Novel
Genre → Sejarah
Luka dari Rumah Sendiri
Mulai membaca
Berlangsung
Gratis untuk dibaca
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Nama Al Habsyi adalah kehormatan. Tapi bagi Umar Al Habsyi, itu adalah luka yang terus menganga.
Sebagai anak dari Abdul Rahman Al Habsyi, dan cucu dari Abdullah Al Habsyi yang disegani hingga ke Arab, Umar seharusnya hidup dalam kebanggaan. Namun kenyataannya, ia tumbuh di tengah ketidakadilan, kasih sayang yang dipilih-pilih, perhatian yang tak pernah utuh, dan cerita pahit sang Ayah yang mempengaruhi hidupnya dan keluarganya.

Hari demi hari, Umar belajar bahwa rumah tidak selalu berarti tempat untuk pulang. Hingga akhirnya, pertengkaran besar memecah semuanya. . . dan Umar dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Semua karena kepahitan sang ayah Abdul Rahman yang hidup keras dari kecil bahkan di tinggalkan keluarga sang kakek.
Ayahnya hidup di jalanan dan pasar yang keras, beliau menghadapi dunia tanpa perlindungan. Ayah jatuh, terluka, dan hampir menyerah. Tapi dari luka itulah, Ayahnya mulai bangkit.

Karena bagi Ayahnya tidak ada kata kasih dan sayang, itu hanya omong kosong milik mereka yang kaya.
Umar, luka terbesarnya bukan berasal dari dunia luar, melainkan dari rumah. . . tempat yang seharusnya mencintainya tanpa syarat.
Tokoh Utama
Umar Al Habsyi
Fatimah
Lestari
Abdul Rahman Al Habsyi
Kamu harus masuk terlebih dahulu untuk mengirimkan ulasan, Masuk
Belum ada Ulasan
Disukai
0
Dibaca
1
Tentang Penulis
Nengshuwartii
Saat kecil pernah memiliki impian bisa menulis
Saat pertama kali membaca sebuah buku
Langsung tertarik, dan berfikir
Menulis sangat menyenangkan
Karya kita bisa di baca oleh banyak orang
Banyak kata dan tulisan yang menggugah rasa
Banyak coretan yang membuat air mata berlinang
Saat masih kecil begitu suka membaca buku
Tapi setelah dewasa menyadari
Bahwa kerja lebih utama
Mendapatkan gaji harus di lakukan terlebih dahulu
Demi kebutuhan hidup, dan membantu orang tua
Sekarang
Walau pendidikan tak mumpuni
Kemampuan tak tinggi
Allah mengizinkan saya menulis
Walau sudah tak muda lagi
Walau masih tertatih
Masih harus banyak belajar
Masih harus terus mengoreksi
Walau prosesnya tak biasa
Membuat saya bersyukur
Ini Rezeki
Allah memberikan izin saya
Mewujudkan Impian kecil saya untuk menulis
Adalah sebuah karunia dan rezeki
Yang tak di sangka sangka
Semoga dari Tulisan kecil ini
Banyak hati yang akan mengerti
Bahwa
Gak papa telat
Asal tetap mencoba meraih cita-cita
Raih dengan yakin
Lakukan dengan sungguh sungguh
Karena tugas kita hanya Ikhtiar
Hasil akhir adalah milik Allah
Bergabung sejak 2024-12-14
Telah diikuti oleh 249 pengguna
Sudah memublikasikan 13 karya
Menulis lebih dari 131,802 kata pada novel
Rekomendasi dari Sejarah
Rekomendasi