ACT - 9
INT - LEDA-LEDA KEDIAMAN MOODUTO - MALAM
Suhaib Mooduto duduk merokok nipah bersama dengan Ridwan Mantulangi di balairung Leda-leda. Suhaib Mooduto mengenakan pakaian khas bangsawan Suwawa (destar paluwala dikepala, kemeja wastra karawo hitam dan celana hitam, diikat dengan kain sarung, dan sebilah keris melayu tersampir di pinggang) sementara Ridwan Mantulangi hanya mengenakan kain lengan panjang tanpa kancing, membuka memperlihatkan dada dan perutnya yang berotot, celana yang diikat dengan kain sarung dan selempang kulit yang mengikat sebilah aliyawo tersampir dibahu kanan)
SUHAIB MOODUTO
(memicingkan mata, menyesap asap rokok lalu menghembuskannya, memandang ke depan) sudah sejak lama aku mengamati mereka. Aku sendiri menyangsikan kalimat-kalimat harapan yang pernah diucapkan Abdullah Wartabone, ketika dia dan para petinggi PPPG itu hendak ke Kwandang, menyambut tentara Jepang (lalu menatap Ridwan Mantulangi)
RIDWAN MANTULANGI
(menatap Suhaib Mooduto) memangnya, apa yang dibilang Nani sama kamu? (merokok lagi lalu menghembuskan asapnya)
SUHAIB MOODUTO
(tersenyum menekuri asbak lalu merokok dan meletakkan sisa puntung di asbak) Abdullah bilang, orang-orang Kapek itu tidak sama dengan bule-bule Hollandia itu. (mengangkat alis, mengangkat wajah dan menatap Ridwan lagi) mereka bukan orang rasialis yang menganggap inlander macam kita sebagai kelas-kelas budak. (menatap ke depan pintu) lagipula, mereka sama-sama orang Asia. tidak mungkin memperbudak saudaranya sendiri... (menatap Ridwan Mantulangi)
RIDWAN MANTULANGI
(mendengus lalu merokok dan meletakkan puntung nipah ke asbak kemudian menatap Suhaib Mooduto) tapi, kau dengar sendiri bagaimana penuturan sepupumu itu, kan?
SUHAIB MOODUTO
(mendengus) mereka belum tahu, siapa yang mereka hadapi. orang-orang Kapek itu kelihatannya mulai menampakkan wajah aslinya. (memicingkan mata) mata keranjang, haus rasa hormat, tidak punya adab...
RIDWAN MANTULANGI
(mendengus) kuharap, Nani juga punya pendapat yang sama denganmu (menoleh menatap pintu) saat ini, aku jadi target pengejaran mereka. kami sementara tidak bisa menetap di Tabuditi. (menatap Suhaib) maaf jika kami sudah merepotkanmu.
SUHAIB MOODUTO
(terkekeh dan menggeleng-geleng) untuk apa kamu meminta maaf? (menatap Ridwan Mantulangi) kamu itu membela harkat dan martabatmu, juga martabat keluarga kerajaan! (menampar pelan bahu Ridwan) kamu sudah membelaku dan keluargaku! sudah sepatutnya kami melindungimu disini (bangkit)
RIDWAN MANTULANGI
(ikut bangkit dan menatap Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
(menghela napas lalu mendengus) tunggu besok hari, aku mau melihat apa yang mau dilakukan oleh orang-orang Kapek itu (terkekeh)
FADE OUT
CUT TO:
FADE IN
EXT - LEDA-LEDA KEDIAMAN MOODUTO - SIANG JAM 2.
Muslih Moluadu berjalan tergopoh-gopoh menyusuri jalanan setapak. sesekali dia mengawasi keadaan sekitar. akhirnya Muslih Moluadu itu tiba di halaman leda-leda mendapati Ridwan disana.
RIDWAN MANTULANGI
(menatap Muslih yang baru muncul) kamu? (mendatangi Muslih) ada apa?
MUSLIH MOLUADU
(menggandeng lengan Ridwan) nggak ada waktu! mana si Olongia? (mengajak Ridwan masuk ke leda-leda)
RIDWAN MANTULANGI
(berjalan mengiringi Muslih) ada didalam. Kenapa?
MUSLIH MOLUADU
(menggeleng dan tetap menggandeng Ridwan masuk ke Leda-leda. disana keduanya bertemu dengan Suhaib yang duduk di dampar tahtanya, membaca sebuah dokumen).
INT - RUANG BALAIRUNG - SIANG jam 2.10
SUHAIB MOODUTO
(menatap Muslih) kau? kenapa langkahmu tergesa-gesa? (meletakkan dokumen di meja)
MUSLIH MOLUADU
(berdiri dan melakukan hormat khas gaya kerajaan) Mohile ambungu wawu mohile maapu, Olongia. Watia motohawa habari u diila o'senangi.[1]
SUHAIB MOODUTO
(menunjuk kursi) Toduollo motihuloo.[2]
MUSLIH MOLUADU
(duduk di kursi lalu menyeka peluhnya dan menatap Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
(menatap Muslih) De, loloiya mayi ode ola-u̒, pohlutata-u̒. Habari uulio wolo u yio lito?[3]
MUSLIH MOLUADU
(menatap sejenak kepada Ridwan lalu menatap lagi pada Suhaib) pagi, jam 9 tadi. Podu Hasan mengumpulkan kami di halaman rumahnya. disana ada Kapten Serizawa, dan... pimpinan Kempetai, Kolonel Hanzo Hayashizaki (menatap nanar kepada Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
(menatap Ridwan sejenak lalu menatap Muslih) ya, kenapa dengan mereka?
MUSLIH MOLUADU
(memperbaiki deru napasnya lalu menarik napas panjang) Kolonel Hanzo mengumumkan bahwa mulai saat ini dan seterusnya, para pejabat PPPG di Suwawa sekarang dilarang mengibarkan bendera Merah-Putih di halaman kantor desa, termasuk di rumah-rumah warga!
SUHAIB MOODUTO DAN RIDWAN MANTULANGI
(terkejut dan saling tatap lalu kembali menatap Muslih)
MUSLIH MOLUADU
Sebentar lagi, mereka akan mendatangi anda, Paduka! (lalu menatap Ridwan) dan kau, segeralah pergi dari sini. Mereka sudah berniat menangkap kalian dua laki-bini!
RIDWAN MANTULANGI
(mendengus) aku tidak akan lari!
SUHAIB MOODUTO
(menggeleng) tidak, Ridwan (menatap Ridwan) yang dibilang Muslih itu benar!
RIDWAN MANTULANGI
(protes) tapi...
SUHAIB MOODUTO
(mengangkat tangan, meminta Ridwan untuk tidak memprotes, kemudian menatap Muslih) mengapa mereka mau mendatangi Bangio? (mengerutkan alis)
MUSLIH MOLUADU
meminta, lebih tepatnya memaksa anda dan keluarga agar mematuhi perintah mereka, Paduka!
SUHAIB MOODUTO
(mendengus) kita lihat saja nanti (lalu menatap Ridwan) kau dan Mariati, pergilah ke Buido Lompoto'o,[4] bergabunglah dengan para polahi[5] disana dan tunggu berita dariku!
RIDWAN MANTULANGI
(mendengus) dan kau sendiri? apa kau pikir aku tenang berada disana sedangkan kalian disini menghadapi mereka? (melengos) aku tak akan pergi! biar Mariati saja yang kesana! (menatap Suhaib) biarkan aku disini, membantumu!
SUHAIB MOODUTO
(mendecak kesal) jangan keras kepala dulu, Ridwan. Ta'atilah perintahku dulu! (menampar bahu Ridwan) ingat! jangan pernah turun gunung, sebelum ada pesanku yang tiba padamu! paham?
RIDWAN MANTULANGI
(mendengus lalu melengos) terserah kamu sajalah! (melipat tangan didada)
SUHAIB MOODUTO
(terkekeh dan geleng-geleng kepala lalu menatap Muslih) kamu, dampingi aku disini! kita nantikan kedatangan mereka!
MUSLIH MOLUADU
(mengangguk sigap dan melakukan penghormatan gaya kerajaan)
FADE OUT
CUT TO:
FADE IN
EXT - HUTAN GUNUNG TILONG KABILA - SIANG
RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)
(Action Lines: Pertemuan Ridwan dan Mariati dengan kepala suku polahi dan mereka dijamu oleh suku pedalaman itu) sesuai kesepakatan, aku terpaksa melarikan diri ke Buido Lompoto'o untuk menghindari kejaran tentara Jepang.
CUT TO:
INT - LEDA-LEDA KEDIAMAN MOODUTO - SORE JAM 4
(Action Lines: Kapten Serizawa bersama dua puluh orang tentara Jepang dibawa oleh Hasan Wadipulu, menemui Suhaib Mooduto di Leda-leda. mereka disambut dan dipersilahkan duduk kemudian Suhaib Mooduto berdiskusi dengan mereka) sementara Olongia Suwawa yang sekaligus saudara iparku, pasang badan menghadapi arogansi tentara Kapek itu. Aku berharap, Suhaib bisa membuat lelaki-lelaki sipit berkulit kuning hangus itu tidak memaksakan kehendak gilanya di tanah Suwawa ini.
CUT TO:
EXT - JALAN SETAPAK- SIANG
RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)
(Action Lines: Ali Palalu dan Kasim yang mendorong gerobak berisi hasil kebun, bertemu dengan sepasukan Tentara Jepang. terjadi pertengkaran berujung pada pertikaian senjata yang menewaskan beberapa anggota tentara Jepang).
Maret, 1943... Tentara Kependudukan Jepang menerbitkan perintah untuk mengumpulkan hasil bumi rakyat untuk keperluan Perang Asia Timur Raya. perintah itu langsung direspon dengan perlawanan oleh rakyat secara terang-terangan dengan menyembunyikan hasil bumi mereka. Aksi perlawanan Ali Palalu dan Kasim, membuka mata para penjajah itu... bahwa rakyat Gorontalo, bukan seperti rakyat-rakyat Indonesia di belahan wilayah lain yang gampang ditaklukkan.
CUT TO:
EXT - LAPANGAN - SIANG
RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)
(Action Lines: Pelaksanaan hukuman mati terhadap Ali Palalu dan Kasim di alun-alun Kantor Jogugu Limboto) Pemerintahan Guncho Kaigi Gicho[6] tentu saja mengambil sikap keras dan menghukum setiap pelanggar hukum, namun hal ini memicu rekasi keras oleh Pejabat PPPG. (Action Lines: Nani Wartabone bertengkar dengan Laksamana Muda Koso Yamada di ruang kerja kantor asisten residen dan berupaya di lerai oleh Kusno Danupoyo dan Kolonel Hanzo Hayashizaki).
CUT TO
EXT - JALANAN - SIANG
RIDWAN MANTULANGI (VOICE OVER)
(Action Lines: Nani Wartabone mengendarai mobil, meninggalkan kantor asisten residen dan pulang ke desa Bube) sebagai Jogugu yang dipercayakan oleh rakyat Gorontalo, tentu saja, Abdullah Wartabone menolak dijadikan sebagai alat pemecah belah kesatuan rakyat. Beliau memilih meninggalkan kantor dan balik ke Desa Bube, melanjutkan kehidupannya sebagai petani.
FADE OUT
CUT
CONTINUE
[1] Terjemahan: mohon ampun dan maaf, Paduka Raja. saya datang membawa kabar yang tidak menyenangkan.
[2] Terjemahan: silahkan duduk.
[3] Terjemahan: nah, kabarkan padaku, wahai sepupu. kabar buruk apa yang kau bawa?
[4] nama lain dari Gunung Tilongkabila.
[5] suku pedalaman asli Gorontalo.
[6] Pimpinan Distrik (setara bupati) yang dijabat oleh orang jepang.