Disukai
1
Dilihat
14
Buste Houder
Drama

Irah Berdada menolak pakai penyangga susu sejak usianya genap dua puluh.

Keputusan itu ia ambil demi merasakan kebebasan dari kuatnya kawat beha yang mengencangkan dadanya selama beberapa jam ke depan. Ia tidak nyaman. Kalau tidur atau beraktivitas biasa agak susah bernapas. Jadi, ia membiarkan dadanya gondal-gandul mengikuti gravitasi, berusaha mengabaikan tatapan mata para tetangga yang tegang seperti terkena aliran listrik tegangan tinggi.

"Irah Berdada itu dadanya seperti Wewe Gombel, padahal ia masih perawan."

"Ah, kata siapa dia masih perawan? Dadanya saja dibiarkan bebas tanpa beha. Pasti sudah banyak lelaki yang mencicipinya."

Semenjak Irah Berdada berhenti mengenakan beha, toko kelontong milik keluarganya semakin ramai. Menurut kesaksian beberapa orang yang punya toko di sebelahnya, yang datang ke toko kelontong Irah Berdada adalah lelaki.

Menurut mereka itu janggal.

Sebab kebanyakan lelaki tidak dapat mengingat apa saja yang harus mereka beli ketika disuruh ke toko kelontong dan pasar. Walaupun sudah dibawakan catatan, mereka selalu salah membeli barang. Jadi, bagaimana mungkin toko kelontong yang lebih akrab sebagai tempat nongkrongnya para ibu dan istri untuk beli kebutuhan harian, sekarang mendadak seperti tempat tongkrongan lelaki yang beli satu benda hanya untuk mengobrol dengan Irah Berdada. Ada juga yang bilang bahwa lelaki-lelaki itu sengaja memberi uang nominal besar supaya mereka bisa menunggu Irah Berdada menukarnya dengan uang nominal kecil sebagai kembalian. Dengan begitu, mereka punya alasan untuk menetap dan menatap dada gondal-gandulnya.

Di warung kopi yang letaknya tidak jauh dari toko kelontong Irah Berdada, tempat dimana para lelaki biasa nongkrong, obrolan tentang dada perempuan itu selalu jadi topik hangat yang timbul tenggelam tapi tak pernah padam. Topik tentang Irah Berdada bahkan sanggup mengalahkan topik bola dan politik yang kerap kali diceritakan oleh orang-orang yang nongkrong di sana.

"Memang benar. Dadanya kendor seperti Wewe Gombel. Tapi aku yakin ia masih perawan. Dan aku yakin bahwa dadanya pasti kenyal dan halus."

"Kira-kira dadanya sebesar mangga masak."

"Kupikir ia hanya sebesar buah pir."

"Kalian salah. Irah Berdada punya dada yang seperti pepaya."

Lain lelaki yang membicarakan seberapa besar Irah Berdada punya dada, lain perempuan yang membicarakan sisi lain darinya. Mereka pun sama. Mulai berteori.

"Dulu-dulu toko kelontongnya memang ramai, tapi semenjak ia tak pakai beha, tokonya semakin ramai."

"Aku yakin itu sengaja dilakukan entah oleh Irah Berdada sendiri atau Ibunya, atau adik-adiknya, supaya mereka dapat banyak uang. Dulu saat bapaknya masih hidup, dia tidak pernah lepas beha."

"Bagus juga pesugihannya. Pakai diri sendiri. Buka toko kelontong sekaligus jual diri."

"Tapi yang jadi tumbal bisa jadi adalah para suami di sekitar sini."

Sementara di rumah, Irah Berdada bisa sedikit bernapas karena suara-suara mereka bisa teredam di sini.

Walaupun ketenangannya tidak berlangsung lama.

"Kamu itu sudah perawan. Dadamu sudah tumbuh. Mbok ya pakai beha. Kalau nggak pakai beha, nanti dadamu kendor kayak Wewe Gombel. Mau? Nanti kamu dikira sudah nggak perawan lagi. Terus, nggak ada yang mau nikah sama kamu karena kamu mempertontonkan sesuatu yang seharusnya cuma untuk suamimu."

Di luar rumah ia dapat omongan-omongan miring, dan di dalam rumah ia dapat nasehat yang membuat telinganya panas.

Irah Berdada menghentikan sejenak kegiatan memotong bawang pre yang akan digunakan untuk campuran telur dadarnya nanti.

"Kenapa... Kita perempuan... Harus mempersembahkan dada dan vagina hanya untuk lelaki dan para dewa? Kenapa... Kita tak bisa mempersembahkan itu semua untuk diri sendiri?"

Ibunya tak pelak langsung naik pitam. Ditamparnya Irah Berdada dengan sayuran hijau yang baru saja selesai dipotong dan dicuci.

"Bicaramu sembarangan dan semakin lancang semenjak kau bergaul di perpustakaan daerah itu! Apa yang kau baca di sana sampai otakmu begini miring?!"

Irah Berdada menatap Ibunya dengan tenang selama sepersekian detik, sebelum membersihkan sisa-sisa air di wajahnya dan melanjutkan memotong bawang.

....

"Kau satu-satunya orang yang datang dan kembali lagi," ujar Lulu, penjaga perpustakaan daerah sambil mencatat buku yang sudah Irah Berdada kembalikan untuk kemudian mencatat buku baru yang akan ia pinjam. "perpustakaan sama sepinya dengan kuburan. Di luar negeri, orang nonton film di kuburan, dan bermalam di perpustakaan. Tapi di negeri ini... Hampir semuanya terbalik." Ia melanjutkan.

Lulu sudah kepala empat dan belum menikah.

Tapi orang-orang menganggap status lajangnya sebagai hal yang wajar. Bukan karena mereka melihat Lulu sebagai perempuan yang cerdas, tapi karena secara fisik ia tidak menarik. Ia bertubuh pendek dan tambun. Perutnya buncit, bokongnya besar, hidungnya besar agak bengkok, mulutnya lebar, dan kacamata minus di matanya membuat ia tampak lebih konyol.

"Dan kau satu-satunya orang yang mau berteman denganku." balas Irah Berdada.

Semenjak ia tidak pakai beha lagi, beberapa teman perempuannya menjauh. Khususnya mereka yang sudah punya pacar atau tunangan. Mereka tidak mau kalau dadanya yang gondal-gandul itu nanti malah memikat para lelaki. Awalnya Irah Berdada merasa agak kesepian, tapi sekarang semuanya telah jadi biasa saja.

Ada atau tidaknya teman, hidupnya tak akan banyak berubah.

Hari ini mereka akan membicarakan tentang buku lagi, mendiskusikannya sampai lupa waktu, tapi sebelum percakapan itu terjadi, pintu perpustakaan dibuka dengan kencang--menimbulkan suara benturan yang nyaring. Semula mereka kira itu hanya angin ribut, tapi ternyata yang datang adalah Ibunya Irah Berdada. Dengan pakaian santainya yang masih bau keringat dan bawang putih, ia melangkah besar-besar menuju mereka berdua.

Irah Berdada mendengus pelan dan berbalik untuk menyembunyikan buku yang ia pinjam di perut. Buku itu ditahan oleh karet celana dalam yang ia kenakan.

Begitu langkah kakinya sudah dekat, tangan sang Ibu meraih pergelangan tangannya dan mencengkeram kuat-kuat.

"Pulang!" katanya dengan suara yang menggelegar sampai Lulu tercekat kaget di tempatnya duduk. "di sini rupanya tempat persembunyianmu! Sudah kubilang berapa kali, Irah! Jangan bergaul dengan perawan tua seperti Lulu! Kau mau kesialannya menular padamu? Kalau kau juga jadi perawan tua sepertinya bagaimana? Pulang!"

Irah Berdada tidak meronta sebab ia takut Ibunya malah tidak memperbolehkannya ke tempat itu lagi untuk meminjam buku, jadi ia hanya pasrah ditarik pulang, membuat beberapa orang yang ada di jalan menatap mereka dengan berbagai macam persepsi.

"Besok jangan ke mana-mana! Setelah dari toko kau langsung pulang! Ada orang penting yang ingin bertemu denganmu!" kata Ibu ketika mereka sudah sampai di rumah. Suaranya sengaja dikecilkan supaya dua adik Irah tidak bangun. "di meja riasmu sudah aku sediakan pupur dan lipstik. Kau pakailah. Dandanlah yang cantik. Pakai baju yang aku belikan tahun lalu. Masih muat di badanmu? Kalau tidak muat, kau tidak boleh makan! Sekarang kau tidur."

Ibu menutup pintu kamar Irah dan berjalan cepat untuk mengunci pintu ruang tamu dan kembali ke kamarnya sendiri.

Irah Berdada hanya mampu mendengus kesal dan terduduk di pinggir kasurnya. Sesuatu yang mengganjal di perutnya membuat ia sadar ada buku yang berhasil ia selipkan di sana.

Pasti besok aku akan dikenalkan ke pemuda yang lain lagi, pikir Irah dalam hati.

....

Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias yang sebenarnya tidak banyak ia gunakan karena ia tidak tahu caranya merias diri.

Pupur dan lipstik merah itu tampak konyol di wajahnya. Alih-alih tampak seperti kembang desa, Irah Berdada merasa dirinya adalah badut. Badut milik Ibunya yang dibesarkan hanya untuk ditukar dengan mas kawin dan harta suaminya kelak.

Kalau begini, apa bedanya aku dengan babi-babi di peternakan? Mereka toh dipelihara sampai gemuk untuk kemudian dipotong atau dijual ke pasar.

"Irah, tamunya sudah datang. Ayo, cepat keluar!" bisik Ibu sambil membuka pintu kamarnya.

Irah Berdada mendengus kasar dan berjalan ogah-ogahan menyambut orang itu di ruang tamu.

Ia mengenakan dress yang dibelikan Ibunya tahun lalu. Dress bunga-bunga warna kuning pucat. Setelah berdebat selama beberapa jam, Ibunya menyerah membujuk Irah Berdada untuk pakai beha setelah menempar pipi sang anak.

Di sinilah Irah Berdada berada. Ia berhadapan dengan lelaki berusia 28 tahun yang perhatiannya langsung tertuju pada kuncup dadanya yang ranum. Ia berdehem pelan dan tampak gelisah ketika puting payudaranya bisa terlihat dari balik dress itu.

Apakah lelaki ini berpikir aku sedang menggodanya hanya karena aku tak pakai beha? Pikir Irah Berdada dalam hati.

Setelah obrolan basa-basi dilakukan sebagai pembuka yang sama sekali tidak Irah Berdada pedulikan karena isinya sama saja dari tahun-tahun sebelumnya, tibalah saatnya keluarga si lelaki mengumumkan ultimatum: mereka ingin mempersunting Irah Berdada untuk putra sulung mereka: Baron.

"Bagaimana Irah? Apakah Irah bersedia menerima lamaran saya?" tanya Baron yang kentara sekali sedang menyeka liur sendiri di ujung bibirnya yang hitam akibat banyak merokok. "Irah, kalau nantinya kamu menerima lamaran saya, saya ingin kamu pakai pakaian dalam khusus dadamu."

"Sebut saja beha. Tak usah membuatnya menjadi istilah yang lebih sopan."

Baron tampak salah tingkah. Ia tersenyum kemudian mengangguk sekali. "Itulah maksud saya."

Irah menyilangkan tangannya di depan dada, mengabaikan pelototan mata dari Ibu. "Kenapa aku harus pakai beha?"

"Karena lelaki lain yang bukan suamimu akan melihat dadamu dengan jelas, Irah. Dan saya tidak suka."

"Aku hanya boleh telanjang bulat saat mandi dan saat akan bercinta denganmu? Begitu?"

Baron salah tingkah lagi. Ia berdehem pelan dengan sudut bibir yang agak berkedut. "Itulah maksud saya."

Irah mengangguk. Sejenak, itu seperti angin segar seperti kedua belah pihak, sebelum ia menjatuhkan kalimat selanjutnya, "Aku menolak lamaran ini. Aku tidak akan menikah dengannya."

Setelah mengatakan itu, Irah masuk ke kamar dan mengunci pintu. Diam-diam ia kabur lewat jendela. Masih mengenakan dress kuningnya, ia berjalan menyusuri jalanan desa. Masih dengan tatapan para lelaki dan perempuan yang menghujamnya, ia menuju salah satu bukit kecil. Di sana ada satu pohon beringin besar yang rindang. Biasanya, tempat ini dijadikan tempat merumput para sapi peliharaan, tapi hari ini mereka tidak datang, sehingga yang ada di sana hanya Irah dan bukunya.

Orang-orang menikah karena cinta. Orang-orang juga menikah karena ingin meneruskan keturunan. Mungkin beberapa menikah karena terikat hutang leluhur atau hutang uang yang tidak bisa dilunasi oleh orang tua mereka. Beberapa menikah karena tidak mau kesepian di hari tua. Dan kalau aku tidak merasakan semua itu... Masihkah aku diharuskan menikah?

....

Sesuai dugaannya, Ibu langsung kebakaran jenggot.

Ketika ia pulang dan ruang tamu sudah dalam keadaan kosong, Ibu mencak-mencak sambil memuntahkan seluruh amarahnya pada Irah Berdada. Saking marahnya, wajah Ibu jadi semerah kepiting rebus yang sampai sekarang belum pernah dimakan Irah Berdada.

Wanita itu nyaris pingsan--atau mungkin mati berdiri--dan dua anaknya sigap menahan berat badannya untuk kemudian ditidurkan sejenak di sofa ruang tamu yang mulai kehabisan busa.

"Baron itu anak kepala desa," desis Ibu setelah meneguk air yang diberikan anak lelakinya yang bungsu. Ia menatap Irah Berdada dengan mata agak merah dan berkaca-kaca. "warisan dari kakek neneknya bisa menghidupi tidak hanya kau dan keturunanmu kelak, tapi juga kedua adikmu. Dan kau baru saja membuang sandaran kayu paling kokoh yang sudah susah payah aku carikan untukmu. Kau seharusnya malu, Irah! Malu!" Ibu melanjutkan sambil masih menuding-nuding Irah Berdada dengan telunjuknya. Wajahnya kembali memerah. Ia sudah bermaksud bangkit dari posisinya tidur, tapi mendadak kembali rebah karena merasa kepalanya masih pusing.

"Kau pikir kau bisa menikah karena cinta?" Ibunya tersenyum miring. "Omong kosong semua itu!" Kini suaranya terdengar bergetar.

"Kau dengar," katanya lagi. "Aku dinikahkan dengan bapakmu saat usiaku 14 tahun dan dia 18! Kami tidak saling mencintai! Dan kau tahu kami bertahan karena terpaksa sebab kami sudah punya anak. Kalau bapakmu kaya, aku mungkin akan belajar mencintainya. Tapi apalah daya. Warisan pun kami tak punya. Harta yang kau dan adik-adikmu nikmati sekarang adalah hasil keringat dan darah kami! Hasil berhemat kami yang makan nasi dengan garam! Hasil berhutang yang untungnya mampu kami lunasi! Hasil banting tulang kami siang dan malam! Bersama bapakmu... Hidupku isinya hanya bekerja dan melahirkan. Dengannya aku bahkan tidak tahu kapan waktu sudah beranjak malam dan kapan ia telah berubah jadi pagi lagi. Sebab semua hari bagi kami adalah sama. Kami lupa tanggal, lupa hari, lupa untuk menyenangkan diri sendiri hanya demi penghidupan yang layak untuk kalian! Setidaknya, Irah... Setidaknya... Ada sedikit terketuk pintu hatimu melihat perjuangan orang tuamu sampai sekarang. Setidaknya... Menikahlah dengan lelaki kaya sekalipun kau tak mencintainya."

Setelah mengatakannya, Ibu--dibantu dua adik Irah Berdada, dituntun ke kamarnya untuk istirahat.

Gadis itu tercenung. Di tempatnya berdiri, ia masih bergeming.

Kata-kata Ibunya bagai anak panah yang menusuk tepat di jantung.

Kalau penolakan-penolakan sebelumnya atas perjodohan yang datang untuk Irah Berdada hanya membuat Ibu mendiamkannya selama seminggu... Kali ini berbeda. Ibu meledak.

Mungkin karena sejak lama ia ingin mengatakan hal itu padaku, tapi ia tidak menemukan momen yang pas, atau berusaha sabar dan mengerti keputusanku menolak perjodohan, pikir Irah Berdada.

Tapi... Bagaimana bisa ini terdengar seperti salahku? Aku bahkan tidak minta dilahirkan. Aku tidak minta dipelihara sebecus ini hanya untuk ditukar dengan mas kawin dan jaminan masa depan lainnya.

Ibu mungkin berpikir setelah aku mendengar ledakannya yang sekarang... Aku akan terbujuk dan menikah. Tapi... Tidak. Betapapun menderitanya Ibu dalam rumah tangga ini, aku tidak bisa memenuhi keinginannya yang satu itu: menikah.

....

Beberapa hari setelah kejadian itu, Ibu membawa serta kedua adiknya untuk menjenguk kakek dan nenek di kampung di daerah yang lain. Letaknya jauh karena mereka harus naik kereta dan bus--menempuh perjalanan darat kurang lebih 12 jam.

Irah Berdada tidak ikut sebab ia harus menjaga toko. Lagipula, Ibu masih mendiamkannya entah untuk waktu berapa lama. Tapi setidaknya Irah Berdada punya waktu seminggu penuh untuk dirinya sendiri di rumah.

Sudah lama ia mendambakan rumah untuk ia sendiri. Tidak usah yang besar dan mewah. Cukup rumah sederhana dengan satu kamar, satu kamar mandi, satu dapur yang menyatu dengan ruang makan, satu ruang tamu yang menyatu dengan meja tempatnya membaca dan menulis, dan sepetak halaman yang ingin ia tanami sayuran, buah, dan beberapa tanaman hias. Tapi ia sudah mengubur impiannya dalam-dalam sebab jika hanya mengandalkan penghasilan dari toko kelontong milik keluarganya, tentu tidak akan cukup.

Hari ini, malam jatuh dengan cepat. Seperti bulan sedang tergelincir di langit yang licin.

Tokonya tutup tepat pukul tujuh.

Usai mandi, ia masih mengenakan kemben handuk yang dibebat ke sekeliling tubuh.

Irah Berdada menatap pantulan dirinya di cermin meja rias yang kusam.

Sepersekian menit kemudian ia melepas kemben handuk dan menyisakan tubuhnya yang telanjang bulat.

"Kenapa aku tidak bisa mempersembahkan dada dan vaginaku untuk diri sendiri?" Ia bergumam. Seolah mengulang perkataannya beberapa hari lalu yang membuat Ibu kesal hingga ia ditampar dengan sayuran.

Mungkin bisa.

Irah Berdada memejamkan mata. Ia mulai menggerakkan jemarinya sendiri, menyentuh permukaan kulitnya dengan kelembutan yang belum pernah ia berikan pada diri sendiri. Sentuhan itu tidak terburu-buru; itu adalah sebuah perkenalan ulang. Ia mengusap lengan, turun ke perutnya, dan membiarkan kehangatan dari ujung jarinya menuntun ke tempat-tempat paling sunyi di tubuhnya.

​Lalu, tepat ketika gelombang hangat itu mencapai puncaknya,

dari ujung jemarinya, dari pori-pori kulitnya, mendadak meletup sebutir cahaya benderang.

Blam!

​Cahaya itu melesat ke langit-langit kamar, lalu pecah menjadi jutaan percikan warna merah, hijau, dan keemasan. Kembang api meluncur bertubi-tubi dari tubuh Irah Berdada, meledak dengan anggun tanpa suara berisik, memenuhi setiap sudut ruangan dengan cahaya yang meriah. Kamar yang semula sepi dan pengap mendadak menjelma menjadi malam perayaan yang paling megah.

​Irah Berdada membuka mata, napasnya terengah penuh kemenangan. Di bawah hujan percikan cahaya kembang api yang perlahan redup dan berubah menjadi abu keperakan yang wangi, Irah Berdada hanya menemukan dirinya sendiri.

Malam itu Irah Berdada sebut sebagai Malam Perayaan Tubuh.

....

Pada siang hari yang terik, Irah Berdada tetap melayani setiap pembeli di toko kelontongnya dengan telaten dan tegas. Ia menghitung, menerima uang, dan memberi kembalian sambil bilang "makasih".

Irah Berdada tak acuh pada tatapan beberapa lelaki yang sengaja datang ke tokonya untuk membeli barang remeh dan memberi uang dengan nominal besar hanya untuk mengulur waktu. Supaya mereka bisa menatap lama-lama dada Irah Berdada di balik pakaiannya. Jika mereka terlalu lama, Irah Berdada hanya perlu menatapnya selama sepersekian detik, dan mereka akan pergi dengan sendirinya--terusir oleh tatapan matanya.

Irah Berdada pernah menegur para lelaki yang sengaja terlalu lama di tokonya padahal urusan mereka telah usai, tapi beberapa perempuan yang juga ikut belanja di tokonya menganggap Irah Berdada menggoda para lelaki. Sejak itu, Irah Berdada hanya menggunakan tatapan mata pada siapapun yang dengan sengaja berdiam terlalu lama di tokonya tanpa tujuan yang jelas--tak peduli apakah ia perempuan atau lelaki.

Dari arah yang berlawanan, ada Yu Sam yang berjalan tergesa-gesa, bermaksud membeli telur untuk makan siang anaknya sebab tadi ia sibuk pada pekerjaan yang lain.

Sekonyong langkahnya terhenti di belakang beberapa pembeli yang lain. Ia menatap Irah Berdada yang tetap tenang melayani mereka meski tak mengenakan beha. Dadanya kelihatan bebas. Tak dikekang oleh kawat beha yang kaku dan membuat dada sesak serta gerah. Di cuaca yang terik begini, dada yang tak berbeha adalah surga.

Tergerak tangan Yu Sam untuk melepas pula tali behanya yang mengekang dada yang telah menyusui tiga anak dan satu suaminya. Daging itu kini seolah bernapas. Yu Sam merasakan kelegaan luar biasa. Napasnya jadi lebih leluasa.

Di perjalanan pulang, beberapa tetangga yang duduk di teras sambil berbagi gosip dan mencabut uban di rambun tetangga lain, melihat ke arah dadanya dengan mata yang melotot. Yu Sam terang-terangan dapat teguran dari mereka: kau sudah punya anak tiga! Usiamu tak lagi muda! Setidaknya pakailah beha kalau kau tahu malu!

Tapi Yu Sam tidak memedulikan mereka. Ia terus berjalan dan berjalan. Membiarkan buah dadanya gondal-gandul mengikuti gravitasi. Untuk pertama kalinya, Yu Sam merasa bebas.

Keesokan harinya, satu per satu perempuan di kampung itu mulai melepas beha mereka. Setelah Yu Sam, giliran Yu Rini yang melepas beha dan merasakan kebebasan untuk pertama kali. Gerakan itu menyebar seperti virus yang tak bisa ditahan. Dari pintu ke pintu, rumah ke rumah, kamar ke kamar, ke satu perempuan dan perempuan lainnya.

Di balik kebaya nenek-nenek yang dadanya telah kempot, mereka tak lagi mengenakan beha. Dadanya yang hanya sekuncup dibiarkan bergelambir diterpa angin dan mereka tertawa-tawa tanpa gigi.

Di balik pakaian yang dikenakan para remaja perempuan, tak ada beha yang menahan buah dada mereka yang baru tumbuh. Mereka membiarkannya gondal-gandul saat main petak umpet dan lompat tali.

Dan di balik daster para ibu, buah dada yang sudah menghidupi anak-anak dan suami mereka juga dibiarkan tanpa penyangga.

Para lelaki mulai menjadi risi. Tidak sedikit mereka yang berdebat dengan para istri: mengapa kau tidak pakai beha? Kau mau dadamu dilihat oleh lelaki selain suamimu? Kau sengaja pamer dada karena bosan hidup susah denganku?

Rumah sebelah bertengkar, rumah seberang pun sama. Mereka adu argumen dari pagi sampai malam dan dari malam sampai pagi seolah kelebihan energi.

Perlahan, tidak ada pemandangan beha-beha yang dijemur di depan atau belakang rumah. Dan para perempuan ke mana-mana dengan leluasa tanpa pakai beha.

Kabar itu sudah sampai ke telinga Irah Berdada dan ia bingung.

Maka pada suatu pagi ia mengecek sendiri keadaan di luar. Ia berjalan ke pasar dan sepanjang jalan, setiap perempuan yang ia temui tidak mengenakan beha. Dan mereka tampak biasa. Tidak risi, tidak terusik oleh tatapan orang-orang di sekitar.

Beberapa lelaki pasrah dengan perubahan yang menurut mereka gila, tapi beberapa lagi tidak.

Di pos-pos ronda, beberapa lelaki menjadi bingung.

"Kita boleh saja menceraikan istri-istri," kata salah satu dari mereka. "tapi alasan apa yang harus kita katakan di pengadilan? Karena para istri menolak pakai beha? Betapa konyolnya! Betapa dangkalnya pikiran kita jika hanya itu alasan untuk bercerai! Mana mungkin pengadilan mengabulkan alasan yang macam itu!" Ia mendesis pelan sembari menggeleng. Kepulan asap dari rokok yang dihisapnya membubung di udara, menjadi kontras yang kentara di malam yang hitam pekat tanpa bintang.

"Tapi kita tahu sendiri kalau apa yang mereka lakukan tak bisa kita terima."

"Istriku orang kaya. Semua yang melekat padaku sekarang adalah darinya. Bercerai karena ia tak pakai beha sama saja memutus kehidupanku."

"Semuanya karena Irah Berdada sialan itu."

"Dadanya tidak sialan. Irahnya saja. Dadanya tetap indah."

"Sekarang dadanya sebesar kelapa tua."

Ketika Irah Berdada sampai di perpustakaan daerah, langkahnya melambat ketika mendapati tak hanya ia dan Lulu yang ada di sana, tapi beberapa perempuan muda sedang memenuhi rak-rak buku dan tampak serius memilih mana yang akan mereka baca lebih dulu.

Di balik meja penjaga perpustakaannya, Lulu tampak tersenyum. Dadanya dibiarkan gondal-gandul tanpa beha.

"Perubahan hanya sebentar lagi." kata Lulu.

"Biarlah kita menjadi kita, dan mereka menjadi mereka." sahut Irah Berdada.

Di luar sana, beberapa orang masih membahas dada mereka. Tapi di perpustakaan ini, mereka membahas hal-hal yang lebih besar daripada urusan dada, vagina, dan bercinta.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi