Kabar itu sampai ke James tanpa permisi. Dinda. Wanita yang menemani James sejak seragam putih-abu-abu, hingga dua tahun lalu saat hubungan mereka kandas akibat ketiadaan kepastian. Wanita itu akan menikah dua hari lagi. Wanita yang mengakar di sanubarinya kini milik pria lain.
Di bar remang-remang itu, denting gelas beradu dengan tawa pamer.
"Kita-kita diundang dong sama Dinda," ujar Galuh sembari menggoyangkan layar ponselnya yang menampilkan tautan undangan digital.
Vanessa menoleh, melirik tajam. "Emang lu gak diundang, James?"
James menggeleng pelan. "Enggak. Buat apa juga? Mungkin dia udah lupa." James tersenyum hambar.
"Lagian, gue juga udah move on kali" Lanjutnya percaya diri. Tapi siapapun bisa langsung tau kalo dia sementara berbohong.
"Tapi gila aja. Dua belas tahun kalian bareng, masa lupa gitu aja?" sergah Vanessa.
James tak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu lalu memutus percakapan dengan menenggak habis sisa alkohol di gelasnya. Biar terbakar sekalian dadanya.
"Maaf, Mas. Taksi cuma bisa antar sampai depan gang," suara pengemudi membuyarkan lamunannya.
James turun dengan langkah sempoyongan. Angin malam menusuk kulit, tapi kepalanya terlanjur panas. Melewati taman kompleks, matanya menagkap siluet Dinda yang sedang duduk di ayunan, tersenyum padanya.
"Gue nggak apa-apa kalau diundang, Din... Gue cuma mau bilang selamat berbahagia, Dindaku sayang..." igau James pada angin malam. Siluet itu pudar.
Dengan sisa kesadaran yang terkikis alkohol, ia menelusuri lorong apartemen, tempat yang dulu selalu mereka lewati sembari bergandengan tangan. Air mata James menetas tanpa bisik.
Begitu pintu unitnya terbuka, Dinda sudah ada di sana. Dengan kemeja putih, berdiri anggun di remang ruangan.
James terpaku.
"Din, harusnya gue yang nikahin lo... bukan malah jadi cowok bingung," bisik James, serak.
"Udah lewat, James. Relain aku ya, aku juga udah maafin kamu kok," sahut Dinda.
James tersentak. Bayangan itu bersuara.
Langkah James mendekat ragu. Dinda melangkah maju, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang James. Dekapan yang hangat. Aroma vanilla-musk khas Dinda, begitu pekat dan familiar.
James melepaskan pelukan, menatap manik mata Dinda intens. "Gak mungkin. Lo terlalu nyata buat sekadar bayangan Din."
"Aku nyata, James," bisik Dinda.
Sebelum James sempat mencerna, bibir Dinda menyapu bibirnya, lembut, menuntut, dan menyengat. Sensasi basah dan hangat itu menjalar ke seluruh sarafnya.
"Tuh buktinya" Dinda melepas kecupannya.
Napas James memburu. Kesadarannya runtuh. Ia melacak leher mulus Dinda dengan ciuman liar yang kelaparan, menyeret tangannya ke dada Dinda lalu merenggut kancing kemejanya hingga terlepas. Saat jemarinya menyentuh kulit hangat itu, James tertegun sejenak. Matanya menatap Dinda, mencari ketakutan.
Namun Dinda justru menunjukan senyum paling manis yang pernah ada. "Malam ini milik kita, James. Aku milik kamu."
Tepat saat James hendak membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Dinda, suara sirine alarm berdering pekak.
BZZZZT! BZZZZT!
James melonjak kaget. Pandangannya kabur. Wajahnya terbenam rapat di guling yang basah oleh ludah dan keringat dingin. Ia menunduk, mendapati celana kolornya menegang dan sesak.
"Sialan! Cuma mimpi?!" maki James frustrasi. "Kenapa harus kebangun sekarang, sih?!"
Dengan kepala yang dihantam pening luar biasa, James memaksa tubuhnya bangun. Ia sibuk mandi, menyikat gigi, dan meneguk air dingin untuk membilas sisa racun semalam. Semuanya terasa hampa dan menyebalkan.
Saat hendak menyambar dompet di meja samping kasur, matanya tertumbuk pada sebuah benda yang dari tadi ia abaikan begitu saja. Sebuah amplop tebal berwarna rose gold.
"Apa ini ? perasaan kemarin gak ada deh"
James menuruti rasa penasarannya untuk membuka amplop itu. Ia mendapati undangan atas nama Dinda dan calon suaminya.
James menggenggam benda itu kuat-kuat seolah meremukkan seluruh masa lalunya bersama Dinda dalam satu genggaman yang terasa amat menyakitkan.
Tangan James mendadak gemetar. Memaksa dua butir kancing kemeja di sela-sela undangan itu, jatuh berdenting ke atas meja.
James menatap kancing itu dengan mata berkaca-kaca.
"Berarti... Semalam... ?"