ke.putus.an
Kategori
Romantis
Bagian
26
Suka
1
Favorit
QR Code
Bagikan
Pengenalan
Daftar Bagian
Blurb
Setelah 7 tahun berpacaran, akhirnya Bayu (27) melamar kekasihnya, Erin (27). Ia membuat Erin begitu bahagia karena sudah lama menantikannya. Perbedaan keyakinan di antara dirinya dan Erin pun sudah tak lagi jadi persoalan antar keluarga. Tetapi, pada suatu malam, perkataan "Maaf? Kamu pikir itu cukup?" yang diucapkan Erin padanya, membangkitkan luka lama yang selama ini ia pendam. Bukan sekali atau dua kali, Erin mengucapkan perkataan itu. Bukan juga sekali atau dua kali, Erin menggoreskan luka lain pada hatinya.

Bayu merasa ada banyak kekeliruan yang terabaikan dalam hubungannya dengan Erin. Ia pun terombang-ambing dalam kebimbangan yang dalam: berusaha lagi atau melangkah pergi.

Untuk menemukan jawabannya, Bayu mengajak sahabatnya, Anton (27), pergi ke Lombok, untuk berlibur, sekaligus merenung.  Hari demi hari ia menyelami batinnya sendiri. Ia melihat kekeliruan yang selama ini dibuat Erin dan dirinya sendiri, kekeliruan yang kemudian memunculkan pertanyaan akan makna cinta yang sejati. 

Jadi, apa keputusan yang akan Bayu ambil?
Premis
"Setelah menyadari adanya isu kodependensi yang serius, seorang pemuda mengalami pergulatan batin: untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungan cintanya dengan sang kekasih yang sudah 7 tahun dipacarinya."
Pengenalan Tokoh
1. BAYU: 27 tahun, PNS di sebuah kementerian, Islam, pendiam, tenang, banyak pertimbangan, tak berani ambil risiko, kaku, sulit menyadari dan memproses emosi diri sendiri, lahir di keluarga yang disfungsional di mana orang tua dan anak tidak bisa menyampaikan pikiran dan emosi secara bebas (lebih banyak menyimpannya sendiri) dan terjebak dalam pola pikir mengejar kestabilan yang nyaman dan anti pada ketidakpastian dan takut pada perubahan.  Ayahnya (Cipto) adalah seorang staf PNS biasa di pempov DKI Jakarta, sedangkan ibunya (Ratmi) adalah ibu rumah tangga.


Bayu mempunyai hobi dan bakat terpendam di bidang seni yaitu menggambar. Bayu berpacaran dengan Erin sejak ia berusia 20 tahun, saat sama-sama masih menjadi mahasiswa di kampus yang sama, di kota Depok.



2. ERIN: 27 tahun, teller di sebuah bank swasta, Katolik, riang, ceria, suka menyimpan masalah atau menganggapnya tidak ada (denial), lahir di keluarga yang disfungsional di mana sang ayah (pecandu alkohol dan judi) mengabaikan kebutuhan dan kepentingan keluarga, khususnya kebutuhan emosional dan terjebak dalam pola pikir untuk selalu tampil bahagia dan sempurna di depan semua orang, meski aslinya mereka menyimpan banyak luka. Ayahnya (Herman) adalah manager sebuah perusahaan swasta sedangkan ibunya (Susi) adalah ibu rumah tangga yang dulu pernah bekerja sebagai staf administrasi di bank tempat Erin bekerja.  

Erin mempunyai hobi bermain media sosial dna bakat terpendam sebagai event coordinatior. Erin berpacaran dengan Bayu sejak ia berusia 20 tahun, saat sama-sama masih menjadi mahasiswa di kampus yang sama, di kota Depok.


3. ANTON: 27 tahun, artist (illustrator dan penulis) di sebuah perusahaan game dan komik, percaya Tuhan tapi tidak beragama, humoris, artistik, kreatif, solutif, antusias pada psikologi, menyimpan banyak pengalaman hidup berharga yang membuatnya lebih bijak dalam memandang sesuatu, setia kawan, dan santai. Anton bersahabat dengan Bayu sejak keduanya berusia 18 tahun, sejak awal masuk kuliah di kampus yang sama, meski jurusan keduanya berbeda. Dulu, mereka adalah teman satu kamar kos. Sekarang, ia mengekos sendiri di Jakarta. 


4. NITA: 27 tahun, teller sebuah bank swasta, Islam, suka rutinitas, hidupnya normal dan tidak neko-neko, setia kawan, berdedikasi pada pekerjaan, dan lembut. Nita bersabahat dengan Erin sejak keduanya sama-sama menjadi teller bank atau saat keduanya berusia 22 tahun. Erin memang suka menyimpan masalahnya sendiri, tapi hanya pada Nita lah Erin suka menceritakan tentang masalahnya, meski tidak semuanya. Sejak dulu, ia tinggal bersama orang tua di Jakarta. 
Sinopsis
Setelah 7 tahun berpacaran, akhirnya Bayu (27) melamar kekasihnya, Erin (27). Bayu membuat Erin begitu bahagia karena Erin sudah begitu lama menantikannya. Perbedaan keyakinan antara dirinya dan Erin pun sudah tak lagi jadi persoalan antar keluarga. Tetapi, pada suatu malam, perkataan "Maaf? Kamu pikir itu cukup?" yang diucapkan Erin padanya, membangkitkan luka lama yang selama ini ia pendam. Bukan sekali atau dua kali, Erin mengucapkan perkataan itu. Bukan juga sekali atau dua kali, Erin menggoreskan luka lain pada hatinya.

Bayu merasa ada banyak kekeliruan yang terabaikan dalam hubungannya dengan Erin. Ia pun terombang-ambing dalam kebimbangan yang dalam: berusaha lagi atau melangkah pergi.

Untuk menemukan jawabannya, Bayu mengajak sahabatnya, Anton (27), pergi ke Lombok untuk berlibur, sekaligus untuk merenung. Sebenarnya, sedari dulu Anton sudah beberapa kali memberitahu Bayu, tentang hubungan percintaannya yang tak sehat itu. Namun,  Anton tak pernah menanggapinya serius. 

Hari demi hari, Bayu menyelami batinnya sendiri. Satu per satu kejadian yang menggambarkan ciri hubungan kodependensi antara dirinya dan Erin, muncul ke permukaan, baik yang terjadi di masa lalu maupun masa kini. Pada saat yang bersamaan, Bayu merasa bingung dan bimbang. Setiap kali ia memikirkan kemungkinan berakhirnya hubungan cintanya, setiap kali itu juga, ia merasakan 'sakit' di dada.

Akan tetapi, perbincangan yang dalam pada suatu malam di Pantai Senggigi, refleksi diri di pantai bertebing tinggi (Pantai Penyisok), proyeksi masa lalu dan masa depan di dalam gua bersiluet indah (Gua Kotak), dan pencerahan dari 'cahaya 'surga' di Gua Bangkang, serta 'keseruan' membuat gerabah di Penujak Pottery Village, begitu berarti bagi Bayu. Kunjungannya bersama sang sahabat ke Lombok itu benar-benar mengubah hidupnya. Ia tak hanya menemukan jawaban, tetapi juga dirinya.

Namun, ketika Bayu kembali ke Jakarta, ia tak bisa menghubungi Erin, yang memang sengaja sedang menghindar darinya. Bayu tak tahu, ketika ia berada di Lombok, keluarga Erin yang sudah disfungsional sejak dulu, mengalami permasalahan yang kian berat. Bayu juga tak tahu, Erin sengaja menghindar darinya lantaran tak mau hubungannya dengan Bayu berakhir - karena bagi Erin, Bayu adalah sumber kebahagiannya dan satu-satunya.

Tetapi akhirnya, Bayu dan Erin bertemu lagi. Pada pertemuan itu, awalnya Bayu yang ingin meminta maaf dan berekonsiliasi. Tetapi, lagi-lagi Erin mengucapkan kalimat yang membuatnya sakit hati. Ia pun ingin kembali mengakhiri hubungannya dengan Erin. Tetapi, Erin mencegahnya dan meminta untuk rehat saja. Bayu menurut dan mereka sepakat untuk 'break' dulu, karena ia juga merasa memang masih memerlukan waktu.

Beberapa bulan kemudian, Bayu dan Erin berjanji untuk bertemu. Pada pertemuan yang terjadi di Kota Tua itu, Bayu sadar betul bahwa Erin berusaha sebisa mungkin untuk membangkitkan segala kenangan manis dengannya dulu, sekaligus mengulur waktu. Sepanjang siang itu, Bayu menuruti kemauan Erin untuk mengunjungi kafe dan museum tempat favorit mereka dulu. Mereka memang menghabiskan waktu bersama, tetapi mereka saling menjaga jarak dan lebih banyak terdiam. Meski begitu, mereka sama-sama sadar, bahwa langkah mereka semakin berbeda.

Namun akhirnya, ketika langit senja mulai berganti dengan langit malam yang gelap dan kelam, Bayu dan Erin mulai berbicara dari hati ke hati, amat dalam dan panjang. Mereka duduk berdua di peron atas Stasiun Kampung Bandan, yang berpemandangan cukup indah dan tenang. Pada saat itu lah, Bayu menyampaikan keputusan akhirnya - keputusan yang bagaikan hujan yang teramat deras bagi Erin, dan tentu, bagi Bayu juga. 

Bayu dan Erin memang harus menerima kenyataaan, bahwa hubungan mereka sudah tak bisa lagi diselamatkan, kereta mereka sudah tak lagi satu tujuan. Dan kini, mereka harus berteman dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian. Tapi tak apa, mereka akan selalu punya payung yang akan selalu melindungi mereka ketika hujan, sembari mereka berusaha untuk menyembuhkan, hingga hari yang cerah itu datang.

Dan kita... siap untuk kisah selanjutnya.
Rekomendasi