Sulung

Awal tahun 1992, seorang bayi perempuan lahir ke dunia. Sebagai anak pertama mama dan papanya, cucu pertama dari keluarga mamanya, juga cucu perempuan pertama dari keluarga papanya.

Kasih sayang orangtuanya tercurah; bahkan sampai tumpah-tumpah, tampak jelas dari semua dokumentasi yang terekam. Betapa beruntungnya dia.

Memasuki pertengahan tahun 1998, dia menyadari perut mamanya membuncit. Ternyata, ia akan memiliki seorang adik; perempuan. Betapa bahagianya dia karena memang sudah dari dulu meminta adik kepada mereka.

Awal tahun 1999, dua hari sebelum hari ulang tahunnya, sang adik lahir. Senangnya bukan main. Semua perhatian tertuju pada sang adik. Tapi dia tetap senang.

Awal tahun 2000, mamanya bilang bahwa dia akan punya adik lagi. Bukan senang yang ia dapati. Tak hanya kaget, tapi juga pergolakan. Dia tidak meminta adikĀ yang ini. Tapi, apa mau dikata, sang adik sudah tumbuh dalam kandungan.

Dan lagi-lagi, adik perempuan.

Pertengahan tahun 2000, sang adik kedua pun lahir. Dia merasa ngambang; tak yakin dengan perasaaannya sendiri. Kedua orangtuanya memiliki dua bayi sekarang, perhatian mereka berdua terfokus kepada dua bayi ini.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya ia mulai yakin dengan perasaannya sendiri. Ia tahu, kini ini merasa tersisihkan.

Hanya diperhatikan kalau ia melakukan kesalahan, kemudian dimarahi habis-habisan. Kalau main-main sendiri, dimarahi lagi karena tidak menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya.

Contoh yang baik itu seperti apa? Dia bingung, sebab yang ia rasakan hanyalah dilarang melakukan hal-hal yang anak-anak sebayanya lakukan.

Kata mama dan papanya, sudah lebih dari cukup 7 tahun dia dilimpahkan kasih sayang dan sekarang ia harus berbagi dengan kedua adiknya. Harus tau diri katanya.

Akhirnya, rasa bahagia memiliki adik benar-benar sirna. Ia merasa hidupnya terkekang, dengan beban berat dipikulnya. Ini tidak boleh, itu tidak boleh, sebab adik-adiknya akan lihat dan tiru. Harus begini, harus begitu, sebab akan menjadi teladan adik-adiknya.

Muak! Muak!! Muak!!!

Pada tahun 2009, sang papa pergi untuk selamanya. Tiba-tiba. Semuanya syok dan sedih; tetapi dia yang tidak boleh menangis. Tiap kali air matanya menetes, orang dewasa kompak menegur dan memarahi. Anak pertama, tidak boleh nangis! Harus kuat menopang mental mama dan adik-adiknya.

Kenapa cuma anak pertama aja yang tidak boleh menangis? Kenapa mama boleh? Kenapa adik-adik boleh? Ya karena begitulah anak pertama.

Dia pun mulai membenci dirinya; mengutuk kenapa dia lahir sebagai anak pertama.

Tahun 2021. Dia sudah di penghujung usia 20 tahunnya. Tahun depan, jika Tuhan berkehendak memberikannya umur, maka ia akan berusia 30 tahun.

Dia sudah mulai menerima, berusaha mengikhlaskan takdirnya sebagai anak pertama.

Dia sudah berusaha menjalani hidup sebaik-baiknya. Dia tidak ingin menambah beban pikiran mamanya yang sudah sendiri. Dia tidak ingin jadi contoh yang buruk bagi adik-adiknya. Dia juga tidak ingin dihakimi masyarakat; dilabeli sebagai anak tidak tahu diri padahal sudah yatim.

Banyak orang melihat ini sebagai beban, tetapi dia berusaha melihat ini semua sebagai tanggung jawab.

Meskipun dengan menjalani hidup sebaik-baiknya, artinya dia harus melewatkan banyak pengalaman seru yang menantang adrenalinnya. Tapi, ia sudah berusaha mengikhlaskan. Beginilah jalan yang harus dia tempuh di kehidupannya kali ini.

Semangat para sulung di luar sana. Kita semua tangguh.

4 disukai 1.8K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction