Sandyakala Payodanagari "Gardajita"
5. BAB 5

32. INT. KEDIAMAN SAUDAGAR ZHI – PAGI

Selama beberapa hari kepergian Zhi Lan, Damar bukan hanya memeriksa dan mencatat tanaman herbal dan obat-obatan seperti tugas yang diberikan padanya. Damar diam-diam membuat ramuan obat dan mencoba untuk dirinya sendiri. Beberapa menimbulkan reaksi alergi beberapa lainnya tidak. Damar selalu menulis hasil percobaannya pada catatan pribadinya. Namun Damar tidak menyadari jika aktivitasnya selalu dipantau oleh salah satu pelayan Zhi Lan.

Zhi Lan dan Tantri kembali dari perjalanan. Dari kejauhan Damar menatap Zhi Lan dengan mata menyala.

Tantri menurunkan sebuah peti yang terikat di kudanya. Dia membawanya sendiri. Damar yang melihat tampak penasaran dan mengikuti dengan gerakan mata.

DAMAR

Kalian menemukan orang yang kalian cari?

TANTRI

(marah)

Dimana sopan santunmu? Kau meninggalkannya di suatu tempat? Begitu caramu bicara pada majikanmu?

Damar tidak gentar. Matanya tetap menyala.

DAMAR

Aku bukan pelayan di sini. Aku hanya menumpang untuk sementara waktu.

TANTRI

Kalau begitu bersikaplah sopan sebagai seorang penumpang.

ZHI LAN

(pada Tantri)

Biarkan saja. Bawa itu ke kamarku

(melirik peti yang dibawa Tantri)

Tantri segera pergi melaksanakan perintah.

DAMAR

Mengapa tidak menyimpannya di gudang atau paviliun? Apa barang itu bukan untuk dijual?

ZHI LAN

Ya, bukan untuk dijual. Itu barang yang saaangat berbahaya jika diperjualbelikan.

Damar penasaran akan banyak hal. Tetapi Zhi Lan tidak berencana menjawab semua rasa penasarannya. Zhi Lan pun pergi menyusul Tantri.

CUT TO:

33. INT. KEDIAMAN SAUDAGAR ZHI - KAMAR ZHI LAN – PAGI

Tantri masih menunggu tuannya di dalam kamar, bersama pelayan yang bertugas mengawasi Damar yang siap melapor. Zhi Lan masuk.

ZHI LAN

(pada pelayannya)

Apa dia bertemu dengan Yada?

PELAYAN

Tidak, Nona. Dia hanya keluar berkeliling pasar dan mencari tanaman di pinggir hutan.

TANTRI

Bukankah dia sudah tahu jika kakeknya tewas terbunuh? Mengapa dia tidak sedih, marah, atau menuntut penjelasan pada Yada? Apa dia tidak percaya dan berpikir kakeknya masih hidup?

ZHI LAN

Tidak. Kau tidak melihat matanya? Dia merencanakan sesuatu tanpa melibatkan siapapun. Karena tidak ada yang dia percayai di tempat asing ini, dia akan mencari tahu sendiri.

CUT TO:

34. EXT. PASAR PAYODAPURA - KEDAI MAKAN – SIANG

Yada dan Wira duduk di salah satu sudut di dalam kedai makan yang berubah menjadi markas mereka ketika malam tiba. Giriputra baru saja datang langsung menghampiri meja mereka.

YADA

Bagaimana?

GIRIPUTRA

Sepertinya kecurigaan Gusti Pangeran benar. Prajurit yang mengikuti mereka baru saja kembali dan mengatakan kehilangan jejak. Mereka pasti menyadari jika diikuti.

WIRA

Jadi benar mereka bukan kelompok pedagang.

YADA

Mereka bukan pedagang tetapi mereka membawa barang-barang ke kedaton. Mereka pasti mendapatkannya dari suatu tempat. Giriputra, kau temuilah ahli gambar, bawa serta prajurit itu. Buat gambaran wajah para pedagang yang dia kenali. Wira, kau temuilah pengawas perdagangan di kedaton. Buat salinan nama kelompok pedagang yang tercatat lalu minta teman-teman kita menyelidiki mereka satu per satu.

Wira dan Giriputra mengangguk.

CUT TO:

35. INT. KEDATON PRABU DHANANJAYA – BALAI – SORE

Pangeran Gentala dan Mahapatih Danadyaksa keluar dari kamar Prabu Dhananjaya. Berjalan menuju balai utama.

PANGERAN GENTALA

Apakah keadaan Gusti Prabu lebih baik saat tabib Widarpa yang merawatnya?

MAHAPATIH DANADYAKSA

Gusti Pangeran, hamba tidak bisa mengatakan demikian tetapi keadaan Gusti Prabu memang tidak bertambah baik.

PANGERAN GENTALA

Haruskah kita mengadakan sayembara, Paman?

MAHAPATIH DANADYAKSA

Sayembara?

PANGERAN GENTALA

Ya. Sayembara bagi tabib mana saja yang bisa menyembuhkan Gusti Prabu.

MAHAPATIH DANADYAKSA

Ampun Gusti Pangeran, hamba mengerti kekhawatiran Gusti. Tetapi sayembara bagi siapa saja di saat seperti ini? Hamba pikir itu hanya akan menjadi celah bagi orang-orang yang menginginkan hal buruk pada Gusti Prabu.

PANGERAN GENTALA

Paman benar. Lalu aku harus bagaimana, Paman? Aku hampir tidak bisa berpikir akhir-akhir ini.

MAHAPATIH DANADYAKSA

Gusti Pangeran, mungkin hamba bisa meringankan sedikit beban itu jika Gusti mau mengatakannya pada hamba.

PANGERAN GENTALA

Apa maksud Paman?

MAHAPATIH DANADYAKSA

Hamba tidak ingin menebak-nebak, Gusti. Hamba sadar jika Gusti Pangeran tidak bisa mempercayai siapapun di kedaton ini kecuali Gusti Prabu. Tetapi, jika Gusti Pangeran bisa memberikan sedikit saja kepercayaan pada hamba, hamba baru dapat membantu Gusti Pangeran.

PANGERAN GENTALA

(tersenyum kecut)

Paman benar. Aku tidak bisa mempercayai siapapun di kedaton ini. Para pejabat kedaton berpihak padaku yang hanya putra seorang selir tanpa pendukung, karena Gusti Prameswari tidak memiliki keturunan laki-laki. Tetapi sekarang Gusti Prameswari tengah mengandung dan para pejabat mulai berubah haluan. Jika anak yang dikandung Gusti Prameswari adalah laki-laki…

Pangeran Gentala ragu, memutuskan tidak melanjutkan ucapannya.

MAHAPATIH DANADYAKSA

Begitulah para pejabat kedaton. Mereka bagai terombang ambing di atas laut dan untuk menyelamatkan diri mereka harus memilih perahu yang tepat.

PANGERAN GENTALA

Bagaimana denganmu, Paman?

MAHAPATIH DANADYAKSA

Ampun Gusti Pangeran, hamba adalah mahapatih negeri ini. Hamba melayani Gusti Prabu untuk negeri ini atau siapapun yang kelak menggantikan Gusti Prabu di kursi tahta. Jika Gusti Pangeran yang akan memimpin negeri ini, maka hamba akan melayani dengan sepenuh hati. Begitu pula jika kelak keturunan Gusti Prameswari yang akan memimpin negeri ini.

PANGERAN GENTALA

Bagaimana jika, jika calon pemimpin negeri ini tidak layak memimpin negeri ini? Apakah Paman akan tetap melayaninya?

MAHAPATIH DANADYAKSA

Apakah maksud dari ucapan Gusti Pangeran?

PANGERAN GENTALA

Tidak, lupakan saja.

CUT TO:

36. INT. KEDIAMAN SAUDAGAR ZHI – PAVILIUN – MALAM

Tantri tampak lebih kesal dari tuannya saat seorang prajurit melaporkan sesuatu pada mereka.

TANTRI

Ini sudah yang keempat kalinya dalam satu warsa ini.

ZHI LAN

(bergumam antusias)

Kesempatan dari langit. Kita kejar mereka.

TANTRI

(sama antusias)

Sudah lama kita tidak mengejar perompak.

CUT TO:

37. INT. KEDIAMAN SAUDAGAR ZHI – PAGI

Yada berkunjung ke kediaman Zhi Lan dan melakukan percakapan pada satu demi satu pelayan yang ada di sana. Tetapi mereka menggeleng-geleng sebagai jawaban atas pertanyaan Yada. Lalu Yada berpapasan dengan Damar.

YADA

Bagaimana keadaanmu?

DAMAR

(sinis)

Khawatirkan keadaanmu sendiri.

Yada merasa bingung tetapi tidak mencoba mencari tahu alasan di balik sikap Damar. Dia datang untuk hal lain.

YADA

Apa kau melihat seseorang yang mencurigakan datang untuk membeli sutera dan perhiasan?

DAMAR

Aku melihat seseorang yang mencurigakan tetapi dia tidak membeli sutera dan perhiasan.

YADA

Seperti apa dirinya?

DAMAR

Dia tampak seperti lelaki baik-baik yang menyelamatkan orang.

Yada mengerutkan kening. Namun Damar tidak berencana memberitahu alasannya bersikap ketus. Damar pergi dan seorang pelayan lewat.

PELAYAN

Kau bisa bertanya pada Nona. Dia memiliki semua catatan penjualan, pembelian, bersama nama-nama mereka.

YADA

(bersemangat)

Dimana Zhi Lan?

PELAYAN

Nona mengejar perompak

YADA

Lagi?

Yada tampak gusar.

CUT TO:

38. EXT. HUTAN JATI – SORE

Tepat sesuai perhitungan. Zhi Lan dan prajuritnya yang berkuda berhasil menyusul dan menghadang rombongan perompak yang membawa lari barang-barangnya. 

PEROMPAK 1

Hei! Siapa kau! Mau apa kau menghentikan kami!

Zhi Lan melirik peti yang ada di atas kereta barang para perompak dan terdapat simbol dagang miliknya.

ZHI LAN

Aku adalah pemilik barang-barang yang kalian curi.

Sontak, semua perompak tertawa.

PEROMPAK 2

Lalu, mau apa kau?! Mengambilnya kembali dari kami? Kau cari mati!

PEROMPAK 1

Kau pikir bisa merebut barang-barang kalian kembali dengan lima prajurit lembek itu?

ZHI LAN

Lebih baik kalian menyerahkan barang-barang itu secara sukarela dan ikut aku ke penjara dengan tenang. Atau kalian lebih suka masuk penjara dengan tubuh babak belur?

PEROMPAK 2

Sialan! Sombong sekali kau perempuan sipit!

PEROMPAK 1

Tidak perlu banyak bicara! Serang!

Para perompak menghunus pedang masing-masing menyerbu, disambut kelima prajurit Zhi Lan dan Tantri yang meloncat dari kudanya. Sedangkan Zhi Lan duduk di atas kudanya sambil tersenyum-senyum.

ZHI LAN

Jangan salahkan aku, aku sudah memperingatkan.

Ucapan Zhi Lan bukan omong kosong. Tantri bukan sekedar pelayan yang mengikutinya kemana-mana. Bertubuh kekar, bertenaga besar, dan ilmu kanuragan yang mumpuni. Dengan mudah Tantri berhasil merobohkan lima perompak. Sedangkan lima lainnya berhadapan dengan prajurit Zhi Lan.

Zhi Lan turun dari kudanya berjalan memeriksa barang-barangnya di atas kereta para perompak. Masih terkunci. Zhi Lan tersenyum senang melanjutkan tontonan di depan matanya. 

CUT TO:

39. INT. KEDIAMAN SAUDAGAR ZHI – KAMAR ZHI LAN – MALAM

Larut malam. Kamar Zhi Lan tampak gelap saat pemiliknya tidak ada. Namun ada pergerakan di dalam kamar itu. Damar diam-diam menyelinap masuk ke kamar Zhi Lan. Tidak banyak barang di dalam kamar Zhi Lan. Jadi Damar bisa menemukan barang yang dicari dengan mudah. Peti yang didapatkan Zhi Lan dari bepergian.

Damar menarik peti yang berada di bawah meja. Peti itu tidak terkunci. Damar pun membuka dan memeriksa. Peti itu berisi botol-botol kayu berukuran besar, sedang, dan kecil. Botol kayu kecil menarik perhatian Damar. Dia memungutnya dan dalam remang-remang dia melihat tanda silang pada botol.

DAMAR

Racun.

Damar mengetahui dari tandanya. Dia segera mengembalikan botol dan menutup kembali peti itu. Berencana keluar tetapi sesuatu yang lain menahannya. Sebuah rak yang bersandar di dinding yang menyimpan banyak lembar catatan dan buku.

Damar yang penasaran memeriksa satu per satu. Lalu terhenti pada sebuah catatan yang sangat menarik perhatiannya.

DAMAR

Akupuntur?

CUT TO:


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar