Flash Fiction
Disukai
2
Dilihat
32
Kamar kosong
Horor
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Baru 3 hari aku pindah ke rumah ini. Rumah sewa yang terletak di ujung gang setapak. Dindingnya dari kayu yang sudah agak lapuk. Warnanya sudah memudar dan bau rumah yang sudah lama ditinggalkan ini sangat menyengat. Karena harga sewanya sangat murah dibandingkan harga pasaran, maka dari itu aku sanggup menyewa. 

Kalau dipikir-pikir, rumah ini sangat menyeramkan. Pantas saja lama tidak ada penghuninya, karena auranya terkesan negatif kalau sekali lihat. Ya, tapi masa bodoh lah. Aku tak perduli, moto hidupku adalah menghemat sehemat-hematnya pengeluaranku.

Bayangkan, butuh tiga hari full aku membersihkan rumah ini. Betapa berantakannya, ah, entahlah. Tapi pemilik rumah ini, Bu Sekar, baik banget. Untuk bulan pertama, aku tidak perlu membayar uang sewa. Alasannya, karena rumah ini aku bersihkan seorang diri. Dia merasa bersalah tidak menyediakan rumah bersih untuk penyewa yang mau pindah.

Namun, Bu Sekar memberikan syarat yang sedikit aneh menurutku. Dia bilang aku cuma bayar tiga ratus ribu setiap bulan asalkan kamar yang satunya tidak diisi oleh penyewa lain. Dalam arti, aku gak boleh nyewa in kamar satunya yang ada di dalam rumah itu. Aku wajib tinggal sendiri di rumah yang isinya 2 kamar ini. Wow, agak horor, ya, tinggal sendirian di rumah yang menurutku agak menakutkan ini. Tapi, ya, apa boleh buat. Harga murah tujuan hidupku. Yang penting rumah ini juga gak berdiri sendirian, melainkan banyak tetangga yang rumahnya berdempetan di sebelah rumah yang ku sewa ini.

Setiap malam aku tidur nyenyak. Aku merasa nyaman tinggal sendirian. Hari ini setelah aku selesai menyusun baju-baju ku didalam lemari. Aku terbaring diatas kasur sambil mengulir layar ponsel melihat sosial media. 

Ku lihat dilayar tertera sudah pukul 02.00. Mataku terasa mulai berat. Rasa kantuk sudah mulai menjalar. 

Tess...

Sayup-sayup aku mendengar suara air keran menetes. Mataku terpejam, tapi pendengaranku masih berfungsi. Aku mencoba mengangkat mataku, berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan mematikan keran air di kamar mandi. Anehnya, aku tidak bisa membuka mataku. 

Aku mencoba lagi. Tetap tidak bisa. Kenapa? 

Kenapa aku tidak bisa membuka mataku?

Aku berusaha menggerakkan tanganku. Tidak bisa! Kaki ku. Tidak bisa! 

Srrrkkk… srrrkkk… srrrkkk…

Suara apa itu? 

Seperti, suara langkah kaki seseorang. 

Srrrkkk… srrrkkk… srrrkkk…

Semakin dekat. Aku merasa suaranya semakin dekat. Siapa itu?

Keringat mulai mengalir perlahan di dahiku. Aku bisa merasakan jantungku mulai berdegup kencang. Aku tinggal sendirian di rumah ini. Langkah kaki siapa yang kudengar ini? Apa ada orang yang masuk diam-diam? 

Sekuat tenaga aku membuka mata, sambil membaca segala doa yang aku bisa. Ketika aku berhasil membuka kedua mataku, kedua kaki ku dipegang oleh tangan yang sangat dingin sekali. Lalu aku ditariknya, terjatuh di lantai kamar sambil diseret sekuat tenaga menuju keluar dari pintu kamar.

"Aaaarrgghh..."

Aku menjerit ketakutan. Sosok tinggi hitam, rambut panjang berantakan sedang menarik kakiku sekuat tenaga. Tangan ku tidak bisa meraih tangannya. Aku mencoba memegang kaki tempat tidur. Aku meronta dan berusaha memegang sekuat tenaga. Dia terus saja menarikku keluar. Rasanya tubuhku sangat sakit sekali, tenaganya kuat. Bisa-bisa aku akan terbelah dua. 

"Aaaarrgghh ... tolong, jangan sakiti aku. Jangan ganggu aku, tolong lepaskan aku,"

KREEEETT—BRAKKK!

Tubuhku yang tertarik paksa ke dua arah akhirnya terbelah dua. Bunyi yang terdengar seperti kain terkoyak bercampur jeritan ku yang mendadak terputus. 

.

.

.

.

"Aaaa ..."

Aku terbangun. Langsung berdiri memeriksa keadaan tubuhku. Wajahku basah dipenuhi keringat. Aku bermimpi. Aku ternyata bermimpi. Kulihat layar ponselku hidup, tertera dilayar pukul 02.00. 

"Ahh ... ahh ... ahh ..."

Jantungku tidak karuan. Rasanya seakan nyata. Kulihat pintu kamarku terbuka. Mataku memandang kearah bawah kaki ku. Ada bercak darah sebesar telapak kaki mengarah keluar kamar.

Tamat

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi