ACT - 4
EXT - KANTOR POS - SUBUH
Nani Wartabone dan keseratus pemuda berhasil menyergap para polisi dan merampas senjata mereka. Nani Wartabone kemudian memasuki kantor Pos dan langsung berhadapan dengan Pejabat Lambert D'Ancona dan Kepala Polisi Rudolph Couper.
CUT TO:
INT- KANTOR POS - SUBUH
LAMBERT D'ANCONA
(heran melihat kemunculan Nani Wartabone yang dikawal Suhaib Mooduto) Wartabone??? Hufter! Wat doe je hier?[1]
Inspektur Polisi Rudolph Couper bersigap hendak mencabut pistol. Ridwan Mantulangi langsung melesat dan menendang tangan Rudolph Couper sehingga pegangan di pistolnya terlepas dan senjata itu terlontar jauh. Ridwan Mantulangi kemudian tanggap meringkus inspektur polisi Rudolph Couper.
RUDOLPH COUPER
(meronta dan memaki) Klootzak! Laat me los! Jullie honden![2] (menatap Lambert D'Ancona)
LAMBERT D'ANCONA
(memelototi Ridwan kemudian Nani Wartabone) Wat is dit in vredesnaam? Zijn jullie niet bang om gestraft te worden??? (menudingkan telunjuk kepada Nani Wartabone)[3]
NANI WARTABONE
(menatap tajam kepada Lambert) Hoofdcontroleur D'Ancona! Dreig niet! Jullie zijn al verslagen! Vanaf vandaag mogen de Hollanders niet meer op dit land zijn[4] (menatap Suhaib) kau pergilah ke Puncur, temui Pendang Kalengkongan. Suruh dia untuk menjemput mereka ini untuk dipenjara di kantor polisi!
SUHAIB MOODUTO
(berdiri tegap dan menghormat) Siap! (menatap Ridwan Mantulangi) kamu, jaga Pak Nani. aku akan segera kembali.
RIDWAN MANTULANGI
(menatap Shuaib) jangan lama-lama.
SUHAIB MOODUTO
(mengangguk lalu berbalik meninggalkan kantor Pos)
CUT TO:
INT - KANTOR POLISI (PUNCUR) SUBUH
PENDANG KALENGKONGAN
(memenjarakan beberapa agen polisi yang tertangkap) Ja, klaar (menatap agen polisi 2) Pardon, heren. Ik moet u allen in veiligheid brengen (tersenyum menatap agen polisi 1) Jullie zijn hier veilig. Niemand zal jullie storen (menghela napas lalu tersenyum kembali)[5]
AGEN POLISI 2
(meludah) Cih, Denk je dat alles goed komt? Wacht tot kolonel Couper arriveert. U wordt gearresteerd en doodgeschoten! (memelototi Pendang)[6]
PENDANG KALENGKONGAN
(tertawa pelan dan manggut-manggut) Dat is dan nog als hij komt. Maar het ziet er niet naar uit (mendekat ke sel) Wil je de reden weten? (menggoda agen polisi 2 yang melototinya)
tak lama kemudian seorang pemuda yang didampingi Suhaib Mooduto tiba di ruangan tahahan menemui Pendang Kalengkongan.
PEMUDA BERSENJATA
(berdiri tegap menghormat) lapor, Pak Pendang! ini...
PENDANG KALENGKONGAN
(menoleh, menatapi Suhaib Mooduto) ah, kau Suhaib! (tertawa) bagaimana? lancar? (memelototkan matanya dengan jenaka)
SUHAIB MOODUTO
(menatap beberapa agen polisi yang terkurung di sel kemudian kembali menatap Pendang) Pak Pendang, anda diundang Pak Nani ke Kantor Pos untuk menjemput Kepala Polisi dan Meneer Lambert.
PENDANG KALENGKONGAN
(menoleh menatap dua agen polisi yang meringkuk di sel, kemudian tertawa) Ah...hahaha Horen jullie dat? (mengejek dua agen polisi itu) vandaag zullen al jullie plannen niet uitkomen![7] (menatap Suhaib) ayo, kita jemput Hoofdinspectur Ruud dan Meneer Lambert (pergi dengan tawa panjang meninggalkan sel diikuti oleh Suhaib)
FADE OUT
CUT TO:
FADE IN
INT - RUMAH PERSEMBUNYIAN (IPILO) - SUBUH MENJELANG PAGI
HASAN BADJEBER
(muncul bersama A.G. Usu dan M. Sugondo) berita baik!!! Kita berhasil menguasai Kantor Pos!
seluruh anggota Komite XII langsung mengucapkan syukur dan saling berjabat tangan. Kusno Danupoyo tersenyum lega dan manggut-manggut.
R.M. KUSNO DANUPOYO
Itu berita yang sangat bagus (tertawa dan menatapi M. Sugondo) tapi, apakah itu benar?
HASAN BADJEBER
(tertawa) tentu saja benar, kalau nggak percaya, tanyakan pada mereka ini? (menganggukkan dagu kepada A.G. Usu dan M. Sugondo)
A.G. USU (OFF SCREEN)
Tadi aku baru keluar dari rumahku. Aku melihat beberapa pemuda lokal bersenapan senjata api sedang berdiri mengamankan jalanan. (Action lines: Pendang Kalengkongan menemui Nani Wartabone di Kantor Pos lalu menjemput Rudolph Couper dan Lambert D'Ancona kemudian dibawa ke Kantor Polisi di Puncur)
HASAN BADJEBER (OFF SCREEN)
Tuh, kan? nggak percaya sekali dengan kemampuan pasukan rimba? (Action lines: Nani Wartabone bersama Samsun Ilahudu dan pemuda lainnya, bergerak menuju rumah dinas asisten residen Jansen Korn) Pasukan Hulu Maa, memang tidak akan bisa dikalahkan oleh orang-orang Hollandia itu!
M. SUGONDHO (OFF SCREEN)
Kabarnya, polisi-polisi lokal kita juga sedang mengamankan gudang-gudang kopra dan beberapa kapal Kalolio dipelabuhan (Action Lines: Asisten residen J. Korn digerebek bersama keluarganya di rumah dinas. mereka dijadikan tahanan rumah dan dijaga ketat oleh Samsun Ilahudu dan rekan-rekannya)
KUSNO DANUPOYO
(lega menatap A.G. Usu dan M. Sugondho) baguslah kalau begitu. Kita bersiap-siap menuju Kantor Pos nanti. Aku masih akan mempersiapkan pidato dan teks proklamasi kita yang akan dibacakan Abdullah disana (menatap Usman Monoarfa, Usman Hadju dan Usman Tumu) Kalian bertiga segeralah berangkat ke Limboto (menatapi Usman Hadju) dan kau teruskan perjalanan ke Paguyaman dan Paguat untuk menyampaikan berita kemerdekaan ini kepada warga disana (menatap Usman Tumu) sementara kamu bergeraklah bersama-sama Danuwatiyo ke Kwandang dan kabarkan berita kemerdekaan ini!
USMAN MONOARFA, USMAN HADJU, USMAN TUMU
(berdiri tegap) siap! kami berangkat sekarang! (mengacungkan tangan kanan ke atas) merdeka!!!
FADE OUT
CUT TO:
FADE IN
EXT - KANTOR POS - PAGI, JAM 06.00
Ridwan Mantulangi menatap ke halaman Kantor Pos yang sunyi. Disana ada beberapa pemuda yang menenteng senapan, mondar-mandir menjaga keamanan. Tak lama kemudian, Suhaib Mooduto muncul membawa dua mug seng berisi minuman kopi.
SUHAIB MOODUTO
(menyapa) lapato mo subuh, yi'o? (menyodorkan segelas mug)[8]
RIDWAN MANTULANGI
(menoleh menatap Suhaib, lalu menatapi mug yang disodorkan) sudah. kau sendiri? (meraih mug yang disodorkan kemudian kembali menatapi halaman kantor Pos yang sepi)
SUHAIB MOODUTO
(mengangguk saja kemudian ikut menatapi halaman Kantor Pos) Kudengar tadi, Asisten Residen Jansen gemetaran saat digiring ke kamarnya oleh Pak Nani (tertawa pelan) kurasa, Pak Nani masih akan berada di rumah itu sampai jam 09 nanti, dan kemerdekaan kita sebentar lagi akan kita nikmati (menatap Ridwan Mantulangi) kau senang mendengarnya? (menyeruput kopi)
RIDWAN MANTULANGI
(menyuruput kopi lalu mendesah pelan) ahhh... (mendecap-decap kemudian manggut-manggut dan menatap Suhaib) menurutmu?
SUHAIB MOODUTO
(terkekeh) Sebentar lagi, Gorontalo akan kembali menjadi tanah yang merdeka dan kita akan memakmurkan negeri kita setelah ini (menyeruput lagi kopi) semoga kedamaian ini akan berlangsung lama.
RIDWAN MANTULANGI
(mengernyitkan alis) mengapa kau mengatakannya begitu? apa ada yang membebanimu? (menyeruput kopi lalu menatap Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
(menyeruput kopi dan mendesah pelan lalu duduk di tangga pintu masuk) sebenarnya, sejak tanggal 15, isu tentang pembumihangusan Kota Gorontalo sudah kami ketahui, tapi...
RIDWAN MANTULANGI
(ikut duduk di tangga) tapi kenapa? (menyeruput kopi kemudian mendecap-decap lalu menyambung kata) apa ada berita lain, selain pembumihangusan itu? (menatap Suhaib)
SUHAIB MOODUTO
(mengangguk lalu meletakkan mug disisinya, kemudian duduk memeluk lutut) ada isu yang kami dengar bahwa tentara katek[9] datang dari utara, melalui laut... udara... dan daratan sedang mendatangi negeri ini (menatap halaman kantor pos)
RIDWAN MANTULANGI
(mengernyitkan alis) untuk apa mereka kemari?
SUHAIB MOODUTO
(menggeleng) entahlah, aku juga tak tahu (menatap Ridwan)
RIDWAN MANTULANGI
(menatap halaman kantor pos) jika kedatangan mereka untuk melanjutkan penjajahan, tentu saja aku secara pribadi akan menentang dan melawan mereka.
SUHAIB MOODUTO
(menatap Ridwan lalu tersenyum dan manggut-manggut)
FADE OUT
CUT TO:
FADE IN
EXT - HALAMAN KANTOR POS - PAGI JAM 08.45
RIDWAN MANTULANGI (OFF SCREEN)
Hari ini, Jum'at tanggal 23 Januari Tahun 1942. Warga Gorontalo benar-benar bergembira dengan kemerdekaan ini. Nani Wartabone, lelaki yang kukagumi itu mewujudkan seluruh impian warga Gorontalo (Action Lines: Nani Wartabone, dikawal Pendang Kalengkongan berjalan dari arah lapangan Taruna menuju Kantor Pos diiringi suara sorak kegembiraan warga. Di atas podium, Nani Wartabone kemudian membacakan proklamasinya)
EXT - HALAMAN KANTOR POS - PAGI JAM 09.00
NANI WARTABONE
(menatap seluruh warga Gorontalo) Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kami Bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. (menunjuk bendera merah putih bekas robekan biru dari bendera belanda yang berkibar ditiang halaman kantor Pos) Bendera kita Merah Putih, (menatap lagi kepada warga Gorontalo) lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya, (mengembangkan tangan) Pemerintah Belanda sudah diambil alih Pemerintah Nasional. (mengacungkan tangan kanannya ke atas) atas nama segenap rakyat, Ketua Komite Duabelas, Nani Wartabone!!!
EXT - JALANAN UTAMA GORONTALO - PAGI JAM 09.20
RIDWAN MANTULANGI (OFF SCREEN)
Alhamdulillah, akhirnya warga Gorontalo mendapatkan keinginannya (Action Lines: Nani Wartabone menyalami sebagian anggota Komite XII kemudian menghadap kepada warga Gorontalo dan mengangkat kedua tangannya ke udara. terdengar seruan sorak-sorai merdeka dari warga) Mulai saat ini, Gorontalo bersih sepenuhnya dari penjajahan. Kupikir ini adalah babak baru dalam kehidupan kami. Namun... nyatanya tidak...
FADE OUT
CUT AND CONTINUED.
[1] Terjemahan: Wartabone? brengsek! ngapain kau kemari?
[2] Terjemahan: brengsek! lepaskan aku, anjing!
[3] Terjemahan: apa-apaan ini? kalian tidak takut dihukum ya?
[4] terjemahan: tak usah mengancam! kalian sudah kalah! mulai saat ini orang-orang belanda tidak boleh lagi ada disini!
[5] Terjemahan: Ya, Selesai. Maaf ya, kalian semua saya amankan disini. tenang saja, kalian tidak akan diganggu.
[6] Terjemahan: kau pikir semua selesai? tunggu Kolonel Couper tiba, kau akan dihukum mati!
[7] Terjemahan: itupun kalau dia tiba. tapi kayaknya nggak! mau tahu, kenapa? karena segala rencana kalian tidak akan terwujud.
[8] Terjemahan: habis sholat subuh kau?
[9] Istilah orang Gorontalo untuk orang-orang Jepang dan Cina.