Misi Kafe Biru
1. Kafe Biru

INT. KANTOR BAHASAKITA — MALAM

Kita melihat sebuah pintu kaca putih bertuliskan "MEETING ROOM" di tengahnya, dengan fasad yang juga kaca putih, sembari terdengar suara rendah obrolan di dalamnya. 

Pintu lalu terbuka. Sekitar 20 karyawan keluar dari ruangan itu, beberapa mengobrol santai. Pakaian mereka semi casual. Dari Meeting Room mereka berjalan kembali ke kubikel masing-masing.

Saat semua karyawan sudah keluar, NAYA (25 tahun, sederhana, pendiam, pintar) dan BU ATHALIA (42, bos Naya, tegas, baik) terakhir keluar. Naya, dengan satu map, notes, dan alat tulis di tangannya, sedang mendengarkan perkataan Bu Athalia dengan saksama.

BU ATHALIA

Ini ya, Naya. Username, password untuk komputer, email kantor kamu, semua info bisa kamu lihat di map itu. Nanti di komputer ada juga tutorial software kita. Kalau bingung tanya aja sama Mbak Dila. Dia akan bantu kamu.
NAYA
(mengangguk)
Baik, Bu. Terima kasih banyak.

Naya menyungging senyum. Bu Athalia balas tersenyum, menepuk sedikit lengan Naya, kemudian berjalan pergi.

Naya melihat jam di dinding. Jam 12.05. Ia kemudian melihat ke sekelilingnya, ke arah ruangan besar yang disekat-sekat dalam kubikel, dengan orang-orang di baliknya yang mulai membuka kotak makan dan meneguk minuman dari tumblrnya.

Beberapa dari mereka berkumpul di satu kubikel lalu mulai ngobrol dan makan. Tiga orang membawa dompet dan keluar melalui pintu kantor. Tidak ada yang memperhatikan Naya, semuanya asyik sendiri-sendiri.

Naya menarik napas, menghembuskannya. Ia pun berjalan ke arah kubikelnya.


INT. KUBIKEL NAYA — SIANG

Di kubikel Naya, mejanya kosong, bersih, hanya ada satu buah PC dan perlengkapannya, kursi, tas Naya yang berwarna biru di ujung, dan rak kosong yang seakan lapar menunggu diisi.

Naya meletakkan map dan notesnya di meja. CLOSE UP ke map yang bertuliskan "Welcome to BahasaKita! Let's Get Started".

Naya duduk di kursinya, dan kemudian mengambil tumblr dari tasnya. Naya meneguk air putihnya, lalu meletakkan kembali tumblr ke meja. Suara-suara obrolan dan tawa di sekitar masih terdengar dari kubikelnya. Naya kemudian mati gaya.

Ia berdiri, menoleh kanan kiri, mencari orang untuk ditanyai. Semua tampak asyik sendiri. Kemudian Naya melihat papan pengumuman yang berada di dekat kubikelnya. Papan pengumuman itu berisi jadwal piket bersih-bersih pantry, beberapa motto, dan beberapa flyer. 

Salah satu flyer itu mempromosikan KAFE BIRU, kafe baru yang buka sekitar dua tahun lalu (2017). Tertera alamat kafe. Naya pun mengeluarkan HP dan memotretnya. Lalu ia segera mengambil dompetnya, tumblrnya, dan bergegas keluar.

CUT TO

INT. KAFE BIRU — SIANG

Naya memasuki kafe yang tidak terlalu luas itu. Ia kemudian tak kuasa memperhatikan sekeliling.

Dinding dan lantai kafe bercorak kayu natural dengan beberapa tanaman digantung. Kursi-kursinya model kursi taman berwarna putih, dan mejanya berwarna royal blue agak pucat dengan kaki putih seperti kursinya. Counter-nya berwarna royal blue seperti mejanya. Interior ini memberikan kesan outdoor taman yang santai, tapi juga classy berkat birunya.

Naya terpana melihatnya, dan merasa langsung nyaman berada di tempat ini. Beberapa meja sudah ditempati, sehingga suara rendah orang-orang yang sedang mengobrol melengkapi suasana kafe yang hangat. Naya berjalan dan masuk ke antrean di depan counter.

CUT TO

INT. COUNTER KAFE BIRU — SIANG

Kita melihat ARY (27 tahun, cekatan, to the point, mudah bergaul) yang tangan kanannya baru selesai menekan tombol-tombol di tablet di depannya, dan tangan kirinya memegangi struk dan kartu debit pelanggan. Ia kemudian mendongak ke pelanggan di depannya, menyerahkan kartu dan struk.

ARY

Silakan kartu dan struknya. Ini nomornya (memberikan nomor meja) nanti diantar ya, mas. Gula, krimer, pengaduk ada di ujung ya (menunjuk ujung counter) Terima kasih.

Ary menyungging senyum. Pelanggan itu pun pergi. Kemudian Naya maju ke counter.

ARY (CONT'D)
Selamat siang, dengan saya Ary. Mau pesan apa?
NAYA
Emm, saya pesen spaghetti bolognese yang ukuran medium, itu ada kejunya kan mas? Kejunya jangan banyak-banyak ya, ditaruh di pinggir aja. Terus french fries ukuran medium juga. Eh itu seberapa banyak ya mas? Yang large aja deh, gak jadi medium. Terus, em... minumnya latte hangat, tapi jangan terlalu panas ya mas.

Ary tidak langsung menjawab dan hanya memandangi Naya. Ia tampak terpaku, tidak bergerak.

NAYA
Mas? 
ARY
(sadar) 
Iya?
NAYA
Mas kok diem aja?
ARY
Em. Sori sori. Bisa diulangi lagi gak mbak?

 

Naya heran, tapi juga menangkap bahwa sepertinya orang di depannya ini terpana melihatnya. Ekspresinya antara tersenyum dan heran.

NAYA
Spaghetti bolognese medium, kejunya dikit. French fries large, sama latte hangat, jangan panas-panas.

Ary pun menginput orderan ke tablet.

ARY
Baik. Atas nama?
NAYA
Naya.
ARY
Oke. Totalnya 97.500. Pake kartu debit atau e-wallet?
NAYA
(mengambil kartu di dompetnya)
Debit aja.

Ary menerima kartu debit Naya dan meraih mesin EDC, menggesek kartunya dengan tangan sedikit gemetar. Mesin tidak merespon. Ary menggesek lagi kartunya, tangannya masih gemetaran. Gagal lagi. Ia mengernyitkan dahi. Naya melihatnya.

NAYA (CONT'D)
Em, mas. Itu... bukan digesek, tapi dimasukin ke slot di bawah.

Ary pun menyadarinya. Ia hanya meringis menahan malu. Tangannya yang masih gemetar memasukkan kartu ke slot bawah EDC. Naya hanya tersenyum dan geleng-geleng kecil.

CUT TO

INT. KAFE BIRU — SIANG

Naya meletakkan barang-barangnya di meja, dan duduk di kursi putih itu. Ia kemudian melihat dan menikmati suasana kafe, dan memandang ke jendela besarnya. Dari situ ia bisa melihat BahasaKita, gedung dua lantai tempat ia bekerja, yang ada di seberang jalan.

Tak lama setelah itu, Ary datang membawa pesanan Naya dan meletakannya di meja.

ARY
Pertama kali ke sini, mbak Naya?
NAYA
Iya, Mas... (lupa nama)
ARY
Ary. (tersenyum)
NAYA
Oh, iya. Ary.

Naya mengangguk, iku tersenyum.

ARY
Mbak, saya minta maaf soal tadi, ya.
NAYA
Oh iya, nggak apa-apa. Santai aja.
ARY
Sebagai gestur permintaan maaf dari Kafe Biru, saya menawarkan keanggotaan pelanggan dengan benefit diskon 10% tiap hari untuk item tertentu. Lalu ada poin yang bisa dikumpulkan untuk benefit lebih jauh. Mbaknya kerja di deket sini?

Naya terpana mendengar penawaran yang mulus itu. Sampai nge-blank sesaat sebelum menjawab.

NAYA
Iya, di BahasaKita. (menunjuk gedung kantornya)
ARY
Oh, deket ya. Nah, semakin menguntungkan. Mbak bisa punya kemudahan dan tempat nongkrong yang nyaman dan dekat.

Naya pun tersenyum. Agak basa-basi berusaha sopan saja, tapi Ary juga tersenyum.

ARY (CONT’D)
Selain itu, saya juga pengen bisa kerja sama dengan kantor Mbak. Kan penerbit dan copywriting tuh? Tempat saya bisa dipakai untuk venue diskusi, launching, dan lain-lain.

Naya mulai tertawa geli, lalu menyeruput kopinya.  

NAYA
Mas Ary ini ternyata smooth ya marketing-nya. Tadi itu sempet saya kira Masnya ini anak baru, lho. Nggesek kartu aja bingung. 

Kemudian Ary mengeluarkan blanko kartu anggota kosong dari sakunya. Ternyata sudah stand by. Naya makin geli. 

ARY
Jadi gimana, bersedia jadi anggota?
NAYA
Boleh, boleh. 
ARY
Silakan diisi. 

Sigap, Ary memberikan kartu dan pulpen. Naya mengisinya sambil geleng kepala, masih geli. Begitu selesai, Naya sodorkan kartu itu kembali ke Ary. Tangan Ary tidak menyambutnya. Naya sampai heran.  

ARY (CONT’D)
Sebelum saya terima, saya mau mengaku. Itu tadi modus saya biar dapet nomer HP mbaknya, yang pasti udah ditulis di situ. 

Naya kaget, dan sempat bingung harus bereaksi apa. Ary ingin nyengir lebar, tapi juga takut Naya ilfil.

ARY (CONT’D)
Apakah Mbaknya masih bersedia? 
NAYA
Emmm... 

Senyum Ary yang menawan membuat Naya tak kuasa menahan sikapnya sendiri yang tersipu.

NAYA (CONT’D)
Keanggotaannya beneran, 'kan?
ARY
O tentu. Meskipun modus, saya tidak berani bohong. (nyengir)

Naya tertawa lepas. Ary menyodorkan lagi kartu itu sampai Naya menerimanya dengan senyum lebar.

FADE TO

MONTAGE

Di meja yang sama itu, Naya dan Ary:

Ngobrol, makan, bercanda, Naya mencoba menu baru Kafe. Kadang siang, kadang sore, kadang malam.

Mereka tampak cepat akrab, serasi, mengobrol dengan lancar, dan tampak menikmati keberadaan satu sama lain. Mereka seperti tidak pernah bosan satu sama lain.

DI SUATU SIANG

Naya datang membawa tumbler kosong. Dari gestur dan pembicaraan (INAUDIBLE) kita melihat Naya minta tumbler itu diisikan pesanannya. Ia menyodorkannya. Ary menerimanya dengan senyum.                                               

CUT TO Naya tampak menunggu dan tidak sabar. Ia iseng mengintip ke area dapur. Ternyata Ary sedang mencuci tumbler itu dengan air panas, dan menggosok satu bagiannya, penasaran. Senyum Naya mengembang pelan melihat itu. Senang.

Ketika Ary menoleh, dan ketahuan sedang diamati, ia jadi kikuk. Naya tertawa. 

DI SUATU MALAM                                              

Naya celingukan memasuki area dapur. Ragu dan sungkan. Ary menggestur ke Naya untuk masuk. Naya bertukar senyum dan anggukan ke seorang karyawan dapur yang sedang sibuk juga.

Ary menunjuk ke sebuah apron dan masker. Naya mengenakannya, lalu ikut bergabung bersama Ary menangani sebuah menu. 

Tampak Ary bertanya ke Naya tentang detil-detil bahan di hadapannya (INAUDIBLE). Naya manggut-manggut dan memberikan jawaban. Tampaknya sedang berbagi resep. Ary lanjut memotong bahan sesuai “arahan” Naya.                          

MALAM YANG SAMA 

Mereka bersantap bersama di meja yang sama. Ary terkejut sendiri oleh rasa masakan yang ia cicipi. Ary tampak memuji rasanya. Naya tersenyum. Gestur dan cara mereka berinteraksi menunjukkan bahwa mereka sudah nyaman, menjadi sangat akrab dengan cukup cepat.

MONTAGE SELESAI

FADE TO

INT. KAFE BIRU, 2 MINGGU KEMUDIAN — MALAM

Naya membuka pintu dan memasuki Kafe. Sudah tidak ada pengunjung di situ. Kafe baru saja tutup dan tampak sudah dibersihkan. Lampu di counter dan beberapa lampu lain sudah mati. Tinggal lampu-lampu besar yang menerangi area customer yang masih menyala.

Tidak ada siapa-siapa di situ kecuali Ary, yang baru saja selesai membereskan tablet di area kasir.

NAYA
Ry, tumben udah pulang semua?
ARY
Udah. Aku suruh pulang agak cepet. 
NAYA
Terus beres-beres counter sendiri?
ARY
Iya.
NAYA
Ckck. Bener-bener owner idaman ya, kamu. (menyeringai)
ARY
Masih anak owner, belum owner.
NAYA
Yaa tapi 'kan akan segera. Hehe.

Ary tersenyum lebar. Ia kemudian mengambil secangkir latte hangat yang sudah siap di counter, dan menyerahkannya ke Naya.

ARY
Nih, buat kamu. 

Naya menerima cangkir itu, tersenyum.

NAYA
Thank you.

Naya dan Ary kemudian duduk berhadapan. Mereka duduk di dekat jendela besar. Naya menyeruput latte-nya, dan Ary memperhatikan.

ARY
Gimana tadi, udah beres 'kan revisian?
NAYA
Huuhhhh... akhirnya udahh. Setelah ribet seharian sama klien akhirnya mereka bilang oke juga.

Naya melanjutkan minum latte-nya. Ary memperhatikan Naya lekat-lekat, terlihat jelas bahwa ia mengagumi Naya, melihat setiap gerak-geriknya. Matanya pun berbinar.

ARY
Naya?
NAYA
Hmm?
ARY
Mau enggak nikah sama aku?                          

Naya berhenti meminum lattenya. Tangannya meletakkan cangkir, mengusap sedikit kopi yang menempel di atas bibirnya.

Beberapa detik berlalu, dan Naya hanya bisa berkedip-kedip. Masih belum sepenuhnya mencerna pertanyaan itu. 

NAYA
Hmm... Ha--?

Ary ingin berbicara lagi, tapi Naya bersuara duluan.

NAYA (CONT’D)
Kamu nanya beneran?
ARY
(suara mantap)
Iya, Nay. Aku serius.

Ary merogoh sakunya, dan mengeluarkan kotak berwarna biru. Dibukanya kotak itu, disodorkannya pada Naya. Sebuah cincin emas putih menampakkan dirinya.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Ary... :)
1 bulan 6 hari lalu
asyik
1 tahun 1 bulan lalu