Disukai
0
Dilihat
9
Buah kesabaran
Drama

Jam 07.12,

Di kampus Sekitar lima menit aku duduk termenung menatap kesibukan manusia di bawah sinar mentari yang cukup hangat dari balik jendela, aku berangkat terlalu pagi, kelas masih sepi, dan entah dari mana gagasan itu berasal, aku memutuskan untuk menggambar,mengusir rasa bosan yang menyelimuti benakku.

 15 menit berlalu, hasil gambarku semakin mencolok, kelas mulai terisi meski baru beberapa, aku mendapati seorang sahabatku memasuki kelas, menghampiriku yang terduduk di pojokan samping jendela.

 “gambar apaan, rel?” tanya sahabatku. Arga namanya.

“Cuma gambar mawar doang kok, bagus nggak?”

 “ini sih lebih dari sekedar bagus rel !” puji arga berlebihan, aku hanya membalasnya dengan senyuman.

“eh, lu tahu nggak, hari ini ada dosen baru lhoo”

 “emang napa?” tanyaku heran, sambil menghentikan acara menggambarku.

 “dia itu mahasiswi delegasi dari university of tokyo, saking pintarnya, dia pun dinyatakan sebagai dosen termuda di kampusnya dari indonesia, dan wow-nya lagi, dia dia akan jadi wali kelas kita!!,” celoteh arga, aku hanya mengangguk angguk.

Kringg...!!

 Bel masuk dibunyikan, para mahasiswa dan mahasiswi duduk di meja masing masing, ya, setidaknya gambaranku sudah selesai, kelas sudah rapi dan senyap sejenak.

 “selamat pagi teman-teman,” ucap dosen baru itu setelah salam.

“lyla....” ucapku pelan dengan bibir bergetar, mengingatkanku pada dua tahun lalu

Dua tahun lalu

Tepat sebelum berangkat kuliah, aku menitipkan surat ‘cinta’ untuk Lyla melalui teman-temannya, dan hampir dua tahun tak ada jawaban darinya. Saat itu aku hanya pasrah dan mencoba tidak peduli, namun tidak dengan hari ini, seakan-akan dia datang menemuiku. Tidak, aku tidak boleh berharap lebih. Akhirnya aku putuskan untuk fokus ke materi dan menyingkirkan masa lalu itu.3 jam berlalu, bel sudah berbunyi setengah jam yang lalu, azdan dhuhur berkumandang, aku pun pergi ke masji untuk sholat berjamaah.

“rel, malam ini lu iktikaf ngga habis tarawih?” tanya arga seusai bubar dari masjid, oh ya, aku hampir lupa, mulai besok sudah dilaksanakan puasa ramadhan, dan malam ini sudah mulai tarawih.

“kayaknya iya, ga” jawabku singkat, kurasa malam ini aku harus lebih sering menghabiskan waktuku dengan menghadap sang pencipta dan melupakan segala hal-hal tidak penting, meski itu juga tidak mudah.

“owww, gitu ya, oke, gua duluan ya rel,” ujar arga yang melangkah menjauh sambil melambai lambai, aku hanya mengangguk tersenyum tipis.

Malamnya, bulan sabit menyinari belahan dunia, awan kelabu menggumpal dengan ribuan bintang terbentang, angin sepoi menerpa pepohonan, dan kawanan serangga ‘menghidupkan’ malam yang senyap. Namun tidak dengan manusia.

Sekitar pukul 22.22 malam.

Aku masih terjaga. Sepuluh menit lalu kuhabiskan dengan tilawah satu juz. Kini aku termenung di serambi mushalla dekat kosan, memandangi langit penuh bintang di luasnya nabastala. Pandanganku kosong, pikiranku bercampur aduk, entah apa yang kurenungkan. Benarkah tadi pagi itu Lyla? Kurasa itulah yang kupikirkan hingga saat ini.

“hey, nak” seorang bapak tua mendekatiku, duduk di sebelahku. “lagi mikirin apa sih?” tanya si bapak tua.

“nggak papa kok pak” ucapku sambil tersenyum ke arah bapak tua tersebut.

“oh... lagi ada masalah ya?” tebak si bapak, seolah seolah bisa membaca pikiranku.

Aku terdiam, berpikir sejenak, hingga lima detik kemudian, aku memutuskan mengangguk.

“hmm.. masalah anak muda ya, bapak nggak pengen ikut campur sih, tapi bapak Cuma mau ngingetin aja” Aku kembali dalam hening, namun wajahku menoleh kearahnya denga penuh antusias.

“kamu tahu, kita sering merasa bahwa dunia itu tidak berpihak pada kita, banyak masalah, pikiran tak tenang, padahal kita itu ingin mendapat apa yang kita mau, berjuang sudah, menghabiskan harta dan lainnya sudah, tapi hasilnya apa? nihil? semua itu bukan karena allah tidak sayang kita, namun kitalah yang jarang khusuk ketika menghadapnya, menjalankan perintahnya pun kurang maksimal, sebenarnya allah menimpkan kita ujian itu untuk mengetes kita, seberapa bertahan kitadengan ujian itu,itulah yang allah ujikan, ‘buah’ itu akan semakin manis ketika sudah matang nantinya, dan kita akan memakan buah itu sendiri,” tekan si bapak.

Entah kenapa, jantungku berdegup kencang tak biasa, mulutku bungkam tak bersuara. Nasihat ini terlalu dalam.

“sudah fahamkan sejauh ini?”

Aku hanya mengangguk, sejak tadi suaraku masih terbungkam, tak tahu apa yang ingin kukatakan.

“oh ya, ngomong ngomong bapak belum tahu namamu, dan dari mana?” tanya bapak basa-basi.

“nama saya arel pak, saya tinggal di kosan dari gang salak pak,” jelasku setelah terbungkam beberapa saat.

“owww, tau, kalau saya panggil saja pak mudjo, saya juga masih asli sini, tapi agak jau, mangkannya ngak selalu kesini.” Ujar pak mudjo basa-basi.

“udah ulu ya nak, bapak pamit dulu,” ucap pak mudjo sambol menyodorkan tangannya.

“oh iya pak, saya sangat berterimakasih atas nasehat bapak tadi,” responku sambil mengecup serta menyalami tangannya.

“ha ha ha, bukan apa apa kok” sahut pak mudjo sambil menyusuri keluar meninggalkan musholla.

           Warga-warga lainnya mulai mengosongkan musholla, menyisakan satu-dua jamaah yang masih mengaji. Kurasa aku akan memilih pulang ke kosan karena rasa kantuk mulai menyerang.

           Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Aku merebahkan tubuh ke kasur, memutar badan menghadap langit-langit kamar dengan tatapan terpaku. Nasihat bapak tua itu masih terngiang di kepala. Malam itu menjadi malam paling bermakna di awal bulan suci. Tak disangka, di saat pikiranku campur aduk, Allah mengirimkan solusi lewat perantara Pak Mudjo. Pandanganku mulai memudar, dan sepuluh detik kemudian aku terlelap.

           Empat belas hari berlalu. Motivasi dari bapak tua itu kugunakan bukan hanya sebagai nasihat pribadi, tetapi juga untuk lebih mendekat kepada naungan Ilahi, membantu masyarakat sekitar, dan aktif di masjid sebagai remaja masjid. Pihak kampus meliburkan pembelajaran selama Ramadhan, meski belum ada izin pulang, dan sebagai gantinya diadakan beberapa event.

           “Katanya sih, kita bisa pulang di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini,” celetuk Arga. Saat itu kami sedang bincang santai di bawah pohon samping masjid kampus, duduk selonjor di tangga sambil memandang deretan gedung fakultas di bawah terik matahari. Aku hanya mengangguk.

 “rencana lu habis lebaran ngapain aja rel?”

“belum tau sih, kayaknya sih di rumah aja sambil menemani ibu bapak.”

“lu nggak pengen nikah?” desak arga.

“Nggak dulu, gua mau lebih mendalami agama dulu, lebih mendekat ke Tuhan dulu, nanti juga jodoh datang sendiri,” sergapku. Aku teringat dua minggu lalu, hari ketika ketidaksengajaan terjadi: Lyla dikirim ke kampusku menjadi dosen. Aku tak habis pikir, umur kami tak berbanding jauh, tapi dia sudah terlalu jenius di usia yang masih muda. “Rel, kok bengong?” tanya Arga heran sambil melambai pelan kewajahku.

 “eh, sorry..soryy.” jawabku membuyarkan lamunanku.

“haduh.. lu semalam mimpi apaan sih? Sampe gagal fokus kayak gini, negliat pocong? Kunti? Apa jangan jangan ketemu bidadari?” gurau arga.

“ngaco lu!” sergah ku tak terima

“soalnya nggak biasanya lu gini,”

“namanya juga lagi laper, lu sadar sendiri lah”

Oke kalo gitu mau lo, btw kok gua jarang liat lo nggambar akhir akhir ini?”

Oh iya aku lupa kalau aku bisa menggambar.

“kapan kapan aja, habis ramadhan kayaknya.”

“kelamaan nggak sih? Tapi nggak papa lah gua tungguin lu rel.” Sahut arga.

“udah.. udah.. 15 menit lgi adzan dhuhur berkumandang, gua siap siap dulu, gua lagi –pengen adzan”

Bak menemukan berlian terlangka dibumi, arga terkejut bukan main, “BENER NIH!!?” aku hanya diam tak menggagapi, meninggallkannya di tempat.

Satu hari sebelum hari raya.

Aku sudah pulang sembilan hari lalu. Alhamdulillah, ibadahku teratur dan aku sudah menghatamkan Al-Qur’an tiga kali. Orang tuaku sangat senang mendengarnya. Namun berbeda dengan malam ini.

Malam itu ayah memanggilku ke kamarnya. Aku menyadari sesuatu, ayah semakin menua. Dulu tubuhnya tegap berdiri, kini mulai kesulitan berdiri. Aku pun masuk ke kamarnya dan duduk di sebelahnya.

 “nak..bantu ayah naik kursi roda ini” Memang sebelum pulang ibu mengabariku bahwa ayahku lumpuh karena kecelakaan.

“nak... ayah ingin memperkenalkan calon untuk kamu nak” jelas ayah to the point.

Aku terdiam. Perkataaj itu terlalu menyumpal isi mulutku untuk mengeluarkan sepatah kalimat. Seorag calon?

“Besok sore kamu akan emnemuinya di taman alun alun, sekarang, kamu kembali ke kamar” tegas ayah. Sedetik kemudian aku balik kanan meninggalkan kamar itu membuat punggungku menghilang dari balik daun pintu.

Keesokan harinya idul fitri brjalan normal.

           Namun hal tak biasa terjadi sore itu. Senja menampakkan ciri khasnya, dinaungi awan kejinggahan. Jalanan padat dipenuhi penduduk kota yang hilir mudik, sibuk kembali ke kampung halaman masing-masing, sama padatnya dengan rundown acara arisan ibu-ibu di awal bulan.

           Di taman kota, aku memutuskan berangkat secepat mungkin, membawa sekotak cincin yang ayah simpan untuk calon itu. Walau ribuan pertanyaan berperang di kepalaku, aku tetap akan menemuinya sore ini.

           Lima belas menit berlalu cepat.

           Motorku terparkir rapi di dekat alun-alun. Suasana tak terlalu ramai, mayoritas pedagang telah pulang, membuatku lebih mudah mencari sosok yang ayah sebut sebagai ‘calon’. Pandanganku menyapu seluruh titik di alun-alun.

           Mataku menangkap sesosok gadis di tengah taman, duduk menunggu dengan pakaian tertutup. Rasa penasaran mendorongku mendekatinya.

           Jarak dua meter, gadis itu menyadari keberadaanku. Ia berdiri dan menatapku dari balik cadarnya. Semalam ayah tak memberitahuku siapa gadis itu.

 “kamu arel?” tanya gadis itu.

Aku tak langsung menjawab, cukup terkejut dengan pertanyaan yang ia lempar. Bagaimana ia bisa tahu namaku? Apa benar ia adalah calon yang dibicarakan ayah semalam? , perlahan aku mengangguk.

“iya aku arel” jawabku sedikit kikuk.

Seketika gadis itu sontak membuka cadarnya, ITU LYLA!,

aku terkejut bukan main, laksana menemukan emas dari tumpukkan sampah, apakah ini benar calonku?.

“aku sudah tau suratmu dua tahun lalu, dan aku ingin menerimanya.” Jelas lyla.

“lyla, maukah kau meniokah denganku?”

Lyla dengan tersenyum mengangguk.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi