Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
2
Pedang Cahaya
Aksi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Seorang gadis beristirahat sejenak dari perjalanan panjangnya.

Bergetar hatinya, menahan segala kebingungan yang telah ia biarkan lama menancap di dada.

Tersungkur ia yang kini tak lagi bisa menatap mentari sepatuh bunga matahari lagi.

Kini ia tertunduk, hingga terjatuh segala yang ada di tangannya.

Dengan jantung yang berdenyut memanggil Sang Pemilik Denyut Jantungnya.

...

"Datanglah pada meja perjamuanku Tuhan. "

"Duduklah di sini walau meja, kursi dan diriku akan meledak hancur berkeping keping karena kebesaranMu."

"Aku yakin kau Maha Melindungiku."

"Datanglah pada meja undanganku ini Tuhan."

"Walau terikat lapuk dan rapuh."

"Walau terikat sumpah kerusakan."

"Hamba ingin menadahkan perwujudan doa."

"Diantara bilah pedang kesadaranku yang merobek robek segala bayangan yang aku rajut supaya terus menengadah pada terang."

"Tuhan, kenapa kau ikat aku pada bayangan takdir samar samar yang seolah kau paksa masuk pada kepalaku yang telah pula kau bersihkan dari bayangan yang aku buat supaya aku bisa menyambung kehidupan."

"Aku berkuasa di tengah kepayahanku."

"Aku payah di tengah kuasaku."

"Aku menyadari bagaimana ku rajut kegelapan jaring laba laba palsu."

"Lalu kabut yang terus terusan mengganggu waktu tenangku ini sesuatu apakah itu?"

"Ia tak bisa putus dengan pedang kesadaranku."

"Sedang matahari juga belum terbit memapah pedang kesadaran ini."

"Aku di ambang kelahiran dan kematian setiap detik."

"Duduklah pada meja perjamuanku, Tuhan."

"Biar aku hancur biarlah hancur."

"Tuhan sungguh aku tak pernah mengeluh akan hidup dan takdirMu atasku."

"Tolong benahi bilah pedang cahayaku Tuhan."

"Atau beritahu aku apakah pekat yang aku temui setiap tenang ini benar benar ingatan lama ataukah sesuatu apa."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi