Daftar isi
#1
Salindia Dedikasi
#2
Prolog | Deklarasi Nestapa Niraksara
#3
Bab 1 | Dinamika Doktrin Suksesor Otoriter
#4
1.1 | Jelaga Nista Dermaga
#5
1.2 | Selendang Hitam yang Menikam Malam
#6
1.3 | Bersemuka Dialektika
#7
1.4 | Menziarahi Melati Mati
#8
1.5 | Iris Ungu yang Layu
#9
1.6 | Kaktus yang Tetap Tumbuh di Pot Tandus
#10
1.7 | Supervisor Sang Suksesor
#11
1.8 | Bayang Bertamu, Selayang Bertemu
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#7
1.4 | Menziarahi Melati Mati
Bagikan Chapter
[1] Arunika: seberkas cahaya matahari terbit
[2] Suikerfabriek Tjandi (sekarang, PT Pabrik Gula Candi Baru)
[3] Chauffeur: berasal dari bahasa Prancis yang secara harfiah berarti "penghangat" atau "tukang pemanas" (stoker) dari kata kerja chauffer yang berarti "memanaskan". Pada akhir abad ke-19, mobil-mobil awal bertenaga uap sehingga pengemudinya harus memanaskan ketel uap terlebih dahulu agar kendaraan bisa bergerak. Pada era kolonial, profesi ini dianggap sangat mentereng dan bergengsi karena menunjukkan modernitas dan kedekatan dengan teknologi transportasi baru. Seiring masuknya mobil ke Hindia Belanda pada awal 1900-an, istilah ini digunakan untuk merujuk pada pengemudi kendaraan pribadi kaum bangsawan atau pejabat kolonial. Bahasa Belanda menyerap kata chauffeur dari bahasa Prancis tanpa mengubah ejaannya, tetapi dengan pelafalan yang disesuaikan dengan lidah orang Belanda. Penyerapan ke bahasa Indonesia terjadi melalui pendengaran masyarakat lokal terhadap pelafalan orang Belanda. Terdapat adaptasi bunyi pada kata chauffeur dalam bahasa Prancis/Belanda yang dilafalkan kira-kira sebagai "sho-fer" atau "so-fœur", sehingga karena lidah masyarakat lokal saat itu sulit melafalkan bunyi "f" yang diikuti vokal kompleks, bunyi tersebut disederhanakan menjadi "pir" dan bagian depan "chau/sho" berubah menjadi "so". Maka gabungan bunyi tersebut menghasilkan kata "sopir".
[2] Suikerfabriek Tjandi (sekarang, PT Pabrik Gula Candi Baru)
[3] Chauffeur: berasal dari bahasa Prancis yang secara harfiah berarti "penghangat" atau "tukang pemanas" (stoker) dari kata kerja chauffer yang berarti "memanaskan". Pada akhir abad ke-19, mobil-mobil awal bertenaga uap sehingga pengemudinya harus memanaskan ketel uap terlebih dahulu agar kendaraan bisa bergerak. Pada era kolonial, profesi ini dianggap sangat mentereng dan bergengsi karena menunjukkan modernitas dan kedekatan dengan teknologi transportasi baru. Seiring masuknya mobil ke Hindia Belanda pada awal 1900-an, istilah ini digunakan untuk merujuk pada pengemudi kendaraan pribadi kaum bangsawan atau pejabat kolonial. Bahasa Belanda menyerap kata chauffeur dari bahasa Prancis tanpa mengubah ejaannya, tetapi dengan pelafalan yang disesuaikan dengan lidah orang Belanda. Penyerapan ke bahasa Indonesia terjadi melalui pendengaran masyarakat lokal terhadap pelafalan orang Belanda. Terdapat adaptasi bunyi pada kata chauffeur dalam bahasa Prancis/Belanda yang dilafalkan kira-kira sebagai "sho-fer" atau "so-fœur", sehingga karena lidah masyarakat lokal saat itu sulit melafalkan bunyi "f" yang diikuti vokal kompleks, bunyi tersebut disederhanakan menjadi "pir" dan bagian depan "chau/sho" berubah menjadi "so". Maka gabungan bunyi tersebut menghasilkan kata "sopir".
Chapter Sebelumnya
Chapter 6
1.3 | Bersemuka Dialektika
Chapter Selanjutnya
Chapter 8
1.5 | Iris Ungu yang Layu
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Novel
ARDARA ( REVISI )
Novel
I am Watching You
Novel
Sang Suporter
Novel
Bastards' Last Argument
Novel
EVERNA Musafir Ishmina
Cerpen
Iyyaki Hubbi
Novel
Takdir Cinta di Bawah Langit Kelabu '98'
Novel
Eugene Rewrite
Cerpen
Dalam Pelukan Harapan
Flash
Sepotong Senja di Halte Lama
Novel
Cinta Yang Hilang Di Era Reformasi
Cerpen
Jakarta Oh Jakarta
Cerpen
Kembalinya Puyang
Cerpen
Pacar Benalu dan Teman Berbisa
Cerpen
WARISAN KETIGA
Cerpen
Jejak yang Hilang
Flash
Sandekala
Flash
Ruang Tunggu
Cerpen
RUANG KONSULTASI 7
Flash
SE-ABAD