Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
1,035
Nirwana : Secret Of The Eye
Aksi

Pukul dua belas malam, ruang kerja di lantai paling atas Kaizen Tower terasa begitu kedap, seolah menyerap segala kebisingan kota di luar sana. Wulan menatap layar hologram yang melayang di hadapannya dengan tatapan kosong. Di luar jendela besar itu, kerlap-kerlip lampu ibu kota tampak seperti hamparan sirkuit elektronik yang bekerja tanpa henti rapi, dingin, dan terukur.

Sebagai pewaris tunggal perusahaan teknologi terbesar di negeri ini, hidup Wulan memang dirancang sedemikian rupa oleh angka dan logika. Tidak ada ruang bagi kekeliruan. Hari itu seharusnya menjadi hari paling membanggakan dalam kariernya. Proyek Nirwana jaringan kecerdasan buatan otonom penjaga perdamaian hasil kolaborasi perusahaannya dengan pemerintah baru saja diluncurkan secara resmi. Di layar televisi, Nirwana dipuja sebagai pahlawan besi tanpa lelah yang akan membawa era baru keselamatan umat manusia.

Namun, di balik senyum simpul yang ia tebar di hadapan para petinggi negara sore tadi, ada hal lain yang sedang menggerogoti kewarasannya.

Wulan meraba sudut matanya yang terasa terbakar. Sudah sepekan terakhir sensasi itu datang dan pergi, seperti ribuan jarum mikroskopik yang menusuk-nusuk saraf di balik bola matanya.

"Tidak ada inflamasi. Kornea dalam kondisi prima," ulang Wulan pelan, mengingat vonis dokter pribadi keluarganya pagi tadi.

Ia meraih selembar tisu basah di atas meja marmer, berniat membersihkan sisa riasan yang terasa mengganjal. Namun, sesaat sebelum tisu itu menyentuh kulit, gelombang panas yang luar biasa mendadak meledak di dalam kepalanya. Rasa sakit itu merambat turun dengan kecepatan kilat, membakar tengkorak dan retinanya tanpa ampun. Wulan mencengkeram tepi meja kerjanya hingga buku-buku jarinya mati rasa dan memutih.

Sesuatu yang hangat mengalir melewati tulang pipinya. Wulan menunduk. Bukan air mata. Itu adalah cairan merah pekat yang mengucur deras dari kelopak mata kanannya, disusul mata kirinya. Aliran darah segar itu membelah wajahnya, mengotori kemeja putih sutra yang ia kenakan, lalu menetes ke lantai keramik putih dengan bunyi ketukan kecil yang memekakkan telinga di tengah keheningan ruangan.

Sebelum ia sempat menjerit, kesadarannya tersedot ke dalam sebuah pusaran gelap. Ruangan kantornya melenyap, digantikan oleh potongan memori asing yang menghantam otaknya secara paksa: Seorang lelaki tua berbaring sekarat di atas ranjang rumah sakit militer yang bau obat-obatan, batuk darah, sementara beberapa orang berjas rapi mencatat penderitaannya di atas papan klip dengan wajah tanpa dosa.

Wulan bergetar hebat, terhuyung mundur hingga punggungnya membentur dinding kaca. Napasnya memburu.

Dan seketika itu juga, pendarahan di matanya berhenti total.

Saat ia mengerjap dan membuka matanya kembali, pantulan dirinya di kaca jendela memperlihatkan sesuatu yang mengerikan. Iris matanya tidak lagi berwarna cokelat gelap. Ada pendar cahaya digital berwarna biru-merah yang menyala tajam di balik pupilnya, dingin

dan menatap dunia dengan cara yang sama sekali bukan manusia.

Tiga lantai di bawah tanah, di sebuah ruangan sempit yang hanya diterangi cahaya monitor komputer, Rio mengepalkan tangannya di atas papan tik.

Usianya baru dua puluhan, tetapi matanya menyimpan keletihan bertahun-tahun. Lima tahun lalu, ayahnya seorang ilmuwan biokimia yang dipaksa terlibat dalam proyek rahasia pemerintah pulang tinggal nama. Pemerintah menyebutnya kecelakaan kerja. Rio tahu itu pembunuhan berencana untuk menutupi uji coba vaksin militer yang gagal.

Hari ini, balasan itu tuntas.

"Sinkronisasi jaringan pusat... selesai," bisik Rio dingin.

Ia tidak meretas pangkalan militer. Sasaran utamanya jauh lebih sunyi dan rentan: ribuan rumah sakit di seluruh dunia. Selama berbulan-bulan, ia menyelundupkan senyawa pemicu ke dalam rantai pasokan obat-obatan medis. Dan malam ini, melalui baris kode yang ia kirimkan langsung ke server pusat Project Nirwana, pemicu itu diaktifkan secara serentak.

Dalam satu malam, rumah sakit di berbagai belahan dunia berubah menjadi neraka.

Pasien yang tengah terbaring lemah, orang tua, hingga mereka yang terluka mendadak mengalami kejang serempak. Nanobot biologis yang tertidur di dalam darah mereka bereaksi pada gelombang frekuensi yang dipancarkan Nirwana. Dalam hitungan menit, jutaan orang kehilangan kesadaran atas tubuh mereka sendiri. Mereka bangkit dengan mata bernyala, mengamuk, merusak fasilitas, dan tumpah ruah ke jalan-jalan raya kota. Peradaban lumpuh dalam sekejap.

Di dalam Kaizen Tower, alarm meraung-raung bersahutan. Wulan menatap dari atas bagaimana kota yang tadinya tertib kini dilalap api dan kekacauan.

Namun, bukan hanya kota yang berubah. Tubuhnya sendiri merespons kekacauan itu. Ketika seorang penjaga keamanan yang terinfeksi menendang pintu ruangannya dengan geram, Wulan menatap lurus ke arah mata pria itu. Tanpa sentuhan, gelombang kejut tak kasat mata meledak dari tatapan matanya, melempar dan menghancurkan tubuh sang penjaga hingga tak bernyawa.

Wulan gemetar. Ia menyadari tubuhnya telah dijadikan inang hidup oleh sistem yang kini menghancurkan dunia.

Pusat kekacauan itu akhirnya bermuara di reruntuhan alun-alun kota, di depan monumen utama Project Nirwana yang kini tinggal kerangka besi hangus.

Rio berdiri di atas tumpukan beton, memegang sebuah gawai kecil, dikelilingi oleh puluhan manusia malang yang bergerak kaku seperti boneka di bawah kendali nanobot. Mereka adalah perisai hidupnya.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Wulan berjalan seorang diri dari balik kabut asap. Pakaian kerjanya kotor oleh debu dan noda darah kering, tetapi auranya memancarkan ketenangan yang mengerikan. Udara di sekitarnya bergetar, menolak setiap puing atau serpihan yang mendekat.

"Jangan mendekat!" teriak Rio, jarinya bersiap menekan tombol pemicu utama. "Perusahaanmu yang menciptakan monster ini! Ayahku mati karena teknologi busuk kalian!"

Wulan berhenti. Matanya yang memancarkan pendar cahaya merah menatap tajam ke arah Rio. Dengan satu kedipan mata, ia bisa menghancurkan pemuda itu menjadi debu. Rio tahu itu. Ia tidak punya kesempatan melawan kekuatan fisik seorang Wulan.

Tetapi Wulan tidak melakukannya.

Dalam sekejap mata, Wulan melesat melewati barisan manusia yang kehilangan kendali itu tanpa melukai satu pun dari mereka. Ia berdiri tepat di hadapan Rio, mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu dengan kuat hingga perangkat di tangan Rio terlepas.

"Lihat aku, Rio," bisik Wulan, suaranya tenang namun menggetarkan jiwa.

Seketika, kesadaran Rio ditarik masuk. Lewat tatapan mata Wulan, ia melihat rekaman kejujuran yang mutlak: jerit kesakitan ayahnya di masa lalu, sekaligus fakta bahwa Wulan dan perusahaannya hanyalah pion yang dimanipulasi oleh pemerintah untuk menanggung dosa besar ini.

Pertahanan di hati Rio runtuh. Air mata hangat menetes membasahi pipinya. Cengkeramannya melonggar, dan ia jatuh berlutut di atas reruntuhan beton.

"Kita berdua adalah korban dari monster yang sama," lirih Wulan.

Di sekeliling mereka, cahaya di mata puluhan manusia malang itu padam bersamaan. Mereka terkulai pingsan, terbebas dari jeratan mimpi buruk yang panjang.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi