Terima Kasih Cinta

Introvert?

Kutu buku?

Kalian sudah bisa membayangkan bagaimana penampilanku.

Yap. Aku Sonia, seorang gadis berkacamata, masa SMA-ku dihabiskan dengan membaca berbagai macam buku.

Tidak ada seorangpun mau berteman denganku. Mereka hanya memanfaatkan kepintaranku pada saat ujian saja.

Tak ada yang menarik dalam kehidupan masa remajaku ini. Apa coba yang bisa aku ceritakan saat nanti anak atau cucuku bertanya mengenai kehidupanku saat masih muda?

Lebih baik aku menghindar menjawab pertanyaan seperti itu. Namun, semua berubah ketika hadirnya si dia, yang membuat jawaban dari pertanyaan tersebut.

Pria itu adalah kakak kelasku sendiri. Aku tertawa kecil memikirkan betapa diriku terlalu masuk dalam duniaku bahkan tidak menyadari ada pria tampan disekitarku.

Hari-hari berlalu, tanpa ku sadari ada hal yang berubah dalam diriku. Fokusku bukan kepada buku- buku lagi, tetapi pada pria itu.

Pria yang tak pernah aku sadari selama ini. Diam-diam aku selalu memperhatikannya dan berusaha sebisa mungkin berada di dekatnya.

Pada saat lomba kemerdekaan, aku memandangnya dari kejauhan. Dia tengah bersama teman-temannya, bahkan sampai membuat tingkah yang membuatku lucu. Entah bagaimana, ia bertingkah seperti seekor kera. Aku tersenyum dan tertawa pelan melihat tingkahnya.

Ia menyadari langsung berhenti dan menatapku. Aku langsung membuang muka dengan melihat ke arah lain. Tanpa ku sadari, muncul semburat merah di pipi.

Keesokkan harinya di sekolah, ketika bel berbunyi semua murid menuju ruang kelasnya masing-masing. Kelas kami berada pada lantai yang sama. Saat menaiki tangga, dia berada di depanku, berbalik menatapku sembari tersenyum.

Aku kembali membuang muka, jatungku berdegup dengan kencang, dan pipiku terasa panas.

Perasaan apa ini? Aku tidak mengerti apa yang ku rasakan. Segalanya berubah saat ia hadir. Aku bahkan tidak mengetahui namanya. Kami sering bertemu dan berpapasan namun, tidak pernah saling berbicara.

Saat jam istirahat, aku pergi ke taman dekat sekolah untuk mencaritahu gejala-gejala apa yang ku alami. Aku tidak bisa berhenti untuk menatapnya, pipiku memerah saat ia menatapku, bahkan jantungku berdegup begitu kencang saat kami bertatapan.

Sampai aku berhasil mendapatkan jawaban atas gejala apa yang ku alami.

Aku jatuh cinta.

Berulang kali aku mencari di situs website yang berbeda, dan hasilnya tetap sama. Aku tidak mempercayainya.

Bagaimana bisa...

Bagaimana bisa ini dikatakan sebagai cinta, yang bahkan kami tidak pernah berbicara.

Sejak saat itu, aku tidak bisa berhenti memandangnya. Rasa ingin berbicara dan mengenalnya jauh semakin besar.

Aku ingin mengetahui namanya..

Tapi..

Apakah aku pantas bersamanya?

Apakah aku boleh jatuh cinta dengannya?

Berbagai pikiran negatif datang menghampiriku, hingga suara sorakan semua orang menyadarkanku pada dunia nyata. Sorakan yang membuatku penasaran akan apa yang terjadi.

Rasa penasaran itu justru menjadi boomerang untukku. Pria itu tengah menyatakan cinta pada gadis lain.

*****

Kini aku sudah beranjak dewasa, memulai karirku sebagai novelis. Ku ambil secangkir kopi panas sambil menatap orang-orang sambil tersenyum.

Sejak kejadian itu aku merasa sakit hati, akan tetapi aku tersadar. Tuhan mempunyai alasan dibalik semua peristiwa, pria itu muncul untuk membuat kehidupan remajaku sedikit berwarna.

Darinya aku menjadi tahu bagaimana rasanya suka dan jatuh cinta pada seorang pria.

Terima kasih...

Terima kasih karena sudah membuatku mengenal dan merasakan perasaan indah itu walau hanya sesaat.

-The End_

8 disukai 5.8K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction