Disukai
1
Dilihat
14
Jam terakhir ditaman
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku, Raka Bima, siswa kelas XI IPS 1, selalu hidup dalam rutinitas yang datar: bangun pagi, sekolah, belajar, pulang, tidur. Tidak ada yang istimewa. Hingga hari itu, saat hujan rintik-rintik memaksa semua orang tergesa-gesa di koridor, aku menabrak seseorang.

Buku-bukunya berserakan, wajahnya tersipu malu, tapi matanya bersinar.

“Eh, hati-hati dong!” katanya sambil tertawa, seolah tidak terjadi apa-apa.

Namanya Aira Nandini, siswi pindahan. Rambut hitamnya sedikit basah, senyumnya hangat. Ada sesuatu dalam caranya menatapku—tidak canggung, tapi penuh rasa ingin tahu.

Sejak hari itu, kami selalu bertemu. Di kantin, di perpustakaan, bahkan saat pulang sekolah. Aku bukan tipe yang banyak bicara, tapi dengan Aira, aku bisa tertawa tanpa alasan.

Pernah suatu hari, ia menumpahkan susu cokelat di bajunya sendiri. Aku tertawa, ia panik, tapi kemudian ikut tertawa sambil menatapku dengan mata berbinar.

“Raka, kau aneh tapi lucu,” katanya.

Aku tersipu. Dan dalam diamku, hatiku berdebar.

Hari-hari menjadi ringan. Kehadirannya membuat dunia terasa hangat. Aku mulai menantikan sekolah bukan karena pelajaran, tapi karena kemungkinan bertemu Aira.

Tanda pertama muncul saat Aira sering pucat dan cepat lelah.

“Kamu sakit?” tanyaku suatu sore di perpustakaan.

“Enggak apa-apa,” jawabnya cepat, matanya menunduk. Tapi aku tahu itu bohong.

Semuanya menjadi jelas saat aku mengantarnya pulang dan bertemu ibunya.

“Aira mengidap kanker stadium lanjut,” kata ibunya dengan mata lembap tapi tegas.

Aku terdiam. Dunia serasa runtuh di sekelilingku.

Saat aku akhirnya menatap Aira dan bertanya, ia hanya tersenyum sedih.

“Aku takut kau pergi kalau tahu,” katanya.

Aku menggenggam tangannya erat.

“Aku tetap di sini. Bahkan jika dunia runtuh, aku di sini,” jawabku.

Hari-hari berikutnya kami jalani tanpa janji panjang. Kami menikmati momen kecil—tertawa saat hujan, berbagi es krim, menatap langit sore. Tapi bayangan kematian selalu mengintai, menghantui setiap detik kebahagiaan.

Masalah lain muncul: Dimas, mantan pacarnya, muncul kembali.

“Dia milikku,” katanya dingin, tatapannya penuh amarah.

Aira ketakutan setiap kali melihatnya. Aku melindunginya, melapor guru, tapi rasa takut tetap menempel. Setiap malam, Aira menangis di pelukanku.

“Kau tahu, Raka… aku ingin bahagia, walau sebentar,” bisiknya.

Aku memeluknya lebih erat, mencoba menahan dunia yang semakin berat.

Hari itu langit kelabu. Aku mendapat pesan dari Aira, memintaku bertemu di taman dekat sekolah.

Saat aku datang, kerumunan sudah ada: polisi, ambulans, guru, dan murid-murid yang penasaran.

Dan di tengah semuanya, Aira terbaring di tanah, darah merembes dari tubuhnya.

Aku mendekat. Tangannya dingin. Wajahnya pucat, tetapi matanya masih berusaha tersenyum padaku.

“Raka… maaf…” suaranya serak.

Aku menjerit, tapi semua terasa hampa.

Dimas ditangkap tak jauh dari lokasi. Motif: cemburu. Pisau yang digunakannya ditemukan.

Aku merasakan dunia runtuh lagi. Hanya saja kali ini tidak ada harapan. Tidak ada obat. Tidak ada pelukan hangat.

Aku mengalami mimpi buruk setiap malam. Suara tangisannya, tawa kecilnya, bahkan kalimat terakhirnya—“jangan salahkan waktu”—terus menghantui. Aku menjadi terasing, menolak bertemu teman, dan menutup diri dari dunia.

Buku catatan Aira kusimpan, halaman terakhirnya tertulis:

“Jika aku pergi lebih cepat dari rencana, jangan salahkan waktu. Salahku karena terlalu mencintai hidup.”

Trauma menghantuiku. Aku merasa bersalah karena tidak mampu melindunginya. Karena tidak bisa menahan Dimas. Karena dunia tidak adil.

Setiap sore, aku duduk di bangku taman itu, memandang langit jingga, mengingat Aira. Tawa dan senyumnya, kini menjadi kenangan yang menyiksa sekaligus menenangkan.

Jam itu memang berhenti berdetak.

Tapi kenangan—terkutuknya—terus hidup, menyisakan luka yang takkan pernah sembuh.

-MORAL CERITA-

“Hargai setiap momen dengan orang yang kita cintai, karena hidup tak selalu memberi kesempatan kedua.

Dimas menjadi contoh bahwa emosi yang tidak dikendalikan bisa berakibat fatal. Sementara Raka menunjukkan bahwa keberanian dan kepedulian pun kadang tidak cukup menghadapi realitas tragis.

Cinta sejati terkadang berarti tetap bertahan meski kenyataan pahit menghadang, dan kenangan manis bisa menjadi penghibur meski kehilangan tak terelakkan.”

By : takatsuki sen

-Thank for reading-

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)