PATRIOT
10. Bagian tanpa judul #10
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

ACT - 10

FADE IN

EXT - HUTAN - SIANG

RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)

(Action Lines: Nani Wartabone berdiskusi dengan tokoh-tokoh pemuda Suwawa di gubuk tani miliknya) kepulangan Abdullah Wartabone ke Suwawa membawa berita tentang hukuman mati yang diterima Ali Palalu dan Kasim membuat warga muda Suwawa marah. mereka mendukung tekad Abdullah Wartabone untuk menentang distribusi hasil bumi warga ke lumbung logistik tentara Jepang.


CUT TO:

EXT - KEBUN - SIANG

RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)

(Action Lines: perkelahian serdadu-serdadu Jepang di perkebunan menghadapi rakyat Suwawa yang marah. Terjadi pertikaian senjata. meski banyak warga yang tewas, namun tentara jepang berhasil diusir dari lahan-lahan warga) 20 Desember 1943... terjadi perlawanan warga terhadap Pasukan Pendudukan Jepang. Hukuman mati terhadap Ali Palalu dan Kasim di Limboto, berefek pada aksi protes warga Suwawa yang menolak menyerahkan hasil buminya kepada Jepang.


CUT TO:

INT - KANTOR ASISTEN RESIDEN - SIANG

RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)

(Action Lines: Laksamana Koso Yamada menggebrak meja dan memarahi seluruh pejabatnya. Dibelakangnya Kolonel Hanzo Hayashizaki hanya diam tak bereaksi, sementara para perwira Jepang menunduk diam ketakutan) Tentu aksi ini menerbitkan murka Guncho Kaishi yang memaksa kepada para perwiranya untuk bisa menarik hasil bumi warga.


CUT TO:

INT - KANTOR ASISTEN RESIDEN - SIANG

RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)

(Action Lines: Kolonel Hanzo Hayashizaki berdiskusi dengan Laksamana Koso Yamada) Markas Guncho Kaigin memutuskan untuk mengambil langkah frontal menghadapi perlawanan warga Suwawa.

CUT TO:

EXT - SAWAH - SIANG

RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)

(Action Lines: satu truk Tentara Jepang tiba di Suwawa langsung menuju tempat dimana Nani Wartabone bertani. mereka mengepung sawah itu dan membubarkan warga lainnya dengan tembakan gertakan. Nani Wartabone kemudian digiring menuju Truk dan kendaraan itu bergerak pergi) 25 Desember 1943, Abdullah ditangkap dengan dakwaan sebagai provokator yang menimbulkan perlawanan warga terhadap Kekuasaan Guncho Kaigin di Gorontalo.


CUT TO:

INT - KANTOR ASISTEN RESIDEN - MALAM

RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)

(Action Lines: Nani Wartabone mengalami penyiksaan di ruang tahanan dalam kantor asisten residen. Kusno Danupoyo, A.R. Ointoe dan Oesman Monoarfa diinterogasi diiringi bentakan-bentakan kasar oleh serdadu Jepang) setelah mengalami intimidasi begitu rupa, pucuk pimpinan PPPG kemudian di kirim ke Manado pada akhir bulan Desember 1943.


FADE OUT

CUT TO:

FADE IN


EXT - HUTAN TILONGKABILA - SIANG (FEBRUARI 1944)

Ridwan Mantulangi mengenakan mantel Daun Woka, bertelanjang dada dan hanya bercelana pendek. dipinggang yang diikat sabuk kopel gaya belanda terdapat sebilah aliyawo yang tersarung. rambut diurai panjang. disisinya, sang istri Mariati mengenakan pakaian amat sederhana sedang memintal tikar.

RIDWAN MANTULANGI

(mengamati keadaan sekitar) entah berapa lama kita disini, (menatap Mariati) aku bahkan sudah lupa nama-nama hari.


MARIATI MOLUADU

(tertawa sambil memintal tikar) kamu merindukan kampung dan kebun kita? (menatap Ridwan) mungkin, kebun sudah menjadi rimbun karena tidak disiangi. (menerawang) atau... mungkin sudah gundul karena seluruh tanamannya sudah dibawa Jepang ke kota.


RIDWAN MANTULANGI

(menatap Mariati) Suhaib sampai sekarang belum menghubungi kita. (menatapi sekitarnya) aku malah kuatir, dia ditangkap tentara Jepang, atau...


MARIATI MOLUADU

(mendecak dan mendesis) Ck... Ssssh... jangan pernah terpikir ingatan jelek itu dari kepalamu. Suhaib bukan lelaki yang gampang ditundukkan Jepang. (mengamati sekitar) dia seorang raja! (menatap Ridwan) Jepang tidak akan berani menyentuhnya.


RIDWAN MANTULANGI

(menatapi Mariati) semoga saja begitu. (kembali menatapi sekitar, waspada) aku hanya kuatir saja. bagaimanapun dia menyuruh kita kesini untuk menyelamatkan diri, tanpa memikirkan dirinya sendiri.


MARIATI MOLUADU

(terus memintal tikar) kalau dia ikut dengan kita kesini, siapa yang memerintah di Leda-leda? apa kamu pikir, Muslih secakap Suhaib dalam memimpin warga Suwawa? (menatap Ridwan) meski aku sendiri anggota keluarga kerajaan, tidak serta merta bisa mengambil alih tampuk kepemimpinan tanpa persetujuan Bantayo Poboide.


RIDWAN MANTULANGI

(Menatap Mariati lalu tersenyum dan mengolok) kok bicaramu malah berujung pada penyerahan kepemimpinan? apa kamu ingin jadi penguasa?


MARIATI MOLUADU

(tertawa dan melempar tikar kepada Ridwan) berhenti mengejekku!


RIDWAN MANTULANGI

(tertawa dan mengembalikan tikar yang dipintal pada Mariati) hei, kau yang memulainya.


canda mereka berdua terhenti saat melihat satu orang suku polahi muncul membawa tombak. Ridwan menegakkan tubuh. lelaki polahi itu berhenti dihadapan mereka berdua.


RIDWAN MANTULANGI

(menatap lelaki polahi) Habari wolo u lotowanga mayi?[1]


LELAKI POLAHI

(menegakkan lembing) Ti Wombua mopotalungo'o oleliyo![2]


Ridwan Mantulangi menatap Mariati. Perempuan itu mengangguk dan mengulurkan tangannya. Ridwan menggapai tangan Mariati dan membantunya bangkit. Mariati memungut tikar. dua laki-bini itu mengikuti si lelaki polahi meninggalkan tempat itu. mereka bertiga menyusuri hutan sampai akhirnya tiba di perkampungan polahi.


CUT TO:

EXT - HALAMAN RUMAH - SIANG

lelaki tua duduk di tangga dari rumah panggung sederhana. beberapa polahi bersenjata lembing berdiri disisi tangga dan sebagiannya berdiri dipinggir pohon. yang perempuan sebagiannya berada di serambi rumah panggung, melongokkan kepala dari pintu.


LELAKI POLAHI

(menunjuk seorang lelaki tua yang duduk di tangga rumah panggung)


RIDWAN MANTULANGI & MARIATI MOLUADU

(Ridwab mengangguk dan meraih pergelangan tangan Mariati, mendatangi lelaki tua yang duduk di tangga halaman rumah. mereka berdua tiba di tangga dan Mariati duduk bersimpuh sementara Ridwan duduk berlutut) Ami dulota ma ledungga motitalu ode oli'o.[3]


KEPALA SUKU

(duduk ditangga rumah, merokok sejenak sambil menatap Ridwan setelah itu menghembuskan asapnya) Hufff... Ridwan, Wawani woluwo habari udi mopona'o odili, (merokok lagi kemudian menghembuskan napas) Kempeitai ma wunggula olongiya lo Suwawa.[4]


RIDWAN MANTULANGI

(terhenyak kaget dan bangkit lalu menatap Mariati)


MARIATI MOLUADU

(bertanya dengan cemas) Wombua, Wololo timongoliyo mowali mohe'upo tito?[5]


KEPALA SUKU

(menghela napas panjang dan menghembuskannya, wajah terlihat prihatin) Tiyo ma lotuhutiyala li tamiyati dila motaheto to Japangi (merokok lagi dan menghembuskan asapnya) hufff... Satiya, tiyo wolu to tutupa u wolu to Siendeng.[6]


RIDWAN MANTULANGI

(maju selangkah didepan Wombua) Woluwo lo ta ohuyi lonto li Olongia?[7]


KEPALA SUKU

(meraih sesuatu dibalik sabuk tali dan mengeluarkan gulungan kertas. benda itu disodorkan kepada Ridwan Mantulangi)


RIDWAN MANTULANGI

(menerima kertas dari kepala suku, membuka kertas yang tergulung kemudian membacanya sejenak, setelah itu meremas dan menjatuhkan kertas itu ke tanah) Uwito, tawu-tawu kodo boyito musi mopo'onto a'ajari! (menggeram kemudian menatap kepala suku)[8]


KEPALA SUKU

(mencondongkan wajah ke depan) "Wolo u tuladu to kertas boyito? Wolo bahasa liyo, wau diila ohama (tersenyum)[9]


RIDWAN MANTULANGI

(menatap kepala suku) Tuwawu ulu'u lo tantara lo japangi ma mo'otilihutayita hu'oyabu botiya, mohe to ito... alanto polopiyalo.[10]


CUT

CONTINUE.


[1] Terjemahan: berita apa yang kau bawa?

[2] Terjemahan : Wombua menyuruhmu menghadap!

[3] Terjemahan: kami berdua datang menghadap.

[4] Terjemahan: Ridwan, ada kabar yang tidak menyenangkan untukmu. Kempeitai telah menangkap Raja Suwawa.

[5] Terjemahan: Wombua, bagaimana mereka bisa menangkapnya?

[6] terjemahan: mereka menuduhnya sebagai provokator, dan sekarang dia mendekam di Penjara Siendeng.

[7] terjemahan: adakah pesan yang beliau sampaikan?

[8] Terjemahan: kelihatannya, orang-orang pendek itu harus diberi pelajaran.

[9] Terjemahan: apa yang tertulis disana? bahasanya tak kumengerti.

[10] Terjemahan: seregu pasukan Jepang akan memasuki hutan ini untuk mencari kita, untuk dihabisi.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)