Trigger warning:
Semua isi SMS kasar dan tidak manusiawi di cerita ini berasal dari pesan asli di kehidupan nyata, didapat langsung dari beberapa orang yang pernah mengalami teror debt collector pinjol. Harap siapkan mental sebelum membaca.
===========
Rumi sujud akhir agak lama, membaca doa yang panjang, sebelum akhirnya duduk, membaca salam, dan mengakhiri shalat subuhnya. Hape yang tergeletak di pinggir meja di belakangnya bergetar. Badan Rumi langsung menegang, wajahnya berubah pasi. Dia menatap hape itu nanar, sebelum akhirnya bergegas berdiri, menanggalkan mukena, dan membereskan sajadah. Dia lanjut ke luar kamar. Aksari, anak gadisnya yang masih 2 tahun, masih pulas di tempat tidur.
Matahari mulai terik. Cahaya putihnya menyelinap lewat celah sempit jendela dan pintu, yang masih tertutup rapat. Matanya tak berhenti memperhatikan celah-celah itu, seakan ada sesuatu atau seseorang yang dia takuti, akan menyerobot masuk begitu saja. Kalau tidak sedang menatap jendela atau pintu, matanya kembali tak lepas dari hape di atas meja. Baru pukul 07.23 pagi, hape itu sudah dipenuhi spam WA, sms, dan calls. Dan tiap kali notifikasinya masuk, badan perempuan muda itu gemetar hebat. Setiap bunyi, sekecil apapun, akan membuat dadanya sesak, keringat dingin memenuhi pelipis, dan badan menggigil tak terkendali. Dia sampai tak sadar masakan di kompor hampir hangus.
“Sialan!” umpatnya lirih, refleks mematikan kompor.
Rumi memindahkan makanan itu ke piring, meletakkan di meja makan, lalu melempar wajan ke baskom yang dipenuhi piring kotor. Sejenak terdiam… Lalu, dengan tangan tak terlalu bertenaga, merapikan rambutnya yang acak, meraih hape, sebelum tiba-tiba tersungkur ke lantai. Dia mencoba mengendalikan diri, bersandar ke dinding dapur.
“BYR PINJOL LU SKRG ATAU GW BIKN MMPUS!”
“MSH PENGEN NM BAIQ LU AMAN DMATA SDR2 LU! JGN MALING!!!”
“BYR ATAU MATI!”
“HY LONTE LAKNAT. BYR UTANG PINJOL LU!”
SMS-SMS terbaru, dari belasan SMS dan WA lainnya… Tangan dan badannya makin melemah. Air mata kembali mengucur deras. Entah darimana sumber air mata ini, belum habis-habis juga, mengingat banyaknya yang sudah keluar dalam tiga hari belakangan.
Dengan sisa tenaga dia coba mengetik balasan:
“SY BLM LEWAT JATUH TEMPO, MASIH ADA HARI INI. TOLONG PENGERTIANNYA.”
Tak lama, SMS baru langsung masuk:
“GW GK PDULI SETAN, BYRRRRRRR!”
Sementara itu…
Di sebuah gang sempit, di depan rumah petak buluk yang lebih kecil dari rumah Rumi, Meret menarik motor bututnya dari dalam kontrakan sempit. Sesampai di jalanan yang hanya bisa dilewati 2 motor, persis di depan pintu, dia kembali membuka hape, mengharapkan balasan dari SMS terakhir yang dia kirim. Tak kunjung ada balasan, dia mengetik pesan singkat lainnya dengan kilat. Terlihat fasih, dia memencet send dengan mulut mendesis “MAMPUS LU!”.
Hape kemudian ditaruh di kantong celana, motor jadul yang knalpotnya sudah dimodif jadi berisik itupun dinyalakan.
Istrinya, Mey, berdiri di depan pintu.
“Bang, jangan lembur lagi! Hari ini kan ultah aku, ntar malam aku masak. Makan di rumah aja!”
“Iye! Kan udah aku transfer duit buat beli kue. Beli yang enak!”
“Halah, duit segitu minta yang enak!” Mey bersungut, memutar bola mata.
“Udah ah, bawel! Nih, aku udah dapat daftar orang-orang yang siap aku teror hari ini. Kamu doa aja yang kenceng biar mereka bayar-bayarin tuh utang mereka. Biar bonus bulan ini gede!” repet Meret.
“Gak usah jahat-jahat nagihnya, baek-baek aja. Aku juga lagi diteror orangnya Bang Der, dari kemaren gak brenti-brenti! Kamu bayar dulu sana utang ke dia!” teriak Mey di sela-sela bunyi knalpot butut yang sangat berisik.
“Cuekin aja! Kan tenggatnya sampai hari ini, ntar malam atau besok juga masih aman!”
Mey kembali memutar kedua matanya, dengan wajah memerah.
“Aman gimana? Mereka udah maki-maki dan ngancam. Katanya kamu gak respon mereka! Lagian kenapa gak minjam dari kantor kamu aja sih? Kerja di pinjol, minjemnya ke rentenir!”
“Kagak bakal lolos! Udah banyak galbay di pinjol lain. Lagian kantorku bukan pinjolnya, cuma vendor yang nagih-nagihin doank. Kita situkang teror, biar kantor pinjolnya tetap aman. Udah ah, berangkat dulu!”
Meret melambaikan tangan cuek, sambil meng-gas motor sekencangnya, melewati tetangga sebelah kanan yang tampak murka.
“Hei Jamet buluk, knalpot lu noh kagak ada otak! Kayak lu!!!”
Mey menatap tetangganya bengis, yang langsung dibalas acungan jari tengah. Mey pun melipir masuk, sebelum kembali terjadi keributan.
***
Di lantai dua sebuah ruko 3 lantai yang tidak terlalu terawat, belasan karyawan, yang rata-rata seusia Meret, sedang sibuk di depan monitor. Masing-masing juga dilengkapi 3-4 hape di meja mereka. Ruangan dengan interior seadanya itu hanya berisi meja-meja usang yang disusun asal-asalan, nempel satu sama lain, dengan menyisakan hanya dua lorong sempit untuk lalu lalang.
Di meja ujung dekat pintu keluar, Meret sibuk memencet keyboard dengan semangat.
“Mampus! He, lu baca nih yang barusan gw kirim. Mantap, gak?” teriaknya sambil tertawa puas.
Dua teman di sampingnya mendekat.
“Anjir! Baru lagi nih, gw copy ya!” celetuk yang satu, cowok culun berkaca mata.
“Gw juga, ah! Mantap ni si anak anjing, jago banget kalau urusan maki-maki orang!” timpal cowok satu lagi, yang pembawaannya 11-12 jametnya dengan Meret.
“Lu semua cuma bisanya nyontek. Kreatip donk! Sebat dulu, yuk!”
Tanpa lama, ketiganya langsung berjalan ke pintu keluar.
“Pada kemana lu? Target, target!” terdengar teriakan dari suara khas. Suara seseorang yang mereka benci, tapi tetap harus mereka puja-puji.
“Tenang bosku, bentar lagi juga pada masuk duitnya. Baca aja tu yang gw udah kirim ke mereka,” jawab Meret sok akrab.
Pria buncit berkaos ketat, yang baru muncul dari sebuah ruangan sempit di sudut lain ruangan itu, langsung mendekati meja Meret, Membaca layar komputer dan hape yang ada di sana bergantin.
“Parah sih lu, emang paling dajjal ni anak,” celetuknya sambil ketawa keras.
“Gw kalau jadi orang-orang ini, kalau gak bayar mending bunuh diri sih,” bibir berminyaknya dengan lemas dan santai meluncurkan kalimat-kalimat yang tak sedap didengar. Bekas bubur ayam terlihat jelas di sela gigi kuningnya tiap kali dia membuka mulut.
Meret dan kedua temannya membalas tawa itu dengan kepura-puraan yang memuakkan, sebelum menghilang di balik pintu.
***
Rumi membenamkan kepalanya di balik bantal, sambil tak henti bolak-balik di tempat tidur yang masih berantakan. Sesekali dia melirik anaknya yang sedang pulas tidur siang. Notifikasi hapenya masih masuk beruntun. Dia hanya bisa menatap kosong, tak berani membuka. Sudah terbayangkan isi pesan-pesan laknat itu, yang dalam tiga hari ini masuk bertubi-tubi, dari subuh sampai malam. Dia ada cicilan di dua platform pinjol, dua-duanya jatuh tempo HARI INI. Namun teror itu sudah dimulai sejak 3 hari lalu, meskipun dia tidak pernah punya riwayat bayar telat. Kali ini memang dia sedang berada di kondisi yang cukup susah, makanya belum bisa melakukan pembayaran sama sekali.
Hapenya kembali bergetar, cukup lama, di layar pesan-pesan masuk beruntun. Jantungnya langsung berdegup kencang.
“EH ANJING UTANG KELARIN SEKARANG!”
“GUA BISA PASTIIN SIANG INI UTANG BELOM DIBAYAR DUA MINGGU LAGI UTANG LU JADI RATUSAN JUTA!!”
“BYR UTANG PINJOL KAU BANGSAT!”
“SIAP MALU? GW SEBARIN FOTO LU, GW EDIT JADI KONTEN BOKEP!”
Masih banyak lagi pesan-pesan kasar tak manusiawi lainnya. Di tengah tekanan berat yang dia rasakan, Rumi masih bisa penasaran... Pendidikan orang-orang yang mengirim pesan-pesan jahat itu apa? Dia tak bisa bayangkan orang-orang itu pernah sekolah sama sekali, bahkan sebatas sekolah dasar sekalipun.
Nafasnya makin sesak, dada naik turun, dengan kaki tak berhenti bergerak acak. Terdengar suara tangis pelan anaknya, tapi Rumi tak punya cukup tenaga untuk sekadar membalikkan badan ke arah anak itu, yang sedang berbaring persis di samping kirinya. Dia membenamkan kepalanya dengan bantal makin dalam.
***
Di ruko butut kantor Meret, cowok itu masih sibuk memencet send, mengirim pesan kasar yang entah sudah berapa banyak di hari itu saja.
“Mampus kau! Masih gak bayar juga!”
Di tengah semangat 45 meneror orang-orang, hape nomor pribadinya berbunyi. Dia melirik, kecemasan mendadak mengambil alih pancaran matanya. Pesan yang tak kalah kasar dari yang baru saja dia kirim. Pesan dari orangnya Bang Der. Raut mukanya langsung berubah total, dari bengis menjadi pasi. Dia kembali memilih tidak membalas pesan itu, langsung dihapus.
Tak lama pesan lain masuk, dari Mey.
“Bang, aku gak tahan lagi nih dimaki-maki orang Bang Der! Kamu beresinlah sekarang!”.
Lagi-lagi tidak dibalas, langsung dihapus.
Angka di layar hape menunjukkan 2 menit menjelang jam 6. Meret bergegas membuka dashboard di monitor desktop, melihat capaian targetnya hari ini. Masih jauh dari seharusnya. Angka-angka itu cukup untuk memancing emosinya, untuk langsung mengetik beberapa pesan kasar baru, untuk diborbardir ke puluhan nomor sekaligus! Setelahnya, dia menarik napas sejenak, mematikan komputer, dan menyimpan tiga hape di depannya ke dalam laci.
“Mana anak baru yang lanjutin shift gw?! Gw mau tenggo!” teriaknya berisik.
Hampir semua mata di ruangan itu berpaling ke arahnya dengan pandangan muak.
Saat bersamaan, managernya masuk bersama seorang cewek muda berjilbab.
“Kemana lu? Target masih jauh! Jangan sampai bonus gw bulan ini kurang, ya!”
“BONUS GW JUGA KURANG, NJING!” jawab Meret, dalam hati...
Dia menatap tajam cewek yang berdiri kikuk di samping bosnya.
“Lu anak barunya? Kenapa mepet datangnya?”
Muka cewek itu berubah masam, tak siap dibentak di depan banyak orang.
“Dia kagak telat! Tadi gw brief dulu. Lu main nyolot aja ke orang!” bosnya malah yang menyahut, tidak senang.
“Gw perlu pulang cepat bos, bini gw ulang taun. Semalam gw lupa kasih kue surprise, gara-gara lembur, masih diambekin sampai sekarang,” ucap Meret mencoba mencairkan suasana yang terlanjur runyam.
“Halah, orang kismin aja lu sok-sokan pake kue-kue surprise!”
“Ya gw kan miskin karena gaji di sini mungil bss, terlalu mepet ke UMR.”
“Siapa suruh lu ngandelin gaji? Makanya lebih sangar lagi nagihnya, biar gacor noh kayak si Jali. Dua digit mulu dia tiap bulan.”
“Buset, gw masih dibilang kurang sangar. Lu sendiri yang bilang, SMS-SMS gw kalau gak bikin mereka langsung bayar, ya bikin bunuh diri!”
“Apaan? Buktinya orang-orang yang lu tagih dikit banget yang bayar hari ini. Lu pikir gak gw monitor?!”
Meret siap untuk nyolot balik, tapi diurungkan. Anak baru itu kentara berusaha pura-pura tak mendengar debat mereka. Jangan sampai dia resign sebelum memulai shift kerja.
“Sini lu, gw ajarin bentar. Ini monitor, pake MSS, lu bisa broadcast puluhan sms sekaligus, nomor beda-beda. Tiga hape untuk kirim WA. Lu pakai pura-puranya dari tiga orang yang beda. Kudu pinter-pinter. JANGAN sekali-kali lu keceplosan bilang kita dari mana! Kalau mereka tau, bisa urusan sama OJK, atau isilop! Ntar lu keseret, harus tanggung jawab!” cerocos Meret
Cewek itu tidak terlalu menyimak, seakan ingin menghilang dari sana saat itu juga.
“Pake list ini, udah banyak stok SMS, tinggal copy paste. Tapi lu harus tambahin yang baru, biar kagak basi. Keluarin aja emosi lu, gak usah baperan! Makin kasar, makin meneror, makin cepat mereka bayar, makin gacor!”
Cewek itu mengintip daftar pesan di layar. Ekspresinya makin gak karuan.
“Ini untuk orang-orang yang udah telat?” akhirnya cewek itu bersuara juga.
“Bukan! Buat yang jatuh tempo dari 2 hari sebelum sampai hari H. Yang telat bayar bukan urusan kita. Mereka bayar lebih cepat, untung pinjol ini makin gede. Bonus si-bos, gw, lu juga bakal gede! Lu jelasin detailnya deh bos, takut salah gw,’ Meret makin tidak sabaran, matanya kembali melirik jam di layar hape.
“Sana lu pulang! Biar gw yang lanjut ajarin dia. Gw potong bonus lu bulan depan, ya!”
Meret tak mempedulikan ucapan itu, bergegas ke luar ruangan, langsung menuju parkiran motor. Dia menyalakan rokok yang sisa sebatang. Hapenya kembali bergetar, pesan dari orang Bang Der dan istrinya. Kembali dia abaikan. Dia menyalakan motor, memasang helm, masih dengan rokok di tangan, lalu melaju kencang meninggalkan parkiran ruko itu.
***
Rumi masih terbaring, hampir tak bergerak sama sekali, di pinggir ranjang, posisi yang sama dari pagi. Kamarnya masih berantakan, hanya satu lampu kecil di sudut yang menyala, membuat kamar itu cukup temaram. Anaknya tampak tenang di lantai, mencoret-coret buku gambar usang.
Hapenya masih dispam puluhan SMS dan WA. Satu atau dua masih berusaha dia balas, untuk menunjukkan itikad baik kalau dia tidak akan lari dari tanggung jawab. Kekasaran isi pesan-pesan itu makin menjadi-jadi. Seakan bagi si pengirim yang menerima bukan manusia yang punya perasaan.
Tiga hari ini dia hampir tidak bisa melakukan apa-apa. Mental dan fisiknya terlalu lelah, hampir membuatnya lumpuh. Bahkan dia tidak punya cukup tenaga untuk memasak kue-kue kecil jualannya. Pesanan dari beberapa tetanggapun terpaksa dia tolak. Tidak hanya karena dia sudah tak punya modal untuk membeli bahan-bahan, tapi lebih karena kepala dan badannya sudah tak bisa dipakai. Satu-satunya yang mampu memaksanya bangkit dari ranjang adalah anaknya, yang perlu makan atau dibersihkan.
Hapenya kembali bergetar. Rumi menarik bantal, langsung membenamkan wajahnya. Akhirnya diapun meledak, berteriak keras dari balik bantal itu.
***
Di jalanan beberapa meter menjelang belok ke gang sempit ke arah kontrakan, Meret dikagetkan oleh pemotor lain yang hampir saja menyerempet.
“Hei, goblok! Abu rokok lu noh dari tadi masuk ke mata gw. Tolol!”
Meret siap ribut mau membalas, tapi pengendara itu sudah melewatinya. Dengan gondok dia belok kiri masuk gang sempit. Suara knalpotnya makin meraung. Seperti biasa, banyak teriakan-teriakan dari orang-orang yang tidak senang. Bodoh amat, pikirnya. Knalpot berisik ini yang bikin istrinya kecantol, dan mau menikah sambil diajak susah. Dia bahkan meng-gas motornya makin kencang, untuk membuat mereka semakin kesal.
***
Suara klakson keras dari luar menyadarkan Rumi dari ketertenggelaman di balik bantal. Dengan lemah dia mengangkat bantal itu dari wajahnya. Tampak jelas wajah itu sedang kalut sekalut-kalutnya, benar-benar jauh dari kondisi aslinya.
Aslinya Rumi adalah gadis cantik, berpendidikan, dan luwes, yang menikah dengan pria yang salah. Ditinggal selingkuh ketika hamil besar, Rumi harus tertatih-tatih membangun kembali kehidupannya. Dia tidak bisa kembali ke keluarganya. Selain mereka bukan orang berada, pria brengsek yang dia nikahi bukan jodoh yang mereka restui.
Dia memaksakan diri duduk, memandang anaknya yang sudah terbaring pulas di lantai kamar. Perlahan dia mengangkat anak itu, membangunkan dengan lembut, lalu membawanya ke ruang depan. Rumi menyalakan lampu-lampu rumah, membuka gorden dan jendela, yang sudah dua hari ini selalu tertutup rapat. Entah apa yang ada di benaknya, tiba-tiba dia mood sekali untuk menyapu seisi rumah, mencuci piring, dan membereskan tempat tidur. Pokoknya membuat rumah petak kecil itu kembali terlihat nyaman untuk dihuni.
Setelah semuanya bersih dan rapi, dia memandikan Aksari, untuk kedua kalinya hari itu. Disusul memasak sisa-sisa bahan yang ada, untuk makan malam batita itu. Dia bisa dibilang belum makan sama sekali dalam dua hari ini, tapi anehnya Rumi tak merasa lapar. Jadi tak masalah juga kalau tak ada makanan untuknya.
Setelah semuanya masak, Rumi meletakkan makanan di depan anaknya, yang menunggu sabar di atas tikar bersih di lantai. Anak itu mulai makan dengan antusias. Meskipun masih berantakan, dia sudah biasa makan sendiri.
Rumi membiarkan anak itu menyelesaikan makannya, berjalan ke kamar mandi. Untuk pertama kalinya badannya merasakan siraman air dalam tiga hari terakhir, selain untuk berwuduk. Dia mandi cukup lama, seakan mencoba menikmati setiap siraman di kulitnya.
Keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih cerah, Rumi mengintip notifikasi hape yang dari tadi masih tak henti-henti masuk. Berbeda dengan sebelumnya, dia tak lagi gemetar, dan tidak pucat sama sekali. Secuil senyum tipis malah menghiasi bibirnya.
Rumi masuk ke kamar, meninggalkan hape di meja makan. Tak lama, dia keluar, sudah memakai baju bersih, rambut disisir rapih, bahkan memasang lipstik tipis di bibirnya. Dia mendekati anaknya yang sudah menghabiskan makanan. Membereskan piring dan sendok, membersihkan sisa makanan di tikar, lalu mengganti baju anak itu, sebelum membiarkannya kembali bermain. Rumi menatap anak gadisnya dalam, kembali senyum tipis, lalu perlahan mencium dan memeluknya.
“Baby lanjut main ya, ada yang Mama mau beresin dulu. Jangan cengeng,” bisiknya lembut.
Dia kembali menatap anak itu. Kali ini senyum yang jauh lebih lebar menghiasi wajahnya. Rumi menyambar hape, membuka semua pesan yang isinya masih dipenuhi makian kasar. Bahkan ada yang mengirim foto gang rumahnya, disertai ancaman akan menyakitinya. Belum lagi ancaman-ancaman lain, yang sudah di luar logika manusia waras. Dia masih bingung, kok ada orang yang mau mencari uang dengan cara seperti itu. Apalagi dia tidak di kondisi telat bayar, masih di hari jatuh tempo. Dia kembali tersenyum, sambil membacanya satu per satu.
Setelah pesan terakhir terbaca, Rumi mengetik pesan WA, cukup panjang. Lalu mengirimnya dengan wajah lega. Hape dia lempar begitu saja ke atas meja, sambil mendekati Aksari. Dia kembali mencium anaknya penuh kasih sayang dan lama, sebelum kembali masuk ke kamar.
Sesampai di kamar, dia langsung menuju meja rias. Dari lacinya dia mengeluarkan sebuah box hitam kecil.
***
Satu belokan lagi menjelang kontrakan, Meret memutuskan mematikan motor dari ujung gang, untuk menghindari keributan dengan tetangga sebelah. Pas sampai, langsung membuka pintu, membawa motor itu masuk ke dalam ruangan dalam yang sempit. Di meja makan kecil di sudut ruangan, istrinya duduk dengan muka masam. Di depannya tampak kue ulang tahun yang sudah diacak-acak, berantakan, seperti habis dihantam keras. Pemandangan yang cukup untuk kembali memicu emosi jiwanya.
“Apa-apan sih? Itu kue diapain? Aku kan pulang, gak lembur. Kamu tau gak, itu kue kamu beli pakai sisa gaji, uang makan sampai akhir bulan! Malah dirusakin!”
Istrinya hanya diam, bibirnya bergetar seakan mau menyampaikan sesuatu. Meret mendekat dengan emosi semakin memuncak.
“Apa?! Mendadak bisu?!” bentaknya, sambil mendekatkan wajah sedekat mungkin ke muka istrinya.
“Kenapa ini? Jawab gak?!”
Istrinya masih diam, kedua bibirnya terasa dilem rapat. Air mata merambat pelan di kedua pipinya.
Dari pintu dapur keluar dua pria kekar. Muka Meret langsung pucat.
“Gak usah bentak-bentak istri lu, nyet. Itu kue kita yang hajar,” ucap salah satunya santai, sambil menjilat sisa kue di tangan.
“Makanya jangan kabur-kaburan, udah tiga hari dicariin kagak ngerespon. Untung aja bukan muka istri lu yang kita gebukin,” timpal pria satunya.
“Bang, gak usah main kasarlah. Gw kan udah sering minjem ke Bang Der, jarang mangkir. Tolonglah, Bang. Kalau duitnya ada pasti udah gw setor. Maklumin, Bang. Ntar gw ngomong langsung ke Bang Der deh ya,” suara Meret tiba-tiba melunak, mengiba-iba.
“Kemaren-kemaren lu kemana aja? WA dibaca doank, telpon lu cuekin. Giliran udah disamperin gini lu kicep. Bacot!” bentak pria pertama.
“Lu kan debt collector juga ya blok, harusnya paling paham! Giliran neror orang, jago lu! Diteror balik, jadi sipaling minta dimaklumi,” lanjut temannya, sambil menarik kaos Meret kasar, ke arah wajahnya.
“Bang, tolonglah Bang. Kita gak akan kemana-mana, masih tinggal di sini. Kasih waktu kita beberapa hari,” akhirnya Mey buka suara, lirih.
“Lu tanya suami lu, kalau orang yang dia teror ngomong gitu, jawab apa?” tanya pria kedua.
“Bedalah, Bang. Gw kan disuruh bos, ikutin SOP kantor. Karena ada target.”
“Halah, target tai anjing. BONUS! Lu semua kejar bonus! Cuan! Sama kayak kita. Kalau kita gak bawa duit lu malam ini, no cuan. Lu harus bayar sekarang!” lanjutnya, tangan masih mencengkeram kaos Meret.
Meret meronta, sampai kaos itu terkoyak, berhasil lepas.
"Mau bayar pakai apa? Duitnya kagak ada!”
“Gak usah nyolot! Udah miskin banyak bacot!” bentak pria pertama, disusul tendangan keras ke perut Meret, yang langsung terjengkang ke dinding.
Mey teriak histeris, lari ke arah suaminya.
“Bang, tolong banget, jangan main kasar, kita gak akan lari. Lagian belum telat! Masih jam 8, kasih waktu sampai jam 12. Masih hari yang sama kan?" mohon Mey di sela-sela tangis keras.
“Congor lu bau! Mau dapat duit dari mana lu dalam 4 jam? Kue aja lu beli yang murah,” cibirnya, sambil mengambil kue di meja, lalu melemparnya ke arah Meret.
Raungan Mey semakin keras.
***
Rumi menatap cermin di depannya, sambil duduk santai. Dia menyisir rambut, touch up make up, sebelum menambah lipstik di bibir. Dia memilih warna yang paling menyala.
Di dalam cermin tampak seseorang yang sangat berbeda. Inilah Rumi yang sebenarnya. Seringkali dia mempertanyakan, kemana perginya sosok di cermin ini? Apa yang terjadi? Apa kesalahannya di masa lalu sampai dia berada di titik serendah ini? Tak ada jawaban yang memuaskan. Barangkali inilah yang disebut takdir, pikirnya.
Kembali dia tersenyum santai, tampak sangat tenang. Terlalu tenang… Tangannya meraih box hitam kecil di depannya, dibuka perlahan.
***
Meret masih terduduk di lantai, belum sanggup berdiri, menyandarkan diri ke dinding. Ulu hatinya perih luar biasa. Tendangan tadi menghantamnya telak.
“Lu semua hidupnya juga gak lebih baik dari gw! Tapi mau-maunya lu diadu domba sama rentenir untuk nyakitin orang yang sama-sama susah! Anjing lu berdua!” umpatnya.
Dua pria itu saling tatap. Lalu senyum sinis.
“Dengerin gak omongan si tai ini? Si paling bijaksana. Jangan banyak bacot! Bayar sekarang!”
Keduanya lanjut menghajar Meret, bertubi-tubi. Jeritan Mey sudah mengalahkan suara knalpot motor butut di depan mereka. Tetap saja tidak menyurutkan kebengisan kedua pria itu. Pukulan mereka malah makin menjadi-jadi.
***
Rumi mengeluarkan sesuatu dari kotak hitam itu, entah apa. Kembali menatap cermin dengan senyum terbaiknya. Berdiri perlahan, sebelum berjalan ke arah pintu, mengintip anaknya yang masih asik main.
“Baby, main yang tenang aja ya. Bentar lagi Tante Ris datang ke sini, main sama kamu,” ucapnya dari pintu.
Di ujung meja hapenya masih terus bergetar. Dia menatap hape itu sejenak, sebelum kembali ke dalam kamar.
***
Kedua pria itu terus menghajar Meret membabi buta, tanpa ampun. Keributan yang terjadi cukup untuk memancing kedatangan tetangga-tetangga sebelah mereka. Dari sela-sela teriakan Meret dan Mey, terdengar gedoran dari arah pintu. Gedoran itu semakin keras, dan semakin keras. Cukup untuk membuat kedua pria itu akhirnya menghentikan kebrutalan mereka, kabur melalui jendela dapur.
Gedoran di pintu semakin keras, sampai akhirnya kedobrak dan terbuka.
***
Pintu rumah Rumi terbuka lebar, setelah didobrak berkali-kali dari luar. Bisingnya membuat Aksari kaget tak kepalang, sampai menangis sejadi-jadinya. Seorang perempuan, seusia Rumi, menerobos masuk, langsung menggendong anak itu. Di belakangnya menyusul seorang pria yang berlari kencang ke dalam kamar Rumi.
Di dalam kamar dia menemukan Rumi terbaring kaku di pinggir ranjang, tangannya menjuntai ke bawah. Ujung nadinya terbuka, darah menetes deras membasahi lantai. Tangan kirinya masih menggenggam silet, benda yang dia keluarkan dari kotak hitam tadi, yang tergeletak di sebelahnya. Di dalam kotak tampak sebuah cincin emas, dan sebuah surat; “Untuk Anak Gadisku”. Pria itu mencoba menutup luka Rumi, mengikatnya dengan salah satu baju Aksari yang tersusun rapi di keranjang di bawah ranjang.
Melihat keadaan Rumi, Ris tak mampu mengendalikan emosi, menangis sesenggukan, masih sambil menggendong Aksari yang tak kalah histeris. Suaminya menariknya menjauh dari ranjang itu.
***
Mey juga masih histeris, memeluk badan suaminya yang babak belur. Salah satu tetangga menariknya perlahan, membuat perempuan itu meronta-ronta. Suasana kontrakan buluk itupun kacau balau.
Di lantai, Meret mangap-mangap, seakan berusaha keras melewati sakratul maut. Wajahnya menghitam, raut bengis menyisip di sela-sela raut tersiksanya. Matanya mendelik memutar liar tak karuan. Mulutnya meracau, berbagai kata kasar berhamburan. Tetangganya sampai menjauh, tak berani mendekat Berlangsung cukup lama, akhirnya perlahan racaunya memelan… Memelan… Memelan… Sampai akhirnya berhenti total. Tinggal matanya yang masih mendelik bengis.
***
Wajah Rumi tampak tenang, darah mulai berhenti merembes dari sela-sela kain pengikat. Ris berusaha keras untuk menenangkan diri, supaya tidak membuat Aksari makin panik.
Paramedis yang mereka panggil akhirnya tiba, bergegas memasuki kamar. Salah satunya langsung memeriksa balutan kain di nadi, sebelum memasangkan masker oksigen ke mulut Rumi. Mereka memeriksa semua tanda-tanda vital di tubuh perempuan itu, sambil mempersiapkan tandu evakuasi.
Ris hanya bisa memandang was-was dari jauh, sambil memeluk Aksari erat. Dia tidak menyangka sahabatnya itu selama ini menanggung berat hidup sendirian, sampai akhirnya memutuskan mengakhiri hidup.
“Masih ada detak! Cepat angkat ke ambulance!” teriak salah satu paramedis.
Semuanya sigap memindahkan badan perempuan itu ke tandu, membawanya ke ambulance, sebelum meluncur sekencangnya ke RS terdekat.
Ris kembali histeris, kali ini karena lega. Dia tersungkur ke lantai, sujud syukur, sambil masih memeluk anak cantik itu, yang secantik mamanya. Dia bersumpah tak akan lagi membiarkan Rumi berjuang sendirian dalam diam.