Di perjalanan menuju stasiun, saya ditanyai sama salah satu pedagang minuman yang dulu, biasa saya kunjungi tiap Sabtu sore sehabis pulang kerja. Dia tanya saya mau ke mana. Saya cuman bilang kalau ada urusan di luar kota, itu kenapa saya bawa koper besar sambil tunggu taksi di trotoar. Sebenarnya saya sempat mau jawab kalau saya mau kabur ke desa antah berantah untuk memulai hidup baru; atau bisa juga baring di tengah rel pas nanti kereta lewat. Cuman saya tidak mau bikin beliau risau. Saya takut rasa jus yang dia bikin bisa berubah kalau sedang panik. Lalu bangkrutlah nanti usahanya karena dikritik habis-habisan di media sosial. Saya lagi yang salah.
Kalau sudah tentang hubungan sosial, saya selalu saja kurang ahli. Padahal banyak yang bilang bahwa manusia adalah makhluk individu dan sosial. Sayangnya di kasus saya, hubungan sosial malah merusak diri saya. Bahkan bikin saya kebingungan dengan jati diri saya. Makanya saya mantap untuk sendirian saja seumur hidup; menjauh dari orang tua, dan tidak akan punya pasangan sampai ajal menjemput. Untuk itu saya mau kalian menilai seberapa tepat pilihan saya itu lewat cerita-cerita saya yang berikut.
Tidak usah jauh-jauh. Saya bahas kejadian menjengkelkan yang terjadi setidaknya dalam tiga jam di dua malam yang lalu.
--Orang Asing--
Biasanya saya pergi ke bioskop tiap hari Senin malam—menghindari ke-fomo-an yang kadang berhamburan di hari Kamis; hari rilis film lokal. Tapi karena film yang mau saya tonton itu habis salat isya, otomatis singgahlah dulu saya ke masjid sebelum berbelok masuk ke gedung bioskop.
Salatnya khusyuk. Alhamdulillah. Saya bahkan berdoa banyak setelah salam. Cuman pas saya keluar dari masjid menuju sandal saya, saya agak aneh melihat letak sandal saya itu. Kelihatan seperti sandal saya memang, cuman seingat saya posisinya tidak tepat di sudut tangga. Saya taruh di tengah. FYI saja, saya sudah pakai sandal itu selama lima tahun terakhir. Jadi sudah ada semacam keterikatan yang erat. Buluk memang benar, tapi nyaman sekali kaki saya pakai itu. Maka perbedaan rasa sedikit pun bisa saya kentarai. Sandal sudut tangga itu alasnya tipis, besar sebelah—bahkan ukurannya berbeda pun tak ada yang cocok di kaki saya. Jelas bukan punya saya. Masalahnya cuman ada itu yang paling mirip sandal saya. Saya kira mungkin yang punya sandal itu salah mengenali sandalnya.
Andaikan kamu kenal saya, seumur hidup saya berusaha hati-hati menjalani hidup supaya tidak ganggu kehidupan orang lain. Tapi kok bisa, ada saja orang dungu yang tidak bisa membedakan sandalnya sendiri? Kesamaan merek, tampilan, dan lain hal boleh ada, tapi semestinya sebagai manusia kita bisa merasakan kesenjangan ketika bersentuhan dengan yang bukan milik kita.
Alhasil sandal itu saya buang dan beli baru. Padahal pengeluaran malam itu sudah saya hitung supaya tidak sesak napas sampai gajian berikutnya.
Saya pikir kesialannya cuman sampai di situ, sayangnya baru sampai di parkiran gedung pun, ubun-ubun saya langsung panas. Bayangkan, ada puluhan motor dan belasan mobil yang terparkir semaunya. Jika melihat kota-kota besar yang dipenuhi parkir liar, ketiadaan tukang parkir di kabupaten tempat saya menetap ini mestilah sebuah anugerah. Tapi sayangnya malah jadi penyakit. Orang-orang jadi bodoh perihal memarkirkan kendaraannya sendiri.
Ruang untuk jalan masuk ke gedung hampir tidak ada, tertutup motor yang saling memepet—bahkan ada yang kunci leher motornya. Saya pun jadi tukang parkir dadakan supaya motor saya punya cukup ruang untuk parkir di dalam area parkir—yang sebenarnya masih banyak area kosong. Itulah yang saya tidak pahamkan. Barangkali entah bagaimana yang datang Senin lalu serentak bodoh semua.
Singkat cerita, saya akhirnya bisa masuk ke gedung dan disambut dengan antrean yang membludak. Seingat saya sekitar 15 baris ke belakang. Sebenarnya saya sudah mewanti-wanti akan ramai mengingat ini film sudah viral di tiktok. Banyak kreator yang bikin video reaction sambil menangis, bilang filmnya relate sekali. Rencana awalnya saya mau pesan online, tapi mungkin karena cabang kabupaten mungil, jadi bioskop ini dianaktirikan. Banyak usang dan rusaknya, gagal terus pembelian online-nya. Tapi agak lain kalau mau mengeluh, sebab daripada tak ada sama sekali?
Lima belas menit kemudian, posisi saya masih berada di tengah antrean. Syukurnya waktu itu yang jaga loket, lumayan cepat gerakannya. Di momen itu rasanya masih lancar-lancar saja. Orang-orang masih taat barisan, tidak ada yang menyelonong.
Sampai akhirnya saya di barisan ketiga, di mana depan saya itu enam anak muda—dari perawakannya kayak masih SMP. Saya cuman bisa perhatikan mereka asyik menggosip, sampai saya pun tahu kalau Nana hamil di luar nikah karena digauli omnya sendiri—saya bahkan tidak tahu NANA ITU SIAPA! Tapi tak apa, saya bilang. Setidaknya tinggal tunggu pasangan muda-mudi di barisan paling depan, habis itu kumpulan remaja, baru nanti sayalah yang diurusi. Intinya saya berusaha menenangkan diri dengan yang baik-baik saja.
Tidak berapa lama sewaktu melihat sejoli itu berhasil membawa tiket mereka, bersamaan saya dengar ada suara tertawa yang lepas sekali, baru-baru masuk di dalam gedung. Pas saya menoleh ke belakang, di pintu masuk gedung tersangkut kelompok ibu-ibu dengan seragam persatuan berwarna ungu tua. Firasat saya sudah menggebu-gebu—oh, meledak ini saya sebentar.
Pas saya menoleh ke kasir tiket lagi, di depan saya sudah kosong. Saya pikir sudah giliran saya, ternyata sekumpulan remaja perempuan tadi belum selesai beli tiket. Mereka malah sedikit menyamping, bergosip. Maksud saya, mereka mengantre lama-lama pakai baju bagus, cuman buat gosip di depan kasirkah?
Saya panggil, “Adek!” sampai salah satu dari mereka akhirnya menoleh. “Ngantrinya di sini. Atau kalau mau saya duluan. Cepat pilih!” saya agak memaksa sedikit. Bukannya langsung menuruti, mereka habiskan waktu untuk saling tunjuk siapa yang harus berdiri di depan saya. Saya jadi berpikir, apa mungkin mereka jijik harus berdempet-dempet dengan saya? Soalnya memang saya sudah maju selangkah supaya area di depan saya sesempit mungkin, supaya mereka berenam tidak perlu ikut baris semua, cukup satu perwakilan.
Karena ubun-ubun saya mulai mendidih, keluarlah yang panas-panas dari mulut saya, “Saya nggak berpenyakitan kok. Enggak usah jijik sama saya. Saya juga bukan orang mesum. Kalian juga bukan tipe saya buat dideketin.”
Akhirnya satu orang maju sebagai relawan. Seingat saya yang maju waktu itu agak pemalu. Dia terus menunduk dan menoleh ke arah teman yang berada beberapa langkah di sampingnya. Saya dengar dia bisik-bisik, paksa temannya untuk menggantikan. Terus dia bicara ke temannya, “Sini! Ini duduknya di mana?” Tapi teman-temannya cuman suruh dia untuk pilih yang kosong.
Gigi saya agak rapat sedikit, supaya bikin anak-anak itu sedikit terdesak memenuhi gilirannya membeli tiket. “Bantu temanmu sini! Lama sekali, ah!” Sudah naik pitam saya, baru mereka maju membantu temannya memilih kursi. Film sudah diputar dua menit lalu. Mood saya sudah hancur.
Tiba-tiba di samping remaja itu muncullah kumpulan ibu-ibu tadi. Mereka mengantre di luar barisan seharusnya. Santai sekali mereka meletakkan tangan di atas meja tiket sambil main handphone. Anak-anak mereka mondar-mandir kaya di taman bermain saja.
Tak berapa lama akhirnya giliran saya. Tapi ibu-ibu di samping langsung menyahut, “Mbak, mau nonton film.”
HAH?! BAGAIMANA?! MINTA DITARIKKAH PUNUK UNTAMU, BUNDA? MENURUTMU YANG MENGANTRE PANJANG ITU BUAT APA?! Kasir yang tangani tiket langsung bingung mau layani saya yang ada di depannya, atau ibu-ibu yang menyahut. Otomatislah saya bela diri, “Saya duluan.”
Eh malah dibantah sama salah satu ibu-ibu itu. Bukannya dia minta izin ke saya untuk mendahulukannya, dia malah pakai alasan begini, “Kami dululah, Dek. Lagian kan saya banyak orang. Dia ini sendiri."
Saya jawablah, “Enggak bisa kayak begitu dong, Bu. Saya ngantri setengah jam. Ibu baru dateng tiba-tiba nyelonong begitu aja.”
Tiba-tiba dia bilang, “Sama orang tua yang sopan ngomongnya!”
DIH?! KENTUT. “Bu, ini kita lagi ngantri tiket bioskop, bukan pelajaran budi pekerti. Lagian kalau memang Ibu merasa jauh lebih tua, harusnya lebih bisa paham aturan dong? Semua orang di sini ngantri, Bu. Kalau misal bisa nyelenong kek Ibu, ngapain mereka capek-capek berdiri lama?”
Habis itu saya mulai keluarkan uang dari tas selempang kecil saya, lalu mendahului pertanyaan klise kasir tiket, “Saya duluan. Satu tiket. Film Yang Tak Kunjung Sembuh... Jam sekarang, F6." Akhirnya kasir memenuhi permintaan saya yang memang sudah seharusnya demikian.
“Anak muda jaman sekarang...,” bertuturlah perempuan lainnya, dari kumpulan wanita berumur itu sambil geleng-geleng kepala, “... nggak ada segan-segannya sama orang tua.” Jurus andalan dari yang lebih tua. Kayak yang paling tahu semua saja.
Misalkan ‘masa bodoh’ itu dibuatkan wujudnya, niscaya bisa kamu temukan ia menempel di tiap pori-pori saya malam itu. Saya berdiri menatap kasir di hadapan saya untuk beberapa detik setelah menadah uang kembalian. Cuman masalahnya pas kejadian, mesin printernya ikut eror. Saya malah disebut kualat. Katanya karena saya bicara sembarang makanya urusan saya dipersulit Tuhan.
Saya langsung sangsi, “Apaan sih? Memang ini giliran saya. Bawa-bawa kualat segala. Anda yang menzalimi orang kok malah bawa-bawa dosa.” Sempat saya lirik mata mereka kayak mau keluar dari kelopaknya setelah saya bilang begitu. Saya tambahlah apinya, “Sudah lihat antriannya sepanjang apa, kok masih perlu dikasih tahu? Apa mungkin orang tua suka begitu ya? Ngelanggar aturan semaunya cuman karena hidup lebih lama? Bukannya karena hidup lebih lama harusnya bisa lebih peka?”
Ibu lainnya senyum sinis, “Saya jadi penasaran, orang tua kamu ngedidik kamu kayak bagaimana sampai bisa bicara nggak tahu tata krama kek begitu.”
LAH INI KENAPA JADI TIBA-TIBA BAWA ORANG TUA SAYA?!
“Ya karena kalau mereka becus ngedidik, nggak bakalan ada generasi muda kayak kamu.” Dia teriak begitu sambil mendekat ke muka saya. Skincare saya luntur kena jigongnya.
Dapatlah saya counter jawabannya, “Menurut Anda kelakuan Anda sekarang ini juga baguskah? Hasil didik orang tua Anda juga?!”
“Wah kurang ajar banget ini anak,” ucapnya sambil memasang wajah terkejut, saling bertatap dengan anggota gengnya menyamakan pendapat bahwa saya yang tidak sopan. “Bicara kok kayak nggak punya orang tua!”
Saya langsung diam. Sebagian diri saya bilang maklumi saja, namanya juga orang tua. Hanya saja saya bisa merasakan sebagian diri saya yang lain, lagi mengumpulkan semua amarah saya untuk mengutarakan kesimpulan kalau berjalan pergi nanti.
Mesin printer yang akhirnya bekerja, langsung jadi penanda buat saya untuk melancarkan niat saya itu. Saya tarik napas dalam dulu, habis itu mulailah saya menyemprot, “Orang tua saya sudah mati dari lama. Jadi memang nggak ada yang ngajarin saya sopan santun." Saya ambil tiket saya, habis itu pasang muka menghadap ke mereka, “Makanya apa pun pendapat negatif di kepala ibu-ibu sekalian tentang saya yang baru kalian sadari hidup di dunia ini lima menit yang lalu, itu semua benar. Kalian mau bilang saya keluar dari pantat anjing pun, itu kenapa saya nggak punya sopan santun, itu semua benar!! Intinya Anda semua adalah kebenaran! Nabi pun minder sama kalian!!!”
Habis itu saya masuklah ke gedung bioskop.
Apakah sudah selesai? Tidak sayang. Waktu masuk ke studio, saya ketemu sama pasangan sejenis yang saling bercumbu di sudut f1 dan f2. Ini saya cerita ini bukan untuk kampanye komunitas atau menjatuhkan ya. Saya pribadi berpikir kalian mau bercumbu dengan knalpot juga terserah. Hidup saya terlalu sibuk hanya untuk menyempatkan diri menyalahi dan membenarkan perilaku manusia lain. Berzinalah oh berzina!
Saya tidak peduli sama sekali dengan kaum semacam itu. Cuman yang jadi masalah, yang jadi submissive waktu itu, sering kali mengeluarkan desahan-desahan tidak perlu, suara-suara manja yang barangkali menurutnya mampu mengubah yang bergelantungan di antara selangkangannya itu menjadi sesuatu yang mirip kerang. Tidak sayang. Berzinalah sewajarnya dan sesadarnya!
Beruntungnya film yang saya tonton itu bagus. Jadi lambat-laun perhatian saya teralihkan... ke filmnya? Bukan sayang. Hanya sebentar saya perhatikan itu layar besar, sampai kemudian isi perut saya mau keluar saking jengkelnya.
Masih ingat anak dari ibu-ibu persatuan ungu beberapa paragraf sebelumnya? Ibu mereka berulah di antrean tiket, anaknya berulah dengan lalu-lalang naik tangga. Bahkan ada yang putar—entah reels atau fyp tiktok dengan volume yang orang tuli sekalipun mestilah dapat mendengar. Habis itu disahut sama perempuan yang berjarak dua kursi di kiri saya yang lagi video call sama pacarnya. Video call, Man, dalam studio bioskop?!? Unik bukan main.
Saya kayak... mau bakar saja itu gedung bioskop supaya bubar semua. Cuman masalahnya malam itu uang terakhir saya di tabungan. Gaji saya cuman sejuta, dibagi bensin dan kebutuhan rumah, bioskop setempat cuman dapat jatah tiga kali untuk saya gandrungi.
Sepanjang film berputar, jalan di lorong, sampai di atas motor, saya bisa rasakan iblis tengah meronta-ronta di tenggorokan saya. Saya pilih area paling favorit saya untuk menghina manusia bumi. Berhadapan dengan laut malam, saya berteriak seperti meme dinosaurus yang sepatutnya sudahlah kalian semua tamati.
Saya tidak tahu kenapa dunia selalu menyajikan kebodohan manusia khusus untuk saya di tiap harinya. Bekerja di toko parfum membuat saya harus berbicara tiap hari dengan semua pelanggan. Belum lagi berbicara pasal ekspektasi bos dan partner kerja—anak baru lulus sekolah yang dieksploitasi untuk dibayar 700 ribu tiap bulan; yang sangat kaku dalam konsep pelayanan.
Saya bukan tipikal orang yang bisa menahan amarah. Kadang saya bisa meledak seperti bom. Kadang juga saya lebih memilih memaki Tuhan yang menciptakan ini semua—termasuk kehidupan saya yang stagnan dibanding kawan-kawan seusia saya. Mestilah saya menyadari kedua hal itu bukan hal baik. Untuk itu, agar tidak meledak atau menghakimi Tuhan, saya berniat menjauhi semua itu.
Sederhananya begini, asal saya tidak berhubungan sosial, maka tak ada yang bikin saya marah-marah. Solusi menarik, bukan? Saya yakin ada satu titik di bumi ini di mana manusianya paham betul dalam melangkah supaya tidak bikin pitam orang naik.
Saya kepikiran cari desa terpencil sebagai awal mula hidup baru dibanding mati muda, karena sepertinya cuman berkebun yang menjadi bakat alami saya. Orang tua saya punya kebun cengkeh. Saya pun sering membantu apabila cengkehnya dipanen. Jadi sejak kecil, saya lumayan bersahabat dengan tanah, udara, air, dan matahari.
Jadi bagaimana menurutmu? Alasan saya menghindari hubungan sosial dengan manusia asing, apakah bisa dipahami?
Selanjutnya saya persempit skala hubungan sosialnya. Tapi sebelum lanjut di bagian kedua. Kamu boleh beristirahat dahulu sebab kian lama kamu berenang di cerita ini, makin tragis pula isinya. Spoiler sedikit: kisah ini akan berujung pada hari di mana adik saya ditemukan mati terjepit semak dalam parit kebun tetangga, karena sehari sebelumnya saya sebut dia tidak berguna.
--Teman--
Harga diri. Saya rasa tempramen saya selama dua tahun terakhir yang sebegitu susahnya saya tahan, itu semua perihal harga diri; ingin dianggap pantas, dianggap cukup, dan dianggap ada. Ledakan itu barangkali jadi cara saya supaya ketiga itu bisa tertuntaskan. Dari kecil saya selalu berada di ambang semua itu. Tidak begitu pantas diterima di perkumpulan mana pun sebab merasa tidak cukup baik. Namun di satu sisi entah bagaimana, saya juga ingin dianggap ada tanpa perlu berusaha menunjukkan keberadaan.
Tempat tinggal saya berdekatan dengan hutan belantara. Karena memang kebanyakan penduduk bermata pencaharian sebagai pemilik kebun—cengkeh dan merica kebanyakan. Untuk itu, semasa SD saya hanya bisa bergaul dengan kawan ketika di sekolah saja. Sementara sewaktu SMP, saya sibuk mengikuti lomba akademik yang mengharuskan saya berkumpul dengan sesama siswa teladan yang entah mengapa banyak yang tak pandai bersosialisasi. Semuanya kaku sesuai buku petunjuk. Atau mungkin saja saya memang tidak beruntung dapat yang demikian.
Barulah di masa SMA saya menyadari betapa nikmatnya bergaul, bercanda tawa dengan kawan seusia. Kami saling puji, saling hina, saling membodohi hanya untuk bersuka cita. Tak ada yang baper. Namun karena itu pula saya malah terlalu bersandar ke mereka.
Pandemi covid menyerang, semua terputus, saya candu dengan tawa mereka, berakhirlah saya kesepian di kamar saya yang penuh debu dan berjendela satu. Sementara teman SMA saya memang tipikal anak ambis yang gampang bersosialisasi. Mereka sering mengadakan perkumpulan organisasi di luar, bikin saya malah merasa tidak diajak. Padahal ya memang saya tidak masuk dalam kelompok itu.
Satu setengah tahun selama pandemi, kami hanya bertemu tak lebih dari jari tangan. Lalu satu setengah selanjutnya sekolah dimulai lagi, dan saya pikir tidak adanya rasa canggung adalah hal baik di antara kami. Bahkan untuk pertama kalinya saya ikut nongkrong sampai jam tiga subuh membicarakan hal random, membicarakan kebodohan manusia lain, kesialan orang lain. Semuanya terasa lancar.
Sayangnya ada di beberapa momen rasa tidak dianggap itu muncul lagi.
Kami punya satu grup pesan di mana isinya bersembilan yang sering nongkrong di taman kota. Di sana kami selalu menyusun wacana untuk berkumpul jam berapa dan di mana. Tiba-tiba pada suatu waktu, di grup pesan itu ada ribut-ribut karena mau naik ke puncak kota yang baru diresmikan pemerintah. Katanya mereka mau foto-foto. Saya pikir saya ketinggalan info, saya scroll-lah ke atas, tapi memang tidak ada riwayat pesan di mana mereka mewacanakan itu.
Rupanya mereka rencanakan waktu sore hari. Mereka katanya tidak sengaja berkumpul di pantai sambil lihat matahari terbenam. Separuh katanya sedang lari sore; separuhnya karena memang mau lihat matahari. Mereka berdelapan, tanpa saya. Mereka bahkan kirim foto-foto mereka bersama, bahagia sekali.
Maksud saya, tidak teringatkah bahwa ada satu anggota grup yang tidak ada di tempat? Tidak ada niat begitu, buat coba telepon saya untuk join lihat sunset? Padahal kalau berkumpul, saya tipikal orang yang lumayan berisik. Well, sebenarnya itu bentuk usaha saya supaya tidak tenggelam. Tapi apakah semudah itu saya untuk tidak terlihat?
Apalah gunanya saya merasa diterima di perkumpulan mereka kalo saya tetap saja dilupakan? Bahkan rencana mereka nikmati malam di puncak kota, sudah diputuskan siapa yang bonceng siapa. Jumlah mereka genap. Saya dipanggil yang terakhir, betul-betul ketika mereka sudah dalam perjalanan ke titik kumpul.
Apakah saya menyusul sendirian? Tidak. Mereka sebenarnya tahu kalau motor saya terlalu butut untuk mendaki di tanjakkan curam—jalan rata saja kadang suka mati sendiri. Dan mungkin entah bagaimana, tepat pada waktu itu, serentak mereka lupa akan hal itu. Jadi saya tidak ikut mereka. Dua pertemuan dalam sehari, tidak ada saya, satu-satunya anggota grup pesan itu yang tidak diajak. Persoalan 'tidak diajak', boleh cemen di telinga banyak orang. Tapi bagi yang merasakan itu, lumayan perih sih itu. Terutama ketika tingkat dependency-nya sudah tinggi —yang sebenarnya kesalahan si yang bergantung.
Ada lagi waktu momen habis Idul Adha—jauh lebih penuh tanda tanya di benak saya. Bahkan kami merencanakan pertemuannya pakai ponsel saya. Hanya saja pas perkumpulan, saya lagi-lagi tidak dipanggil. Saya pikir tidak jadi, makanya saya tidak tanya apa pun. Bahkan saya tahu mereka berkumpul pun lewat foto yang diunggah saling menandai di story instagram. Mereka berdalih tidak hubungi saya karena takut saya sibuk kerja. Waktu itu saya sempat kerja lembur karena dijanjikan bonus lebih. Padahal beberapa dari mereka sempat lihat story whatsapp saya di mana saya foto sunset sehabis pulang kerja. Saking sakit hatinya, setelah itu saya selalu upload foto sunset seolah-olah saya menikmati kesendirian saya.
Lambat laun saya menyalahkan diri saya sendiri dalam menerjemahkan situasi semacam itu. Bahwa saya yang berlebihan, saya yang memang pikirannya negatif terus, mereka tidak berniat begitu, dan banyak lagi narasi kepala di mana: saya penjahat dan mereka yang terfitnah.
Bila ditelaah sejak awal, hubungan saya dan teman-teman SMA lumayan dekat. Bahkan ada satu malam di hidup saya, 10 Desember 2021, yang saya sebut sebagai malam terindah di kehidupan saya. Di malam itu, saya hidup seperti di film-film. Cahaya malam kota, berkendara, dan mandi hujan di tengah malam, bercengkerama di dalam kamar membahas father issues masing-masing. Cantik ‘kan? Lantas kenapa perlahan saya dilupakan?
Apakah ada cara bicara saya yang kurang disukai? Mungkin cara saya bergurau saya yang dulu terdengar lucu, namun sekarang karena kita sudah dewasa, maka tidak lagi menggelitik? Apakah mungkin karena bau saya? Atau karena cara saya tertawa yang terlalu lebar? Atau barangkali kebiasaan saya yang sering berdiam diri sehabis melontarkan lelucon panjang, lambat laun bikin mereka tidak nyaman? Apa kira-kira yang kian berkurang dari diri saya? Apakah karena saya berubah?
Semakin lama, saya malah makin mempertanyakan nilai diri saya. Apakah mesti saya menganggap diri sebagai yang tak cukup hanya demi bisa punya teman?
Sejatinya saya tidak pernah berubah. Saya selalu di sini—sebagai satu-satunya yang hidupnya stagnan dari kelompok saya. Sementara yang lain sudah jadi polisi, dokter muda, semuanya sarjana dan punya kesempatan untuk kerja lebih baik. Terus apakah karena itu mereka menjauh? Karena nilai saya tak setara? Tidak. Mereka tidak sejahat itu.
Lagi-lagi saya membela mereka.
Pertanyaan paling krusial, apakah benar saya yang kurang, atau mereka yang tak lagi sayang? Anjay.
Saya tidak merasa diri saya kurang. Semua yang saya tidak suka, tercipta karena saya menciptakan hubungan pertemanan. Misal dari dulu saya tetaplah sendirian, maka saya yakin hidup saya tidak akan kesepian begini. Maka dari itu saya ingin melepas pertemanan yang sangat mewarnai semasa SMA dan dua tahun setelahnya itu. Dengan harapan saya bisa meraih kembali kemampuan saya untuk sendirian seperti sewaktu SMP dan SD.
Sayangnya tidak mudah melancarkan rencana itu. Sebab saya sudah terlanjur menganggap mereka tempat pulang saya. Dua tahun belakangan, ketika saya mulai exhausted dengan pekerjaan, dan semua (segera jadi mantan) teman perlahan kesulitan untuk mengatur jadwal bertemu sebab masing-masing sudah punya yang diusahakan, maka barangkali kepala saya sudah tidak mampu menutupi marah dengan sabar. Setidaknya begitu kesimpulan saya.
Saya tidak suka sendirian. Saya tidak suka merasa tidak dianggap. Saya cuman punya diri saya sendiri. Untuk itu saya bakal bela diri saya, dan menganggap semua orang adalah penjahat. Kecuali terhadap perempuan yang saya kencani selama setahun belakangan. Untuk kasus itu, sayalah yang jahat dan bajingan.
--Romansa--
Saya dibesarkan di sebuah keluarga yang kaku kayak batu. Bukan menghasilkan cinta layaknya si cemara, atau racun layaknya si patriarki. Tapi semua serba formalitas. Saya, dua saudara saya, kedua orang tua; bagaikan lima orang asing yang kebetulan sedarah dan harus saling mendukung hidup—karena sudah begitu takdirnya. Kami serumah tapi jarang berbincang, jarang bersapa, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Bapak saya sibuk urus kebun, ibu saya sibuk urus rumah, saya bersaudara sibuk sekolah. Habis lulus sekolah, semua lanjut lagi cari kerja karena sudahlah sampai di tahap usia produktif.
Sulit untuk bilang bersyukur karena punya keluarga semacam ini, namun ketika mengingat banyaknya nasib anak yang kurang beruntung—hidup miskin atau hidup dikerasi—patutlah juga hidup saya disyukuri.
Karena kekakuan itu pula, seiring beranjak dewasa, saya jadi kesulitan untuk menerjemahkan kepedulian dan rasa cinta. Saya tidak tahu yang mana itu cinta, dan yang mana hanya sekadar rasa peduli. Saya juga tidak mampu membedakan antara keterikatan satu sama lain dan ketergantungan satu pihak.
Barangkali ini juga yang mempengaruhi hubungan pertemanan saya. Kadang saya merasa ingin dipedulikan, tapi saya tidak tahu caranya mengungkapkan kepedulian itu seperti apa. Saya sudah belajar banyak di media sosial, sesekali saya mengirim pesan berusaha menyemangati, atau ikut menyelamati keberhasilan teman-teman saya, cuman di dalam diri saya selalu ada rasa kurang. Bahkan dibanyak kesempatan saya mengurungkan niat mengirim pesan hanya karena saya pikir pesan itu bakal mengganggu dan dianggap aneh.
Begitu pula ketika membicarakan romansa. Waktu pertama kali kenal sama mantan saya, sempat saya mengira kalau dia cuman friendly saja. Soalnya membandingkan visual saya dengannya adalah sebuah dosa tersendiri. Rupanya hasil dari cepu teman duduknya sewaktu SMA, ternyata dia betulan suka sama saya, sementara saya waktu itu tidak punya niatan untuk memulai hubungan asmara.
Singkat cerita, saya gantung dia dari tahun 2019—2024. Sesekali dia menghubungi lewat pesan, sesekali pula saya tidak menggubris. Sampai kemudian selama bekerja di toko parfum, saya butuh tokoh yang mau menaungi kekesalan saya, maka datanglah ia menenangkan api di sekujur badan saya.
Tiap sebulan sekali kami bertemu untuk bertukar kabar. Isi pendekatan kami hanya membicarakan dunia dan kebodohan para penduduknya. Bukan dalam artian bahwa kamilah yang terbaik. Hanya saja tak bisa dipungkiri, saya dan kalian semestinya tahulah manusia yang berkelakuan bodoh itu seperti apa. Sama saja ketika kita membicarakan orang jelek. Kita semua tahu pasti a—z-nya. Hanya saja enggan membicarakan atas dasar kemanusiaan, juga ketakutan dianggap si paling sempurna.
Setahun pendekatan, kami berpacaran. Dan di situlah kebodohan saya. Seharusnya waktu itu saya patenkan saja bahwa hubungan kami tersangkut di zona pertemanan. Mungkin dia akan tetap sakit, hanya saja setidaknya kami masih bisa berteman dengan nyaman karena tak pernah menjalin kasih.
Peresmian itu mengantarkan saya ke masa-masa di mana saya memaksa diri saya untuk hadir di setiap harinya. Dia tak pernah bilang apa-apa. Hanya saja kepala saya selalu menyebut saya tidak bertanggung jawab. Saya bilang ke diri saya, “Kamu putuskan berpacaran, tapi perlakuanmu ke dia tidak ada bedanya seperti berteman. Wanita itu tak bilang apa-apa, tapi pastilah dia menuntut sesuatu darimu.”
Saya egois dan perhitungan. Finansial adalah penghalang utama bagi saya untuk merasakan saling cumbu. Tak ada gentleman dalam kasus saya, sebab dari kecil saya tidak diajarkan untuk bersikap maskulin. Tidak ada sosok pria yang pria jadi panutan saya untuk belajar bagaimana seharusnya pria bersikap terhadap pasangannya.
Bisa saja sebenarnya saya berlaku dermawan, cuman... Faktanya hidup saya serba kekurangan. Mau ajak mantan saya makan di luar saja, saya betul-betul menghitung pengeluaran saya. Tentu saya tidak hitung di depannya. Tapi misalkan kami perlu jalan dua kali seminggu, saya harus merelakan tabungan saya untuk dihabiskan untuk semangkok bakso atau makanan lain. Tapi apakah perhitungan saya itu red flag? Apakah tabu bagi seorang perintis berhati-hati dalam pengeluarannya? Sekali lagi saya mempertanyakan pilihan hidup saya untuk membela pihak lawan.
Tidak sehatkan? Itu kenapa saya tidak mau lagi menyentuh hal romansa. Saya lebih baik mencumbu tubuh saya sendiri sampai mati. Itu masih pacaran, belum membicarakan pernikahan. Ampun. Hidup saya terlalu banyak kurangnya untuk coba-coba bertingkah berlebihan.
Mungkin hingga di titik ini, kamu semua merasa bahwa sayalah yang problematik. Sebenarnya saya tidak menyalahkan. Di banyak situasi, saya juga merasa demikian. Namun lagi-lagi saya mempertanyakan urgensi mengurangi harga diri hanya demi bisa diterima banyak orang. Apakah sepenting itu untuk diterima orang lain? Dosakah kalau mau sendirian seumur hidup setelah mengenal diri yang kepala sama hatinya suka labil? Toh pada akhirnya kita semua sendirian 'kan? Berpasangan lalu beranak. Anak tumbuh dewasa dan punya keluarga, pasangan mati duluan, dan sendirianlah lagi kita.
Bahasan tentang menjadi problematik. Misal boleh membela diri. Semua perasaan merasa tidak dianggap, tidak cukup, tidak pantas, tidak terlihat, dan dilupakan. Pun kadang perhitungan, marah-marah, mulutnya kasar. Semua itu mestilah punya akar, yakni keluarga saya. Terutama ibu saya.
--Keluarga--
Bagi beberapa orang pasti akan merasa aneh, dan tidak sedikit dari kalian bakal menganggap saya durhaka misal mendengar ucapan ini: Ibu bukan tempat pulang untuk saya. Memang memilukan, bahkan memprihatinkan, tapi demikianlah yang terjadi.
Hubungan saya dengan Ibu memudar seiring berjalannya waktu. Ibu saya bukan sosok dengan suara tinggi dan kritik pedas memenuhi tiap sisi rongga mulut dan hatinya. Ibu saya itu orang baik. Hanya saja terlalu polos untuk bertahan hidup di dunia yang penuh kelicikan ini. Keluguannya sering kali jadi dosa tiap kali dia tunduk memenuhi keinginan dan hasrat orang-orang di sekitarnya.
Awal mula hubungan saya dan Ibu memudar adalah ketika adik saya lulus SMA. Pengangguran itu tak henti-hentinya memoroti ibunya sendiri. Dan anehnya lagi, meskipun rajin mengeluhkan kebiasaan itu, Ibu masih saja memberikan uang yang nantinya seisi rumah tahu akan dibelikan rokok dan hal-hal tidak berguna lainnya.
Bapak saya jauh dari sifat patriarki maupun pemimpin keluarga cemara. Beliau justru tidak terlihat seperti bapak-bapak. Ia tak peduli ada perkelahian di depannya. Ia hanya sibuk menjalankan wasiat neneknya untuk terus menjaga lahan cengkeh warisan keluarga agar tetap terawat. Sifatnya yang acuh tak acuh itu selalu bikin saya geram. Sebelumnya saya yang biasa dijadikan pelarian untuk meminta tolong oleh Ibu, tapi kini saya meniru Bapak seutuhnya.
Konflik memanas ketika Rahim, adik saya, sudah dapat kerja dan bersikeras mau beli motor gede. Spesifik mesti motor yang berukuran besar, dengan alasan supaya lebih bersemangat kerja. Jelas saya sudah menentang. Soalnya saya tidak bisa temukan keterhubungan antara motor gede dengan etos kerja sebagai kuli. Justru bukannya malah jadi bahan gunjingan? Kerjanya digaji sehari seratus ribu, tapi berangkatnya naik motor gede kayak anak geng di sinetron. Motor itu cicilannya sejuta lima ratus per bulan. Belum lagi kalau mau membicarakan rokok yang barangkali bakal bikin dia sekarat kalau tidak mengisap sehari saja.
Ibu saya menentang saya waktu itu. Dia yakin kalau Rahim bukan lagi bocah ingusan yang merasa tertekan cuman karena disuruh pergi beli minyak urut. Rahim, pasti mampu bertanggung jawab untuk urusan pribadinya, dan tidak menyusahkan orang lain, pikirnya begitu mungkin.
“Anak baru gede begitu, Ibu percaya? Dua tahun itu lama, Bu. Misalkan dalam sebulan dia bayar sejuta lima ratus, artinya dia mesti kumpulkan 50 ribu per hari. Dan ngumpulin 50 ribu itu bukan dua tahun... tapi sekitar 700 hari, nonstop. Bukan saya yang mau nyicil, tapi saya yang sesak mikirin komitmennya. Tidak bisakah beli barang yang sesuai kemampuan finansial? Kalo motor beat saja bikin dia loyo kerjakah? Dia nguli sambil naik motorkah?"
Sayangnya keresahan saya itu dianggap angin lalu.
Habis itu berjalan lima bulan cicilannya, Rahim mulai sering bolos kerja, dan berakhir dipecat karena sifat arogan yang entah dari mana ia warisi: Rahim tidak mau disuruh-suruh sama kepala tukangnya. Bahkan ditawarkan lagi untuk kerja di kebun, Rahim tetap menolak karena merasa tertekan apabila mesti dia yang mengurus kebun. Sejak awal saya sendiri sudah bilang bukan passion saya bekerja di kebun. Itu kenapa saya tidak pernah dimintai pertanggungjawaban mengurus kebun. Saya tidak tahu mengurus dan merawat. Dipatuk akar pohon pun kira-kira saya bakal meninggal serangan jantung karena berpikir itu ular.
Bulan keenam dan ketujuh, ibu saya luntang-lantung cari uang buat lanjutkan pembayaran cicilannya Rahim. Padahal lagi-lagi saya sudah bilang ikhlaskan saja ditarik kembali. Tapi kata Ibu, “Sayang. sisa setahun lagi.” Tepatnya 17 bulan lagi.
Karena perempuan itu tidak punya penghasilan tetap, alhasil kadang dia pergi sendiri memetik cengkeh yang siap panen, ia keringkan, dijual, lalu dipakai bayar motor. Begitu terus sambil katanya memegang janji Rahim yang sibuk mencari pekerjaan lain. Padahal yang dia tidak tahu, teman tongkrongan Rahim itu pengangguran semua. Mereka tipikal anak muda yang menjadikan cerita-cerita masalah rumah, digabung pakai tulisan-tulisan di media sosial yang membentuk standar (bodoh dan menggelikan) mengenai anak bungsu, lalu kemudian mencoba memvalidasi kebusukan perangai mereka.
Masuk bulan ke sepuluh, cengkeh sudah habis dipetik. Sementara yang sudah dikeringkan, Bapak simpan di gudang untuk menunggu harga per kilonya (yang kering) bisa lebih tinggi. Cengkeh yang kering jumlahnya berkarung-karung besar. Sesekali Rahim atau Ibu mencuri sedikit-sedikit, sampai akhirnya ketahuan dan di situlah titik terendah Rahim dimulai.
“Bantulah adikmu itu. kan kamu masih punya banyak tabungan!” mohon Ibu kala itu. Saya ingat sekali rambutnya berantakan. Bukan dia yang punya cicilan, dia yang stress pikirkan. Padahal sekali pun tidak pernah dia naiki itu motor, karena dia tidak tahu bawa motor. Rahim pun pakai motor itu untuk pergi melanglang buana entah ke mana.
Saya bilang, “Saya menabung itu untuk keperluan pribadi. Bukan buat bantu Rahim bayar motor. Saya dari awal sudah bilang, jangan ganggu saya kalo tentang cicilan motor.”
Tiap bulan Ibu memaksa saya untuk bantu Rahim. Dia kalang-kabut cari biaya penutup untuk motor itu. Sementara yang punya motor, masih saja tiap hari minta uang rokok. Kontol pun agaknya lebih bijak dari itu binatang.
Saya sempat marah ke Ibu karena kian hari bentukannya makin mirip pasien rumah sakit jiwa. Katanya dia kepikiran untuk lanjutkan cicilan karena sayang sama uang yang sudah keluar. Lantas saya bilang, “Yang sayang kan duitnya si Rahim. Duitnya nggak habis percuma karena dia sudah pakai itu motor berbulan-bulan. Lagi pula setidaknya uangnya habis dicicilan, daripada kepakai beli obat-obatan terlarang? Ibu bisa mengelak, tapi lihat saja itu pulang tiap malam mulutnya bau alkohol. Dulu... Katanya nggak bakalan merokok, eh tiba-tiba mulutnya bau rokok. Dulu bilang nggak akan minum kayak temannya, sekarang pun ikut mabuk. Temannya ada yang ketangkep sabu. Bisa jadi sebenarnya sudah coba cuman belum ketahuan saja. Berhenti jadi pahlawan, Bu! Kamu itu orang tuanya. Cukup kasih makan, kasih tempat tinggal, boleh juga disayang. Masalah kebodohannya biarlah dia tanggung sendiri. Motor itu, satu dari sekian banyak kebodohan Rahim!”
Karena saya tidak tahan ucapan saya selalu dianggap kicauan burung, saya mintalah ke mantan saya itu untuk sewakan gubuk belakang rumahnya biar saya jadikan tempat tinggal sementara sampai Ibu menyerah motor itu ditarik kembali. Terus yang saya pikir hidup saya akan tenang, saya malah dapat panggilan telepon dari rumah kalau Rahim ditangkap polisi karena ketahuan mencuri emas milik tetangga buat beli sebotol minuman, demi jalan sempoyongan.
Yang paling saya benci hari itu adalah ibu saya. Dia masih menangis ketika dicurangi berkali-kali sama anaknya. Saya tidak tahu apa yang terjadi di masa kecilnya sampai dia tumbuh jadi perempuan yang tidak bisa membedakan cinta dan kebodohan. Ibu sampai memohon ke Tante Sarah untuk maafkan Rahim. Syukurnya emas itu Rahim jual di toko perhiasan yang sering didatangi Tante Sarah. Jadi pemiliknya tahu emas yang dijual Rahim itu milik siapa. Dari sanalah emas itu diambil, dan Rahim ditangkap.
Malam kepulangan Rahim tidak diisi dengan yang manis-manis. Saya langsung jujur dengan pendapat saya mengenai betapa tidak ahlinya ibu saya dalam merawat anak bungsunya. Bukan karena dia jadi pencuri. Tapi justru karena telah mencuri, maka seharusnya ia ditegasi, bukannya malah makin dipeluk. Mirip itu loh, instansi yang malah bela penjahat hanya karena sepatuh itu sama prinsip. Prinsip ibu saya (mungkin): ibu adalah tameng anak-anaknya.
“Ibu tuh nggak sadarkah kalo Ibu lagi dipermalukan sama anak Ibu?!” Saya meledak di ruang tamu di mana ada Bapak, Hanum—kakak saya, dan suaminya. “Dia hancur begitu karena merasa ada tempat pulang... yaitu Ibu. Dia merasa nggak masalah berbuat ulah, karena ada Ibu yang bakal bela. Saya kan sudah bilang, kalau mau Rahim berubah, Ibu juga harus berubah cara ambil sikapnya. Ini Ibu nangis begini, berharap Rahim tobat? Enggak bakalan, Bu! Orang tua kok nggak ada harga dirinya sama sekali.”
Semalam suntuk Rahim dihujani bentakan oleh bapak saya. Pantas saja apabila malam itu Ibu bersujud minta maaf ke Bapak agar tak memperpanjang malam penuh bentakan itu. Rahim yang biasanya bersuara besar, duduk di sudut ruang keluarga, layu.
Terus terang saya juga kaget melihat bagaimana suara bapak saya jadi serak karena marah-marah yang terlalu banyak. Sebelum-sebelumnya dia tidak peduli. Saya pribadi juga kurang dekat dengan bapak saya, tapi satu hal yang paling saya respect dari beliau adalah keputusannya untuk membiarkan Rahim rusak semaunya. Pertama kali dia dapati Rahim merokok setelah diberi tahu bahayanya benda itu, Bapak langsung tidak peduli lagi. Adakalanya saya pikir barangkali itu juga yang bikin Rahim makin merasa bebas. Ditambah lagi dia punya malaikat pelindung yang sigap membelanya apabila melakukan kebodohan. Meskipun tak bisa dipungkiri, ketiadaan kehadiran sosok bapak mestilah jadi salah satu penyebab rusaknya seorang anak. Ada banyak bapak yang masih hidup, tapi tidak hadir.
Saya jadi terpikir di antara saya dan Hanum, sepertinya tak ada yang pernah dibela sekeras Ibu membela Rahim. Saya bawalah mengenai keresahan saya yang tidak perah dibela seperti itu misal terkena masalah—yang di mana memang susah diingat karena saya jarang memantik masalah. Malah saya dicaci maki sama Ibu karena menganggap saya terlalu keras sama adik saya.
“Ibu bela dia, karena adikmu yang hidupnya paling menderita. Dia dipaksa cari kerja sama bapakmu. Di usianya sekarang, kalian juga dulu enak-enaknya hidup bergaul sama teman-temanmu!” dalih Ibu. Padahal kalau dia mau ingat-ingat, saya pernah punggungi dia karena menangisi sebegitu sepinya hidup saya di jaman pandemi covid.
Sampai kemudian Rahim mulai bawa-bawa ketidakadilan yang dia dapat; mengenai tekanan anak bungsu.
“Perbaiki yang kamu tonton di media sosial!'" Langsung saya bantah. "Enggak semua standar dongo di sana itu mesti kamu rasain. Anak bungsu itu bla-bla-bla... anak bungsu itu yang paling di-iniin, paling diituin. Tailah! Tiap anak juga punya perangnya masing-masing. Tapi cuman kamu yang berisik!”
Waktu itu juga saya mulai terbakar emosi karena Rahim bawa-bawa mengenai laptop yang bapak saya belikan. Menurut kalian, sepadan tidak membandingkan laptop harga lima jutaan, dengan motor gede harga tiga puluh jutaan? Sementara laptop itu dulu saya rencanakan pakai kuliah, meski pun tidak jadi dan beralih fungsi jadi menulis untuk di upload di blog kayak begini. Dan laptop itu satu-satunya barang yang Bapak belikan buat saya setelah mengemis sejak kelas tiga SMP. Selain itu, cuman makan dan rumah yang dia tanggung—which is sudah jadi tanggung jawabnya sebagai orang tua.
Bahkan si Rahim bilang kalau dia lebih berhak dapat banyak hal karena dia yang selalu disuruh-suruh. Saya benarkan, memang setelah saya kerja, Rahimlah yang jadi budak.
Karena tersinggung, langsunglah saya meledak, “Enggak tahu diri, dongo! Kamu kalau mau banding-bandingin, jangan ke saya. Kalah banyak kamu. Kenapakah itu hidupmu selalu bawa-bawa saya? Dari kecil, tiap ada hal yang kamu buat, terus kamu dimarahi, saya selalu kamu bawa. Seolah-olah orang tua jadikan saya ini princess, kamu budak. Astaga Rahim... Kalau kamu nggak ada di rumah, lagi di luar nikmati hidupmu, bergaul sama temanmu sambil minum kopi dan ngerokok yang kamu beli dari hasil maksa Ibu untuk kasih kamu uang 50 ribu tiap lima jam, menurutmu yang disuruh-suruh itu siapa? Sebelum saya kerja, saya di rumah terus jadi budak. Sedikit pun saya nggak ngeluh karena memang sudah jadi tanggung jawab—sudah besar tapi mau numpang gratis?
“Dan waktu saya kerja pun, malamnya tetap saya disuruh-suruh kalau ada yang diperlukan di luar, karena kamu nggak pernah di rumah. Dan kamu... kalau disuruh, pasti minta imbalan. Makanya orang juga malas minta tolong. Sudah minta imbalan, ditunda-tunda terus. Orang kalau sudah nggak berguna, ya tahu diri, Him! Makanmu ditanggung, tempat tinggalmu nyaman—ada kamar sendiri pula. Pulang main, kamu buang baju sembarangan. Bahkan celana dalammu biasa kamu buang saja di lantai kamar mandi. Masa sudah dicucikan ibumu, dijemurkan, dilipatkan, disusunkan di lemarimu, masih perlu diambilkan juga itu sempakmu yang bau kontol?! Bagian mananya hidupmu itu yang kamu maksud tertekan? Bagaimana caranya mau ditekan, sementara kamu jarang ada di rumah. Sekalinya pulang, semua orang sudah tidur.
"Tertekan disuruh cari kerja? Umurmu sudah 19 tahun! Putus sekolah pula. Jadi maksudmu kamu mau kayak anak kecil yang cuman pulang makan sama tidur? Kalau mau beli sesuatu tinggal minta uang, begitu? Sudah bukan umurnya!
"Sebenarnya tidak ada masalah kalau mau numpang gratis, toh Ibu sama Bapak nggak pernah perhitungan masalah makanan. Cuman kamu, udah numpang, minta duit mulu. Kalo banyak kebutuhan, ya cari uang, Him! Bukan minta! Pengeluaranmu seharian itu hampir dua ratus ribu. Kamu pikir Ibu bisa dapat uang dari mana? Bahkan waktu kamu kerja pun, masih juga kamu minta duit beli bensin. Aneh banget dongo!!"
Saya tidak sadar kala itu tangan saya melayang ringan ke kepala Rahim. Saking panasnya kepala saya, saya tendang dia berkali-kali sambil bilangi dia tolol, dan tidak berguna. Saya bilang kalau dia mati pun, rumah tidak bakalan berubah banyak. Ipar saya sudah coba pisahkan saya, cuman saya waktu itu betul-betul kehilangan diri saya. Bahkan Rahim pergi dari rumah bawah motor kesayangnnya itu dengan wajah yang berdarah. Entah seberapa keras saya pukuli dia.
Mati dia besoknya, kecelakaan bersamaan dengan motor gede yang belum selesai cicilannya. Sederhananya, hidupnya penuh dengan banyak hal yang lupa ia syukuri, lalu mati meninggalkan hutang untuk mengganti motor gedenya yang ringsek parah. Saya berhenti kerja di toko parfum, dan mati-matian ikut bantu mengurus kebun supaya hasilnya tak perlu dibagi lagi apabila mempekerjakan orang. Ratusan pohon kami sekeluarga berusaha panen sendiri demi membayar sisa 21 juta untuk lunasi itu motor. Barangkali nominal begitu kelihatan sedikit, tapi itu uang semua loh.
Saya tidak paham kenapa banyak anak bungsu yang selalu mengeluh kalau hidupnya itu paling dirundung penderitaan. Padahal mereka lahir terakhir, ketika orang tua sudah banyak belajar untuk jadi orang tua yang kompeten. Kalau kamu... Wahai bungsu, menyebut dirimu produk rusak, lantas bagaimana dengan yang di atasmu? Saya tidak memungkiri bahwa ada kasus bungsu di luar sana yang benar-benar jadi sandaran keluarganya. Tapi bukan karena tertulis di media sosial bahwa bungsu itu A dan B, maka bungsu mana pun sudah pasti; harus begitu. Kalau kasusnya seperti Rahim? Justru dia yang benalu. Maaf tapi begitulah adanya.
Alasan saya pergi dari rumah itu supaya saya tidak terlalu membenci ibu saya. Mau bagaimana pun Rahim serusak itu karena cara didiknya. Obsesinya menjadi pahlawan bikin rumah jadi berantakan. Saya mau mengingat beliau seperti dulu waktu saya masih kecil. Dia bukan Ibu yang baik waktu itu. Banyak dosa yang dia lakukan. Tapi saya lebih suka dia yang dulu, sebab dia tidak terlalu berusaha. Meski begitu, saya tetap sayang sama Ibu. Misalkan bagian Rahim dihapus, sejatinya cara Ibu membesarkan saya lumayan manis. Entah kapan dia berubah begitu. Menopause adalah satu hal yang kerap saya salahkan.
Keadaan rumah berangsur kembali seperti semula. Tidak ada perubahan yang signifikan mengingat keberadaan Rahim sejak dulu memang hanya seperti angin lewat. Dia bangun pagi, keluar rumah sampai magrib untuk mandi, lalu keluar lagi dan pulangnya jam tiga subuh. Mati pun tidak terlalu kentara. Persis seperti yang saya bayangkan semalam sebelum kematiannya.
Apakah saya tidak sedih? Sedih. Merasa Bersalah. Tapi saya bertanya ke diri sendiri yang mana yang benar, "Saya sedih atau saya salah? Atau keduanya?" Lagi dan lagi saya mempertanyakan diri saya.
Ini akan jadi tulisan terakhir saya. Mari berdoa semoga saya lebih memilih ke desa antah berantah dibanding tiduran di atas rel. Saya bakal rilis tulisan ini kalau saya sudah duduk di bangku stasiun. Jadi mungkin ketika kamu sampai di bagian sini, saya sudah lakukan satu di antara dua hal tersebut.
Terima kasih banyak sudah menemani saya sampai paragraf ini. Berdoalah begini, "Tuhan, jangan biarkan hidup saya plek-ketiplek sama kehidupannya Sastra." Bisa saja kamu punya nasib baik. Amin?
Selesai.