Disukai
0
Dilihat
1,556
Counter Clockwise
Slice of Life

12.45 siang, waktu itu, saat aku melihat kejadian yang mengubah alur hidupku, saat aku melihat dia.

Bel sekolah berbunyi, murid-murid berlarian ke luar halaman sekolah.

Sesuatu yang keras jatuh ke kepala mengenaiku, aku lihat sebuah sepatu, yang hanya sebelah.

Aku menengadah tak lama aku terperanjat.

Sesosok, seorang murid perempuan tepatnya bergelantungan, di tepi gedung sekolah, lantai 5. Dia tampak berusaha keras bertahan.

Pemandangan mengerikan ini tak hanya aku menyaksikannya, murid-murid lain terkejut bukan main, murid perempuan ada yang berteriak. Mayoritas menanyakan siapa itu.

Ya siapa dia? Aku mencoba memicingkan mata, ah matahari juga silau!

Beberapa murid berlari memberitahu guru, aku hanya mematung, tepat satu tangannya terlepas karena sudah tidak kuat, teriakan murid perempuan lain semakin banyak.

Mataku bergetar, lidahku kelu, aku hanya berharap dia kuat bisa memanjat kembali, tapi kenapa dia bisa dalam posisi begitu?

Gadis itu meringis hebat, dia melihat ke bawah, memejamkan mata dan melepaskan tangannya dan dia jatuh.

Dua meter di depanku, aku terduduk sangking kagetnya. Begitu cepat dia jatuh. Kengerian ini sempat hening sesaat, semua panik. Aku hanya bisa diam melihati dia yang terbujur kaku, bersimbah darah. Tunggu ada memar-memar di wajahnya juga. Aku setengah merangkak mendekat, dia jatuh dengan posisi terlentang, matanya terbuka, dan hampir tersenyum? Tunggu aku mengenalnya. Wajah cantik itu...

***

Ya walau sudah tak ada raga, wajahnya memang cantik. Tunggu Rika siapa namanya?

"Tes tes."

Lalu suara ngingggg yang kencang.

"Kejadian mengejutkan baru sjaa terjadi sekitar 30 menit yang lalu. Hhhh sangat disesalkan."

Aku masih mencoba mengingat-ingat siapa namanya.

"Murid bernama Rika Karugawa telah tewas jatuh dari lantai 5 gedung sekolah."

Oh ya Rika Karugawa! Gadis yang pernah aku perhatikan beberapa kali di sekolah! Aku menepuk kepala, menggeleng-geleng, fakta aku tahu dia aku semakin terpuruk dan bahwa aku sempat tertarik.

Sesudah pengumuman di aula, aku semakin tak tenang, wajah tewasnya dia semakin terbayang, aku langsung lari ke toilet untuk membasuh diri. Tidak tak bisa masih terbayang! Rika! Kenapa??

Tanpa sadar air mata menetes di pipiku. Kalau saja aku mengenal lebih dekat dia, kalau saja aku tahu apa yang terjadi? Kesulitan apa? Karena jelas wajahnya memar. "Dibully?"

Sudah jelas, pasti itu penyebabnya, dan dia mencoba bunuh diri? Ck!

Saat berjalan pelan menuju kembali ruang kelas, kulihat beberapa anak perempuan seperti bingung, panik, cemas, berjalan bergerombol, sesekali melontarkan kata-kata serapah.

Mereka menuju kelas B3, terlihat jelas sekali dari raut mereka.

Aku tak berpikir apa-apa saat ini, aku malas memikirkan hal lain selain kematian Rika.

Aku menatap nanar ke depan papan tulis, aku tidak mood belajar.

***

Malamnya aku masih saja terbayang, aku harus mengerjakan pr. Laporan nilai kelas dengan nama Toshio Higi kubuka dan memerhatikan capaian nilai hari ini yang turun drastis, C, C, B- Efek dari peristiwa itu dan aku sepertinya akan mimpi buruk.

Putih, semua putih, lalu ada suara.

"Toshio..."

Beberapa hari yang lalu

Bunyi derap langkah beberapa orang, berlarian suara sepatu mendecit di lorong sekolah.

"Mau ke mana kau tidak bisa lari lagi?"

"Ayo jalang! Jangan coba-coba kabur!"

Satu tangan menarik lengan si murid perempuan yang terpojok, dikelilingi murid perempuan lainnya, 5 orang.

Tangan lainnya meraih rambutnya dan menjambak, satu murid itu melawan balik dengan menendang kaki. Yang lain memegangi tubuhnya, dia meronta hebat.

"Jalang harus dibasmi kan!" Memukul perutnya dengan kencang.

Murid itu batuk-batuk.

"Kalian sendiri bukan jalang?" balasnya.

"Kau ada main sama Seiji kan? Seiji itu pacarku!" Memukul perut lagi lalu menampar.

"Siapa yang suka sama bocah mesum itu?"

"Wah Megumi dia menantang! Hajar Megumi!'

"Dia kan juga wanita simpanan kan, suka dengan lelaki tua!"

"Itu tak benarr!" Suara murid itu kencang.

"Ya kau wanita murahan!" Tampar lagi

"Kau pikir kau spesial?" Gimana kalau kita rusak saja wajahmu ini sebagai penebusan dosa ha?"

Yang lain tertawa setuju.

Memegang pipinya lalu jarinya digigit sampai berdarah, lalu dia melepaskan diri dengan menyikut yang memegangnya, dan dia berhasil lolos, lari tak terkejar.

Rika terengah-engah dia memutuskan sembunyi sampai bel masuk. Dan tidak masuk kelas.

Rika pulang penuh memar. Dia memegang ulu hatinya yang masih sakit.

Dia membersihkan luka di depan cermin kamar mandi. "Brengesek!"

Ayahnya pulang, Rika memasang plester di samping bibir dan pipi.

"Rika! Ayah mau bicara!"

"Kenapa kau luka-luka?"

"Tadi jatuh dari tangga sekolah, aku meleng."

"Ada-ada saja. Begini Rika kau tahu kan Pak Aori? Rekan bisnis ayah? Tanpa sengaja melihat fotomu, dan dia tertatik padamu."

Mata Rika menjurus ke ayahnya tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Inilah salah satu penyebab rumor itu.

Di salah satu tempat karaoke, Rika duduk dalam perasaan tegang, tak nyaman.

Salah satu pria paruh baya menghampiri duduk di dekatnya, merangkul bahu, menyenderkan badannya dan mencium pipinya sambil terus bernyanyi. Rika menyimpan amarah, nadanya sumbang pula dia semakin tersulut. Lalu hendak mengincar bibirnya dan...

"Aaawwwww!"

Darah di bibir Rika, dia mengigit bibir bapak-bapak itu. Lalu Rika keluar ruangan karaoke.

Ayahnya diberi tahu atasannya marah di telepon.

Ayahnya tak terima dia memarahi Rika, Rika juga berdebat.

Rika ditampar. Rika pergi ke luar rumah saat malam-malam.

Rika keluyuran di jalan sampai malam. Tak tahu ke mana. Dia lalu ke mini market. Memandangi lemari rak makanan dan minuman cukup lama sampai jadi perhatian kasir.

Dia meraih sakunya dalam ada uang sedikit cukup membeli minuman, minunan kotak, dia membelinya, dan membawanya ke kasir, pandangannya kosong, saat menyerahkan uang pun.

Satu sosok masuk, melihat Rika, mengenalinya, melihat heran. Tampilan Rika dengan baju rumahan, dan meamr-memar. Rika minum di luar toko, sosok pria ingin mendekat, menanyainya tapi ragu sampai Rika berlalu.

***

Aku ingat waktu itu... dia.. di mini market... Ahhh kalau saja aku menegurnya waktu itu, kalau saja aku kenal, dekat...

Aku mengacak-acak rambutku kesal. Bodoh Toshi!

Jam sudah larut saatnya tidur dengan banyak penyesalan.

"Toshio... Toshio..."

"Siapa?"

"Toshio..."

"Iya siapa? Heii!"

"Suara siapa, apa itu?'

"Ada hal yang kau sesali?"

"Iya ada!" Aku langsung saja.

"Kau ingin mengulang waktu?"

Aku berpikir "Ya!"

"Kau ingin mengulang waktu?"

"Iyaaa!"

Dan semua pudar.

Jam alarm berbunyi. Aku terbangun. Entah kenapa pusing sekali. Aku diam di kasur.

Pintu kamar terbuka.

"Ini sudah jam berapa Toshio, aku tahu ini hari Jumat dan besok libur tapi jangan malas lah!"

"Iyaa bu!" Tunggu apa katanya Jumat, Jumat pagi? Bukannya harusnya Selasa? Ibu pasti salah ngomong. Aku keluar kamar aku mendengar berita di tv, ramalan cuaca hari ini Jumat 12 Maret... Hah??

Aku yakin ibu salah ngomong tapi masa reporter di tv juga?

Aku pun bersiap dengan sejuta keheranan. Sepanjang perjalanan aku melihat-lihat tak ada yang aneh. Ini hari Selasa kan...?

Di sekolah aku melihat jadwal ujian yang baru ditaruh dan aku ingat ya hari Jumat jadwal ujian mulai ditaruh, apa jadwal baru lagi, tidak sama.

Dan aku melihat penampakan sosok Rika! Lewat di belakangku! Dia masih hidup!

Aku tak bisa berpikir, suara-suara di sekitarku hilang, aku hanya fokus pada sosok Rika di depan.

"Kau ingin mengulang waktu?"

Ah mimpi itu? Aku memutar waktu?

Ini sungguh mustahil! Tapi aku sangat diuntungkan karena ada kuis dan aku ingat jawabannya. Oke itu bagusnya dan paling bagusnya lagi Rika masih hidup! Aku bisa menyapanya atau ajak berkenalan, iya!

Tidak aku tak bisa, aku bakal canggung! Rika duduk di kantin sekarang ini, saatnya menghampirinya! Tidak bisa! Dia begitu cantik sedangkan aku...

Malamnya.

Aku tak bisa konsentrasi mengerjakan pr padahal aku sudah tahu koreksinya. Aku keluar mencari angin segar.

Aku mampir ke mini market, ah mini market ini apa aku akan bertemu Rika?

Benar saja itu dia, berdiri termangu!

Saatnya untuk menyapa.

"Rika, hai aku Toshi! Kau kenal aku, aku kelas B1 iya kelas di ujung ha ha, aku ingin kita berkenalan." Ya aku bergumam sendiri dari dalam toko sambil terus melihati dia di luar. Wah pandangan kami bertemu dia sadar diperhatikan.

Oke aku keluar.

"Ha hai kau Rika kan, Rika Kuragawa dari B-3? A-aku Toshi Higi B-1 salam kenal!"

Bagus kan perkenalannya. Rika diam.

Kenapa dia hanya melihatiku, bola matanya bergerak dari atas ke bawah.

Dia menilaiku kurasa.

Dia lanjut minum sampai habis. Dan bersiap pergi.

"Rika kau tak membalas salamku? Kau tak apa-apa wajahmu memar? Ada apa?"

"Ya." Singkat sekali dan dia pergi.

***

Di sekolah aku melihat dia dari jauh dicegat beberapa anak perempuan, aku berlari ke arah mereka.

"Hei jalang!"

Benar dugaanku mereka yang kulihat resah setelah Rika jatuh.

Gila segala umpatan itu.

Aku segera ingin menghentikan dan terlibat saat dua temanku menyadari keberadaanku dan menggiringku ke kantin, aku tak menjelaskan apa-apa ke temanku, pandanganku ke Rika pun semakin jauh.

Kami di kantin dan muncul teriakan. Tidak... Tidak...

Rika sudah jatuh.

Apa ada kesempatan itu lagi? Memutar waktu? Kumohon?

Ya benar saja mimpi dengan suara yang sama dengan pertanyaan yang sama.

"Ya!" Seruku.

Hari berputar ke hari yang sama, Jumat. Aku sudah memikirkan baik-baik mau apa dan bagaimana.

Ya aku akan mencoba ke rumah Rika. Aku harus mendapatkan alamatnya. Alasan yang kupakai ke guru adalah aku berencana mengadakan tim belajar di rumah Rika. Akupun dapat alamatnya, syukurlah!

***

Kini aku di depan rumahnya aku termangu beberapa saat, saat kakiku bergerak maju aku mendengar seruan saling saut menyaut. Apa? Ada apa?

Pertengkaran? Rika dan ayahnya sepertinya. Aku mendekat ke arah jendela lalu bunyi tamparan. Apa salah Rika sampai ditampar? Aku bingung tak tahu harus bagaimana.

Lalu pintu depan terbuka, Rika keluar dengan tergesa. Aku pun melesat sembunyi di rumah lain.

Dengan muka memerah di pipi, langkah kaki beradu dengan peraasaan kalut, Rika kesal bukan main.

Aku ingin tahu Rika mau ke mana, oh ya ini hari Jumat menjelang malam berarti dia akan ke minimarket. Iya benar.

Rika berbalik, aku panik langsung putar arah.

Sepertinya Rika tahu diikuti. Aku jalan ke arah lain. Rika jalan cepat kembali.

Aku kembali ikuti pelan-pelan. Dari belakang Rika juga cantik, ehem kenapa aku jadi mengagumi saat begini.

Dan aku tersandung kaki sendiri, bodoh.

Saat aku hendak berdiri, Rika tepat di hadapanku.

Aku mendongak menatap wajahnya yang bersamaan dengan sinar matahari. Wow kataku.

"Aku tahu ternyata benar ada yang mengikutiku. Kau siapa kau ha?"

"Ah a aku aku sekolah di tempat yang sama denganmu Rika, aku To--"

"Hah apa??! yang benar jangan bohong, kau stalker kan?"

"Ti-tidak bukan! Aku bersumpah!! Aku Toshi Higi kelas B1!"

Mengulurkan tangan buat salaman yang disambut sinis.

"Jangan ikuti aku!!" Suaranya lantang.

Berbalik badan melanjutkan langkah pergi.

"Tunggu!"

"Apa lagi?!!"

"Rika, aku ingin kau tahu aku peduli padamu, aku ingin kau tetap hidup, bertahanlah karena nyawamu berharga." Aku mengatakannya sambil memejamkan mata menunduk tak berani lurus melihat karena ekspresinya yang mendengarkan sangking cantiknya dan juga mengingat-ingat yang akan terjadi padanya, hatiku sakit.

Kemudian jeda, Rika memproses semua yang kukatakan.

"Hmph haaaa??! Orang aneh dasar!"

Rika pergi sebenarnya kurasa dia tahu maksudku, dia merasa putus asa sekali sehabis bertengkar dengan ayahnya dan hampir merutukinya.

***

Besoknya di sekolah melihat lagi Rika dibully. Tapi kali ini Rika sempat melihatiku serasa minta dibantu. Lalu saat teman-teman mengajak ke kantin, aku pun berteriak, "Berhenti!!"

Geng bully pun berhenti seketika melihatiku menusuk.

"Heh siapa kau?!!"

"Jangan ikut campur!!"

"Kalian lihat saja akan kuberitahukan kepada guru!! Tahu kalian!!!" Suaraku memenuhi lorong.

Teman-temanku memegangi bajuku tapi melepas kemudian.

Agak memperlihatkan ekspresi takut dan saling lihat-lihatan, lima perempuan laknat itu pergi dengan sumpah serapah padaku.

Rika yang memhungkuk kesakitan melihatku di balik poni rambutnya.

Aku mendekat, teman-temanku kusuruh pergi.

Rika menegakkan badan, "Terima kasih," katanya lirih.

Aku benar-benar senang dia mengucapkan itu.

"Kau ke UKS saja, kuantar."

"Tidak, tak apa-apa, lecet sedikit, ulu hatiku sakit sedikit, uhukk uhukkk."

"Benarkah?"

Mengangguk beberapa kali.

"Bisa kita bicara?" Rika melihatku serius.

"Oh bicara saja."

"Jangan di sini."

"Di mana? Kantin?"

"Pasti ada mereka. Tempat yang tenang."

"Di atap bagaimana?" Usulku.

"Iya oke." Rika tersenyum, hatiku langsung aaaa tidakk ini pertama kalinya dia tersenyum padaku!! Sangat manis aaaaa!!

Di atap.

Rika yang masih memegangi perutnya mulai bicara.

"Kau tidak makan siang jadinya."

"Hah? Oohh tak apa-apa!"

Angin bertiup semilir, menyibakkan rambut Rika.

Kami terdiam sejenak.

Aku? Jangan tanya, sungguh tak karuan perasaanku!! Salah tingkahlah!!

Rika masih diam kali ini dengan erangan.

"Uurgghh!"

Dia kesakitan.

"Kau benar tak apa-apa?!"

"Iya!" Rika menatap jauh ke langit depan.

Aku mengecek saku apa aku membawa permen atau apa.

Saat aku kembali fokus padanya, Rika

meloncat ke bawah.

Apa?

"Rika!!" Ku melihat ke bawah, Rika sudah bersimbah darah. Anak-anak sekitar teriak.

"Kenapa beginii...?! Kenapa?!"

Aku sadar bisa dikira mendorong segera menunduk.

"Kenapa sama saja?!! Tuhan! Dewa waktu??!!" Ya aku menyebut namanya juga, karena itu dewa waktu kan??? Di mimpiku.

Aku akan meminta memutar waktu sekali lagi!

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi