Disukai
2
Dilihat
321
Aku Bukanlah Lukaku
Drama

Trigger Warning. Mengandung aksi menyakiti diri sendiri dan tidak untuk ditiru. 

Untuk berdamai dengan luka, aku perlu menorehkan kembali luka baru kepada diriku.

"Aku berjanji. Satu kali lagi saja ya. Boleh?"

Alexa menggeleng lemah. Aku menatap wajah temanku dan ia menatapku kembali dengan tatapan pedih. Terdapat keraguan dari suaraku. Aku dan dia sama-sama yakin bahwa ini tidak akan menjadi kali yang terakhir.

"Kumohon," Suaraku serak dan aku mulai frustasi tapi mengapa dia yang lebih dulu mengeluarkan air mata?

"Perdebatan ini selalu tidak ada akhirnya ya? Pada akhirnya harus ada salah satu dari kita yang mengalah," ucap Alexa, teman yang kudapat dari suatu komunitas menulis, yang kini telah menjadi sahabatku selama sepuluh tahun lamanya. 

Aku jatuh terduduk. Adrenalin telah menghilang dari tubuhku dan aku merasa seperti baru saja kehilangan separuh dari berat badanku. Bahkan apabila sekarang angin menerjang tubuhku, aku yakin badanku akan bergoyang-goyang saking lemasnya. Alexa yang menangis kini mulai menghampiriku dan memeluk tubuhku.

"Maafkan aku. Sungguh aku minta maaf," ucapku kepada Alexa.

"Tidak, Dian. Kamu tidak salah apa-apa. Terima kasih karena sudah memilih untuk tidak melakukannya," ucap Alexa sambil memeluk tubuhku lebih erat. 

*** 

Namaku Obsidian. Aku adalah seorang pengidap penyakit mental bernama Gangguan Kepribadian Ambang. Pertama kali mendengarnya? Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan BPD (Borderline Personality Disorder). Gangguan ini ditandai dengan ketidakstabilan emosi, ketidakstabilan hubungan interpersonal, dan ketidakstabilan citra diri. Gangguan ini sangat memeras tubuh, emosi, dan jiwaku. Gangguan ini membuatku ingin mati. Setiap saat.

Pada suatu titik dalam kehidupan kita, kita akan berada di dalam situasi dimana kita harus mengatasi rasa sakit. Rasa sakit tersebut dapat berupa sakit fisik seperti sengatan lebah atau mungkin sakit akibat lengan yang patah. Namun rasa sakit tersebut dapat juga berupa sakit mental seperti kesedihan atau perasaan marah. Dalam kedua hal ini, rasa sakit yang dirasakan tidak dapat dihindari dan tidak dapat diprediksi.

Seringnya, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menggunakan coping skills yang dimiliki dan berharap bahwa coping skills tersebut dapat membantu. Tetapi pada beberapa orang, misalnya pada orang dengan gangguan kepribadian ambang sepertiku, rasa sakit mental yang dirasakan terasa lebih intens dan terjadi lebih sering daripada yang dirasakan orang pada umumnya. Perasaan nyeri yang dirasakan datang lebih cepat dan terasa seperti gelombang air pasang yang luar biasa. Seringnya, situasi seperti ini terasa seperti tidak akan pernah berhenti dan orang yang mengalami perasaan tersebut tidak tahu bagaimana cara mengatasi beratnya rasa sakit yang mereka rasakan.

Orang yang merasa kesulitan mengatasi perubahan emosi yang luar biasa sepertiku sering mengatasinya dengan cara yang tidak sehat karena tidak tahu lagi harus melakukan apa. Hal ini karena ketika aku merasakan perasaan nyeri secara emosional akan sangat sulit untuk berpikir secara rasional. Misalnya, seperti yang baru saja terjadi kepadaku hari ini.

Aku baru saja berseteru dengan ibuku. Ibuku selalu mengatakan bahwa aku adalah beban di hidupnya karena aku belum memiliki pekerjaan tetap. Tanpa disadari olehnya, perkataannya menyakitiku. Barangkali ibuku memang benar. Aku tidak berharga dan hanya menyusahkan saja. Tapi ada satu perkataan ibuku yang tidak bisa aku tolerir. 

"Kamu dan komunitas menulismu itu sampah. Bilang aja aslinya cuma mau main aja, kan? Dasar. Menghambur-hamburkan uang saja!"

Sebenarnya, mungkin jika itu orang lain, mereka akan merespon hal ini dengan cara yang berbeda. Namun bagiku, perkataan ini menjadi bom waktu yang pada akhirnya meledak.

Kurasakan wajahku panas dan memerah. Aku ingin berteriak kecewa tapi aku menahan diri. Akhirnya aku lampiaskan emosiku dengan cara membanting pintu rumahku dengan kencang. Setelahnya, aku berlari. Kubiarkan angin membelai wajahku. Aku berusaha bernafas untuk menenangkan diri namun percakapan tadi terus menerus terngiang di benakku. 

Aku tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. 

Aku memang berniat pergi ke tempat pertemuan sebuah komunitas menulis di kotaku hari ini. Namun, waktu pertemuannya masih terlalu dini. Aku kira aku yang pertama datang tetapi aku salah. Alexa ternyata sudah datang terlebih dahulu.

"Selamat pagi, Dian!" Ucap Alexa sambil melambaikan tangannya kepadaku. Ia tersenyum dan menyapaku dengan ceria. 

"Pagi, Alexa," ucapku sambil berusaha mengontrol wajahku. Aku berusaha tersenyum untuk membalas senyumannya namun senyumku terasa canggung. Mungkin Alexa merasakannya, maka dari itu ia menanyakan kabarku.

"Kamu tidak apa-apa, kan?"

"Kebelet pipis," ucapku sambil berusaha tersenyum kembali. 

"Aku ke toilet dulu ya, Alexa," sambil masih menggendong tas yang kubawa, aku pergi ke toilet. Setelah masuk ke salah satu toilet, kuambil sesuatu dari tasku. Alasanku pergi terlalu dini dari rumah adalah untuk melakukan ini.

Kukeluarkan semua emosi yang kurasakan. Kulampiaskan rasa kesalku, marahku, kecewaku menjadi sebuah goresan kuat di tangan. Darah mulai mengalir dari lenganku. Anehnya, perasaanku mulai membaik. Perbuatanku ini bisa menghiburku dari perasaan tidak nyaman yang kurasakan sebelumnya. 

Aku tahu ini merupakan hal yang salah. Namun, apabila boleh jujur, perbuatanku ini membantuku untuk coping. Perbuatanku ini membantuku untuk terus melanjutkan hidup dan bertahan. 

Sayup-sayup kudengar suara Alexa memanggilku. Mungkin dia sadar ada yang tidak beres denganku. Hal yang selanjutnya terjadi adalah Alexa menghentikanku dan ia menangis. 

Ini bukan kejadian yang pertama dan Alexa selalu ada untukku. Aku tahu ia lelah dengan perbuatanku namun ia tidak pernah berhenti berada di sisiku. Ia tidak pernah memarahiku. Ia juga tidak pernah menghakimiku. 

Terkadang aku berpikir, bagaimana kalau tidak ada Alexa di sisiku? Bagaimana kalau ternyata, untuk berdamai dengan luka yang kubutuhkan adalah sosok yang selalu ada untukku, bukan benda seperti silet yang menyakitiku?

Aku memang merasa perbuatan menyakiti diri membantuku namun di satu sisi perbuatan ini akan menjadi candu dan berbahaya. Sudah tak terhitung berapa kali aku berakhir di rumah sakit. Mulai dari jahit luka hingga pasang selang melalui hidung, semuanya pernah kurasakan. Beberapa kali perawat mengatakan kepadaku, merupakan sebuah keajaiban aku masih hidup. Namun bagiku, hal tersebut merupakan keajaiban yang tak kuinginkan.

Aku kembali menatap Alexa yang masih menangis karena khawatir padaku. Sebelumnya Alexa tidak pernah menangis di hadapanku. Perasaanku menjadi campur aduk. Terkejut? Tentu saja. Tapi perasaan yang lebih intens kurasakan adalah perasaan takut dan bersalah. Aku tidak ingin menorehkan luka atau trauma kepada Alexa.

Sebuah emosi aneh yang sebelumnya belum pernah kurasakan tumbuh. Terdapat perasaan ingin melindungi orang lain dari perbuatanku yang menyakiti mereka. Aku tidak ingin Alexa menangis lagi. Aku merasa aku tidak boleh seperti itu lagi. Walau mustahil untuk berhasil berhenti sepenuhnya, tapi aku ingin berusaha.

Aku tidak mau menjadi penyebab seseorang terluka

Mungkin ini yang sebenarnya disebut berdamai dengan luka. Karena sebelum melindungi orang lain, aku harus melindungi dan berdamai dengan diriku terlebih dahulu. Untuk itu, yang perlu kulakukan pertama kali adalah menerima seluruh luka dan kekuranganku. 

Aku bukanlah lukaku. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)