ACT - 7
FADE IN
EXT - PELABUHAN MOLUO (KWANDANG) - SIANG (05 MARET 1942)
RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)
(Action Lines: Kapal yang membawa Pasukan Jepang yang dipimpin Laksamana Muda Koso Yamada tiba di Pelabuhan Moluo/ Kwandang) Siang Tanggal 05 Maret 1942, Tentara Pendudukan Jepang tiba di Pelabuhan Moluo
CUT TO:
EXT - PELABUHAN MOLUO (KWANDANG) - SIANG
(Action Lines: Laksamana Muda Koso Yamada turun dari kapal, disambut Nani Wartabone yang berdiri di dermaga. dibelakang Nani Wartabone, nampak para petinggi PPPG) pimpinannya adalah seorang perwira berpangkat Laksamana Muda, bernama Koso Yamada yang mendapat mandat langsung dari Laksamana Madya Shigeru Fukudome untuk menguasai wilayah Afdeling Gorontalo.
CUT TO:
INT - RUANG KANTOR ASISTEN RESIDEN - PAGI
(Action Lines: Para perwira Jepang sedang mengadakan pertemuan dengan para petinggi PPPG di kantor asisten residen) mengaku sebagai saudara tua dengan semboyan Nippon adalah Cahaya, dan pelindung serta pemimpin Asia, mereka diterima dengan baik oleh para pejabat PPPG dalam rangka memajukan negeri U Duluo Limo lo Pohala'a. Semoga saja, maksud mereka baik.
FADE OUT
CUT TO:
FADE IN
EXT - KEBUN DI TABULITI (SUWAWA) - SIANG (10 MARET 1942)
Ridwan Mantulangi sedang membersihkan tanaman-tanaman gulma yang tumbuh di pagar hidup (pepohonan kapuk) di pinggir kebun. Mariati Moluadu muncul membawa bekal dan tiba di dangau. perempuan itu melihat suaminya yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
MARIATI MOLUADU
(menatap Ridwan dan berseru) Monao mai, pasahata mola pe'i lo ruputi boyito. (menatap makanan dalam bakul) Boliya_u mayi mayilohiya monga lo hulalo u mola ode olemu.[1]
RIDWAN MANTULANGI
(menoleh ke arah Mariati, kemudian menegakkan tubuh dan melangkah mendekat sambil sesekali menyeka peluh menggunakan lengan bajunya. Tiba di dangau lalu melongok ke bakul, melihat makan siangnya. Tersenyum dan manggut-manggut)
MARIATI MOLUADU
(bergeser sedikit memberi Ridwan tempat untuk duduk) Wonu u tilunggata, wolu pitu ta kapek pake seragam, mo na'o to rasipede. (mengeluarkan makan siang dari bakul dan menatanya di tikar) Herani wau, timongoliyo ohu'u-hu'u to lipu (menatap Ridwan).[2]
RIDWAN MANTULANGI
Timongoliyo pombiluwo to yiloduwola (menyendok nasi dan meletakkan ke daun pisang) Dulu, polisiyala lo Hollandia ta hemo'onto ronda (menyendok lauk dan meletakkannya ke daun pisang lalu mengangkat wadah itu) Bo alihu ngota-ngota dulo, caraliyo to odito olo (mulai makan).[3]
MARIATI MOLUADU
(memelototkan mata dan mencondongkan tubuh kepada Ridwan) Kekeo-keu, timongoliyo ma mololohe mayi ma mopolola'i olanto mowali toli-toli u'ulio to zaman lo Bala'a?[4]
RIDWAN MANTULANGI
(mengerling sejenak kepada Mariati, lalu kembali makan sambil bicara) Jangan sembarangan bicara. (menunjuk makanan yang terhampar di tikar dengan dagunya) itu makanan, habiskanlah.
MARIATI MOLUADU
(mencondong kepada suaminya) Ridwan, aku punya firasat buruk tentang ini. Kemarin, pimpinan tentara itu menemui Podu[5] bertanya ini dan itu. Podu menjawab semua pertanyaan mereka.
RIDWAN MANTULANGI
(mengerling kepada istrinya) apakah orang Jepang itu tahu berbahasa Indonesia? (makan kembali)
MARIATI MOLUADU
(mengangguk) ya, meski patah-patah (menoleh ke arah pintu pagar kebun) Podu Hasan bilang, semua penghidupan warga kita paling banyak berkebun dan bertani. orang-orang Jepang itu manggut-manggut kemudian pamit.
RIDWAN MANTULANGI
(manggut-manggut) nanti aku tanyakan pada Hasan, apa saja yang dibicarakan dengan orang-orang Jepang itu (makan kembali)
FADE OUT
CUT TO:
FADE IN
INT - SERAMBI RUMAH - MALAM
ada beberapa warga yang berkumpul di serambi kediaman itu. nampak kepala dusun duduk juga disana.
HASAN WADIPULU
(menatap seluruh warga) seperti itulah yang dikatakan oleh pimpinan mereka. (menghela napas dan menghembuskan dengan kasar lalu duduk)
MUSLIH MOLUADU
(duduk, mengangkat kaki kanannya ke atas, menautkan alis) jika memang begitu, mengapa kamu tidak berbohong sedikit? apa kamu pikir, tentara-tentara bermata sipit itu akan memberikan kita sedikit saja? aku bertaruh... (menatap para warga) seperti Desahoofd yang menargetkan kita sebagai bahan perahan ekonomi. Mereka akan menjadikan kita sebagai budak ditanah kita sendiri!
HASAN WADIPULU
(membantah) jangan terlalu curiga kepada mereka, Muslih. (berdiri lagi menatap para warga desa) mongutata-mongodula'a, Kapten Serizawa sudah bilang, sebagai pemimpin Asia... mereka punya kewajiban juga mempertahankan negeri kita, dan cara kita untuk menghargai perjuangan mereka adalah dengan memberikan hasil bumi kita kepada mereka, iya kan?
RIDWAN MANTULANGI
(mendengus) huh, tahu dari mana kamu, jika mereka benar-benar berjuang untuk kita? (mengeling tajam kepada Hasan Wadipulu)
HASAN WADIPULU
(menepuk dada) aku yang menjamin. Antara aku dengan Kapten Serizawa sudah ada kata sepakat kalau kita akan menyerahkan hasil bumi kita jika mereka mau bahu membahu bersama kita untuk mempertahankan tanah air kita dari kafir-kafir Hollandia itu. (menatap para warga) percayalah padaku!
para warga saling tatap dan mulai kasak-kusuk. Muslih Moluadu mengamati semua warga yang berkumpul, kemudian menatap Ridwan Mantulangi yang masih menatap tajam kepada Hasan Wadipulu.
MUSLIH MOLUADU
(menghela napas dan menghembuskan napas) hehhh... baiklah, Hasan. karena kamu Podu yang kami percayakan mengurus podukuhan ini, maka aku secara pribadi percaya padamu. tinggal bagaimana kamu bisa membuat warga lain percaya. (bangkit dari kursi) terus-terang, saya hanya mengungkapkan kekuatiran saya (menatap para warga) ingat dulu, ketika Portugis dan orang-orang Hollandia itu tiba di tanah ini.
semua warga terdiam. Muslih Moluadu kemudian pergi meninggalkan kerumunan itu. Ridwan Mantulangi ikut bangkit dan pergi menyusul Muslih. Para warga saling kasak-kusuk lagi. ada beberapa orang yang ingin bicara kepada Hasan, namun Hasan hanya mengangkat tangan kanannya lalu manggut-manggut sambil menutup mata. Hasan menatap punggung dua orang yang telah pergi meninggalkan tempat tersebut.
FADE OUT
CUT
(CONTINUED)
[1] terjemahan: kemarilah, sudahilah menyaingi gulma itu. ini ada makan siang untukmu.
[2] Terjemahan: tadi siang, kulihat tentara jepang. aku heran, mengapa mereka hilir-mudik di kampung?
[3] Terjemahan: mereka lagi ronda kayaknya. Kan dulu, orang-orang Belanda yang melakukannya. hanya orangnya yang berganti, tapi sistemnya tetap sama.
[4] Terjemahan: jangan-jangan mereka mau menjajah kita seperti jaman dulu?
[5] kepala dusun