Sudah lebih dari lima hari aku tidak menyapa keramaian dan bertatap dengan matahari.
Tubuhku seperti menyerah, kegelapan terasa lebih menyenangkan. Perutku rasanya tidak lapar bahkan aku tidak kehausan. Sepertinya tubuhku sudah bekerja sama dengan rasa putus asa yang semakin besar.
Tidak ada yang menyadari, sampai hari ke 10. Seseorang menyadari…
”Raras…” Seseorang mengetuk pintu kamar dan memanggil namaku.
Aku tidak menyahut, bahkan rasanya jiwaku sudah melarikan diri dari tubuhku yang terasa lemah.
Pintu kamarku terbuka dan langkah kakinya semakin mendekat.
”Ras… kamu kenapa?”
”Tidak apa-apa.”
”Duduklah dulu…”
Ayah menarik selimut yang menutupi tubuhku. Aku duduk dengan tatapan yang masih kosong.
”Kemarilah…” Ayah merentangkan tangannya memintaku menyerahkan diri yang sudah lama tenggelam.
Air mataku seketika mengalir deras, tidak bisa kuterjemahkan.
“Apakah harimu terasa berat, nak?”
Hanya anggukkan, aku tidak mampu bicara.
”Apa yang harus ayah lakukan, supaya kamu tidak seperti ini lagi?”
”Tidak ada, ini lebih dari cukup, Yah…”