Telah Selesai
23.7k Disukai
202.1k Dibaca

Terdamparnya Negeri Kincir Angin Bambu

Penulis : Guntur Bima
Favorit
Gratis
QR Code
Bagikan
Blurb
Wahyu memiliki ambisi kuliah S2 ke Belanda. Dia berpetualang mencari jati diri dan memburu beasiswa, lalu dikirim pemerintah ke tanah Jawa kuliah di Universitas Gadjah Mada. Trauma masa kecilnya membuat psikologis dan kepribadiannya terpecah menjadi banyak. Pikirannya menerawang jauh memikirkan nasibnya yang seorang diri di negeri orang. Semua keluarganya berada di Makassar, namun sejak kecil dia sudah ditinggalkan ayahnya dalam usianya yang baru tiga bulan, dan hanya dibesarkan ibunya Daeng Hamisah. Dia mempunyai garis keturunan bergelar bangsawan dari Kakeknya.

Wahyu merasa terasing di negerinya sendiri tanah Makassar, lantaran bosan melihat perlakuan pamannya (Sultan Andi), yang tidak pernah akur kepada ibunya dan dirinya. Menurut adat pada saat itu seluruh harta warisan menjadi milik ibunya sebagai anak tertua. Namun atas pesan terakhir kakeknya, ibunya harus mengurus saudara lelaki satu-satunya Sultan Andi (pamannya Wahyu) untuk sekolah setinggi-tingginya sampai harus memiliki pangkat dan jabatan demi menjaga martabat keluarga berketurunan bangsawan. Sultan Andi bersifat rakus sehingga ibunya Wahyu tidak mempunyai hak apa-apa, bahkan ketika suatu kali ibunya meminta sebagian hartanya untuk bekal Wahyu sekolah, namun tidak pernah diurusnya lantaran Sultan Andi mempertentangkan Daeng Hamisah menikah dengan lelaki yang tak tahu asal-usulnya yang diketahuinya lelaki itu hanya memanfaatkan harta warisan keluarganya. Bisa dikatakan itulah awal penderitaan Wahyu.

Wahyu akhirnya lulus S1 dengan predikat caumlaude, bahkan mendapat tawaran beasiswa S2 ke Belanda sesuai impiannya berkat proposal karya ilmiahnya yang berjudul "Melacak Jejak Menguak Misteri Akhir Riwayat Patih Gajah Mada". Dia menjadi penyemangat ketiga sahabat karibnya; Wawan Andria Baihaqi putra asli Sumbawa-Nusa Tenggara Barat, Zay berasal dari Betawi, dan Hamen dari suku Dayak. Namun takdir berkata lain, ibunya memintanya pulang ke kampung halaman untuk mengabdi di tanah kelahiran dan negerinya. Dengan berat hati, Wahyu menolak tawaran beasiswa S2 dari kampus dan mengikuti keinginan ibunya kembali ke kampung halaman.

Bertemu dengan ibunya membuatnya bahagia, namun lama-lama kebahagiannya hilang karena kenyataannya tidak seperti yang dia harapkan. Niat pulang kampung untuk membahagiakan ibunya dan mengabdi pada negerinya harus berantakan karena dia tidak lulus tes CPNS lantaran derasnya praktek sogok-menyogok. Kabar dirinya gagal CPNS tersiar dan menjadi bahan gunjingan semua warga. Betapa malang dirinya karena dianggap tidak mampu menjalankan adat budaya "siri" na pacce" memberi kesentosaan pada negerinya. Wahyu pun jenuh, akhirnya dia pergi meninggalkan tanah kelahirannya berpetualang ke Jakarta, dan dengan berat hati ibunya melepaskan Wahyu pergi. Harapan mendapat pekerjaan di ibu kota Jakarta kandas juga karena tidak memiliki koneksi untuk masuk kantor bahkan pabrik karena tumbuh suburnya budaya sistem koneksi, family sistem, sistem kawan. Semua kantor beralasan sedang memperbaiki sistem dan melakukan pembersihan kepada para pegawainya pasca era orde reformasi. Untuk mempertahankan hidup Wahyu harus mengamen, sampai dia bertemu dengan sahabatnya Zay.

Zay membangkitkan semangatnya untuk kembali ke Yogya dan mengambil tawaran beasiswa yang pernah ditawarkan kampus. Baru saja Wahyu semangat, badai hidup datang membantingnya, dia mendapat cercaan dari rektor karena dianggap tidak memiliki komitmen. Tapi dengan kesungguhan hatinya, Wahyu dapat melunakkan hati rektor, dan dia diberikan kesempatan untuk melakukan observasi penelitian ke sebuah situs sejarah yang diyakini adanya kuburan Gajah Mada yang berlokasi di desa Donggo, suku pedalaman penduduk asli Bima-Nusa Tenggara Barat, agar ia dapat membuktikan keaslian tulisan dan menguak misteri akhir hayat Patih Gajah Mada sesuai proposal karya ilmiahnya untuk beasiswa ke Belanda.

Sesampai di tanah Bima, Wahyu disambut hangat oleh warga bahkan sesepuh dan kepala kampung mengadakan pesta penyambutan penghormatan kepadanya. Dia dipertemukan dengan gadis bernama Siti Maryam, anak seorang pandai besi yang baru menyelesaikan kuliahnya di Universitas Hasanuddin Makassar. Gadis itulah yang menemani selama penelitiannya mengenai batu telapak kaki Gajah Mada dan situs sejarah kuburan tua yang diyakini kuburan Gajah Mada.

Selama penelitian, mereka menghadapi keganjilan-keganjilan hingga disesatkan ke dalam hutan yang terkenal angker. Namun akhirnya Wahyu berhasil menguak pemilik kuburan tua yang menjadi tujuan penelitiannya dengan dibantu Siti Maryam; adalah benar kuburan Gajah Mada setelah memecahkan tulisan aksara kuno yang terpahat pada dinding candi dengan alih aksara dan alih bahasa terhadap prasasti. Dipecahkan unsur waktu, tokoh, peristiwa dan tempat dengan analisa heuristik, kritik teks atau ekstern dan intern, interpretasi, dan historiografi. Zaman yang menunjukkan keaslian prasasti sehingga menguatkan data peninggalan sejarah pada prasasti itu. Betapa bahagianya Wahyu dapat menyelesaikan semua penelitiannya.

Namun cobaan lain datang menghantam, Wahyu dan Siti Maryam diperkarakan lantaran difitnah oleh Ama Zaka musuh bebuyutan orangtua Siti Maryam. Sesuai peraturan adat mereka mendapat hukuman harus dinikahkan, dan dijemputlah ibunya Wahyu ke Makassar untuk datang ke Bima. Walau perkawinan itu dianggap sebagai hukuman dan aib bagi masyarakat, tetapi Wahyu dan Siti Maryam tidak pernah menyesalinya.

Hingga hari terakhir Wahyu di tanah Bima menjelang keberangkatan beasiswa ke Belanda, terjadi sebuah tragedi yang merenggut segenap pucuk pengharapannya.

Tragedi apa yang menimpa Wahyu? Akankah dia melanjutkan beasiswa S2 ke Belanda? Kemana nasib membawanya? Siapakah Ama Zaka? Kenapa Wahyu menikah disaat-saat penelitiannya? Bagaimana akhir kisah Wahyu ? Mengapa dia terdampar di tanah Bima?

Terdamparnya Negeri Kincir Angin Bambu adalah roman petualangan meraih impian dan kecintaan terhadap tanah air dengan jiwa nasionalisme yang tinggi. Sebuah representasi perlawanan menghadapi absurditas nasib dan pertentangan melawan ketidakjujuran dalam situasi zaman tentang tingginya harga diri, tekad, harapan dan nilai sebuah cita-cita.
Tokoh Utama
Wahyu
Siti Maryam
Wawan
Zay
Hamen
Daeng Hamisah
Dua Pande
Dua Nau
Ama Dero
Ina Sei
Ama Zaka
Petualangan
Rekomendasi