kabar. Namun, aku masih juga dilanda gundah.
Segala kesibukan aku perbuat hanya agar pikiranku tak terus-menerus resah akibat janji Sribala. Nyatanya, meski telah membayar mahal, aku masih belum yakin bahwa lelaki itu akan mewujudkan keinginanku yang terlampau aneh.
Sampai suatu hari kabar itu datang menyapa.
Aku baru saja menyemai benih-benih kadupul di kebun. Panas terik menyengat ubun-ubunku. Mumma datang tergopoh-gopoh, memanggil dari kejauhan. Aku terkejut.
“Ada apa, Mum?”
Tak sabar melihat Mumma yang berlari kepayahan, aku lantas ikut berlari mendekati perempuan itu. Tudung hijau tua yang bertengger di kepala Mumma berkibar-kibar tertiup angin.
“Kau pulang sekarang!” ucap Mumma terengah-engah.
“Masih siang, Mum, Aku masih menyemai kadupul.” Segera kutunjukkan sekantong benih yang kutenteng erat-erat.
“Ayok!” Mumma sepertinya tak tahan lagi. Tangannya segera menarikku. Kami lalu berjalan ke desa, tetapi bukan menuju rumahku. Melainkan ke rumah Naren.
Di rumah lelaki yang pernah menjadi kekasih rahasiaku itu, sudah berkumpul belasan orang yang tinggal berdekatan. Di antara mereka yang terkejut melihat kedatanganku, ada seorang penolong bersalin yang tangannya sedang menimang bayi, dan tetua Desa Beppa yang memandangku penuh arti.
Aku mencari-cari Naren dan Rasha, istrinya yang sedang hamil tua. Namun, dua manusia itu tak terlihat di mana pun. Kutatap Mumma yang menggamit lenganku.
“Naren tewas digigit buaya saat di danau. Rasha, perempuan malang itu meninggal saat melahirkan bayinya,” bisik Mumma.
Kupandang Mumma dengan tenggorokan yang tercekat. Aneh. Sejak kapan ada buaya berkeliaran di danau?
“Kata tetua, kau harus segera menemui bayi itu. Anaknya laki-laki,” ucap Mumma meyakinkan.
Aku pun menurut. Kudekati sang penolong bersalin. Dengan satu gerakan, dia mengangkat bayi itu agar bisa kulihat dari dekat.
Aroma bayi yang khas segera memenuhi indra penciumanku dan terasa sangat familiar.
Dan, bayi berambut merah terang itu tersenyum semringah. Matanya hijau terang. Alisnya hitam legam. Dagunya bergaris tengah. Dan hidungnya, tinggi menjulang seperti hidung yang ada pada diriku.
Itu Gappa! []
** Puisi Mistik Sufistik Jalaluddin Rumi