PATRIOT
2. ACT-2
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

ACT -2

FADE IN

EXT - LAPANGAN BULODAWA - MALAM JAM 11

Tiga ratus warga berkumpul di lapangan. Disana ada Pak Nani Wartabone (mengenakan seragam safari coklat dan celana kargo pendek, bersepatu lars dan mengenakan topi rimba serta menyandang senapan). Ridwan Mantulangi dan Suhaib Mooduto berada dibarisan warga yang berjumlah tiga ratus itu.


NANI WARTABONE

(menatap tajam satu persatu pemuda dibarisan depan) tentunya kalian sudah tahu mengapa kita berkumpul disini?


PARA PEMUDA

(saling tatap dan agak ribut. Ridwan Mantulangi menatapi Suhaib Mooduto yang balas menatapnya lalu mengangguk-anggukkan kepala saja meminta dengan isyarat agar Ridwan Mantulangi mendengarkan saja pidato itu)


NANI WARTABONE

(lantang bersuara) malam ini, kita disini akan melakukan aksi merebut kantor-kantor pemerintahan dan beberapa instalasi penting lainnya di Ipilo! Besok pagi, seluruh instalasi tersebut harus sudah bisa kita kuasai! (memelototi para pemuda) sebab tadi siang, keparat-keparat Hollandia itu, berani lancang membakar sembilan gudang kopra dan satu unit Kapal Kalolio,[1] padahal sudah kuperingatkan! bahkan ku ancam untuk jangan berani-berani merusak kekayaan rakyat! (mengacung-acungkan senapan)


PARA PEJUANG/ PEMUDA

(bersorak sorai terbakar semangat)


NANI WARTABONE

(mengacungkan senjata lagi) maka oleh karena itu, Mongutata-mongodulaa! kita bergerak ke kota hari ini! pasukan sudah harus tiba di kota pada pukul 4 pagi. Sasaran kita adalah rumah-rumah para pedagang Cina, Arab dan Kompleks perumahan Belanda di Taruna, Kantor Pos, Kantor Pemerintahan dan Rumah dinas Asisten residen.


SAMSUN ILAHUDU

(mengangkat tangan) kalau begitu, saya dan kelompok saya akan menyambangi Kampung Cina dan Arab di Kampung Biawao!


RAMLAN HASAN

Saya dan kawan-kawan akan menyusuri Sungai Bone dengan perahu sampai ke Leato dan mengamankan Kantor Polisi serta kampung belanda di Taruna!


NANI WARTABONE

(menatap Suhaib Mooduto) kalau begitu, kau bersama kelompokmu akan mengikutiku mengamankan kantor pos dan mengamankan wilayah sekitarnya. (menatapi semua pemuda) semua sudah siap? kita berangkat! merdeka!!!


PARA PEJUANG

(serentak meneriakkan merdeka kemudian membubarkan diri. Ramlan Hasan mengajak rekan-rekannya meninggalkan lapangan, sementara Nani Wartabone menyuruh Samsun Ilahudu untuk mengendarai sebuah truk dodge berkargo. lima puluh orang pemuda masuk ke dalam dan truk itu berangkat).


NANI WARTABONE

(menatap Suhaib Mooduto) Siapa saudaramu ini? (menatap Ridwan Mantulangi kemudian menyalaminya)


RIDWAN MANTULANGI

(menyalami Nani Wartabone) watiya, Ridwan Mantulangi, ipari lolai le Suhaib Mooduto.


NANI WARTABONE

(menatap Ridwan) siap berpartisipasi dalam aksi ini, Ridwan?


RIDWAN MANTULANGI

(berdiri tegak) sangat siap, Pak.


NANI WARTABONE

(menampar-nampar pundak Ridwan lalu menatapi Suhaib) Kalian berdua akan bersamaku langsung bergerak ke Kantor Pos (mengajak keduanya diikuti para pemuda lain ke sebuah truk dodge kargo satunya yang kosong).


pasukan dibawah pimpinan langsung Nani Wartabone, para pemuda yang menumpangi truk dodge itu bergerak meninggalkan Lapangan Boludawa, sementara lain mengikuti dengan menaiki sepeda ontel.

FADE OUT

CUT TO:

FADE IN

INT - RUANG DALAM KANTOR POS GORONTALO - TENGAH MALAM

Kepala Hoofdagent Staatspolitie, Rudolf Couper mondar-mandir memperdengarkan suara dekak sepatu pantofel hitamnya. Lelaki itu mengenakan kemeja putih berkerah tegak dan berlengan panjang dengan potongan formal dipadukan dengan celana panjang putih dan kaus kaki putih. Tongkat komando beberapa kali dipukul-pukulkannya ke telapak tangan. Wajahnya terlihat keruh.

Tak lama kemudian, seorang agen polisi mengenakan kemeja katun warna Khaki lengan panjang, dilengkapi dua saku dada berpenutup kancing. Celana katun khakinya panjang dimasukkan ke dalam puttees[2] dipadukan dengan sepatu bot setinggi mata kaki.


HOOFDAGENT STAATSPOLITIE 1

(menghadap kepada Rudolf Couper dan melakukan penghormatan) Guten Tag Hoofdinspecteur Ruud. (menurunkan tangan dan melapor) De heer Jansen Korn verzoekt u onmiddellig naar het kantoor van de assistent-resident te komen[3]


RUDOLF COUPER

(mengangguk) breng me daarheen!!![4]


agen polisi itu mengangguk dan mempersilahkan Rudolf Couper meninggalkan ruangan. Mereka berdua tiba dihalaman dan bertemu dengan Lambert D' ancona yang menjabat sebagai pimpinan pengendalian Afdeling Gorontalo.


LAMBERT D. ANCONA

(terperanjat) oh, Ruud... Toevallig zeg, dat we elkaar hier zien![5]


RUDOLF COUPER

(mengerutkan alis) Toeval? Wat denk je dan precies?[6] (sedikit bersikap waspada)


LAMBERT D' ANCONA

(menggeleng) Begrijp me niet verkeerd, Ik heb zojuist meneer Jansen Korn ontmoet.[7] (melangkah masuk)


RUDOLF COUPER

(mengejar Lambert kembali ke dalam ruangan) Hoe was je bijeenkomst met de assistent-resident? Zeg me![8]


LAMBERT D'ANCONA

(berhenti sejenak lalu berbalik menatap Rudolf) De heer Jansen ontving een bevel van F. Ch. Hirschmann in Manado. Wij moeten morgen over zee vertrekken.[9]


RUDOLF COUPER

(terlonjak kaget) Via zee? Wat plotseling![10]


LAMBERT D'ANCONA

(mengangguk dan tersenyum) Morgen, 23 januari 1942... Gorontalo zal veranderen in een zee van vuur.[11]


(CUT AND CONTINUED)


[1] kapal kargo

[2] kain lilit betis

[3] Terjemahan: Tuan Jansen Korn meminta anda untuk segera menghadap ke kantor asisten residen.

[4] Terjemahan: antarkan aku ke sana!

[5] Terjemahan: kebetulan, kita ketemu disini.

[6] terjemahan: kebetulan? memangnya apa yang kau pikirkan.

[7] terjemahan: jangan salah paham. aku baru saja bertemu dengan Jansen Korn.

[8] Terjemahan: bagaimana pertemuanmu dengan tuan asisten resident? katakan padaku.

[9] terjemahan: Asisten resident Jansen baru saja menerima perintah dari resident manado, F. Ch. Hirschmann di Manado. besok, kita bergerak lewat laut.

[10] Terjemahan: lewat laut? mendadak sekali!

[11] Terjemahan: besok, tanggal 23 Januari 1942... Gorontalo menjadi lautan api.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)