Sering kali aku mendengar orang-orang bilang bahwa sesungguhnya Tuhan akan berlaku selayaknya prasangka hambanya. Lantas aku berhenti berdoa supaya Tuhan membenciku. “Ini caraku berprasangka baik padanya!” kataku. “Kalian orang-orang suci mana paham tentang pendosa sepertiku. Jemput saja surgamu! Tak usah pedulikan caraku mencintai Tuhan.”
Aku berujar demikian ketika meninggalkan masjid untuk yang terakhir kalinya. Sejak saat itu tiap kali melewati surau sekecil apa pun, aku tak pernah menoleh ke arahnya. Aku tidak cukup suci untuk datang ke tempat semacam itu.
“Meski tak lagi pernah menapakkan kakiku di tempat itu, aku selalu membawa Tuhan di hatiku. Kamu percaya, Bu Rum?” tanyaku pada Rumina yang segera menyunggingkan gigi dari arah ranjangnya. Pelan-pelan kepalanya mulai menggeleng.
“Artinya dosamu tidak lebih banyak dariku,” tambahku.
Mata Rumina menyempit terhadapku. Ia menarik napas dari sela-sela giginya, bergantian dengan lidahnya yang mengecap. Ia berkomentar, “Kita baru kenal selama dua minggu. Tidakkah terlalu dini untuk menyimpulkan siapa yang lebih lihai dalam dosanya?”
“Apakah kau pernah membunuh orang?” tanyaku.
“Ha?!” Jidat Rumina mengerut. “Lepas maskermu! Penyakit kita sama saja. Kau mau tularkan siapa?”
Aku melepas masker medis yang kupakai, lalu kuulangi pertanyaan yang sama, yang seketika membuat Rumina bergeming. Aku anggap ia paham arah pertanyaanku itu. Sejak dua malam lalu kuberitahunya bahwa aku telah membunuh banyak orang, Rumina tak pernah bertanya lebih jauh pasal itu.
“Aku membunuh orang tua dan kakakku sebab mereka tidak lagi terlihat seperti orang beragama. Mereka berbuat kebodohan, lalu mengatasnamakan Tuhan untuk tindakan itu. Mereka berdalih begitulah cara mereka mencintai Tuhan. Aku tak ingin diganggu perkara itu. Demikianlah pula tanggapanku pada mereka.”
Rumina terbatuk di atas ranjangnya. Ia meraih ember plastik di bawah ranjang, lalu meludahkan dahaknya ke ember itu—beberapa kali sampai mungkin ia merasa tenggorokannya tidak lagi penuh.
“Bu Rum... Di masa remajaku, di mana semua yang kupelajari sangat berpengaruh terhadap caraku melihat dunia, aku tumbuh di keluarga yang lelakinya memaksakan berjanggut panjang dan memakai sorban; sementara perempuannya memakai cadar yang bahkan misalkan melihat itu tidak butuh mata, mereka akan disuruh menutup seluruh tubuh mereka demi menghindari fitnah. Sebegitu takutnya mereka pada Tuhan. Maka dari itu seringlah aku mengikuti mereka pergi ke acara-acara taklim, di mana hampir mereka semua berpakaian sama, mendengarkan dengan seksama kitab-kitab keagamaan selain Quran. Itulah kenapa yang mereka bahas biasanya jauh lebih mendalam. Aku boleh tak sepenuhnya mengerti apa yang mereka bahas, tapi aku bisa melihat seberapa bahayanya ucapan-ucapan pendakwah itu apabila kebenarannya bertemu dengan orang-orang yang salah, orang-orang yang belum cukup ahli untuk menafsirkan perintah agama. Contohnya ya keluargaku.
“Selain tragedi kematian massal itu, sebelumnya dosa mereka ialah sama saja dengan dosa-dosa manusia pada umumnya. Hanya pakaian mereka yang tertutup itu yang membuat dosa mereka terkesan lebih munafik. Bagai buah mangga yang diperam; atau semacam pembuatan tapai ketan—makin ditutup makin cepat matangnya. Mereka menggunakan pakaian-pakaian itu sebagai pembeda dari masyarakat awam. Tapi bila kau singkap sehelai kain pun dari mereka, kamu bisa temukan sesuatu yang lebih busuk dari yang pelacur punya sekali pun.”
“Artinya dosa saya tidak lebih banyak dari keluargamu juga?” sela Rumina yang sekarang sudah duduk di samping ranjangnya, menghadapku yang masih terbaring menatap langit-langit kamar seputih tulang yang telah lama terkubur.
“Kamu melacur demi tiga anakmu. Aku yakin Tuhan menganggapnya mulia. Pada dasarnya Tuhanlah yang memutuskan kamu akan melacur di usiamu yang ke dua puluh dua tahun. Misal ditarik lebih jauh, Tuhan menulis kisahmu bahwa di usia delapan belas kamu akan dinikahkan dengan pria yang memerkosamu. Lalu di awal dua puluh, kamu ditinggalkan semua orang ketika punya dua anak dan mengandung satu, sebab dirimu disebut tidak taat kepada suamimu.”
Rumina terkekeh, “Perempuan mana yang akan taat kepada pemerkosanya?”
“Kenapa kamu tak bilang begitu di hadapan orang-orang yang mengawinkanmu? Mungkin sambil kamu lemparkan mereka dengan batu atau pisau dapur.”
“Tidak semua perempuan terlahir berani begitu.”
“Tapi semua perempuan punya harga diri, ‘kan?”
“Saya tidak punya tempat lain untuk pergi.”
“Bagaimana dengan Tuhan? Sebagai orang beragama, tidakkah kamu mengakui bahwa hanyalah kepada Tuhan kita berpulang? Sudahkah kamu berdoa waktu itu?”
“Sudah.”
“Bagaimana Tuhan menjawabmu?”
Rumina mematung. Aku yakin, doanya juga tak didengarkan.
Aku menyela, “Ia membiarkanmu tetap di sana. Lalu ketika semua meninggalkanmu, ia memberimu pilihan; yang satu adalah pekerjaan berat dengan gaji sedikit, dan yang kedua—untuk mengujimu barangkali—ia menanamkan ide untuk melacur di kepalamu.”
“Kau yakin itu semua ulah Tuhan?” sergap Rumina. Dia tidak suka apabila aku menyalahkan penciptanya. “Karena saya selalu punya pilihan untuk tidak melakukan itu. Tapi saya tetap lakukan karena terpikir itulah jalan termudah.”
Aku bangkit dari baringku untuk meniru posisi Rumina. Kami duduk berjarak satu ranjang pasien di tengah—yang sebelumnya punya Judi yang mati tiga malam lalu, juga karena penyakit TBC-nya setelah Lisa di hari kesembilan aku masuk ke ruangan isolasi ini. Aku menarik selimut menjauh dariku agar bisa kujuntaikan kakiku ke arah lantai. Ini yang keseribu kali lebih banyak di mana aku terkejut melihat kakiku sendiri. Tiap kali itu juga aku teringat dengan keluarga Pak Mardani. Mereka yang memberiku dua kaki palsu agar bisa berjalan, tentu tak gratis.
Aku lanjut merespons pernyataan Rumina yang terakhir, “Aku punya pilihan lain untuk tidak bekerja membersihkan kaca gedung itu. Aku bisa saja bekerja sebagai kuli, atau sekalian jadi pengumpul barang bekas, atau bisa juga membersihkan kamar mandi orang-orang. Tapi aku tetap memilih begitu karena gajinya lebih banyak. Tidakkah kasusmu sama saja denganku, memikirkan nominal upahnya?”
Rumina mengangguk.
“Hingga kemudian aku jatuh dari ketinggian lantai empat. Kamu tahu sebelumnya aku berdoa apa? Aku ingin punya kendaraan sendiri, dan berharap Tuhan melancarkan hari itu supaya aku bisa bergegas ke tempat penjualan motor, dan membelinya. Tapi hari itu aku menghabiskan waktu di rumah sakit, menghabiskan semua uang tabunganku untuk biaya memotong kedua kakiku yang kata dokter tidak lagi bisa dipakai. Aku menanam bekas kakiku itu di belakang rumah susun tempatku tinggal dengan harapan mereka bisa tumbuh sebagai pohon uang, atau setidaknya tumbuh uang yang nominalnya persis, atau mendekati uang yang aku tabung dahulu untuk membeli motor. Sayangnya tidak begitu. Sesembuhnya aku, setelah bertemu keluarga Pak Mardani untuk menukar ginjalku demi dua buah kaki palsu berkualitas tinggi, aku kembali ke tempat perkumpulan keluargaku untuk memarahi mereka yang sejak remaja menanamkan pemahaman bahwa beriman kepada Tuhan itu bentuknya kaku. Mereka memintaku berdoa agar Tuhan berhenti memberikanku kesengsaraan. Padahal yang tak mereka tahu, sebelum-sebelum itu hampir tiap hari aku berdoa. Untuk itu aku mengatakan kepada mereka bahwa aku akan mencari caraku sendiri untuk mencintai Tuhan tanpa ditakuti apa pun.”
“Apa hubungannya dengan kasus saya?”
“Aku memilih bekerja menjadi pembersih kaca gedung. Aku memilih menukar ginjalku demi kaki palsu. Aku memilih berperang dengan orang-orang suci yang konon paling dekat dengan Tuhan. Aku pikir, aku memilih semua itu. Lantas di hari yang sama waktu itu, pendakwahnya mengeluarkan perkataan yang sangat membuatku murka;
Sesungguhnya manusia tidak berkuasa atas nasibnya. Ketika kita berpikir bahwa kita memilih suatu pilihan, maka sejatinya itu bukan pilihan kita. Melainkan Allah yang berkehendak demikian. Sejatinya keputusan manusia berada jauh di bawah keputusan Allah.
“Kamu lihat kesamaan kita di hadapan Tuhan? Ketika ia punya segalanya, tapi pilihan yang ia beri padaku—juga kamu, hanyalah yang buruk-buruknya saja. Aku tak beribadah selama bertahun-tahun, sementara kamu salat tiap waktu dan tak pernah lupa membaca doa tidur dan doa-doa lainnya. Namun nasib kita sama buruknya. Apa maksudnya Tuhan berlaku begitu? Karena ia menyayangi kita dan semua kerumitan itu tidak lain merupakan ujiannya? Jadi taat atau tidak taat sama-sama diuji? Apa yang membedakan ujian karena disayang Tuhan, dengan ujian sebagai karma? Coba lihatlah kita, kita berdua sama-sama mengeluhkan hidup. Aku tak paham semua ini. Lantas misalkan justru dia membenci kita? Artinya beribadah saja tidak cukup? Kapan bisa cukup? Tahu dari mana itu cukup? Dinilai dari hidup yang tiba-tiba saja jadi lebih baik? Bu Rum, bukannya kau sudah hidup lebih dari lima puluh tahun? Setengah lebih banyak kau pakai beribadah, namun kau lihat posisimu sekarang di mana? Setara dengan aku yang tidak berdoa.”
Rumina sekilas menutupi telinga dengan kedua tangannya. Aku merasa bagaikan setan yang tengah menggoda imannya.
“Berhentilah, Adnan!” seru Rumina membanting diri ke atas ranjangnya. Bantalnya ia gunakan untuk menutup sekepala-kepalanya. “Saya tahu kau bilang begitu supaya Tuhan mendengarmu dan mencatat dosamu dikarenakan lagi-lagi berprasangka buruk padanya! Kau cuman mau menggoda saya, supaya saya mempertanyakan keadilan Tuhan, lalu kau mendapat dosanya karena menyengsarakan keimanan seseorang! Kau mengaku mencintai Tuhan, dan percaya ia maha sempurna, terus kenapa kau terobsesi sekali untuk dibenci Tuhan?!”
Aku bisa merasakan nada kesal di ucapan Rumina barusan.
Rumina selalu bertanya demikian setelah dua malam lalu kita membicarakan kematian Judi. Aku dan Rumina menimbang-nimbang akankah ia masuk surga atau tempat satunya lagi, sebab dengan kata lain, Judi adalah tukang kawin yang suka bicara agama di atas mimbar. Ada kemiripan antara Judi dengan keluargaku yang kubunuh sepuluh tahun silam. Singkat ceritanya begini:
Saat usiaku masih lima belas tahun, keluargaku ditimpa kemalangan; rumah kami hangus terbakar, dan satu-satunya yang masih utuh ialah selembar Quran. Dari situ orang tuaku mulai memperdalam keimanan mereka kepada sang pencipta lewat acara-acara dakwah dari siapa pun yang mereka jumpai tengah bicara pasal Tuhan dan sejenisnya. Aku diajaknya, meski lebih sering aku tertidur sebab tak paham mengapa pendakwah itu berkata bidah apabila melebih-lebihkan sesuatu yang tidak dilakukan nabi pada masa kenabian, ditimpa lagi dengan pemahaman bahwa semestinya kita menjauh dari orang-orang kafir guna menghindari pengaruh buruk mereka. Yang aku bingungkan adalah, pendakwah itu memakai motor yang merupakan hasil tangan dari orang-orang kafir. Kenapa tidak berkuda saja? Beli kudanya dari seorang muslim. Bagaimana dengan mik yang mereka pakai? Siapa yang membuatnya? Adakah juga di jaman kenabian? Mereka berdalih bahwa jaman sudah beda. Misal ada sarana dan prasarana yang memudahkan siar, kenapa tidak digunakan? Lantas aku tambah terheran; kenapa misal jaman sudah berubah, mereka masih enggan percaya bahwa jaman sekarang semua orang sibuk dengan Tuhan masing-masing? Mengapa banyak dari kalangan mayoritas (di negeri kita) yang masih berpikir bahwa suatu agama selalu punya niatan buruk terhadap kelompok lainnya? Beragama bukannya bikin tenang, malah heboh sendiri. Dan banyak lagi pemikiran liar dari kelompok-kelompok tertentu (yang masih dalam satu agama yang sama) yang kusadari telah banyak menyalahi aturan agamanya sendiri.
Aku penasaran, apakah mungkin orang-orang yang mendekati Tuhan karena takut akan neraka, punya tendensi melebih-lebihkan sebuah perkara? Maksudku, kalau Tuhan itu maha baik, kenapa sampai gemetar ketakutan ketika membicarakannya? Apakah Tuhan juga maha kejam? Setahuku beliau maha adil.
Dua tahun berselang dalam proses mengimani rukun agama, orang tuaku menemukan sebuah perkumpulan yang mengaku menomor satukan religiositas. Namun yang kudengar hanyalah bualan omong kosong yang membingkai diri mereka sebagai orang-orang pilihan;
Orang-orang pilihan yang memperbanyak istri dengan dalih menghindari zina, padahal sebenarnya banyak dari mereka berlaku demikian karena ketidakmampuan mereka menahan berahi. Orang-orang yang tidak bekerja dengan alasan ingin fokus beribadah, yang aslinya cuman malas saja untuk mencari nafkah, dan berharap belas kasih orang sekitarnya—sementara mereka paham betul mengemis itu haram. Orang-orang yang paham bahwa bergunjing itu tidak boleh tapi masih saja peduli dengan perempuan-perempuan yang pulang tengah malam. Orang-orang yang percaya rezeki itu diatur Tuhan tapi kerap mengeluh ketika melihat kehidupan para selebriti yang celana dalam pun harganya bisa membeli sebuah rumah. Pula orang-orang yang berbicara selayaknya mengantar sentosa, sementara ketika pulang dan berada di dalam rumahnya, tidak jarang menghunuskan ribuan kata hina hanya karena harga dirinya disenggol sedikit. Dengan kata lain, mereka mengkhianati persona mereka sendiri.
Lalu haruskah agamanya yang disalahkan? Hanya orang bodoh yang akan mengiyakan. Ini jelas salah Tuhan! Dia yang memegang kendali terhadap semua hal di dunia. Maha segalanya, bukan?
Pada bulan Desember, di saat usiaku memasuki kepala dua, ibu-bapak dan kakakku, pulang ke rumah setelah bersemayam bersama kelompoknya di tempat pertemuan mereka. Tas terjinjing di bahu masing-masing—tentu aku dipersiapkan juga. Subuhnya mereka bangun dan memintaku memakainya. Tak mereka tahu bahwa malam sebelumnya aku mengecek isinya. Menurutku waktu itu adalah momen yang tepat untuk lepas dari belenggu kesucian mereka (yang dipaksakan). Sebelumnya aku tak ikut dalam acara bersemayam itu sebab kuteguk racun rumput setengah botol. Harapku mereka paham bahwa aku punya agenda tersendiri, itulah kubuat-buat alasan apa saja supaya tak ikut mereka.
Subuh itu aku berteriak, “Aku tak percaya adanya Tuhan!”
Kemudian bapakku memburuku sambil membawa parang. Sembari mengolah gelisah kemungkinan besar hari itu boleh jadi terakhirlah aku hidup, aku kian meradang, “Kalian sudah sucikah sampai merasa berhak untuk memberantas orang-orang kafir? Najis!”
Kala bapakku berhenti sekejap di atas jembatan untuk menarik napas, aku berdiri di seberangnya sambil mengarahkan telingaku ke langit, lalu kubilang, “Aku dengar ada yang bicara di langit! Mereka mengataimu keparat, Pak!” Kemudian aku melompat ke sungai. Sekitar tiga hari kemudian aku mendapati kabar bahwa aku telah membunuh keluargaku dan delapan puluh tiga lainnya. Andai saja malam itu aku membuang tas-tas itu, barangkali butuh waktu lama lagi untuk mereka melakukan aksinya.
“Tidakkah itu punya awalan?” tanya Rumina ketika menyingkap wajah dari bantalnya. Ia meraih botol minuman di atas nakasnya, meneguk sedikit-sedikit. Lalu duduk bersandar kepada kepala ranjang.
Aku menunggunya memperjelas maksudnya.
“Saya penasaran, dari mana kau dapat pemikiran untuk tidak belajar agama di sembarang tempat? Usia lima belas tergolong masih labil, masih gampang disetir. Bahkan banyak yang masih ikut-ikut orang tua. Tidak mungkin kau sebegitu natural menyadari kelompok yang diikuti orang tuamu itu adalah versi radikal.”
Jujur aku baru terpikir demikian. Sebelum kebakaran rumahku dulu, orang tuaku adalah orang beragama yang biasa-biasa saja. Kadang salat, kadang juga tidak. Tiap bulan puasa, diusahakan sampai selesai mengikut pemerintah. Sementara selepas subuh, seringlah terputar lantunan Quran mengiringi terbitnya fajar. Pekerjaan mereka pun tak lebih indah dibanding masyarakat menengah ke bawah lainnya—bapakku mengambil sayur dari desa, ibuku yang menjual di pasar kota.
Sangkaku ialah disebabkan perubahan yang teramat besar.
“Mereka terlalu berusaha untuk tampil serupa dengan orang-orang suci; pakaiannya. Sudah alim tampilannya, tapi isinya sebagai individu masih mengandung radang yang sama saja dengan orang biasa. Bukankah harusnya mereka memperbaiki diri dulu sebelum angkuh mengenai kedekatannya dengan Tuhan? Aku tak mau kamu salah paham, Bu Rum. Bulan-bulan awal, kelompok yang kami ikuti kelihatannya sangat tenang. Aku bahkan mengakui ceramahnya meneduhkan hatiku karena berfokus pada usaha perbaikan diri—yang justru itulah dibutuhkan kedua orang tuaku. Sampai kemudian kepala mereka mungkin dihipnotis sama dua orang yang datang ke rumah menebar ajaran menyimpang. Mereka belum sempat mengubah diri, terjunlah ke jurang terjal dari sesuatu yang mengaku datang dari agama.”
“Jadi kemungkinan besar itu Tuhan?”
“Kenapa dia?”
“Tuhan membuatmu sadar bahwa orang tuamu salah jalan.”
“Betul. Dia menyadarkanku, membuatku jatuh cinta dengan kesempurnaan dan janji-janjinya. Lalu di saat aku berdoa sampai sesenggukan, ia berbalik badan. Kata orang-orang suci itu, Tuhan begitu sebab ingin mengujiku. Kataku, karena Tuhan menganggapku tidak cukup baik dalam mengabdi padanya, padahal sebatas itu saja yang kurasa bisa kulakukan. Untuk itu, daripada aku yang membencinya karena membuat hidupku susah walaupun sudah berusaha mengingatnya dalam keseharianku, maka biarlah aku susah karena ia membenciku akibat dari tak lagi berdoa kepadanya.”
“Kau terus-terusan mengulang pernyataanmu! Saya yakin kau tak serius begitu.” Rumina bangkit dari ranjangnya dengan tergopoh-gopoh seraya terus berkata bahwa ia tak paham dengan isi kepalaku. Ia bergegas masuk ke kamar mandi. “Di awal malam kau selalu mengejek Tuhan. Tapi setiap sebelum tidur, kau selalu menangis. Kau menangisi Tuhan, ‘kan? Ironis ketika saya mengingat, kaulah yang tumbuh dari keluarga beragama, namun dibanding saya, kau yang lebih sering mempertanyakan keabsahan zat yang kau sendiri masih berharap memasukkanmu ke surga.”
Rumina juga tumbuh di keluargaku yang tak begitu lihai dalam memeluk hal-hal gaib. Biar kuceritakan sedikit mengenai apa yang ia sudah ceritakan kepadaku mengenai kelam hidupnya demi melawan kisah orang tuaku yang gemar bermain api dan kejutan:
Rumina lahir dari ibu-bapak yang bertemu di acara musik. Ibunya seorang penyanyi, bapaknya ialah pemain gitar. Mereka jatuh cinta, dan Rumina lahir sebelum adanya akad pernikahan. Seiring tumbuh dewasa, ia menerima bahwa dirinya adalah anak haram. Menurut Rumina, desas-desus mengenai kiamat akan terjadi adalah hal yang membuat kedua orang tuanya (yang akhirnya menikah ketika Rumina berusia sepuluh tahun) memutuskan mendekati Tuhan. Mereka takut dosa zinanya akan membuat kulit mereka menyentuh api neraka.
Delapan tahun kemudian, dosa mereka membara sehabis menikahkan Rumina dengan pria yang memerkosanya di kolong jembatan—demi menjaga nama baik keluarganya yang kala itu dikenal keluarga baik-baik dan tak pernah cari masalah.
Dalam masa perannya sebagai perempuan malam, Rumina bertemu dengan seorang pria di usia pertengahan empat puluh yang ingin punya anak. Pria itu menyewa Rumina karena istrinya tidak bisa punya anak. Rumina hamil lagi, istri si pria mati. Menikahlah mereka berdua. Awalnya Rumina khawatir suaminya akan tak adil dengan tiga anak dari pemerkosanya. Namun Rumina salah. Mereka pelan-pelan hidup bahagia ketika suaminya bekerja sebagai tukang kayu. Rumah pertama mereka pun dibangun dari kayu-kayu hasil tangan suaminya. Hidupnya bahagia barang dua tahun kemudian. Kendati masihlah mereka memikirkan dosa-dosa masa lalu mereka (lagi-lagi mengenai zina) yang beberapa ahli agama mengatakan dosa besar, dan sukar diampuni Tuhan—yang kata mereka pula ialah maha mengampuni.
“Saya berdoa sampai betis mati rasa, minta diampuni. Kemudian semua urusan saya akhirnya dilancarkan.” Katanya Rumina pernah mendengar ceramah bahwa satu hal yang membuat segala urusan duniawi dipersulit, adalah dosa. Jadi ketika berdoa, semestinya yang diutamakan bukanlah berdoa ingin rezeki, ingin impian tercapai, ingin masuk surga; melainkan berdoa meminta dosa dihapuskan. Tak ada dosa, maka dunia berada dalam genggaman tangan.
Hanya saja kemungkinan besar tanganku terlalu mungil untuk itu.
Barusan Rumina bertanya padaku, namun suaranya tak cukup jelas dari dalam kamar mandi. Untuk itu aku bergegas duduk bersandar tembok dekat pintu kamar mandi. Barulah terdengar pertanyaannya: “Kalau kau sebegitu ingin dibenci Tuhan, mengapa tak murtad saja?”
Aku tertawa. Akhirnya ia bertanya begitu. Aku yakin dua minggu ini ia menahan pertanyaan itu.
“Rasanya seperti mengejek bapak orang lain,” jawabku masih terkekeh. “Aku mencoba merasakan menjadi bapak orang lain ketika seorang anak memfitnahku. Rasanya tak begitu sakit karena ia tidak berasal dari keluargaku. Tapi bila itu anakku sendiri, akan kujahit mulutnya. Walaupun aku yakin Tuhan bukanlah pemarah, aku terbayang saja apakah mungkin ia akhirnya murka bila aku terus mengganggunya. Aku ingin dibenci olehnya.”
“Tidak lucu, Adnan,” kata Rumina. Suaranya jadi lebih tegas. “Apa kau tak takut masuk neraka?”
“Aku akan melimpahkan semuanya ke bapakku nanti. Biar dia yang dibakar sampai hangus. Toh dia memang suka bermain dengan rasa menyengat si jago merah.”
“Usiamu sudah dewasa. Bukan orang tuamu lagi yang menanggung dosamu. Kau tidak lagi diarahkan, tapi bisa mencari jalan yang benar sendirian.”
“Iya. Tapi misalkan mereka mengajariku mencari jalan yang benar sejak kecil, aku tak akan kebingungan seperti sekarang.”
Tunggu. Aku ralat.
“Aku sudah menemukan jalan benar. Dan aku tidak kebingungan. Beginilah caraku mencintai Tuhan.”
Rumina terkentut sebanyak empat kali. Bergegas aku membuka jendela kamar, sebab semerbak tainya yang keluar dari sela bawah pintu kamar mandi, terbilang brutal dalam menusuk penciuman.
“Kau rela dimasukkan ke neraka olehnya yang kau cintai?” tanya Rumina lagi.
“Tentu.”
Kedengaran Rumina terkekeh. “Saya belum pernah lihat ada orang yang beriman hanya karena masalah hujan dan bensin.”
Aku tak bisa berhenti tersenyum apabila mengingat hari itu. Hari di mana aku memutuskan untuk berhenti berdoa. Aku mengatakan pada Rumina bahwa ini bukan sekadar masalah bensin dan hujan, tapi ada sesuatu yang bergejolak di dalam darahku. Bayangkan saja, belasan tahun aku hidup diterpa kesialan, lantas satu hari yang acak, Tuhan akhirnya mengabulkan doaku.
Sembilan tahun sebelum hari pengabulan itu, sepeninggal orang tua dan kakakku, aku luntang-lantung sebagai yatim piatu sebab keluarga sisi bapak dan ibu juga fakir miskin. Aku kerja serabutan sampai di usiaku yang menyentuh pertengahan dua puluh, kudapati juga kesempatan bergelantungan di depan kaca-kaca bangunan berlantai enam.
Laka itu terjadi, membuatku hidup tanpa kaki selama beberapa bulan. Lega rasanya ditampung keluarga sisi ibuku yang rupanya masih ada sedikit kepedulian terhadapku. Meski lambat laun mulai kudengar mereka mengeluh mengenai perlukah mereka mengurusiku seumur hidup.
Suatu malam aku meminta mereka untuk mengantarku ke pelabuhan. Dari kecil aku ingin sekali naik kapal. Aku bilang akan menikmati suasana malam di atas kapal untuk beberapa menit, kemudian melompat ke laut. Dengan begitu mereka tak perlu lagi memikirkan cara mengurusiku.
Mereka setuju.
Jujur aku bersyukur untuk kedua kalinya dalam hidupku karena persetujuan itu pula yang mengantarku bertemu dengan Pak Mardani sekeluarga. Hanya bermodalkan tangan menyeret badanku dari dek ke dek lain di atas kapal, di saat semua tengah tertidur, di saat laut lagi gelap-gelapnya, aku melompat ke laut malam. Lalu tiba-tiba saja aku terbangun di sebuah kamar mewah.
Menurut Pak Mardani, aku terombang-ambing di laut selama tiga harian sebab mereka menemukanku ketika fajar di awal Oktober. Sementara malam itu masihlah bumi berada di penghujung September. Mereka bilang harusnya aku sudah mati ketika melihat badanku sudah dicabik-cabik burung camar tepat di bibir pantai di pulau yang Pak Mardani beli. Karena keajaiban aku hidup kembali bahkan sebelum mereka menyentuh badanku, mereka menganggap aku ini orang suci. Mereka menyimpulkan bahwa setiap hal yang menempel di badanku, mestilah diberkahi. Maka dari itu mereka meminta satu ginjalku untuk orang tertua mereka yang tengah sakit. Sebagai imbalan, mereka memberikanku uang satu koper dan kaki palsu. Siapa yang akan menolak itu apabila berada di situasiku? Membayangkan sepanjang hayat hidup tanpa kaki, terlebih lagi dahulunya aku punya dua, tentu tak ada dilema lagi untuk menolak tawaran tersebut.
Aku mengambil sedikit dari uang itu dengan niatan membeli sepeda motor dan tanah kuburan. Selebihnya aku biarkan mengambang di lautan. Sengaja tak kuambil sepenuhnya lantaran di kepalaku momen itu, aku berniat menyumbangkannya ke masjid atau tempat-tempat anak yatim. Namun boleh jadi kedermawanan itu akan membuahkan kecintaan Tuhan padaku. Tentu, itu bukan tujuan hidupku.
Hari pertama mendapat kaki palsu, aku bergegas ke pemukiman kelompok mendiang orang tuaku untuk memaki mereka semua. “Lihatlah yang terjadi ketika aku berharap hidup baik ke Tuhan! Ia mengambil kakiku! Ini yang kalian sebut kasih sayang? Ini yang kalian sebut: tidaklah kamu diuji melewati batasmu. MANUSIA DUNGU MANA YANG KAKINYA DIAMBIL DAN MERASA KUAT MENERIMA ITU?!” Tuhan boleh benar berkata hanya menguji yang mampu-mampu saja. Aku membaca buktinya di kitab. Masalahnya tentu ada pada manusia akhir zaman yang bisa jadi salah menafsirkan.
Misalkan aku tak lari dari kejaran orang-orang suci itu selepas memaki demikian, niscaya matilah aku detik itu juga. Syukurnya aku melepaskan diri dari tangkapan mereka, sehingga malam ini, terhitung sudah dua belas tahun sejak kejadian itu, aku masih bernapas meski sering tersendat akibat TBC yang kuidap.
“Sore di hari pengabulan itu, untuk pertama kalinya aku merasa Tuhan berada di tulang-tulangku. Aku berdoa sebentar—dan bukan doa malah, hanya berharap yang tidak seratus persen pula. Lalu dengan sangat nyata dikabulkan di hadapanku—sesuai yang aku harapkan. Kau pernah merasa begitu, Bu Rum?”
Rumina yang baru keluar dari toilet, bergabung denganku menyandarkan tangan di atas kusen jendela, menghirup udara malam.
“Aku sampai gemetar, Bu Rum. Tapi lebih banyak tertawanya.”
Rumina ikut tersenyum, barangkali dia mengenali perasaanku.
“Tepat di hari ulang tahunku yang ketiga satu, aku bergegas menghibur diri, berkendara dengan motorku. Satu-satunya harta yang aku punya. Aku pergi melihat gunung, lembah, pantai, sungai-sungai; bahkan padang yang ditumbuhi bunga yang merambat bebas di atas bebatuan. Aku menengok hewan-hewan yang membuat rumah di batang pohon yang roboh. Sedih rasanya melihat binatang punya rumah sendiri. Sementara aku yang manusia ini kesulitan mau pulang ke mana—ke pangkuan Tuhan sekali pun, Tuhan mungkin buru-buru berdiri. Hingga di perjalanan menuju tempat lain, aku kehabisan bensin dan terhentilah aku di pinggir jalan tak berpenghuni.
“Aku mendorong motorku selama beberapa waktu, namun tak sebatang hidung pun kulihat meski dari kejauhan. Di kantong celanaku ialah dua puluh lembar banyaknya uang besar. Namun air minum saja tak bisa kubeli sebab sekitarku hanya bunga dan alang-alang. Seketika saja dadaku terasa sesak. Tebakanku setidaknya butuh delapan jam agar aku bisa melewati sakaratul mautku sebab detik itu aku enggan mati muda. Rohku kemungkinan akan bermain petak umpet dahulu dengan malaikat pencabut nyawa. Aku sampai terbaring di antara rerumputan pinggir jalan. Wajahku menatap langit yang putih berawan. Berlalu saja ada angin sepoi yang menampar wajahku. Saking damai terasa di hatiku, aku menangis sesenggukan dengan alasan yang tak jelas.”
Aku menjulurkan tanganku ke luar jendela, mencoba menggenggam angin yang berlalu; yang barangkali masihlah serumpun dengan angin yang menemaniku di masa itu. “Di antara alang-alang itu, aku secara spontan berharap; Tuhan, aku haus. Mendung seketika hinggap di atas ubun-ubunku. Jatuh ribuan tetes air dari sana dengan lembut, yang aku tadah langsung ke atas lidahku. Lalu berhenti. Lalu hujan lagi. Aku minum lagi. Terus berulang begitu seolah-olah Tuhan tak mau membasahiku sampai menggigil, hingga mendatangkan matahari sebagai penghangat. Kemudian saat dahaga mulai menguasaiku lagi, diistirahatkannya matahari barang beberapa menit.”
Air mataku kala itu saking banyaknya, tak sadar sisanya keluar malam ini. Rumina meraih beberapa lembar tisu kering dari atas nakasnya.
“Kau tahu kapan doaku yang tiga kata itu kusiarkan?” tanyaku sambil menyeka ingusku. “Tujuh tahun yang lalu. Aku terakhir berdoa—tentu dengan sengaja—ialah tujuh tahun yang lalu.”
Aku ganti tisu yang telah dibasahi ingusku dengan yang baru, sembari memperjelas apa yang terjadi di sore itu, “Kala itu sudah dua tahun sejak aku tidak lagi melaksanakan salat. Itulah sepertinya mau seribu tahun pun, aku tidak akan paham mekanisme berdoa kepada Tuhan. Siapa saja yang boleh berdoa kepadanya? Kau tahu, sebelum-sebelumnya dari tragedi kecelakaanku, doaku panjang—lengkap dengan pujian ini-itu, dengan struktur rapi bagaikan membaca dongeng seorang pendosa yang tengah menapak tilas dosa-dosanya dengan penghujung yakni pertobatan. Tapi doa-doa semacam itu malah tak dikabulkan—atau belum? Entah. Sementara hanya dengan tiga kata sederhana, aku bisa merasakan tulang-tulangku melunak; dosa-dosa yang mengalir di darahku seakan merintih pengampunan. Terlebih saat ada-ada saja seorang bocah bersepeda yang menemukanku tergeletak di jalanan, dan bersedia mengayuh pedalnya entah seberapa jauh untuk membelikanku bensin eceran. Aku bahkan tak kenal anak itu, tak jelas juga alasan anak kecil begitu berada di daerah antah berantah. Tapi dia mengusahakan urusanku sampai sebegitunya. Sore itu aku benar-benar yakin bahwa Tuhan tengah mengasihiku; mengasihi orang yang enggan berdoa kepadanya. Aku benar-benar membenci bahwa aku tidak punya tempat yang tepat untuk berkenalan dengan Tuhan sebaik seharusnya.”
Rumina menyela, “Bukankah dikarenakan pada doa terakhirmu itu, kau teramat berserah diri?” Ia menggeser dahulu sebuah kursi untuk didudukinya menghadap ke arah si malam. Kakinya ia angkat ke atas kursi supaya bisa dipeluknya ke dalam daster yang ia kenakan. Ikat rambutnya ia lepas sebentar untuk dirapikan. Aku melihatnya seperti tengah mempersiapkan diri sebelum mengemukakan firman Tuhan.
Seorang mantan pelacur, hendak berbicara pasal ketuhanan.
Siapa yang bilang tidak boleh? Aku bahkan pernah mendengar wanita serupa yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang airnya ia ambil dari sebuah sumur, dan ditampung menggunakan sepatu hak tingginya. Barangkali semoga Rumina berakhir sama; memberi siraman rohani pada orang fasik sepertiku dianggap sama seperti membantu anjing yang kehausan.
“Doa-doamu sebelumnya kemungkinan punya kecenderungan untuk sekadar meminta saja. Padahal dalam doa, mestinya kita menyerahkan diri kepada Tuhan. Dan mesti kau ingat juga, kalau doa yang dikabulkan tidak mesti secara harfiah. Bisa saja dengan cara lain. Misal kau meminta diberi rezeki sebanyak sepuluh juta. Nah bisa saja yang diberi kepadamu adalah keselamatan yang bernilai demikian. Contoh: kau berkendara dan hampir menabrak mobil mahal. Tuhan menyelamatkanmu dari mengganti mobil itu apabila terjadi cacat.”
“Hm. Analogi menarik,” kataku. “Jadi daripada memberikanku langsung sepuluh juta itu, Tuhan malah menyiapkan sebuah mobil untuk aku tabrak. Dengan begitu ia mampu tampil dalam parade kepahlawanannya; menyelamatkanku.”
Rumina tercengang. “Sepertinya pendosa seperti saya tak pantas membela Tuhan. Tanyakan saja kepada pemuka agama betulan.” Ia melipat tangannya di depan dada. Bibirnya cemberut.
“Tak akan.” Aku bergegas duduk bersandar pada kaki ranjang Rumina. “Aku akan menyimpan semua pertanyaan di dalam kepalaku untuk ditanyakan langsung ke Tuhan misal nanti aku punya kesempatan di akhirat. Aku tak yakin satu pun manusia jaman sekarang bisa memberikanku jawaban terbaik.”
“Kau tak akan bertemu dengannya. Tuhan tak berkunjung ke neraka.”
“Masa?”
“Ya kau pikir saja. Buat apa dia ke tempat orang-orang yang tak patuh padanya?”
Sesuatu yang asam mendadak menusuk lidahku. “Bukankah ketidakpatuhan itu, Tuhan juga yang membiarkan? Apa manusia punya kehendak untuk memperoleh hidayah? Setahuku, hidayah itu semau Tuhan.”
“Tapi manusia bisa mencoba meraihnya!”
“Tapi kalau Tuhan tak meletakkan niat untuk meraihnya di hati si manusia? Apa akan tetap kejadian?”
Rumina kembali memintaku mencari ahli agama saja untuk menjawab pertanyaanku itu. Daripada meneruskan pembahasanku yang juga tak ia ahli, Rumina justru bertanya doa-doa seperti apa yang sering kupanjatkan dahulu.
Doaku sama saja dengan manusia pada umumnya;
Ketika masih kecil aku berdoa agar cita-citaku menjadi dokter bisa terwujud. Di masa remaja aku berdoa meminta masuk surga. Di waktu mencari kerja dan hidup sebatang kara aku berdoa agar diterima kerja yang gajinya banyak sebab aku punya banyak hal untuk dibeli. Aku sering berandai melahap habis seember besar es krim cokelat dan vanila untuk diriku sendiri, atau memakan seporsi sate dan lotong tanpa perlu berbagi pada siapa pun, atau juga makan martabak telur tanpa perlu dimakan bersama nasi. Aku juga penasaran bagaimana rasanya orang-orang yang bekerja di dalam ruangan berpendingin udara. Aku ingin memakai kemeja rapi dengan dasi, juga celana panjang kain dengan beda-beda warna tiap harinya—meski aku lebih memilih untuk menggunakan yang monokrom supaya tidak heboh. Sepatu kulitku ada enam—kupakai bergantian sampai di ujung minggu. Di hari minggu aku akan ke berkeliling dengan motor menuju puncak atau pantai untuk sekedar bernapas lega.
Pernah kutengok sebuah rumah dua lantai di tepi persawahan. Lantai satunya mungkin dari beton, tapi lantai duanya terbuat dari kayu dan semi terbuka. Aku berdoa ingin rumah seperti itu karena lebih suka dengan udara asli, namun takut ular apabila diletakkan yang terbuka itu di lantai satu.
Semua itu hanyalah angan-angan.
Sekarang hidupku hanya berisi kemalangan. Satu-satunya hal yang menjadi pembelaan orang-orang suci terhadap takdir Tuhan padaku, tidak lain adalah oksigen yang aku hirup tiap detiknya. Kata mereka, bersyukurlah sebab kau masih hidup hingga kini. Kataku, siapa yang rela hidup sengsara hanya demi diberi napas saja? Sementara ada nasib lain yang misal boleh dipilih, aku yakin pasti semua manusia akan memilihnya, yaitu untuk tidak lahir sama sekali.
“Bu Rum, kau tahu, sejujurnya selama sekitar tujuh tahun tidak berdoa, sewaktu batuk darah di depan kamar mandiku, aku hampir mengucapkan doa. Saking paniknya, aku seperti kembali fitrah dan mengenali Tuhanku. Hanya saja lidahku seperti membisu. Aku pikir; apakah ini yang terjadi ketika Tuhan betulan melupakan seorang hambanya? Tidak dibiarkannya ia untuk mengucap pujian terhadapnya. Kau benar. Aku mungkin tak sepenuhnya ingin dibenci Tuhan.”
“Saya bingung lagi, Adnan. Jadi kau berhenti berdoa karena tak dimakbulkan Tuhan, atau karena apa?”
“Terakhir kali aku berdoa... Tuhan akhirnya untuk pertama kalinya, mengabulkan doa itu dengan sangat-sangat jelas di pelupuk mataku. Aku ingin terus mengingatnya begitu. Aku ingin mengingatnya sebagai Tuhan yang dengan segera mengabulkan permintaan hambanya—tanpa alasan menunda waktu, atau memberikan jawaban dengan cara lain, pula berbagai macam tafsiran manusia yang sungkan untuk mengeluhkan rasa tidak nyamannya terhadap cara Tuhan dalam mengiyakan sebuah doa. Cuman butuh ia tunjukkan kepadaku bahwa ia maha mendengar, maka sifatnya yang lain akan kupercayai betul pula, termasuk maha sempurna. Apabila setelah doaku yang terakhir itu—yang ia kabulkan—aku lantas berdoa lagi lalu tak ia kabulkan karena alasan tertentu, aku takut akan menganggap kesempurnaan itu bukanlah bagian dari dirinya. Aku takut menganggapnya tak lagi maha mendengar, tak maha melihat, tak maha adil, apalagi maha pemurah. Kamu bisa bayangkan akan serusak apa hubunganku dengannya nanti?”
Samar-samar aku bisa mendengar suara tangisan di sekelilingku. Rumina pun ikut terdiam, mencari-cari sumber suara.
“Aku rela menjual surgaku demi membuat Tuhan tetap maha sempurna di hatiku. Aku tahu tidak masuk akal bagimu. Tapi siapa yang tahu bagaimana cara Tuhan menerjemahkanku?” pungkasku.
Tangisan tadi semakin kentara datangnya dari kamar sebelah. Aku dan Rumina sekelebat tiba di ambang pintu kamar, mengintip duka yang berhamburan di seberang sana. Seseorang baru saja meninggal lagi. Merinding aku tiap kali mengingat bila ada kematian, artinya malaikat maut baru saja melaksanakan tugasnya, dan entah ke mana sekarang dia bergegas. Seorang anak perempuan merintih berkata bahwa sudah mati ibunya. Sementara lelaki dengan suara berat tampak tengah mengerang sakit di dadanya karena tangisnya tidak begitu lugas terdengar, sementara tangannya terus-terusan meremas dadanya kala duduk di emperan taman kecil di muka kamar ibunya.
“Menurutmu di antara kita berdua, siapa yang diambil pertama, Bu Rum?”
Rumina berbalik badan menuju ranjangnya, memakai kembali selimutnya. Ia terdiam beberapa saat sambil memeluk dirinya sendiri, lalu tiba-tiba saja ia berkata bahwa takut akan kematian. Aku pikir orang yang hidup lebih lama, akan bosan dan menganggap kematian justru sebagai lembar baru. Lantas aku bertanya apakah mungkin ia takut mati karena terpikir tidak akan masuk surga?
Aku bergegas ke atas ranjangku tatkala perempuan di penghujung kepala lima itu pun menjawab, “Saya tidak yakin semua ibadah saya bisa diterima. Bukti saya sudah berdoa dengan perasaan penuh berserah pun, hidup saya masih biasa-biasa saja sampai sekarang. Apakah mungkin karena saya tidak selalu ikhlas beribadah? Katakanlah sewaktu berwudu. Sering kali rasanya ingin terkentut terus. Sengaja saya tahan karena saya malas lagi pergi ke kamar mandi untuk berwudu ulang. Padahal berwudu tidak sampai dua puluh detik. Tidak juga mesti mengeluarkan tenaga seperti mengangkat beban berat. Untuk hal sesederhana itu saja, saya terkesan berat melakukannya. Sampai akhirnya jangankan wudu, salat saja akhir-akhir ini sering saya lewatkan. Dan makin sering melewatkan, saya makin sungkan untuk minta banyak. Saya takut Tuhan malah benci sama saya karena menggunakan sifatnya yang maha pengampun sebagai bahan pembelaan saya ketika hendak berbuat dosa lagi.”
Mata Rumina seketika membulat melihat sesuatu tersangkut di pintu kamar yang tengah aku belakangi. Melihatnya buru-buru memakai masker medisnya, aku sudah tahu siapa tamu yang membuatnya terbelalak begitu. Aku membatu di atas ranjang sebab kulirik kiri dan kananku, tak kulihat masker yang kupakai sejak tadi pagi. Satu kudapan ringan yang tadi sore Suster Rita berikan padaku, kubuka langsung untuk kugunkan sebagai alasan.
Suster Rita masuk ke kamar, dan tentu langsung menanyakan ke mana hilangnya maskerku. Dia membawa nampan kecil yang di atasnya sebuah wadah plastik dengan beberapa jenis pil untuk Rumina.
“Bagaimana mau makan keripik kalau pakai masker?” dalihku yang di saat bersamaan mendapati masker bekasku tertimbun selimut. Kukenakan dengan segera, sebab Suster Rita bukanlah maha pemaaf seperti Tuhan.
Suster Rita fokus memeriksa keadaan Rumina, memastikan tidak ada perasaan begah lagi pada perut Bu Rum yang punya riwayat maag. Terhitung satu jam lebih sejak ia makan. Barangkali sudah waktu minum obat untuknya.
“Saya sepertinya akan lebih memungkinkan mati karena maag daripada TBC. Makan sedikit saja perut saya sudah kayak mau meletus," celetuk Rumina.
Suster Rita dengan segala kemampuannya untuk menyemangati mental pasiennya, selalu berhasil menenangkan kecemasan Rumina. Katanya cemas dan asam lambung itu lingkaran setan.
Tak terduga, Rumina menyuarakan pertanyaan yang sangat mengejutkan kepada Suster Rita. Ia bertanya apabila dirinya mati, akan dibawa ke mana mayatnya mengingat ia tak lagi berhubungan dengan dua anaknya yang masih hidup.
“Aku akan menguburkanmu, Bu Rum,” jawabku mendahului Suster Rita yang dari air mukanya tampak ragu-ragu menyebutkan prosedur aslinya—yang entah apalah itu.
Aku menyambung janjiku, “Misal kamu mati lebih dulu, aku akan menguburkanmu di perkuburan khusus orang-orang kaya. Aku membeli dua petak di sana. Awal-awal aku cuman wanti-wanti nantinya akan menikah. Cuman berhubung usiaku makin dekat empat puluh, sepertinya aku akan mati sendiri saja. Begitu juga sebaliknya. Kamu harus bantu untuk menguburkanku di tanah itu supaya tidak mubazir misal justru aku yang berpulang lebih dulu.”
Lantas aku menanyakan ke Suster Rita mengenai kebolehanku untuk menjadi perwakilan keluarga Rumina sebagai keluarga yang ditinggalkan. “Suster sedikit tahulah kalau kami berdua ini sebatang kara.”
Suster Rita hanya mengangguk. Sepertinya ia tersenyum dari balik maskernya itu, kemudian berlalu keluar kamar. Dia memang jarang bicara dengan kami. Takut tertular mungkin. Padahal tidak TBC pun, tetaplah ia akan mati juga pada akhirnya.
“Kalau dikubur di tanah yang dibeli mahal, siksa kuburnya apa akan lebih ringan?” tanya Rumina sembari meneguk pilnya, dibantu dengan air putih. Sehabis itu ia berbaring lagi.
“Aku mana tahu. Tapi menurutku sepertinya tergantung kekayaannya didapat dari mana. Kamu tahu dari mana aku dapat uang itu, jadi kamu tak perlu khawatir. Fokus saja persiapkan diri.”
Sebelum Judi, kematian Lisa sudah lebih dulu jadi bahan perbincangan aku dan Rumina (juga Judi) mengenai akan seperti apa perempuan muda itu disiksa dalam kuburnya. Kami tahu tak sepantasnya berkesimpulan selayaknya mengetahui urusan tersebut. Lagian siapa yang tahu bila ia sempat mengucapkan tobat sebelum napas terakhirnya berembus, meskipun sepanjang hidupnya tak pernah sedikit pun menyentuh hijab. Mengenai alasan-alasan orang disiksa kubur, masing-masing dari kami, rasa-rasanya kena semua.
Aku sudah pasti karena tak salat. Lain lagi Rumina dengan kebiasaannya menjadikan salat itu hal yang memberatkannya. Kecuali kalau kami berdua memutuskan rajin dan ikhlas beribadah lagi. Sementara Judi, entah karena ajalnya yang sudah dekat, ia merasa bahwa dirinya ialah bagian dari orang-orang munafik; orang-orang yang menamengi diri dengan firman-firman Tuhan untuk membenarkan perangai buruknya.
Mengenal Lisa, sederhananya ia membunuh bayi yang pernah ada dalam rahimnya ketika ia berzina dengan pacar yang punya tindik di ujung kepala penisnya. Meskipun dokter mengatakan itu dikarenakan permainan yang terlampau brutal, Lisa masih percaya itu ulah si tindik.
Pernah Suster Rita masuk ke kamar ketika roh kedua jenazah itu masihlah menetap. Suster Rita mengaku kagum bagaimana kami berempat sebegitu percaya diri, dan terbuka untuk saling mengakui dosa masing-masing. Ada benarnya. Mereka memang saling berjanji untuk menitip maaf ke orang-orang yang serasanya pernah mereka buat sengsara hidupnya. Aku hanya pendengar saja, sesekali membagikan burukku juga.
Dari kami berempat, aku adalah yang terakhir masuk isolasi sebab ketiga kameradku itu sudah diisolasi lebih dulu. Kami berempat didiagnosis yang terparah dari yang terparah. Rumina dan Judi karena merokok, aku dan Lisa karena hidup miskin di lingkungan kumuh. Bahkan ranjang kami sebelumnya dibuat berjauhan upaya menghindari penularan yang lebih parah terhadap satu sama lain.
Untuk itu, kami tak berbincang sama sekali sampai akhirnya tiba di minggu pertama.
Waktu itu Lisa mengajak Rumina untuk berbincang mengenai rasanya menjadi seorang ibu. Lalu ia menceritakan mengenai kekelaman kematian bayinya itu; diikuti dengan kelam-kelamnya yang lain dengan permintaan tolong di akhir salah satu kisahnya: “Bisa tidak, misalkan Bu Rum hidup lebih lama dari saya, sampaikan permintaan maaf saya ke orang-orang itu?!” Tepat di momen itu, kami semua bisa melihat kondisi Lisa memang sudah berada di penghujung hayatnya. Wajahnya tertutup masker pun, masihlah terlihat pucat pasi.
Orang-orang yang dimaksudkannya adalah sekeluarga Haji Nando. Lisa pernah mencuri di rumah keluarga yang menyatu dengan toko kelontong itu karena kelaparan di saat lari dari keluarganya sepeninggal kematian bayinya. Kala ketahuan mencuri, ia dipermalukan di hadapan umum, dan harga dirinya yang merupakan satu-satunya yang dia punya—terkecuali pasal seks—direndahkan serendah-rendahnya.Besoknya ia meminta pacar beringasnya untuk menakut-nakuti mereka, yang sebenarnya adalah cara jitunya untuk membalaskan dendam atas kematian anaknya kepada pria itu.
Barangkali nikmatnya orgasme dikalahkan dengan duka kehilangan anak.
Di subuh hari itu, rumah Haji Nando menjadi arena adu parang. Semuanya mati karena si pria beringas memang lagi mabuk-mabuknya, ditambah dengan janji bahwa Lisa rela diperlakukan seperti binatang asalkan yang merenggut harga dirinya, tahu rasa sedang berselisih dengan siapa.
Sekarang karena Lisa sudah mati, kalau pun tak bebas dari genggaman Munkar—Nakir, setidaknya ia tidak perlu lagi bertemu dengan keluarganya yang memaksanya untuk kawin dengan orang gila yang sudah di kerangkeng belasan tahun. Pemaksaan itu rupanya berawal dari hutang keluarga Lisa ke keluarga orang gila itu. Solusi terbaik kata keluarganya. Lisa pun hidup berkecukupan, dan si orang gila dianggap normal lagi karena berhasil membuat bunting wanita perawan.
Lantaran tak ingin menghabiskan hayat dengan orang gila, tak peduli ibu-bapaknya dibunuh karena hutang, Lisa melarikan diri dari rumah. Meskipun agaknya terlalu terlambat. Hingga beberapa bulan kemudian, terjadilah tragedi Haji Nando.
Sehabis kematian Lisa, Judi pun mulai jujur mengenai dosa-dosanya yang ia khianati apabila berada di atas mimbar. Sebelum gemar kawin, syahwatnya memang sudah tidak terkontrol sejak masuk SMP. Semua bermula karena majalah-majalah dewasa yang ia dapatkan dari kuli-kuli yang merenovasi sekolahnya semasa SD. Masuk SMA ia sering mengintip beberapa teman wanitanya yang sering ke kamar mandi. “Sampaikan maaf saya ke Tuti Wardana, Siti Hajar, Aida Fitri, sama satu lagi saya lupa. Tapi misalkan Dek Adnan ketemu sama Tuti Wardana yang hidup beda satu gang dengan saya, dia pasti ingat karena selalu jalan berempat. Tapi jangan sebut saya titip maaf karena apa.”
Besoknya ia mengingat dosanya yang lain, “Selain itu saya juga mau kalian sampaikan maaf ke Bu Nia. Dia penjual sembako depan rumah saya yang sering saya ceramahi pasal kewajiban bersedekah. Padahal saya cuman mau dikasih beras, atau telur gratis. Hutang saya banyak di situ.”
Terakhir, ia ingin kami mencari istri pertamanya; Rukayah. Ia meminta ampun pada perempuan itu sebab memaksanya berlaku sesuai kehendaknya. Itulah alasan ia menikah terus-menerus, sebab istrinya terdahulu tak bisa meniru istri para nabi; yang taat pada suami, tunduk, dan tak pernah membantah, pula hal-hal lainnya yang membuat kedudukan pria terkesan paling tinggi dari perempuan apabila tidak dicerna baik-baik. Ia bahkan mengaku pernah mengatai Rukayah sebagai perempuan laknat karena Rukayah mengambil uang dua puluh ribu dari dompet Judi tanpa bertanya dulu.
Judi memaksa istrinya berlaku layaknya istri nabi, namun ketika Judi sendiri disuruh berlaku layaknya nabi, ia menepis dengan mengatakan dirinya hanya seonggok manusia, tak akan pernah jadi nabi.
Sekonyong-konyong pria itu sesak napas menjelang subuh, aku menanyakan kegundahanku yang terakhir, “Tidakkah Anda terpikir bahwa istri nabi bisa sepatuh itu sebab mereka menikahi seorang nabi? Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya. Mereka dijanjikan surga, namun istrimu ambil dua puluh ribu saja kau maki laknat?” Sayangnya pertanyaanku itu tidak sempat Judi jawab lantaran buru-buru pulang ke pangkuan Tuhan di saat azan subuh berkumandang.
Maka tersisa aku dan Rumina yang punya tanggung jawab untuk meringankan beban kubur orang-orang itu dengan perjalanan meminta maaf misal sembuh nanti. Kami pun tak tahu juga apakah akan berguna. Tapi bagi orang-orang di ujung tanduk seperti kami, segala cara untuk mengurangi siksa kubur dan neraka, mestilah dilakukan—setidaknya bagi kedua mendiang dan Rumina.
“Kamu tidak ingin aku menyampaikan maaf kepada anak-anakmu?” tanyaku pada Rumina seraya menaruh bungkusan kripik ke atas meja. Sambil menunggu jawaban yang tampaknya sangat dipikirkan itu, kuteguk air secukupnya untuk menahan batukku. Aku menarik napas dalam lewat mulut dan mengembuskannya kencang-kencang untuk mengecek adakah dahak yang tersangkut di tenggorokanku—atau yang lebih parah; cairan di paru-paruku. Syukurnya tidak. Tapi entah kenapa napasku jauh lebih tersendat dari hari-hari sebelumnya. Bagaimanapun ember ludah milikku masih tak sepenuh kepunyaan Rumina.
Tiada angin, Rumina membelokkan topik ke arahku; ia menyimpulkan kalau aku lebih takut mati dibanding Tuhan yang mematikanku kelak. Buktinya aku lebih mempersiapkan matiku dengan membeli tanah kuburan daripada mempersiapkan bekalku untuk bertemu putusan Tuhan di akhirat.
Aku tak segera meladeni pernyataan Rumina. Kepalaku menyorakkan keangkuhan, lantaran jantungku berdegup kencang dengan sedikit rasa nyeri tiap ia memompa. “Aku takut. Kemudian berpikir apakah memperjuangkan hidupku merupakan sebuah keuntungan mutlak? Hidupku tak begitu menggairahkan untuk dibuat serius. Aku hanya takut rasa sakit yang menimpa kita dalam proses mati itu. Banyak kudengar bahwa sakaratul maut adalah tingkat tertinggi rasa sakit yang akan manusia rasakan sepanjang hayatnya—dan kabar bahwa itu terjadi benar-benar di akhir hayat, menjadikannya jauh lebih menakutkan. Sering kali aku mencoba menahan napas selama beberapa detik. Taruhlah lima belas detik. Rasanya sudah aneh sekali. Aku tak bisa bayangkan yang terjadi nanti, menimbang dosa-dosaku yang teramat penuh. Apa kamu tahu, Bu Rum, momen sekarat seseorang, di agama kita, lamanya ialah bergantung pada amal si calon mayat? Tidak ada itu ditembak jantung atau kepala langsung mati di tempat. Mau badanmu berhamburan tidak berbentuk juga, rohmu bakal tetap merasakan sakaratul maut untuk ditarik ke alam baka.”
“Saya sering dengar itu. Dan semakin tua saya makin ketakutan karena rasanya jauh lebih dekat. Dibanding orang muda yang masih punya banyak hal yang ingin dikejar dan diraih, orang-orang lanjut usia seperti saya rasanya cuman sisa menunggu mati. Kalau pun beribadah ya sebisanya. Dan kami disalahkan juga karena kenapa tidak mendekat sejak masih muda. Sebutlah mengaji. Membandingkan cara baca orang jaman dulu dan orang-orang muda yang merekam suara mereka untuk diputar di masjid sebelum salat, jauh sekali beda bunyi tajwidnya. Dan sudah tidak bisa diubah. Urat-urat leher, mulut, bahkan napas sudah tidak mampu lagi. Tidak perlu lagi bahas salat yang mesti bergerak banyak.”
Rumina lalu meraih tas kain yang ia letakkan di bawah ranjangnya, mengambil secarik foto dari sana. Aku bergegas mengambil foto itu sambil duduk di ranjang bekas Judi untuk memperhatikan Rumina yang masih muda bersama empat anaknya yang paling belia dan tertua berusia empat belas seingat Rumina.
“Yang hidup sisa dua. Nomor tiga dan empat sudah meninggal dari lama. Tidak terlalu jauh dari suami saya yang meninggal karena tertimpa kayu. Kalau yang nomor satu dan dua, saya telantarkan mereka karena tidak sanggup dengan tanggung jawab sebagai ibu tunggal.”
Rumina bilang kalau dua tahun pasca kematian suaminya, ia mulai sering mencoba menyesap rokok lantaran kerap mendengar perkataan kawan wanita malamnya dulu bahwa rokok membawa ketenangan. Entah karena sugesti atau apa, ia hanya tak ingin gusarnya menguasai diri sebab keempat anaknya masih butuh figur seorang ibu untuk membesarkan mereka. Satu—dua batang sehari; lalu bertambah selayaknya bilangan berpangkat; sampai bisa jadi sebungkus tiap harinya.
Pneumonia, kata dokter.
“Saya bahkan tidak tahu apa itu pneumonia. Perempuan putus sekolah seperti saya, dikasih penjelasan berbelit-belit mengenai penyakit anak saya yang masih bayi. Intinya infeksi pernapasan, kemungkinan besar karena rokok, katanya. Terus saya ditanya apakah ada perokok aktif di rumah.” Rumina tertawa tatkala matanya kosong, barangkali menerawang masa-masa itu.
Sekelebat aku melihat air matanya jatuh, yang seketika itu juga ia seka sambil buang muka.
“Saya ingat sekali semua orang menyalahkan saya. Telunjuk demi telunjuk, saking banyaknya, semua bergumul di muka saya seperti hendak menusuk bola mata saya. Saya tidak menepis. Memang sudah sering saya diingatkan tetangga mengenai bahaya rokok, tapi sama sekali tidak satu pun dari mereka yang melarang saya itu, mencoba membantu saya untuk cari solusi bagaimana supaya nyaman jadi ibu tunggal. Mereka tahu apa susahnya jadi saya. Yang mereka bisa cuman mengkritik, tapi tidak coba bantu meringankan. Waktu itu saya bahkan kerja di pabrik sandal sambil gendong anak saya yang bayi itu, saya berharap anak nomor satu saya bisa jaga dua adiknya di rumah.”
Jujur ia mengaku ada rasa syukur di hatinya ketika anak paling belianya itu berpulang lebih awal. Rumina mengatakan bahwa bebannya menjadi lebih ringan. Bahkan tidak butuh waktu lama sampai ia kembali bangkit dan mengurusi tiga anaknya yang tersisa. Sampai pada akhirnya dia bisa kembali menyekolahkan anaknya dengan gaji buruh pabrik yang menetapkannya sebagai pegawai teladan. Dengan kata lain, kematian anak bungsunya justru membawa kebebasan baginya.
“Saya beberapa kali berpikir apakah kebebasan itu juga yang merenggut anak saya yang nomor tiga. Saya jadi terlalu santai dan berujung teledor. Di satu waktu ketika anak nomor tiga saya itu masih penyembuhan sehabis sunat saat usianya masih tujuh tahun, saya ajak dia pergi ke pantai untuk berendam di air laut karena katanya air asin bisa bikin sembuhnya makin cepat. Tak tahu kenapa waktu itu saya dapat ide ke pantai, hanya berdua. Sebenarnya saya agak ragu karena melihat keadaan di sekitar terlalu sepi, sementara ombak laut semacam tengah memberi tanda untuk lebih baik tak menyentuhnya. Hanya karena kepalang terlanjur, saya gali pasir pantai itu agak dalam, supaya anak saya bisa masuk dalam. Misalkan ombaknya cukup besar dan panjang, maka terisilah itu lubang dengan air asin. Setidaknya anak saya tidak perlu menyentuh bibir pantai. Semua aman. Sepuluh menit. Lima belas menit terlewat begitu saja. Anak saya senang sekali. Dia sesekali tunduk dan sembunyi di dalam lubang itu, terus keluar untuk mencoba mengagetkan saya. Tak berapa lama kemudian tiba-tiba pikiran saya kembali ke rokok. Manusia mungil yang setengah badannya berada dalam lubang itu seketika jadi prioritas kedua saya. Saya minta ke dia untuk tetap berada dalam lubang sementara saya pergi mengambil rokok yang saya taruh di kantung motor saya.”
Rumina tersendat menelan ludahnya. Napasnya kian tak beraturan.
“Waktu saya berjalan pergi, ada beberapa langkah di mana saya tidak menengok ke belakang karena perhatian saya teralih ke burung yang tiba-tiba beterbangan di atas kepala saya. Sangat tidak penting, dan saya juga melakukannya tanpa alasan jelas. Lalu saya tengok ke belakang, anak saya tidak ada di lubang itu. Kepanikan tentu langsung menjalar di badan saya. Hanya berapa langkah kembali, anak saya muncul lagi dari dalam lubang, kembali mengagetkan saya. Lega rasanya.”
Rumina tersenyum padaku kala berkata lega.
“Saya kembali menjemput rokok saya yang... sangat... sangat... saya sayangi itu,” tangannya mengepal, mulutnya merapat geram, “dan beberapa tengokkan saya tidak mendapati anak saya itu di dalam lubang. Di kepala saya; paling sembunyi lagi. Berdiri saya di depan motor menghadap pantai, sambil mengisap rokok memandangi lubang yang kosong; yang terus-terusan terisi air laut itu. Satu kali embusan asap, dua kali, sepuluh kali...,” Rumina tiba-tiba menangis, suaranya memberat, ia memukul-mukul dadanya. “Di kepala saya masih berpikir itu anak masih sembunyi dalam lubang. Dan kemudian ada satu ombak besar yang datang, mengisi penuh lubang itu. Saking bodohnya saya, saya berlari ke arah situ dengan pikiran anak saya terjebak di lubang itu.”
Wajah Rumina memerah. Berkali-kali kata ‘bodoh’ keluar dari bibirnya tiap kepalanya menggeleng. “Jadi saya coba masuk ke lubang itu, dan tidak menemukan dia di sana.”
Rumina termangu. Sepertinya dia tidak sanggup lagi menceritakan lanjutannya. Aku juga kasihan untuk memaksanya menceritakan dukanya itu.
Kesimpulanku adalah mungkin anaknya berlari ke bibir pantai kala Rumina membelakanginya. Tak perlu bertanya pula mengenai mayatnya, sebab sekali mati ya mati. Aku justru menanyakan nama kedua anak termudanya itu. Namun dia hanya menggeleng dengan mata sembap. Aku pernah melihat momen semacam ini ketika Lisa ditanyai apakah ia mempersiapkan nama untuk bayinya sebelum resmi melahirkan; Lisa juga tak mau menyebut nama anaknya. Apakah mungkin, kehilangan anak, saking hebat rasa sakitnya, untuk menyebutkan namanya saja merupakan sebuah hukuman tersendiri?
“Saya mau kau sampaikan maaf ke kedua anak saya yang lain: Rahma dan Adiat. Mereka mungkin sedikit lebih muda dari kau sekarang. Dulu mereka dibawa ke panti asuhan karena saya menggila selama beberapa bulan. Sesadarnya saya hendak menjemput mereka kembali, saya takut kehadiran saya malah membuahkan kematian lagi bagi mereka. Mending saya sendirian seumur hidup saja. Sudah terlalu banyak orang mati karena saya.”
Sejak saat itu Rumina tak pernah lagi melihat kedua anaknya.
Rumina kembali membuka mulut, “Saya menghabiskan waktu untuk memperbaiki diri. Belajar mengaji, belajar salat. Saya hidup untuk diri saya, tanpa tahu diri. Saya melupakan begitu saja bahwa saya telah melahirkan dua manusia hanya untuk berjuang hidup sendirian di dunia yang berantakan ini. Saya melepas tanggung jawab sebagai ibu, hanya untuk kebebasan saya sendiri. Saya iri dengan kehidupan orang lain yang segalanya punya. Saya iri dengan mereka-mereka yang dicintai dengan selembut seharusnya. Tiap kali saya mempertanyakan hidup saya, saya menganggapnya telah berdosa ke Tuhan. Bahkan sesekali saya memikirkan untuk mencoba mencuri perhiasan majikan saya. Saya bukan orang baik, Adnan. Saya harap kamu benar. Semoga memang ibadah bukan alasan kita masuk surga.”
Aku dan Rumina tak pernah sesenyap ini. Aku sendiri membawa badanku bersandar ke kepala ranjang, memeluk lututku sambil memikirkan bagaimana bisa semua cerita duka yang ada dalam hidup kami, diciptakan oleh sesuatu yang disebut maha baik. Apa maksud dari ini semua? Tidakkah beliau yang punya kuasa untuk menaik-turunkan iman seseorang? Ketika ia yang menulis semua takdir, namun menghukum manusia karena tidak (bisa) melawan takdir itu sendiri? Kurang lebih begini: kami tulis nasib buruk kalian, lawanlah, namun ingat juga perlawananmu itu kami yang putuskan apakah kau akan melawan atau tidak. Namun tetaplah melawan. Berhasil atau tidak, itu pun juga putusanku.
Aku sama sekali tak akan mengerti itu. Rasanya seperti berusaha menyelesaikan teka-teki yang hanya diketahui ilahi. Aku tak cukup pintar untuk menafsirkan ucapannya.
“Aku tak sepenuhnya yakin, Bu Rum. Bagaimanapun juga, berdoa, salat, adalah bentuk perintah. Aku hanya tak ingin kecewa. Hanya sekali aku melihat agama datang dengan lembut. Selebihnya agama digambarkan oleh pendosa-pendosa seperti kita, yang semestinya tak bolehlah demikian. Tapi manusia bisa apa? Aku hanya percaya apa yang kulihat; agama membuat orang jadi beringas.”
“Tapi tidakkah kau ingin bertobat untuk dirimu sendiri? Kau bilang ‘kan, awal-awal mengenal agama hatimu terasa damai. Kau hanya perlu tempat yang tepat, Adnan.”
“Aku tak yakin akan bertemu. Ketemu sekalipun itu putusan Tuhan lagi.”
“Kau tak takut kalau mati hari ini?”
“Urusanku hanya kepada Tuhan. Seumur-umur aku tak pernah buat masalah dengan manusia lain; binatang sekali pun. Aku menjauhi permasalahan dunia sebab perundinganku dengan Tuhan akan besar dan berat, sehingga kuputuskan untuk mengumpulkan tenaga. Siapa yang tahu caraku mencintainya bisa berhasil? Barangkali di penghujung hayatku, dia melunakkan bibirku untuk mengucap tobat? Tak ada yang tahu. Manusia bisa menyebutku pendosa yang sombong sebab menginginkan surga namun tak mau berdoa. Namun bagaimana dengan Tuhan yang membiarkanku tak berdoa? Siapa yang bisa mengenali caranya menerjemahkan makhluk-makhluknya? Sesungguhnya dia yang lebih tahu isi kepala dan hatiku dibanding aku sendiri. Aku pernah mendengar sebuah analogi menarik. Bayangkan orang tua yang mengajari balitanya untuk berjalan. Mereka dengan penuh semringah menunggu anaknya berdiri mengambil langkah. Mau berkali-kali terjatuh pun, orang tua akan tetap menunggu anak mereka untuk dipeluk karena berhasil untuk tidak menyerah. Aku yakin Tuhan mencintai orang-orang tersesat sepertiku."
Aku menoleh ke Rumina.
Dia tak ada di atas ranjangnya.