Puluhan lumba-lumba berlarian, hingga memecah gelombang laut. Sesekali meloncat ke udara lepas, lalu menghempaskan kembali badannya ke permukaan air biru. Tak seberapa lama kemudian, beberapa ekor lumba-lumba gemuk dari jenis berbeda muncul tenggelam di sebelah Barat Daya. Mereka menari dengan tenang dan memukau mata penumpang yang memotretnya.
Sudah hampir tiga jam, kapal sewaan ini mengantarkan kami. Hanya empat orang saja. Aku dan kawanku Edwin dari LIPI, seorang lajang peneliti dari Ohio State’s burd Polar Amerika bernama Nathan, dan Riwu Kellu tourguide sementara kami; sekaligus ahli Tata Ruang dari Universitas Cendrawasih. Selama seminggu ini, kami diminta oleh sebuah perusahaan wisata raksasa asal Amerika untuk melakukan penelitian dalam rangka rencana Pembangunan Ekowisata berbendera perusahaan mereka di Raja Ampat. Sekaligus membiayai rekonservasi peraiaran di sana.
“O, darmommo akat umbui, hah?” nahkoda sekaligus sopir kapal sewaan memalingkan muka dengan sumringah kepada kami. Semua diam, kemudian tersenyum bingung. Aku segera menoleh pada Riwu, begitupun Edwin, dan Nathan. Tentu saja, bagi kami yang baru satu hari menginjakkan kaki di tanah Papua belum sempat belajar bahasa Asmat. Air muka kami yang bengong dengan alis mengangkat, seolah pertanda untuk m...