Disukai
0
Dilihat
47
EP 59 - Intro EP (written ver.)
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Dibawakan untukmu dari siaran,

Mere Glimpses of Passersby Podcast

EP 59: Salam Hangat Untukmu dari Ruang Layung

Teks ini telah melewati proses transkrip, penerjemahan, dan penulisan ulang untuk kemudian dibawakan kembali dalam format tertulis yang terstruktur, sehingga dapat dinikmati dengan pengalaman yang lebih mendalam dan menyeluruh.

──── ☼ ────

Kalau kalian menyadari, aku memulai cerita di media ini dengan mengambil episode yang berangka tinggi, padahal biasanya perkenalan terjadi di episode pertama. Aku bisa jelaskan.

Ketika aku mengecek kembali episode-episode siniar yang sudah dirilis, aku baru sadar kalau aku tidak pernah benar-benar memperkenalkan diriku dengan baik di siniarku sendiri. Dan aku baru benar-benar mengenalkan diriku kala itu di episode 59.

Jadi, karena ini juga bentuk perkenalan, aku akan sekalian mengambil episode 59 sebagai awalan arsip ini!

Aku biasa menyebut mereka yang datang berkunjung ke kediaman sederhana ini sebagai “orang yang lewat” atau “orang yang singgah”.

Memakai sebutan itu biasanya mengundang pertanyaan dari si pemilik kediaman tempat ruang rekamanku menumpang. Toh, ada istilah “tamu”. Tetapi dia tidak banyak mengomentari itu seiring berjalannya waktu. Panggilan itu juga berlaku untuk pendengarku, yang berarti termasuk kalian!

Siniarku adalah tempat lewatnya atau singgahnya berbagai macam narasi bentuk kehidupan. Banyak orang tidak menyadari kalau sudah ada berbagai macam hayat telah “bertamu” ke “tempat” mereka, meninggalkan impresi, lalu memori. Siniar ini adalah bagaimana aku menyimpan semua impresi dan memori yang pernah lewat milik berbagai jenis entitas.

Telinga yang mendengar dari jauh biasa memanggilku sebagai Penyiar Kisahan. Mereka yang berinteraksi dari dekat biasa memanggilku Jihan. Tempatku bersua dengan cerita biasa kupanggil sebagai Ruang Layung.

Dan kini kalian sedang membaca awal dari arsip kisah tertulis siniar Mere Glimpses of Passersby.

Selamat datang dan selamat berkunjung ke Ruang Layung.

~~~

Haha! Itu kalimat yang selalu kuucapkan sebelum memulai siniar. Dan untuk episode kali ini, tidak ada yang mampir karena yang hadir adalah aku sendiri!

Di sini, kalian akan sering bertemu denganku. Kenalkan, namaku Jihan. Oh, ya, hal menarik, aku baru tahu Jihan itu nama yang cukup banyak digunakan di tempat kalian. Atau setidaknya, di tempat staff penulisku tinggal. Di tempat tinggalku, orang menganggap Jihan itu semacam nama pena. Bukan, bukan, Jihan itu nama asli.

Penyiar Kisahan baru bisa saja disebut sebagai nama pena atau sebutan. Semenjak siniar ini mulai dikenal lebih luas, banyak entitas mulai mengenalku sebagai penyiar yang suka bercerita, lalu panggilan itu muncul.

Untuk intermezzo saja, bercerita itu bukan sesuatu yang populer dilakukan untuk siniar di tempat ini. Hampir tidak ada malah. Siniar biasa digunakan untuk mewawancarai orang, menjabarkan kasus-kasus investigasi (topik yang kusuka), dan ada juga yang membicarakan gosip figur terkenal.

Karena siniarku sendiri sempat naik dan mendapat publikasi yang baik, orang mulai menaruh perhatian pada siniar yang fokus untuk bercerita dengan gaya para pencerita yang biasa kamu temukan di pertunjukan mingguan perpustakaan.

Kembali tentang siniar. Mungkin sekarang kalian bertanya, apa yang biasa kulakukan di sini?

Singkatnya, di sini aku suka bercerita.

Panjangnya, siniar ini berisi kisah-kisah yang datang dari “orang-orang yang lewat”. Lebih tepatnya, entitas-entitas yang lewat. Kalian tidak pernah tahu, kan, cerita apa yang bisa datang dari entitas asing yang berpapasan dengan kalian di suatu pagi cerah.

Mulai dari nenek-nenek penggerutu tetanggamu yang ternyata punya impian bisa bermain alat musik tradisional, pria ramah yang sering menyapa penghuni rumahmu ternyata mantan pekerja penerima kabar gawat darurat dari jaringan telekomunikasi, wanita yang setiap hari ganjil suka berdiri diam di pinggir jalan sambil membawa syal, dan masih banyak lagi.

Banyak kemungkinan juga bisa datang tidak hanya dari satu bentuk kehidupan.

Mungkin, mungkin saja, udara di pojok ruangan yang suka memperhatikan aktivitasmu di dalam rumah punya cerita untuk disampaikan. Atau, di suatu tempat, ada satu sosok yang sudah hidup lama sekali, ribuan tahun, tapi masih suka kaget mendapati hal baru di hidupnya seiring zaman berubah.

Semua punya tempat di Ruang Layung! Aku tidak pandang bulu.

Selain aku, kalian akan beberapa kali menemukan nama Jee.

Jee adalah orang yang bekerja denganku untuk siniar ini. Dia bekerja sebagai kurator untuk kumpulan cerita yang masuk.

Kadang kalian mungkin akan mendengar (atau membaca, dalam konteks ini) aku keceplosan memanggilnya dengan sebutan “nenek”. Jangan heran dengan itu, karena selain dia memang sudah berumur, dia memang nenekku! Nenekku yang tersayang, tapi entah kenapa dia tidak suka sekali aku mengungkap itu terang-terangan.

Selain aku dan Jee, kami ketambahan satu lagi orang yang mengurus siniar! Orang yang daritadi kusebut sebagai “penulis”. Tulisan yang kalian baca saat ini adalah hasil bantuannya. Kedepannya, cerita-cerita yang ada di siniar akan sampai ke kalian melewati olah tulisnya.

Sebenarnya, ada dua sosok lain yang akan kalian dengar namanya beberapa kali. Mereka adalah “Heliom” dan “Owais”. Mereka bukan staf, tapi mereka sangat membantuku di pengerjaan sebuah kumpulan cerita yang khusus kuberikan untuk versi tertulis dari siniar ini.

Mereka … agak kompleks untuk diceritakan jadi kubiarkan kalian pelan-pelan mengenal siapa mereka sepanjang arsip tertulis ini nantinya berjalan.

Sebutan lain yang kuperlu kalian untuk familier di sini adalah Ruang Layung.

Ruang Layung adalah nama dari tempatku melakukan rekaman. Nama itu datang dari salah satu tetangga yang akrab dengan Jee dan aku.

Di tempat ini, layung itu istilah yang berarti semilir angin yang berembus masuk melewati jendela. Menurut tetanggaku, itu mungkin cocok untuk nama tempatku melakukan pekerjaan ini, karena secara tidak langsung, ruang rekamanku adalah tempat “berembus lewatnya” berbagai macam cerita dari orang-orang.

Aku suka ketika pertama kali mendengarnya, jadi aku memutuskan untuk benar-benar memakainya.

Ternyata itu jadi kebetulan yang semakin menarik, karena di tempat penulis kami tinggal, kalian juga punya kosakata layung. Katanya di sana, layung punya arti menjelang matahari terbenam atau awan di waktu senja.

Aku sempat melompat kaget mendengarnya, karena kalau kalian mau tahu, keluargaku mewarisi genetik rambut jingga terang! Orang-orang sering mengasosiasikan kami dengan langit di Waktu Remang, melihat betapa mencoloknya rambut kami.

Oh, iya. Aduh, banyak sekali konteks yang perlu kujelaskan di sini.

Waktu Remang itu waktu ketika Remang (nama sebuah bintang) menampakkan diri, membuat langit jadi punya warna transisi jingga ungu temaram begitu (indah sekali), dan orang-orang akan tidur dan beristirahat di waktu itu.

Aku perlu memberitahu ini karena yang kudengar dari penulis kami, waktu kalian untuk tidur itu bukan ketika Remang muncul, tapi ketika langit benar-benar gelap. Kalian menyebutnya waktu malam, kan?

Jujur, aku tidak bisa membayangkan kondisi semacam itu. Langit di Luath tidak pernah benar-benar gelap menghitam seperti tempat kalian. Memang kalian tidak takut?

Ehm, kembali ke topik. Kalau merujuk ke episode 59 yang asli, aku banyak bicara tentang asal muasal kenapa siniar ini dibuat, jadi akan kujelaskan juga di sini.

Ringkasnya, alasan kenapa siniar ini ada adalah karena kurator kami! Ada sebuah kutipan dari Jee yang pernah kubaca dan menyangkut di kepalaku sampai akhirnya aku membuat siniar ini. Kira-kira kalimatnya begini,

“Setiap masa lalu entitas itu unik. Kompleksitas setiap dari mereka berjalan berdampingan, begitu dekat, dan saling berhubungan.”

Sebagai nenek-nenek jurnalis, yang cinta dan kasihnya terhadap menulis tidak akan pernah pensiun (tidak seperti kariernya), Jee sudah jadi orang yang menyukai narasi dan cerita sejak muda. Dia paling aktif di masa 30 tahunannya.

Aku sering membaca tulisan Jee yang berhubungan dengan sejarah saat masih kecil. Dia penulis langganan di sebuah majalah milik suatu media besar.

Sebenarnya ada lagi yang sering dia tulis. Dia juga menulis artikel. Sudah kubilang dia jurnalis, kan? Sebenarnya tulisan pertama yang kubaca dari Jee itu artikel-artikel politiknya, baru artikel atau esai sejarahnya di majalah. Tetapi, aku tidak bisa membaca artikel politik yang dia tulis lama-lama.

Jee sangat ... kritis, kalau menulis tentang politik. Baru kali itu aku tahu kau bisa merasakan panas emosi dan betapa tajamnya perspektif orang hanya dari jajaran huruf-huruf yang dicetak di kertas buram.

Ya, sebenarnya ada alasan untuk itu. Daerah pusat, pada saat zaman Jee aktif jadi jurnalis, memang sedang marak masalah misi penelusuran sejarah yang terbongkar.

Singkatnya tentang itu, agar kalian tidak tiba-tiba merasa dicekoki pelajaran sejarah, beberapa orang di kekuasaan saat itu ketahuan berusaha untuk mengubah beberapa bagian dari sejarah dengan mengirim tim penelusur mereka sendiri

Kalau dari bagaimana itu diberitakan, kesannya masalah itu tidak harusnya dibesar-besarkan, tapi karena Jee aktif di bidang sejarah bersama ahli-ahli lain, mereka lebih paham kalau bagian "kecil" yang dimaksud itu bisa jadi disinformasi yang menyesatkan kalau diubah. Alasan diubahnya pun hanya untuk menguntungkan kelompok-kelompok tertentu dengan tujuan mereka masing-masing saja.

Nah, waktu itu, Jee dan ahli-ahli lain berusaha memperjuangkan kesadaran kalau itu salah. Mereka menyebarluaskan informasi ini ke masyarakat awam dan berusaha maju menghadap kerajaan pusat untuk menghentikan misi-misi penelusuran sejarah yang tujuannya untuk menyembunyikan atau melencengkan informasi.

Kesannya sangat ... mulia, kan? Dan kuakui memang, tapi Jee, seperti yang tadi kubilang, orangnya sangat kritis. Sangat frontal. Aku bahkan mendengar dari rekan-rekan kerja Jee dulu, mereka bilang yang Jee takuti itu cuma Qud (Tuhan). Jee itu sering menghadapi konfrontasi langsung, dan menurut rekan-rekannya, tidak ada yang pernah membuatnya gentar.

Makanya, dia sering dibilang sebagai orang yang suka sekali terlibat dalam urusan orang lain. Bahkan, ke orang-orang yang tujuan dan misinya sama, dia sering tidak disukai.

Tidak heran kalau banyak yang menganggap dia merepotkan atau mengganggu. Aku ingin menyinggung berapa kali aku juga hampir terseret masalah karena orang-orang yang masih menyimpan sentimen ke dia, tapi, ya, itu bisa jadi cerita untuk lain waktu.

Aku ingat masa kecilku , yang hampir tidak pernah bertemu Jee , membayangkan kalau Jee itu seperti ayahku. Intonasi bicaranya keras dan terkesan tidak mau dibantah. Orang-orang di keluarga ini memang keras-keras, sih.

Ehm, kalau kalian bertanya kenapa aku tidak pernah bertemu nenekku sendiri waktu kecil, ceritanya panjang.

Singkatnya, Jee dan keluarga besar … tidak akrab-akrab amat. Dan Jee memilih untuk menjauh dari kami. Setidaknya, sampai akhirnya aku datang dan tinggal di tempatnya.

Semua kesan pertamaku ke Jee muncul hanya dari membaca tulisannya. Memang bukan kesan pertama yang baik. Waktu aku masih kecil, membaca artikel-artikel politiknya ada sempat membuatku bingung dan, jujur, agak takut.

Meski begitu, tulisan-tulisan Jee juga, lah, yang membantah impresi itu.

Tulisan Jee yang berhubungan dengan sejarah rasanya sangat berbeda dengan artikel politiknya.

Narasi yang seolah membuat pelaku-pelaku sejarah yang dia bahas terasa begitu hidup dan dekat, penjelasan yang detail tapi tidak membuat bosan, rangkaian bahasa dan kosakata yang ringan dengan alur runut dan rapi.

Seperti bagaimana sikap keras Jee meluap di artikel politik yang dia tulis, rasa cinta Jee ke cerita-cerita sejarah itu juga bisa sampai padaku hanya dari tulisan-tulisannya.

Tanpa Nenek Jee sadari, dia sudah menanamkan kecintaan yang sama terhadap cerita-cerita padaku.

Bedanya, Jee menulis, aku bicara.

Nah, kalau tentang aku! Sejujurnya aku suka bingung kalau harus menceritakan tentang diriku sendiri, tapi akan aku coba.

Sekarang aku sebenarnya aktif mengurus siniar ini dan bekerja juga. Aku berusaha menjelaskan pekerjaanku ke penulis kami sampai akhirnya kami sepakat untuk menyebut pekerjaanku sebagai mediator profesional saja.

Sempat kusebut tadi kalau ada berbagai entitas yang hidup di tempatku tinggal, kan? Nah, pekerjaanku adalah menjadi mediator kalau-kalau ada spesies yang bergesekan konflik. Biasanya, kalau ada yang memerlukan bantuan untuk mediasi, mereka akan menghubungi organisasi tempatku bekerja, lalu aku akan pergi ke tempat, memenuhi panggilan.

Itu juga jadi salah satu alasan lain kenapa aku membuat siniar ini! Dari bertemu banyak spesies dengan segala macam perilaku mereka yang tentu tidak sama per-individunya, aku merasa ternyata ada banyak sekali "kehidupan" yang terjadi di sekitarku. Dan itu membuatku merasa ... hatiku penuh? Senang? Pokoknya ada banyak emosi bercampur jadi satu.

Waktu aku baru memulai pekerjaan mediator itu, aku sedang ada di masa pelatihan menguasai kekuatanku di bawah ajaran guruku.

Begini, organisasi tempatku bekerja, namanya Percus, itu sebenarnya adalah pencetus sebuah metode pelatihan untuk banyak anak-anak remaja mulai belajar cara menggunakan senjata, mengendalikan kekuatan magis dari artefak alam, dan bertahan hidup di alam. Metode ini diajarkan di sekolah-sekolah, termasuk sekolahku dulu. Aku ikut masuk struktur organisasi di sekolahku dulu dan berlatih dengan guru-guru yang dikirim Percus.

Nah, di Percus, suka ada beberapa ujian dengan tingkat kesulitan berbeda-beda untuk menguji seberapa ahlinya kau di pelajaran yang sudah kau dapat. Setelah melewati banyak ujian wajib dan beberapa tes tambahan, ada di suatu hari salah satu guru datang kepadaku dan menyarankanku untuk ikut ujian tingkat tinggi khusus.

Itu sama seperti ujian tingkat tinggi lain sebenarnya. Kita ditaruh di satu medan alam, diminta untuk pergi ke titik akhir, lalu sepanjang jalan kami ke titik akhir itu, tiga kemampuan kami diuji langsung di alam.

Bedanya, ujian khusus itu diadakan untuk mencari siapa yang bisa mendapat kekuatan kuno. Oh, tentu aku tertarik!

Singkat cerita, aku lolos dari ujian itu dan mendapat kekuatan yang dimaksud. Tetapi ... karena kekuatan yang kudapat dianggap ... apa ya waktu itu bahasa mereka? Tidak biasa? Atau di luar prediksi, jadi aku harus melatih kekuatan itu di bawah pengawasan ketat sesosok guru besar di Percus, yaitu Owais! (Aku tadi sempat menyebut namanya, kan? Atau belum?)

Nah, karena hal itu, aku perlu pergi merantau dan mencari tempat tinggal sementara selama pelatihan. Aku agak sedih ketika mendengar itu, tapi aku juga paham kenapa keputusan itu ada, karena saat itu kekuatan yang kudapat sangatlah liar.

Aku merasa tubuhku bisa meledak kapan saja cuma dengan sekali melangkah. Ada salah satu temanku yang mendapat kekuatan aneh ini juga di ujian kami saat itu dan ketika dia mendapat kekuatan ... ledakan kekuatannya meratakan beberapa petak area hutan.

Jadi, sudah jelas kami memang butuh pelatihan itu.

Aku awalnya bingung harus tinggal di mana dan dengan siapa, tapi ibuku bilang dia akan membantu mencarikan kerabat yang mau menampungku. Ibu waktu itu bilang dia akan berusaha meyakinkan seseorang. Dia tidak memberitahuku sama sekali siapa orang yang dia maksud, tapi karena ibu sudah bilang begitu ya aku percaya saja dengan keputusannya.

Kemudian, di hari sebelum aku berangkat, ibu memberitahuku aku harus ke mana, lewat jalur apa, dan peta di sebuah kertas untuk menunjukkan titik ke satu rumah di satu kota tua, Kota Lama Poho.

Aku tahu daerah itu. Nama kota itu cukup terkenal di buku sejarah waktu sekolah. Itu salah satu tempat beberapa bangunan bersejarah dari ratusan atau ribuan tahun lalu masih berdiri dan aktif digunakan. Dan katanya, untuk bisa masuk ke sana, orang harus melewati banyak tahapan registrasi yang ketat.

Nah, yang tidak aku tahu adalah ternyata ada pemukiman di sana. Pemukiman yang diisi orang-orang pensiunan dan warga lokal, kebanyakan sudah berumur atau dari spesies berumur panjang, yang memang sudah tinggal di sana dari lama.

Dengan membawa barang-barangku, dokumen yang sudah disiapkan ibuku agar aku bisa masuk ke kota itu, dan peta di kertas kecil, aku yang masih remaja pergi merantau untuk pertama kalinya.

Waktu aku sampai di Kota Lama Poho, bertanya-tanya ke orang-orang sekitar tentang rumah yang ditunjukkan peta, akhirnya aku sampai ke depan pintu rumah ... siapapun itu. Waktu itu aku belum tahu itu rumah siapa. Ibuku hanya bilang itu rumah dari seorang kerabat.

Jadi, Jihan yang masih remaja saat itu ya tidak berpikir yang bagaimana. Ketika aku melihat bagian depan rumah, kupikir, "Oh, aku akan tinggal di sini. Baiklah!"

Begitu aku mengetuk pintu dan orang di dalam membukanya, hal pertama yang kulihat adalah seorang nenek-nenek dengan sorot mata berwarna merah tajam menatapku.

Dia menatapku ... aku menatap dia ... tidak ada dari kami yang bicara selama beberapa detik.

Ketika aku baru mau bicara, pintu itu dibanting. BAAM!

Ditutup. Begitu saja.

Kau harus tahu betapa shock-nya aku waktu itu. Aku langsung mengetuk rumah lain yang ada di sekitar untuk bertanya. Kupikir mungkin aku salah rumah dan tidak sengaja mengganggu seorang nenek-nenek yang harinya sedang buruk.

Lalu, ada satu nenek-nenek, namanya Nenek Arna, yang akhirnya membantu menjelaskan padaku apa yang terjadi. Karena melihat rambutku, dia sadar kalau aku berasal dari keluarga yang marganya sama dengan pemilik rumah tadi, yang ternyata adalah Jee!

Wah, Nenek Arna baik sekali waktu itu. Dia tetangga kami yang rumahnya tepat berhadapan dengan rumah Jee. Dia membiarkan aku tinggal dulu di tempatnya dan membantu menjelaskan padaku apa yang terjadi. Baru ketika itu aku tahu kalau Jee dan keluarga besar pernah punya konflik dan Jee sudah memisahkan diri dari keluarga.

Jadi, selama mungkin ... 10 hari? Selama waktu itu aku berusaha meyakinkan Jee kalau aku bukan pancingan untuk dia kembali ke keluarga besar. Aku juga bukan semacam "mata-mata" yang dikirim untuk memberikan informasi kegiatannya ke keluarga besar.

Tidak, waktu itu Jihan remaja hanya seorang ... remaja. Aku baru menyelesaikan ujian eksplorasi dan kombat dari Percus, lalu mendapatkan kekuatan liar yang perlu pelatihan ketat, dan aku butuh tempat untuk tinggal selama pelatihan. Itu saja.

10 hari aku berusaha menjelaskan itu, sampai akhirnya Jee luluh dan membuka pintu rumahnya untukku.

Memang kesannya ini bukan hubungan antar anggota keluarga yang baik, tapi sepertinya Jee akhirnya sadar kalau dia tidak pernah bermasalah denganku. Hanya dengan anggota keluarga kami yang lebih tua. Menyeretku ke dalam sentimen yang sama rasanya tidak adil.

Kalau ada yang bertanya-tanya bagaimana hubunganku dengan Nenek Jee sekarang, dia sudah mulai baik padaku, kok. Kami baru mulai banyak mengobrol setelah aku hampir setahun tinggal dengannya.

Aku saja kaget waktu dia menawarkan diri untuk membantuku mengurasi cerita untuk siniar, tapi itu artinya dia sudah nyaman membiarkan aku lebih sering ada di sekitarnya. Atau dia suka saja menyenggol pinggangku dengan tongkat jalannya.

Itu cerita singkat saja tentang bagaimana aku bertemu Nenek Jee.

Eh, sebentar ... haruskah aku membahas ini juga?

Sepertinya tidak apa. Ini konteks tambahan saja. Ketika aku menyebut Jee itu nenekku, sebenarnya dia itu ... bukan benar-benar nenekku. Dia itu kakak dari kakekku. Paham, kan? Jadi, secara garis keturunan, dia bukan nenek langsung ku.

Tetapi, aku suka menganggap Jee itu nenek langsung ku karena ... kupikir dia orang yang sangat keren.

Semua tulisan cerita sejarahnya yang membuatku merasa lebih ringan dan senang ketika kecil di tengah semua kegiatan latihan senjata dan kekuatanku itu. Aku selalu ingin bisa bertemu dan mengobrol dengannya. Setiap pertemuan keluarga besar, aku suka menunggu kapan dia datang, tapi dia tidak pernah muncul. Dia juga tidak pernah dibahas oleh anggota keluarga lain.

Aku selalu bertanya ke ibu atau ayah kenapa Nenek Jee tidak pernah datang, tapi mereka tidak pernah jujur menjawab. Mereka akan bilang Jee sibuk atau sedang ada urusan. Mereka juga melarangku untuk menyebut namanya ke anggota keluarga lain.

Jadi, waktu aku tahu yang membanting pintu itu Nenek Jee, selama 10 hari itu aku ada sedihnya, sedikit. Untungnya setelah itu dia membiarkanku tinggal. Dan sekarang, dia juga membiarkanku menjadikan salah satu ruangan di rumahnya jadi tempat rekaman. Dan membantuku dengan kurasi siniar juga. Haha! Aku sudah jadi cucu kesayangan!

Ehkm, maaf.

Lalu sekarang, kenapa aku datang kemari dalam bentuk susunan huruf-huruf ini?

Tidak banyak yang bisa kukatakan, tapi intinya begini. Suara adalah bagian penting dari identitasku. Membuat siniar baru di dunia ini, yang artinya mengungkap suaraku, hanya akan memperumit keberlangsungan kunjunganku kemari, itu saja. Aku masih ingin terkoneksi dengan tenang ke tempat kalian tanpa diganggu pihak manapun yang suka merecoki.

Aku hanya butuh sebuah tempat di mana aku bisa menyimpan semua kisah-kisah yang pernah kukumpulkan di siniar tanpa ada informasi yang perlu disembunyikan. Jadi, nama-nama entitas atau tempat yang akan kalian baca di arsip tertulis ini adalah nama asli dan akan dipaparkan dengan jelas tanpa sensor apapun, tidak seperti biasanya ketika aku bercerita di siniar.

Oh, ya. Beberapa hal yang mungkin kalian perlu tahu juga dari arsip tertulis siniar ini.

Pertama, masing-masing episode adalah cerita yang berdiri sendiri. Meskipun nanti akan ada nomer episode di setiap judul, itu bukan tanda urutan dan kalian tidak perlu membaca cerita-cerita di sini dengan runut. Kami juga berencana untuk merilis episodenya dengan tidak urut, kok. Jadi, jangan khawatir kalau cerita yang rilis tiba-tiba dari episode berangka tinggi. Kalian tidak melewatkan apapun!

Kedua, penulis kami bilang akan ada dua format yang digunakan untuk bentuk tertulis, yaitu novel dan cerita pendek. Dan aku suka sekali dengan ini! Karena memang durasi episode di siniarku itu tidak pernah konsisten. Ada yang durasinya sangat pendek, dan ada juga yang sangat panjang. Tetapi, semuanya tetap adalah cerita-cerita berharga yang datang dari banyak entitas yang berjalan di duniaku.

Kuharap kalian, orang-orang yang tengah melirik ke arah sini, bisa menikmati bacaan yang akan ada di sini.

Antara kedua dunia kita, ada banyak perbedaan yang memengaruhi hidup masing-masing, jadi mungkin kalian akan menemukan detail yang tidak familier.

Tetapi tenang, kita juga masih punya banyak kesamaan yang bisa kalian pahami dalam konteks dunia kalian. Aku, Jee, dan penulis kami akan pastikan apa yang pernah diceritakan secara lisan di siniar bisa tersampaikan dengan baik juga dalam bentuk tulisan.

Ruang Layung adalah rumahku untuk bercerita. Kuharap, tempat ini juga bisa jadi pemberhentian kalian untuk duduk santai dan menyimak kisah-kisah yang dimiliki penghuni dunia ini. Dunia tempatku tinggal.

Sekali lagi, selamat datang! Selamat berkunjung~

──── ☼ ────

EP 59 adalah episode perkenalan dari host Mere Glimpses of Passersby Podcast, Jihan. Dalam bentuk teks, tulisan ini adalah monolog Jihan untuk memperkenalkan dirinya ke bumi. Untuk seterusnya, EP 59 akan menjadi prolog untuk semua kisah-kisah siniar yang akan dirilis kedepannya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)