ACT - 8
FADE IN
INT - RUMAH KEDIAMAN - SIANG
Mariati sedang mempersiapkan makan siang untuk dibawa ke kebun.
EXT - HALAMAN - SIANG
Mariati keluar dari rumah membawa bekal makan siang ke kebun. Di halaman bertemu dengan seregu tentara Jepang bersepeda. salah satunya turun dari sepeda.
TENTARA JEPANG 1
(menyapa dan mendekat) aaa... Konnichiwa! (mengangkat tangan kanan keatas, menyapa) kamu perempuan lagi sedang apa? (tersenyum menggoda)
MARIATI MOLUADU
(membungkuk santun) saya mau ke kebun tuan, membawa makan siang untuk suami saya.
TENTARA JEPANG 1
(memelototkan mata sipitnya) suami? aaa... Chichi? kamu punya suami? (menatap ke bakul) ah, itu! itu, apa? (menatap Mariati)
EXT - JALAN - SIANG.
dijalan, para tentara jepang itu tertawa-tawa melihat rekannya menggoda Mariati.
Mariati mulai bersikap waspada dan mengamati seregu tentara Jepang yang tertawa-tawa mesum lalu menatap tentara Jepang yang hendak merogohkan tangan
EXT - HALAMAN - SIANG
MARIATI MOLUADU
(menarik bakul ke belakang) tuan mau apa? (mengernyitkan alis menatap tajam si tentara)
TENTARA JEPANG 1
(mendekat dan mencondongkan wajah) saya... hanya mau... rihat... (makin mendekatkan wajah dan bibirnya mulai membulat, bersikap hendak mencium)
MARIATI MOLUADU
(mundur selangkah ke belakang) tuan mau apa? jangan kurang ajar sama saya! (menegur, pelan tapi tegas, menatap tajam tentara itu)
TENTARA JEPANG 1
(menoleh ke arah teman-temannya yang tertawa-tawa lalu kembali menatap Mariati dan kembali menggoda) ayolah... biar makanan ini, saya yang habiskan.
MARIATI MOLUADU
(mundur lagi selangkah ke belakang) tuan, tolong pergilah dari sini. saya harus tiba di kebun! suami saya menunggu! (mengomel)
TENTARA JEPANG 1
(tersenyum mesum) tidak apa-apa. tak perru cari suamimu (mengulurkan tangan ke depan hendak menyentuh payudara)
dengan sigap, Mariati menampar tangan tentara Jepang itu hingga terkejut. Mariati langsung menghujamkan bakul makanan ke wajah tentara jepang itu lalu berbalik melarikan diri.
TENTARA JEPANG 1
(menggeram menatap bakul dalam genggamannya. lalu menatap Mariati yang melarikan diri) Chotto, (memanggil rekan-rekannya) kare o tsukamaete! Kare o tsukamaete! Geemu bakkari shite nai de[1]
regu tentara Jepang itu sontak turun dari sepeda dan mengejar Mariati sambil berteriak memaki-maki.
CUT TO:
EXT - HUTAN KECIL - SIANG
Mariati terus berlari-lari dan satu regu pasukan Jepang bersenjata senapan mengejar-ngejarnya sambil sesekali menembaki. Mariati jatuh bangun menghindari peluru lalu terus berlari menuju kebun suaminya.
CUT TO:
EXT - KEBUN (TABUDITI) - SIANG
Ridwan Mantulangi sementara sibuk memeriksa kebunnya, heran melihat Mariati muncul terengah-engah dengan wajah pucat ketakutan.
RIDWAN MANTULANGI
(menegakkan tubuh) Mariati? (mengamati wajah istrinya) kenapa kau pucat begitu? (mengamati arah dimana Mariati muncul)
MARIATI MOLUADU
(kembali berlari mendekati suaminya dan langsung bersembunyi dibalik punggung Ridwan sambil menatap waspada ke suatu arah dengan napas terengah-engah).
Ridwan Mantulangi keheranan dan beberapa saat kemudian muncul satu regu Tentara Jepang bersenjata. mereka menatapi Ridwan dan Mariati yang bersembunyi dibalik punggung suaminya.
TENTARA JEPANG 1
(menunjuk ke arah Mariati) Hah! Yatto aeta ne! (menatap rekan-rekannya) Mite, ano josei wa watashitachi kara kakurete iru yo (kembali menatap Mariati) Konce wa nigasanai zo! (memelototi Mariati).[2]
RIDWAN MANTULANGI
(memperisai Mariati) tunggu sebentar! ada apa ini? (mengamati tentara-tentara Jepang yang mulai mengepung mereka berdua) mengapa kalian mengejar-ngejar istriku?
TENTARA JEPANG 1
(mengejek sambil terkekeh) Ano onna o watase, tomo yo! (mengacungkan moncong senapan) Soretomo, omaetachi futari, shineba ii![3]
Ridwan yang tersinggung karena ditodong senjata, seketika menampar moncong senapan tentara Jepang 1 lalu menyerang dan menaklukkannya. rekan-rekannya maju membantu, sebagiannya membidik.
Ridwan dan Mariati langsung berpencar dan membagi beberapa lawan ke bagiannya. Keduanya mempraktikkan beberapa gerakan Langga untuk menundukkan satu regu tentara Jepang bersenjata itu. Ridwan memperagakan beberapa teknik Langga Mabua, dan Mariati memperagakan beberapa teknik Langga Ogale.
satu regu tentara Jepang itu, meskipun menggunakan teknik seni beladiri Jukendo[4] namun tidak berdaya. satu persatu dijatuhkan dan dipingsankan.
EXT - KEBUN - SIANG
RIDWAN MANTULANGI
(mengamati tentara-tentara Jepang yang terbaring pingsan, kemudian menatapi Mariati) kamu tidak apa-apa?
MARIATI MOLUADU
(menatap Ridwan lalu mengangguk cepat)
RIDWAN MANTULANGI
(mengamati tentara-tentara Jepang yang terbaring pingsan) kita harus menyembunyikan diri beberapa hari. (menatap Mariati) kita ke Bangio, menemui Suhaib!
MARIATI MOLUADU
(menatap Ridwan dan kembali mengangguk)
Ridwan menggamit lengan istrinya lalu keduanya sama-sama meninggalkan ladang itu, membiarkan tentara-tentara Jepang yang berserakan pingsan disana.
FADE OUT
CUT TO:
FADE IN
INT - KANTOR ASISTEN RESIDEN - PAGI (12 MARET 1942)
Nani Wartabone didampingi Kusno Danupoyo mendatangi ruang kerja. Disana duduk Laksamana Muda Koso Yamada, didampingi Kolonel Hanzo Hayashizaki. Nani Wartabone mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang dipadu sepatu pantofel, begitu juga dengan Kusno Danupoyo. Laksamana Muda Koso Yamada mengenakan seragam militer lengkap dengan tanda pangkat dan bintang penghargaan, selempang dan sabuk dengan holster berisi pistol Type 14 Nambu (Kaliber 8mm). Kolonel Hanzo Hayashizaki mengenakan seragam militer yang mirip ditambah sebilah kodachi tersampir dibagian belakang.
NANI WARTABONE
(menatap Laksamana Koso Yamada) anda harus menjelaskan hal ini, Tuan Yamada!
KOSO YAMADA
(duduk, menatap Nani Wartabone) Ohayou iu no wasureteru yo (menatap Hanzo Hayashizaki, menggerutu) Karera ni reigi o oshieru beki deshō ka?[5]
HANZO HAYASHIZAKI
(tersenyum datar dan membungkuk agak datar kepada Koso Yamada)
KOSO YAMADA
(menatap Nani Wartabone lalu bangkit dari duduknya) sepagi ini kamu datang membawa wajah yang kurang sedap dipandang. Apa yang membuatmu begini?
NANI WARTABONE
(geram, menahan amarah) aku harap, anda menegur Kapten Shirota! anak buahnya mengacau di wilayahku! (memicingkan mata) apa mereka tidak paham tentang adab di negeri ini?
KOSO YAMADA
(memicing lalu melangkah memutari meja) mengacau? apa yang mereka lakukan? (berdiri dihadapan Nani Wartabone) kuharap anda tidak membawa hal yang buruk pada kami.
NANI WARTABONE
(mendengus) Kapten Shirota... Kapten Shirota mengerahkan satu regu untuk menyatroni rumah-rumah penduduk di Tabuditi untuk mencari sepasang laki-bini. Mereka...
KOSO YAMADA
(menyela) Chotto matte[6]... (menatap Nani Wartabone lalu Kusno Danupoyo, kembali menatap Nani Wartabone) anda bilang sepasang laki-bini? mengapa dua orang itu terlibat sengketa dengan regu yang dipimpin Kapten Shirota?
NANI WARTABONE
(menatap tajam) Kapten Shirota dan rekan-rekannya mengganggu istri lelaki itu. si lelaki itu membela dirinya dan keluarganya. Sekarang mereka dijadikan sebagai target pengejaran! apa salah mereka? semestinya anda menegur keras anak buah anda, karena mereka yang memulai duluan hal itu.
KOSO YAMADA
(tersenyum datar) baiklah. Saya akan memerintahkan Kolonel Taki Tawara untuk menegur bawahannya (kemudian menatap Hanzo Hayashizaki sejenak dan kembali menatap Nani Wartabone) jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini? anda sudah janji padaku untuk menemaniku ke dermaga kota, memeriksa logistik pasukan.
NANI WARTABONE
(diam saja dan langsung berbalik meninggalkan ruangan diikuti oleh Kusno Danupoyo)
KOSO YAMADA
(tersenyum sinis lalu menatap Hanzo Hayashizaki) ano yarou no atama o fumitsuketakute tamaranai... (kembali menatap ke pintu) Sugu ni gunsei chōkan ga watashi ni meijita (menggeram) Kono hitotachi o ofisu no yuka no sōji-nin ni shite yaru![7]
CUT
(CONTINUE)
[1] Terjemahan: hei! jangan diam saja! tangkap perempuan itu!
[2] Terjemahan: ketemu juga akhirnya. lihat, perempuan ini bersembunyi dari kita. kali ini, kamu tak bakal lolos!
[3] Terjemahkan: serahkan perempuan itu, atau kalian berdua mati saja!
[4] Seni beladiri menggunakan Senapan berbayonet.
[5] Terjemahan: kau lupa mengucapkan selamat pagi. haruskah kita ajari mereka tata krama?
[6] Terjemahan: Tunggu sebentar!
[7] Terjemahan: Aku sudah tak sabar menginjak kepala orang itu. Segera, setelah Gubernur Militer memerintahkanku, akan kujadikan mereka sebagai keset pembersih lantai kantor!