ACT-6
EXT - HALAMAN DEPAN LEDA-LEDA (BANGIO/ PINOGU) - PAGI JAM 10 (20 FEBRUARI 1942)
Suhaib Mooduto sedang melatih gerakan-gerakan langga di halaman. Tak lama kemudian datang Ridwan Mantulangi. Tiba-tiba Ridwan Mantulangi menerjang dan keduanya terlibat silat tanding memperlihatkan kemahiran melalui penggunakan konsep pemanfaatan arah dan tenaga lawan untuk menyerang balik yang dikenal dengan istilah Totame Ma Ui Tolo PopaIa. Sampai akhirnya, Suhaib Mooduto berhasil mengunci gerakan dari Ridwan mantulangi.
RIDWAN MANTULANGI
(meringis) aisshh... ohh... sudah, sudahlah Suhaib... lepaskan jepitanmu! aku menyerah!
SUHAIB MOODUTO
(tertawa lalu melepaskan jepitannya) hahaha... Ridwan, kelihatannya gerakan-gerakan Mauba[1] yang kau praktikkan itu sudah mulai tumpul! (mengolok)
RIDWAN MANTULANGI
(meringis dan memijat-mijat pergelangan tangan) ah, aku belum menggunakan teknik Longgo.[2] Sombong sekali kau akhir-akhir ini (menyindir Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
Oh ya? (mencondongkan tubuh ke depan Ridwan) bagaimana kalau kita bermain Tongkade[3] saja? (menggoda) aku ingin lihat bagaimana kamu menangkis seranganku.
RIDWAN MANTULANGI
(memelototi Suhaib) dan membuat adik sepupumu menjadi janda? kemana otak bijakmu sebagai Olongia lo Tuwawa itu? (menunjuk pelipisnya)
SUHAIB MOODUTO
(tertawa lepas) hahahaha... (manggut-manggut) baiklah, aku tak akan menggodamu lagi. (menatap Ridwan) ayo duduk! (menunjuk empat buah batu datar dan sebuah meja batu di halaman yang dilindungi oleh pohon Gupasa.)[4]
keduanya kemudian duduk di kursi batu itu. Ridwan Mantulangi mengipas-ngipas kain baju. Tak lama kemudian muncul dua pelayan mengenakan pakaian tradisional biasa namun sanggulnya diberi sunting. pelayan itu membawa nampan berisi buah Durian Hungayono[5] yang sudah dibelah dan beberapa rumpun buah Malahengo[6] matang. nampan itu diletakkan di meja batu. pelayan satunya meletakkan botol panjang berisi air bening dan mug seng lalu meletakkannya di meja batu itu.
SUHAIB MOODUTO
(menatapi dua pelayannya dan tersenyum lembut) Odu'olo, silahaliku muli ode wolanto.[7]
dua pelayan itu membungkuk santun lalu berbalik meninggalkan tempat itu. Ridwan Mantulangi menatapi punggung kedua pelayan itu. Suhaib Mooduto mengibaskan tangannya ke wajah Ridwan membuat lelaki itu terhenyak dan lekas menghindar.
SUHAIB MOODUTO
(mengolok) ey, Wolo-wololo lo u'uliyamu botiya, jagali ma'o! (tertawa lepas lalu menggoda lagi) Tanggulo mola odelo ti Maryati moputolo dio![8]
RIDWAN MANTULANGI
(mendecak) Ck... wawu'u dila mowali mo'odito, dila odi wawu'u li̒amu![9] (meraih botol dan menuangkan isinya ke mug kemudian meneguknya cepat)
SUHAIB MOODUTO
(merengkahkan kulit durian dan mengambil dagingnya) mau tahu kabar baru?
RIDWAN MANTULANGI
(ikut mengambil daging buah durian lalu memakannya, sambil menatap Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
(mengerling kepada Ridwan) kamu ingat pembicaraan kita di tangga pintu kantor pos? (melahap daging durian dan mengunyahnya).
RIDWAN MANTULANGI
(tersenyum sambil mengunyah lalu manggut-manggut)
SUHAIB MOODUTO
(menjilati jemari tangannya, berdecap-decap sejenak lalu menatapi Ridwan) ketika Meneer Jansen Korn mendengar berita dari Residen Schilmöller[10] tentang invasi Tentara Kapek[11] di Manado 11 Januari kemarin, maka Meneer Korn, Meneer D'Ancona dan Hoofdcommisaris Couper sepakat melakukan pembumihangusan Kota Gorontalo.
RIDWAN MANTULANGI
(mencomot sebiji buah Malahengo kemudian melahapnya) kapan kalian mengetahuinya? (bertanya sambil mengunyah)
SUHAIB MOODUTO
(menegakkan tubuh sejenak) Tanggal 15 Januari, (menoleh ke arah lain) Pak Pendang yang kasih tahu (menatap lagi ke arah Ridwan) sama Pak Nani di rumah rapat mereka di Ipilo. (mencomot lagi daging durian) Pak Nani langsung mengintruksikan Pak Ibrahim Mohammad untuk memata-matai aktivitas havenmeester di Pelabuhan Kota (melahap daging durian dan mengunyahnya lalu mengeluarkan bijinya dari mulut, meletakkannya di piring)
RIDWAN MANTULANGI
(mendecap-decap sejenak sambil menatap arah lain, lalu menatapi Suhaib) kenapa operasi bumi hangus itu nanti dilaksanakan tanggal 22 Januari?
SUHAIB MOODUTO
(tertawa dan manggut-manggut) Abdullah[12] mendatangi Meneer Korn dan mengancamnya untuk tidak melakukan hal itu. Kelihatannya ketiga pejabat itu juga menunggu kabar dari Manado tentang kepastian pasukan Kapek menduduki wilayah itu. (mencondongkan tubuh ke depan dan tersenyum lebar) dan semuanya baru dilaksanakan pada tanggal 22 Januari.
RIDWAN MANTULANGI
(manggut-manggut) dan kita langsung menguasai kota lalu memerdekakan diri. (menerawangi langit) kelihatannya para pejabat PPPG butuh dana banyak untuk membangun kembali gudang-gudang kopra yang dibakar orang-orang Hollandia itu. (menatap Suhaib) sudah sejauhmana mereka melakukan programnya?
SUHAIB MOODUTO
(menegakkan tubuh dan mengangkat bahu) entahlah, paska kemerdekaan 23 Januari itu, aku pulang ke sini dan belum pernah sekalipun mendapat panggilan menghadap ke kantor residen. Jadi, aku tidak tahu apapun tentang hal itu, (mencondongkan diri ke depan) tapi yang jelas, tentara-tentara Kapek menguasai seluruh Minahasa dan kabarnya, satu kapal kargo penuh bersama dua kapal perusak mereka akan tiba di Pelabuhan Kwandang beberapa hari nanti.
RIDWAN MANTULANGI
(mencondongkan diri ke depan) berarti, kita harus bersiap-siap lagi mengangkat senjata.
SUHAIB MOODUTO
(menegakkan diri dan menggeleng) jangan dulu. belum ada perintah dari Abdullah. Kita harus melihat bagaimana sikap dan perilaku orang-orang Kapek itu.
RIDWAN MANTULANGI
(terkekeh dan menatap sinis pada Suhaib) hehehe... kau yakin kalau orang-orang Kapek itu akan bersikap baik pada kita?
SUHAIB MOODUTO
(terkekeh) jangan menjebakku dengan pertanyaan itu. (menatap ke arah lain) Kita tidak bisa mengecap perilaku bangsa lain sebelum mengenal siapa mereka sesungguhnya.
RIDWAN MANTULANGI
(meraih teko dan menuangkan isinya di gelas) bagiku, apakah orang Hollandia ataupun orang Kapek, sama saja! mereka itu penjajah (meminum isi gelas dan meletakkan gelas itu di meja lalu menatap Suhaib) siapapun yang datang membawa senjata itu hakikatnya adalah perampok, meski mereka datang dengan maksud baik.
SUHAIB MOODUTO
(manggut-manggut) semoga saja mereka tidak seperti orang-orang Hollandia itu.
RIDWAN MANTULANGI
(tersenyum miring dan menatap arah lain) heh... semoga saja.
CUT
CONTINUE
[1] Gaya silat Langga yang dimainkan khusus oleh laki-laki.
[2] Bagian dari Langga yang menggunakan senjata tajam.
[3] Seni pertarungan menggunakan pisau/ badik dalam sarung.
[4] Vitex cofassus.
[5] Durio sp.
[6] Buahnya berbentuk seperti anggur, berwarna hitam saat masak, dan memiliki rasa yang manis
[7] Terjemahan: terima kasih, silahkan kembali ke tempatmu.
[8] Terjemahan: mata tuh dijaga! hati-hati kepergok Maryati, bisa dihabisi kau!
[9] Terjemahan: dia nggak bakal cemburu, nggak kayak istrimu!
[10] Resident Belanda B.F. A. Schilmöller
[11] sebutan untuk tentara Jepang dalam istilah Gorontalo
[12] nama lain dari Nani Wartabone.