Disukai
0
Dilihat
13
Goresan Takdir Di Kanvas Usang (season 1)
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aroma kertas tua dan kayu lapuk adalah parfum sehari-hari bagi Shepiya. Sebagai asisten pustakawan di "Perpustakaan Langit" yang sudah berdiri sejak zaman kolonial, Shepiya lebih sering menghabiskan waktu dengan benda mati daripada manusia. Baginya, buku tidak pernah menghakimi; mereka hanya bercerita jika diminta.

Sore itu, langit di luar jendela tampak mendung, memberikan nuansa abu-abu yang suram pada rak-rak tinggi perpustakaan. Pak Karso, kepala perpustakaan, memberinya tugas yang sudah lama tertunda: memindahkan barang-barang di gudang lantai bawah tanah yang sudah tidak dibuka selama puluhan tahun.

"Hati-hati, Piya. Lantainya licin dan lampunya sering berkedip," pesan Pak Karso sambil menyerahkan kunci kuningan yang berat.

Shepiya mengangguk kecil. Ia menuruni tangga spiral yang sempit, membawa senter dan catatan kecil. Udara di bawah sana terasa lebih dingin dan lembap. Suara langkah kakinya bergema, menciptakan irama yang asing di keheningan bawah tanah itu.

Gudang itu dipenuhi tumpukan meja kayu yang patah, kursi-kursi jalinan rotan yang sudah jebol, dan tumpukan dokumen yang dibungkus plastik hitam. Di sudut paling belakang, tersembunyi di balik lemari besi yang berkarat, Shepiya melihat sesuatu yang terbungkus kain beludru merah kusam.

Dengan rasa penasaran yang membuncah, ia mendekat. Ia menyibakkan kain itu, membiarkan debu beterbangan di udara hingga membuatnya terbatuk. Di baliknya, berdiri sebuah lukisan besar dengan bingkai kayu jati yang diukir sangat detail.

Shepiya mengarahkan cahaya senternya ke permukaan kanvas. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Di dalam lukisan itu, duduk seorang pemuda dengan kemeja putih bergaya klasik. Wajahnya digambar dengan sangat hidup. Alisnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya menyiratkan senyum tipis yang misterius. Namun, yang paling memikat Shepiya adalah matanya. Sepasang mata berwarna cokelat gelap itu seolah menatap langsung ke dalam jiwa Shepiya, tajam namun penuh dengan kesedihan yang mendalam.

"Siapa kamu?" gumam Shepiya tanpa sadar.

Ia menyentuh permukaan lukisan itu dengan ujung jarinya. Anehnya, kanvas itu tidak terasa dingin seperti benda mati lainnya. Ada kehangatan samar yang merambat ke kulitnya, seolah-olah darah masih mengalir di balik sapuan kuas tersebut.

Tiba-tiba, lampu di gudang berkedip hebat lalu padam total. Kegelapan menyergap. Shepiya panik dan mencoba menyalakan kembali senternya yang mendadak mati. Dalam kegelapan total itu, ia mendengar suara bisikan halus, sangat dekat di telinganya.

"Jangan pergi..."

Shepiya tersentak. Ia mundur beberapa langkah hingga menabrak rak di belakangnya. Dengan tangan gemetar, ia terus menekan saklar senternya hingga akhirnya cahaya kembali memancar

Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada lukisan pemuda itu, tetap diam dalam bingkainya. Namun, Shepiya bersumpah, posisi tangan pemuda di dalam lukisan itu sedikit berubah. Sebelumnya tangannya berada di atas lutut, kini jari-jarinya tampak sedikit terangkat, seolah-o...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp30.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi