Disukai
0
Dilihat
28
Ayunan
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Kanya kerap melihat teman-teman sekelasnya bermain ayunan di sekolah. Setiap waktu istirahat, mereka selalu berebut untuk bermain lebih dulu. Atau saat pulang sekolah, saat orang tua mereka belum menjemput. Ayunan biasa, yang seperti ayunan kebanyakan. Dudukannya terbuat dari papan kayu tebal, bergantung pada kawat besi bercat merah terang. Berderit kencang ketika diayun, seakan menyuarakan musik ceria ketika bercampur dengan tawa murid taman kanak-kanak. Ada empat ayunan di sekolah Kanya, selain perosotan dan tentu saja permainan lainnya. Tetapi ayunan tidak pernah sepi.

Kanya sendiri tak pernah ikut berebut. Kanya lebih senang main ayunan di halaman rumah, yang dibuat oleh Ayah dengan tali tambang dan ban sepeda bekas. Diikatkan ke cabang pohon mangga yang besar dan kuat. Ibu melapisi ban sepeda bekas dengan bantal kecil berisi dakron, sehingga bisa diduduki dengan nyaman. Lebih nyaman dari ayunan sekolah, dan tentu saja, ayunan tersebut adalah miliknya sendiri. Kadang Ibu dan Ayah juga memainkannya, namun jarang. Ayah dan Ibu lebih sering menonton saja jika Kanya main ayunan.

Tapi, ayunan yang ini berbeda.

Suara deritnya berat dan suram. Warna catnya biru tua pudar. Bagian bawahnya tertutup lumpur. Hanya satu dan kotor tak terawat. Tampaknya telah lama di sana, sendiri di tengah taman berumput kering dan gersang, dikelilingi pohon cemara dan perdu yang dihinggapi tali putri. Bukan, bukan hanya itu yang membuat Kanya bergeming memandang. Seorang anak perempuan yang duduk di ayunan, itulah yang menarik pandangannya.

Anak perempuan itu sepertinya lebih tinggi dari Kanya. Mungkin kelas tiga atau empat sekolah dasar. Badannya kurus, tulang-tulangnya menonjol, membuat baju terusannya tampak kebesaran. Atau, mungkin memang bukan bajunya sendiri? Warnanya cokelat pudar, mungkin lungsuran dari kakaknya. Atau pemberian orang lain, tetangganya, saudaranya, barangkali. Bajunya rok terusan dengan pita di belakang roknya, tapi pita itu tidak tertali dengan benar. Sandalnya dari plastik, warnanya merah muda mencolok.

Kanya tidak mendekat. Belum. Kanya masih mengamati. Anak perempuan itu juga sepertinya tidak peduli. Ia tetap berayun pelan, menunduk, memandangi jemari kakinya yang sedikit menggantung di atas tanah.

Kanya menimbang-nimbang dengan ragu. Jaraknya hanya sepuluh atau sebelas langkah menuju anak perempuan berbaju cokelat itu.

Ayah Kanya sedang sibuk menurunkan tumpukan buku dari mobil. Ibu sedang memperkenalkan dirinya kepada seorang nenek yang tinggal di sebelah kanan rumah baru mereka. Ya, kata Ayah, mereka akan pindah rumah. Mereka mulai minggu depan, Kanya tidak lagi tidur di kamarnya yang lama. Di rumah ini, Kanya punya kamar baru, walaupun kasur dan bantalnya tetap yang lama.

Rumah baru ini lebih kecil daripada rumah yang mereka tinggali sebelumnya. Kata Ibu, ”Tapi ini rumah kita sendiri, bukan pinjam dari orang lain”.

Kanya sudah lima kali diajak Ayah dan Ibu mengunjungi rumah itu. Satu kali memasang tirai dan lampu. Waktu itu Kanya diajari membantu menyapu lantai. Tapi susah juga ternyata. Selain Kanya dan sapu sama tinggi, lantai rumah itu juga sangat kotor. Masih banyak debu dan noda-noda semen bekas pembangunan.

Beberapa kali kunjungan yang lain, mereka memindahkan barang, seperti saat ini. Rumah lama yang saat ini mereka tempati sudah mulai tampak kosong. Tinggal kasur, lemari, dan peralatan dapur yang besar-besar. Kata Ayah, mobil Ayah tidak muat untuk menggotong kasur sendiri, jadi nanti akan menyewa jasa pindahan.

Di halaman rumah baru tidak ada pohon mangga yang besar, hanya ada satu pohon nusa indah, sedikit rumput, dan beberapa pot tanaman. Jadi, Ayah bilang, tidak bisa membuat ayunan di halaman rumah. Tapi ada taman dengan ayunan, persis di sebelah kiri rumahnya. Ayah berpesan, karena ayunan itu bukan milik Kanya sendiri, harus belajar mengantre dan berbagi, seperti dengan teman-teman di sekolah.

Dari kelima kunjungannya, belum pernah sekalipun Kanya bermain di taman tersebut. Baru sore ini, Kanya ingin melihatnya. Taman di tengah perumahan. Taman dengan ayunan, yang kini sedang diduduki gadis cilik yang belum dikenalnya.

Tiba-tiba, si gadis cilik mengangkat wajahnya. Kakinya menjejak tanah kuat-kuat. Derit ayunan yang serta merta mengeras, membuat Kanya sedikit kaget. Tak mengapa. Kanya masih berniat memperhatikan. Gadis cilik juga masih sibuk mengayun. Gadis berbaju cokelat perlahan tersenyum. Senyumnya lalu melebar, kemudian tertawa riang. Sesekali matanya terpejam seakan takut. Bukan, bukan takut. Ia sedang menikmati angin yang dibuatnya sendiri. Tawanya semakin keras seiring makin kuatnya ia berayun. Tak peduli rambut sebahunya melambai berantakan. Seperti hendak terbang. Seperti pesawat. Seperti burung.

Mengayun, mengayun, tinggi, tinggi…

Dari tempatnya berdiri, Kanya bisa melihat kebahagiaan si gadis cilik. Serta merta si gadis cilik menoleh padanya, masih tertawa, dan masih berayun kuat-kuat.

Sekarang, Kanya bisa melihat jelas wajahnya. Sudut mata kanan gadis cilik itu berwarna biru. Ya, biru keunguan seperti betis Kanya tiga minggu lalu, ketika tak sengaja tersandung tangga bambu yang diletakkan sembarangan oleh tukang kebun. Kanya menangis keras waktu itu. Ia juga pernah melihat warna itu di tangan teman sebangkunya, katanya terjepit pintu. Tapi, Kanya belum pernah melihat ada warna seperti itu di wajah siapapun.

Warna biru keunguan itu tak hanya menempati sudut mata kanan si gadis cilik. Warna serupa juga ada di lengannya.

Kaki gadis cilik terus berusaha mengayun lebih kencang. Ia ingin ayunannya lebih tinggi. Kanya juga suka melakukannya, seru sekali. Kadang Ibu mengingatkannya agar tidak terlalu tinggi, takut jatuh. Tapi tidak ada yang mengingatkan si gadis kecil ini. Kakinya terus menjulur, dan menggenjot. Kanya melihat, warna kakinya tidak rata. Banyak bekas luka yang mulai mengering. Luka-luka berbentuk garis dan titik, menyebar, mewarnai kulit yang aslinya pucat.

Kanya tiba-tiba ingat. Ia masih menggendong tas kesayangannya, tas yang berbentuk boneka monyet. Di tas itu, Ibu selalu menyelipkan plester bergambar binatang lucu. Kata Ibu, ”Kalau Kanya luka kecil, bisa ditutup dengan ini. Kalau luka dibiarkan, bisa infeksi.” Kanya bahkan tak tahu apa arti kata infeksi, tapi dalam benaknya akan sangat menyeramkan kalau infeksi itu sampai terjadi.

Kanya bingung menghitung luka. Berapa banyak plester yang bisa ia berikan ke gadis cilik ini? Kanya sudah bisa menghitung sampai seratus, tapi, si gadis cilik terus bergerak, membuat Kanya makin tak bisa memastikan.

Kanya sudah memutuskan untuk memberikan saja semua plesternya. Toh, Ibu masih punya banyak persediaan di kotak obat. 

Tangan kecilnya sedang merogoh dan mengaduk-aduk kantong tasnya, ketika Kanya menyadari, ada seorang wanita berjalan tergopoh-gopoh ke arah ayunan, ”Rin, pulang! Bapak marah nanti!”

Gadis cilik berhenti berayun, berhenti tertawa. Ia ikut saja ketika tangannya digandeng. Ditarik. Sesaat menoleh, matanya mengarah ke ayunan yang masih bergoyang pelan. Mereka berhenti di depan rumah berpagar hijau tua. Tangan kekar seorang laki-laki menarik kasar rambut si gadis cilik, membuatnya masuk ke rumah. Mereka masing-masing berteriak. Kemudian tiga jenis suara teriakan itu makin menghilang, seiring menghilangnya mereka ke dalam rumah.

Kanya tertegun. Tangannya belum dikeluarkan dari dalam tas. Ia bahkan belum menemukan plester.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)